
Nathan dan teman-temannya mulai terjaga dan mereka semua terkejut saat mengetahui ada dimanakah mereka sekarang. Tubuh mereka semua diikat jadi satu disebuah tiang dengan mulut dilakban sehingga mereka tak bisa berteriak minta tolong. Seluruh ruangan di sini gelap dan pengap. Baunya juga tidak sedap membuat Nathan dan yang lainnya ingin muntah massal.
Mereka semua berusaha keras untuk melepaskan diri tapi usaha mereka gagal. Ikatan tali karmenter itu terlalu kuat. Ditambah mereka juga tidak punya tenaga karena lapar dan haus.
“Kalian sudah sadar?” tanya seseorang dari balik pintu. Orang itu berjalan pelan dan mulai menyalakan lampu.
Begitu lampu menyala terang benderang barulah Nathan dan yang lainnya terkejut bukan kepalang. Ternyata, mereka semua diikat di atas tumpukan kayu bakar seolah mereka hendak dipanggang hidup-hidup.
Tentu saja Nathan menatap marah pada orang yang tak lain dan tak bukan adalah Hesa. Kekasih Ei itulah yang menculik dan mengikat mereka di ruangan ini.
“Hmmm …hmmmm … hhhmmmm!” teriak Nathan, ia tak bisa bicara dengan jelas karena mulutnya masih dilakban.
“Haaaah, bicaralah yang benar, aku tak paham kau itu bicara apa?” ledek Hesa sambil menempelkan telapak tangannya di belakang telinga berlagak tak bisa dengar apa-apa padahal dialah yang menyebabkan Nathan tak dapat bicara.
“Hmmm … hmmm!” teriak Nathan lagi.
“Ah … aku lupa, kalau mulutmu itu kulakban.” Hesa melompati tumpukan kayu bakar dan melepas paksa lakban yang menempel di mulut Nathan sehingga pria itu mengerang kesakitan dan mulutnya jadi bengkak akibat lakban yang dilepas paksa oleh Hesa.
“Aaaarrrrhhh!” erangnya kesakitan, “apa kau tidak bisa pelan-pelan?” bentak Nathan.
“Oh, oke! Akan kuulang!” Hesa menempelkan lagi lakban yang barusan dia lepas ke mulut Nathan lalu ia menarik kembali jauh lebih keras dari sebelumnya sehingga jeritan Nathan yang menahan sakit menggema di seisi ruangan.
Teman-teman Natha yang mendengar jeritan itu langsung terdiam dan terbujur kaku tak berani bergerak sedikitpun. Bibir Nathan langsung dower karena 2 kali ditarik paksa oleh Hesa. Tak dapat dibayangkan seperti apa rasanya.
“Apa tarikanku, masih kurang pelan?” tanya Hesa lemah lembut.
__ADS_1
Nathan yang masih merasakan sakit teramat sangat tak berkata-kata dan hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan yang lain tak berani berkutik kalau tak ingin bernasib sama seperti Nathan. Bibirnya jadi dower seperti bibirnya donal bebek.
“Syukurlah kalau begitu. Kita langsung saja pada intinya. Kenapa kalian menculik pacarku? Berhubung Nathan tak bisa bicara, maka kalianlah yang harus jawab. Jangan coba-coba berbohong karena aku langsung tahu. Jika sampai kalian membohongiku, maka akan kupastikan kalian tidak akan punya mulut lagi! Anggukkan kepala kalau kalian mengeri.”
Karena takut dengan ancaman Hesa, ke-3 teman Nathan menganggukkan kepala mereka dengan kompak. Kekasih Ei itupun melepas lakban mereka satu persatu dengan tarikan pelan, tak menyakitkan seperti yang ia lakukan pada Nathan.
“Kami ingin membuatmu bertekuk lutut pada kami. Makanya kami menculik Ei agar kau mau menuruti semua keinginan kami,” jawab salah satu teman Nathan dengan nada gemetar.
“Kenapa kau bawa pacarku ke gedung tua kalau hanya untuk mengancamku? Apa kalian … mencoba untuk … melecehkan pacarku? Jawab aku dengan jujur, jika tidak … akan kubakar kalian hidup-hidup di sini!” sebuah ancaman yang mematikan.
Kalau dijawab jujur, mereka akan mati. Kalau tidak jujur, mereka semua juga akan mati.
“Jika kami jawab jujur … apakah kau akan mengampuni kami?” tanya salah satu pria berkulit hitam.
Nathan menggelengkan kepalanya sebagai kode keras agar teman-temannya tak mengatakan yang sebenarnya. Namun, ancaman dan tatapan mata Hesa begitu menakutkan sehingga teman Nathan lebih memilih untuk berkata jujur sejujur-jujurnya.
“Iya, tapi itu bukan keinginan kami. Nathan lah yang mengajak kami untuk menculik Ei disaat kau lengah dan membawanya ke tempat sepi untuk dilecehkan. Setelah itu, kami menggunakannya untuk mengancammu. Itulah rencana kami, tapi gagal karena kau lebih kuat dari yang kami kira.”
Hesa memejamkan mata mendengar apa yang memang sudah ia ketahui sebelumnya. Dadanya serasa ingin meledak dan ingin sekali Hesa melenyapkan semua orang yang ada di sini. Namun, jika hal itu ia lakukan, takkan bisa menyelesaikan masalah. Yang ada, masalah Hesa akan semakin bertambah karena ia bakal berurusan dengan penegak hukum yang ada di negera ini.
“Hesa … dengar aku, kau jangan gegabah. Ei membutuhkanmu sekarang, dia sudah sadar dan memanggil-manggil namamu, kembalilah!” seru Corpury mengingatkan Hesa agar tidak lepas kendali.
“Kapan kakak ipar manggil-manggil Hesa? Kan dia masih pingsan,” ujar Slava bingung.
“Diam kau! Aku sedang menenangkan Hesa! Pergi sana! Bikin kacau saja,” usir Corpury meski percakapan mereka sudah didengar oleh Hesa.
__ADS_1
“Hesa, jangan lakukan apapun yang bisa merugikan dirimu sendiri.” Corpury kembali meyakinkan Hesa, “Aku yakin kakak ipar pasti setuju denganku. Biar aku yang urus mereka. Akan ku pastikan mereka bakal dihukum berat atas kasus penculikan dan perencanaan pelecehan.”
Setelah memejamkan mata untuk menenangkan hati dan pikirannya, Hesa kembali membuka mata dan melakban semua mulut pria-pria laknat ini tanpa bicara lagi. Setelah itu, ia turun dari tumpukan kayu bakar dengan napas kembang kempis karena menahan amarah yang begitu besar.
“Apa kalian tahu? Ini ruangan apa?” tanya Hesa menatap sinis semua orang yang ada didepannya. Tentu saja mereka semua tidak tahu.
Mendadak, Nathan dan teman-temannya menggeleng ketakutan. Hesa sukses menciptakan suasana menegangkan ditambah dengan suara-suara lengkingan aneh yang terdengar dari luar ruangan.
“Ini adalah rumah terkutuk paling angker di kota ini,” terang Hesa mulai menakut-nakuti, “Tak ada manusia manapun yang bisa keluar dari rumah ini dalam keadaan normal. Aku dengar, ada banyak sekali setan dan iblis bergentayangan di ruangan ini. Semoga malam ini … menjadi malam menyenangkan untuk kalian. Jangan buat para setan yang ada di sini jatuh cinta pada kalian, sebab, kalian bisa saja dibawa ke alam baka bersama mereka!”
“Hmmm! Hmmm … hmmmm!” Nathan dan yang lainnya meronta-ronta untuk dilepaskan.
“Ah … kalian akan tetap seperti ini. Jika kalian beruntung, mungkin ada orang datang dan membantu melepaskan kalian, tapi jika tidak … bersiap-siaplah untuk menjadi bagian dari makhluk dunia lain. Atau … ada psikopat datang kemari dan mencincang daging kalian untuk dijadikan makanan. Wuah … lebih baik bertemu setan daripada bertemu psikopat ya. Apapun itu … semoga kalian panjang umur.”
“Hmm … hmmmm!” semua orang yang diikat Hesa di tiang penyangga dan dikelilingi kayu bakar, kompak meronta-ronta minta agar dilepaskan.
Namun, Hesa sudah tidak peduli pada rengekan mereka semua. Siapa suruh cari gara-gara dengannya. Punya niat buruk pada Ei pula. Sebagai gangster, tentu ia takkan pernah tinggal diam. Nathan dan teman-temannya harus diberi pelajaran dengan siapa dia berurusan agar kedepannya, mereka tak berani mengulangi kesalahan mereka.
Hesa sengaja menciptakan kesan horor agar Nathan dan teman-temannya ketakutan berada di gedung angker dan menyeramkan imi. Tapi mereka tak percaya pada ucapan Hesa sampai akhirnya angin mulai berhembus dengan kencang dan mematikan semua lampu ruangan.
Suara-suara aneh mulai terdengar dan sekelebat makhluk menyeramkan bergentayangan di sekitar Nathan dan teman-temannya sehingga mereka menjerit-jerit ketakutan bahkan sampai ada yang mengompol segala.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1