
“Jadilah istriku! Itu solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini,” tambah Hesa lagi dan sukses membuat Ei bungkam tak bisa bersuara.
Wanita mana yang tidak shock, tidak ada angina ataupun hujan, tiba-tiba saja dilamar oleh pria tak di kenal. Di kamar kos Ei sendiri pula? Kan sangat tidak masuk akal.
Ditambah lagi, Hesa mengurung tubuh Ei dalam rentangan kedua tangannya seolah takkan melepaskan Ei sebelum gadis itu memberikan jawaban yang diinginkan.
Sadar kalau situasinya sudah sangat mendesak, Ei langsung memukul dada bidang Hesa dengan keras. “Heh codot bekicot! Kau bilang apa tadi? Menikah? Itu bukan solusi duduull! Setelah kau buat aku jadi bahan bullyan sekarang kau bikin aku jadi korban pembunuhan? Kau pikir menikah itu gampang? Lagian usiaku masih sangat muda dan aku tidak mau menikah sebelum usiaku 30 tahun! Paham!” sengalnya penuh dengan emosi tingkat dewa.
“Bukan pernikahan sungguhan, tapi hanya sandiwara di depan keluargaku agar mereka tidak lagi menjodohkanku dengan para wanita-wanita nggak jelas pilihan mereka. Aku lelah dijodohkan terus. Masalahku dan masalahmu bakal berakhir kalau kita menikah. Hanya 4 tahun saja, jadilah istriku sampai kau lulus kuliah. Aku akan membiayai seluruh biaya kuliahmu sampai kau mendapat pekerjaan yang kau inginkan. Tidak hanya itu, kalau kau butuh uang, kau bisa minta berapapun yang kau mau. Aku tahu kau punya panti asuhan. Dan panti asuhan itu sedang dalam masalah finansial. Kalau kau mau menikah denganku, akan kubantu urus panti asuhan itu.”
Tawaran yang menggiurkan dari seorang pangeran berdarah biru. Namun, bukan hal itu yang membuat Ei tertegun sampai tak bisa bergerak setelah mendengar semua ucapan Hesa. Melainkan karena gadis itu sungguh sangat bingung, dari mana Hesa tahu seluk beluk dan nasal muasal dirinya. Bahkan masalah panti asuhan yang sedang Ei kelola. Sejauh ini, tak ada satupun orang yang tahu soal ini. Bahkan sahabat dekatnya, Angel dan Prety saja tidak tahu kalau Ei punya panti asuhan.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa … kau tahu soal panti asuhan itu?” tanya Ei lirih. Ia tidak percaya ada orang yang mengetahui rahasia besarnya.
“Jawab dulu pertanyaanku, baru kujawab pertanyaanmu.” Tatapan mata Hesa membuat Ei semakin bingung.
__ADS_1
Panti asuhan yang didirikan Ei bukanlah panti asuhan resmi, dan tidak terdaftar di dinas pemerintahan. Hal itu karena Ei tak punya kuasa mengurus semua hal yang berhubungan dengan administrasi didirikannya sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak miskin ataupun yatim piatu.
Yang Ei lakukan selama ini hanyalah membantu anak-anak yang putus sekolah dan ditelantarkan orang tua atau anak-anak yang tidak punya keluarga dan bahkan ada yang dibuang keluarganya dijalanan. Total anak panti asuhan yang diasuh Ei sudah ada 10 anak dan mereka semua tinggal dikediaman pribadi Ei yang Ei beli dengan hasil tabungannya kuliahnya sendiri.
“Kau punya waktu sampai besok untuk memberiku jawaban. Aku datang kemari untuk melihat keadaanmu, sekaligus ini …” Hesa membuka tas ransel hitamnya dan mengeluarkan setumpuk buku-buku kuliah khusus mata pelajarannya.
Buku-buku tersebut ia berikan pada Ei yang masih tertegun dan belum sadar dari rasa terkejutnya akibat rahasia yang Ei jaga dan tutupi rapat-rapat ternyata diketahui oleh Hesa.
“Sudah seminggu kau tidak kuliah. Kau sudah ketinggalan banyak. Aku menyalin semua catatan mata kuliahku dan juga mata kuliahmu dalam buku-buku itu. Pelajarilah supaya kau tak ketinggalan jauh. Besok aku akan menjemputmu. Dan sepulang kuliah, kita akan bertemu keluargaku.” Hesa dengan penuh perhatian mendudukkan Ei di kasurnya. Ia tersenyum karena gadis yang sedang dipaksanya jadi istri ini masih belum bisa berkata-kata.
“Rahasiamu aman bersamaku. Aku janji akan membantu mengurus panti asuhanmu bila kau bersedia menikah denganku. Aku bukan hanya tampan, tapi juga jutawan,. Tanpa bekerja, harta kekayaan yang kumiliki takkan habis tujuh turunan. Aku mengizinkanmu menghabiskannya. Gunakan uangku untuk kepentinganmu, tapi syaratnya … kau harus jadi istriku, selama 4 tahun. Setelah 4 tahun, aku takkan menghalangimu jika kau meminta cerai dariku.”
“Kenapa aku?” tanya Ei lirih. Ia bingung harus menolak atau menerima.
Jika menolak, rahasia besarnya bakal dibongkar Hesa dan nasib anak-anak panti asuhan itu pasti bakal tidak jelas begitu keberadaan mereka diketahui banyak orang. Namun jika menerima, artinya Ei harus mengorbankan masa mudanya menjadi istri Hesa. Dan harus siap menerima bullyan dan hinaan serta caci maki dari para fans fans Hesa di kampusnya.
__ADS_1
“Cuma kau yang tidak peduli siapa aku, cuma kau yang bisa memberikan warna dalam hidupku, dan cuma kau satu-satunya wanita yang berani menampar wajahku bahkan mencuri makananku. Lainnya tidak akan pernah berani. Bahkan jika aku mau, harusnya kau sudah ada di kantor polisi atas insiden penamparan waktu itu. Atau kau bakal diadili keluargaku. Tapi aku tidak melakukannya. Karena kau istimewa. Kau adalah malaikat tak bersayap sesungguhnya di abad 21 ini. Di saat semua wanita pergi ke mall dan sibuk cari pacar kaya, kau malah sibuk bekerja demi menghidupi anak-anak panti asuhan ilegalmu itu.”
Ei terpaku, kedua tangannya mengepal kuat-kuat antara marah, bingung dan juga malu. Ia sampai buang muka dan tidak mau menatap Hesa. Ingin rasanya menjerit tapi tak mungkin ia lakukan di dalam kamar ini sementara diluar sana para penghuni kos sudah menggunjingkan Ei.
Hesa sendiri tak ingin menyulitkan calon istrinya ini. Ia duduk di samping Ei dan memberikan beberapa kotak bekal makanan. “Kau belum makan, kan? Makanlah ... ini bekal makanan buatan ibuku. Setiap hari beliau menyiapkannya untukku. Aku sengaja belum memakannya karena ingin kumakan bersamamu.” Hesa membuka kotak bekal bersisi hidangan lezat di depan mata Ei yang langsung tergoda akan aroma masakan dari dalam kotak-kotak bekal dihadapannya.
Hesa merasa risih dengan sindiran dan bisikan para tetang-tetangga kamar kosnya Ei. Ia berjalan ke dekat pintu dan membuka pintu mar itu rapat-rapat dan menatap marah orang-orang di depan kamar Ei.
“Sampai kapan alia nada di sini? aku sedang makan dengan istriku, rasanya tidak nyaman jika kalian tersu bergosip yang bukan-bukan tentang kami!” ujar Hesa.
“Sejak kapan Ei menikah? Yang kami tahu … Ei masih mahasiswi. Teman-temanya yang ada di sini bilang begitu. Kau jangan membohongi kami.” Salah satu tetangga kos Ei memelototi Hesa.
“Kami sudah menikah." Hesa terpaksa berbohong. "hanya saja dia kabur tepat di acara pernikahan kami. Aku datang untuk membujuknya supaya mau kembali ke rumah. Besok dia akan pindah. Kalian puas! Sekarang pergi dari kamar ini atau kulaporkan kalian ke kantor polisi!” ancam Hesa.
“Kami tidak percaya, mana buktinya? Kalau kalian sudah menikah?” tantang salah satu wanita yang berdiri tepat di depan kamar Hesa.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***