Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 42 Genggam Tanganku


__ADS_3

Setelah memberikan jawaban cinta berupa ciuman manis, Ei kembali ke posisinya dengan wajah bersemu merah merona. Pipinya serasa panas karena ia sangat malu tak kuat menatap pesona Hesa lagi. Ei jadi salah tingkah sendiri dan memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Sementara Hesa, hanya tersenyum simpul saking bahagianya karena kini cintanya sudah terbalas. Matanya terus menatap istrinya tanpa henti. Rasanya ia ingin bersorak sorai merasakan betapa bahagianya kalau cinta suci yang ia rasakan, dibalas oleh orang tercinta.


“Ei …” panggil Hesa mesra, tapi Ei enggan menoleh padanya kerena masih malu. “Kalau kau tidak mau berbalik padaku, aku akan menciummu lagi,” ancam Hesa sambil tersenyum.


Karena tak ingin dicium, akhirnya Ei balik badan dan tepat pada saat itu, mereka berdua tak sengaja berciuman lagi karena wajah Hesa terlalu dekat dengan Ei sehingga saat Ei putar kepala, bibir mereka saling bertemu. Keduanya sama-sama terkejut dan Hesa kembali ke posisinya sambil menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal.


“Maaf, yang barusan bonus, tak disengaja,” ujar Hesa dan melihat wajah Ei semakin memerah lebih dari merahnya semangka.


“Jalankan mobilnya, sampai kapan kita harus terus di sini. Nanti kita bisa terlambat,” pinta Ei mencoba mengalihkan suasana. Jantungnya sudah berdetak tak karuan karena ia merasakan betapa indahnya jatuh cinta.


Hesapun menurut, ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju cepat menuju kampus mereka. Sepanjang perjalanan, Ei terdiam. Mungkin ia sedang mati-matian menata hatinya agar tampak seperti biasa walau sebenarnya jantungnya ingin meledak ketika terus-terusan ditatap Hesa.


“Lihatlah ke jalan, jangan lihat aku terus,” protes Ei setelah untuk kesekian kalinya Hesa mencuri pandang kearahnya.


“Aku lihat jalan, tapi mataku nggak bisa berpaling dari kamu,” ujar Hesa. Tangannya mulai berani menggenggam erat tangan Ei dan enggan dilepaskan. “Terimakasih Ei.”


“Untuk apa? Aku tidak melakukan apapun untukmu, kenapa berterimakasih? Harusnya akulah yang berterimakasih karena kau sudah melakukan banyak hal untukku. Termasuk rela menempuh perjalanan jauh pulang pergi selama seminggu ke depan.”


“Itu sudah seharusnya. Aku berterimakasih padamu untuk hati yang sudah kau berikan padaku. Aku tahu ini bukan akhir dari cinta kita Ei, tapi awal mula di mana kita berdua akan menghadapi banyak sekali badai topan yang bisa menumbangkan kita. Perjalanan cinta kita masih sangat panjang. Namun, jika kau menggenggam erat tanganku seperti sekarang ini, yakinlah … kita berdua pasti bisa menghadapi badai sebesar apapun dan bakal sampai ke tujuan hidup kita.”


Ei terdiam, ia tidak pernah menyangka kalau ia bakalan jatuh cinta pada Hesa. Semua yang dikatakan suaminya ini memang benar. Kendati demikian, ada yang mengganjal pikiran Ei sekarang. Menurutnya, hubungan yang dimulai dari sebuah kebohongan dan keterpaksaan takkan berhasil dengan mudah. Sebab itulah Ei mengusulkan pada Hesa untuk mengakhiri semuanya dan memulai lagi dari awal.


“Bagaimana kalau kita katakan saja yang sebenarnya pada Kanjeng Ibu dan Ayahanda Raden Savatinov kalau kita … sebenarnya belum menikah.”


“Tidak, itu bukan ide yang bagus. Kita sudah sejauh ini. Semuanya bakal jadi lebih kacau kalau kita mengatakan yang sebenarnya pada mereka.” Hesa tidak setuju dengan usul Ei.


“Tapi …”

__ADS_1


“Alasan kenapa aku meminta izin pada kanjeng Ibu untuk menginap di rumahmu selama ujian berlangsung adalah untuk memberi ruang padamu agar mempersiapkan fisik dan mental menghadapi ujian sayembara pemilihan istriku. Kau harus menang Ei. Jangan biarkan wanita lain mengalahkanmu.” Hesa semakin mempererat genggaman tangannya sambil menyetir.


“Tanpa kau mintapun, aku sudah berjanji pada Febi, kalau aku memang harus menang.”


“Bagus, karena aku dipihakmu, mungkin keluargaku akan mengubah aturan dan tata cara sayembara yang harus kau ikuti. Untuk itulah aku akan memberitahumu semua hal yang harus kau lakukan agar kau menang Ei.”


“Kok kesannya, lebih menakutkan daripada ujian semester, ya?”


“Kau harus kuat Ei. Aku akan selalu melindungimu. Jadi kau jangan cemas. Oh iya, bagaimana dengan ujianmu? Apa … kau mengalami kesulitan? Kau butuh aku? Jangan sampai ujianmu berantakan gara-gara terbebani masalah ini.”


“Tidak. Meski aku tidak belajar, aku bisa mengerjakan semua soal. Tapi aku tidak tahu apakah jawabanku tepat atau tidak.” Ei mulai memikirkan jawaban yang ia tulis kemarin. Mencoba mengingat-ingat apakah ia melewatkan sesuatu.


“Aku dengar dari Angel. Kau ini sangat pintar. Makanya aku tak khawatir. Orang-orang istana kepercayaan Kanjeng Ibu akan datang kerumahmu malam nanti, Ei. Mereka akan menjadi pelatih khususmu, mulai dari penguasaan tata sejarah keluarga kami, bahasa, aturan adat istiadat, cara berjalan dan yang lainnya. Kau akan dilatih oleh mereka selama seminggu ini.”


Ei menghela napas panjang. Ia bisa bayangkan betapa beratnya latihan persiapan yang akan ia jalani selama seminggu ini demi memenangkan sayembara sebagai istri sahnya Hesa. Cinta itu indah, cinta bisa membuat semua orang yang merasakannya bahagia, tapi kadangkala cinta juga bisa bikin sengsara. Tergantung bagaimana semua insan bisa menghadapi ujian dalam perjalanan cinta agar tetap abadi selamanya.


***


“Aku turun di sini!” pinta Ei saat Hesa sedang isi bensin di pom bensin tak jauh dari kampus mereka. Ei tak ingin ia terlihat berangkat bersama dengan Hesa agar tidak tercipta kontroversi di tengah-tengah berlangsungnya ujian.


Gadis itu juga ingin konsentrasi penuh pada ujian kali ini dan juga misinya sebagai kandidat calon pendamping hidup Hesa yang sah di mata keluarga dan negara. Makanya Ei cari aman dan sepakat dengan Hesa untuk merahasiakan hubungan keduanya agar tidak dipublis dulu di depan umum.


“Tidak, kita akan masuk bersama. Gedungmu sangat jauh dari si … ni.” Hesa mencegah istrinya keluar dari dalam mobil. Tapi terlambat, Ei tidak mendengarkan suaminya dan malah nyelonong pergi begitu saja. Hesa tidak bisa mengejar karena ia masih proses isi bensin sementara antrian dibelakangnya sedang menunggu.


“Dasar bandel,” gumam Hesa dan ia melirik benda milik Ei yang tertinggal. “Kau benar Ngel. Ei ini pintar, tapi oneng.” Hesa tersenyum sambil mengeluarkan uang 3 lembar serratus ribuan untuk diserahkan pada mas-mas penjaga SPBU.


Begitu Hesa keluar pom bensin, Ei sudah menghilang entah ia lewat jalan mana. Sepertinya gadis itu lewat pintu belakang kampus karena gedungnya jauh lebih dekat dari situ. Hesa memarkir mobilnya di tempat biasa dan turun menyapa teman-temannya yang kebetulan lewat disekitarnya.


Tak ada yang curiga kalau Hesa tidak datang sendiri. Hanya saja, teman-teman Hesa melihat ada yang berbeda dalam diri pria itu.

__ADS_1


“Weist, tumben pak asdos bawa mobil sendiri? Kagak diantar jemput dan pakai pengawal pribadi,” ledek temannya.


“Aku kabur dari rumah, makanya bawa mobil sendiri,” jawab Hesa tampak sumringah sama sekali tak mencerminkan kalau dia lagi kabur dari rumah.


“Wuah, bisa juga seorang pangeran ningrat minggat? Terus sekarang tinggal di mana?” tanyanya lagi.


“Di rumah seseorang. Jauh dari sini." Hesa berkata jujur-sejujurnya.


“Lah yang ditanganmu itu kartu ID-nya siapa?” teman-teman Hesa yang julid memegang kartu ID-nya Ei yang tadi tertinggal di mobil Hesa dan membaca pemilik kartu tersebut. Tanpa diberitahupun, teman-teman julidnya si asdos ini langsung julidin Hesa habis-habisan.


“Cie-cieee yang habis berduaan, pantesan kagak bawa pengawal, ternyata eh ternyata … ada yang lagi kasmaran nieee …” semua teman-teman Hesa puas meledek temannya karena meski tanpa diberitahu sudah tampak jelas kalau Hesa memang sedang jatuh cinta dan habis menghabiskan waktu dengan sang pujaan hati tercinta.


“Sudah diam, awas kalau kalian ember, aku cincang kalian semua jadi perkedel!” ancam Hesa dan semua teman-temannya sangat-sangat mengerti.


“Eh pak asdos! Mau ke mana? Kau salah arah! Gedung kita di sebelah sana, itu gedung SAINS lah … adaaw! Siapa yang jitak kapalaku?” teriak salah satu teman Hesa menoleh ke arah orang yang menjitak kepalanya.


“Aku!" aku seseorang, "masa kau nggak tahu, kan ceweknya pak asdos anak SAINS, dia nggak salah arah! Kau itu yang salah jalan alias sesat!” terang teman Hesa yang lainnya.


“Tapi nggak harus jitak kepala juga keles! Dasar saos tiram!”


"Kau itu saos tomat!"


"Kau saos belibis!"


Kedua teman julid Hesa ini saling jundu menjundu kepala dan Hesa tidak menghiraukan pergulatan nggak jelas teman-temannya. Ia harus mengembalikan kartu ID istrinya agar bisa ikut ujian. Sebab, tanpa kartu tersebut, Ei tidak bisa masuk kelas.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2