Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 63


__ADS_3

Tak berselang lama setelah Hesa keluar, Febi masuk keruangan Ei dan langsung menanyakan apa yang terjadi pada sepupunya.


“Si panci Teflon itu kenapa? Mukanya lecek banget?” tanya Febi.


“Entahlah, dia mendapat telepon dan wajahnya langsung seperti itu. Aku juga tidak tahu siapa yang meneleponnya. Sudahlah berhenti bicarakan dia, apa kau jaga malam?”


“Iya, aku datang ke sini untuk memeriksa kondisimu yang katanya sudah sadar dari pingsanmu. Bagaimana? Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Febi sambil menempelkan stetoskop di dada Ei. Febi juga mengukur tekanan darah Ei dan semuanya normal. “Bagaimana cedera bahumu?”


“Baik, sudah mending dari sebelumnya. Pasti ini berkat ramuan rahasiamu.”


“Maafkan keluargaku, Ei. Gara-gara mereka, kau jadi seperti ini. Kalau saja aku bisa mencegahnya, aku takkan biarkan kau masuk ke dalam kehidupan Hesa agar kau tak menderita seperti ini. Aku berharap di luar sana ada pria lain yang lebih baik dari Hesa dan membuatmu bahagia.”


Ei menatap wajah temannya yang sedih. “Jangan bicara seperti itu. Aku sih bisa saja pergi meninggalkan Hesa dan mengejar artis idolaku. Tapi … tak ada yang bisa menjamin apakah aku bahagia bersama dengan orang itu lebih dari saat aku berada di sisi Hesa. Aku tahu kau mencemaskanku, tapi aku tidak akan menyerah Feb. Aku takkan pernah biarkan Hesa berjalan dan berjuang sendirian. Sebab, hanya dia satu-satunya pria yang rela mati untukku.” Ei menggenggam erat tangan Febi.


“Inilah cinta, deritanya tiada tara,” ujar Febi ikut mengutip ucapan Pat Kai.


Febi dan Ei saling tertawa satu sama lain karena mereka berdua memiliki kisah cinta yang hampir sama. Malam itu, Ei meminta Febi menemaninya untuk tidur di kamarnya dan Febi mengiyakan.


“Kondisimu sudah lebih baik, besok sayembara pasti bakal di mulai lagi. Kali ini, berbeda dengan sayembara sebelumnya. Apa kau sudah siap?” tanya Febi yang sedang berbaring di sebelah Ei.


“Apa yang harus aku pelajari?” Ei balik bertanya. Mereka berdua sama-sama menatap langi-langit plafon.


“Tidak ada, tidak ada yang tahu sayembara model apa yang bakal diberikan pada semua calon putri di sayembara besok. Bahkan Bopo Savatinov juga tidak tahu. Inilah sayembara yang sesungguhnya. Tidak akan ada kecurangan. Makanya Hesa disuruh pulang dan berkumpul dengan semua anggota keluarga agar kau dan dia tidak dituduh yang bukan-bukan.”


“Tapi … kau bersamaku, apa itu tidak menimbulkan masalah?”

__ADS_1


“Kan aku tidak tahu apapun. Tidak masalah lah, lagian aku adalah dokter yang diperintah langsung untuk merawatmu. Apa yang terjadi padamu sepenuhnya adalah salah kami. Ini adalah salah satu bentuk tanggungjawab kami padamu.”


Ei manggut-manggut, tapi ia sangat penasaran. Apa yang bakal ia hadapi besok. Entah mengapa, kali ini Ei merasa sangat kesulitan berpikir. Tidak seperti biasanya.


***


“Kenapa aku dikunci di kamar ini?” protes Hesa ketika dirinya tiba di kediamannya dan malah disuruh masuk ke dalam kamar serta tidak diperbolehkan keluar.


“Ini demi menjaga agar tidak ada indikasi kecurangan apapun. Kau akan tetap di sini sampai sayembara dimulai lagi besok. Kau juga tidak diperbolehkan kabur. Kalau sampai kau keluar dari kamar ini maka istrimu akan langsung tereliminasi.” Mahendra memberitahu adiknya. Ia ditugaskan untuk menjaga Hesa agar tidak keluar kamar untuk menemui yang kini sedang berada dengan Febi.


Hesa kesal, bahkan ponselnyapun disita. Padahal Hesa langsung ke sini ketika pihak keluarga memberitahu bahwa neneknya sakit. Eh nggak tahunya itu cuma prank. Alhasil terkurunglah Hesa di dalam kamarnya sendiri.


“Sial,” geram, Hesa. “Aku sangat merindukanmu Ei. Aku kangen kamu.” Hesa berguling-guling di atas kasur ke kanan dan ke kiri sehingga membuat Mahendra risih sendiri.


“Kak, pinjami aku ponselmu! Aku kangen Ei Kak. Aku ingin mendengar suaranya. Haish … harusnya aku tidak datang kemari!” rengek Hesa pada kakaknya seperti anak kecil.


“Tidak bisa, kau dikurung di sini untuk menghindari kecurangan. Malah mau pinjam ponsel segala. Jangan nyusahin orang saja kau. Ikuti saja aturan nenek. Bukankah ini yang kau inginkan?”


Tubuh Hesa melemas dan ia merebahkan diri di atas kasur sambil terus menggerutu. “Aku kangen kamu, Ei. Kok bisa aku sekangen ini sama kamu. Kamu kangen aku nggak, ya?” gumamnya.


“Dasar bucin!” ledek Mahendra sambil melanjutkan membaca novel ‘Pengantin Pangeran Vampir’. Kaka sulung Hesa ini hanya geleng-geleng kepala melihat adiknya bertingkah aneh kalau lagi jatuh cinta.


“Kak,” seru Hesa tiba-tiba saja bangun dari tempat tidurnya.


“Apa!” bentak Mahendra.

__ADS_1


“Keluarlah dari kamarku dan tanyakan pada Ei apakah dia merindukanku sama seperti halnya aku yang sangat merindukannya setengah mati?”


“Astaga anak ini. Apa kau sudah gila, ha? Kau itu hanya dikurung beberapa jam saja di sini. Tidak untuk selamanya. Besok kan kau juga masih bisa bertemu dengannya dasar panci teflon!”


Hesa kembali merebahkan diri dan terus bergumam merindukan istrinya. Padahal tadi, dia sendiri yang mengancam Ei agar tidak kangen padanya. Sekarang ancaman itu malah berbalik pada Hesa sendiri. Cowok itu sangat rindu pada pujaan hatinya yang kini sedang tertidur pulas dengan Febi.


***


Akhirnya, sayembara ulangpun di gelar. Semua peserta baik yang sudah gagal atau masih menjadi peserta sayembara berkumpul jadi satu di istana. Ei pun juga baru tiba dari rumah sakit ditemani Febi. Tak disangka, yang datang 10 kali lipat jauh lebih banyak dari sebelumnya dan mereka semua berasal dari kumpulan rakyat jelata.


Dan yang lebih mengejutkan Ei lagi adalah … ada Angel dan Prety duduk di bangku kursi penonton saat Ei berjalan pelan melintasi mereka.Ei langsung terbujur kaku saat Ferry, kaka sepupunya yang ia kira sudah berhasil Ei usir dari sini tiba-tiba datang dan berdiri di samping Angel.


Kedua mata saudara sepupu itu saling menatap dengan perasaan masing-masing dan bila dilihat dari ekspresi Ferry, kemungkinan cowok itu sudah tahu apa yang terjadi pada Ei sekarang.


Omegot, kenapa tutup botol itu masih ada di sini? Dan gimana bisa dia datang sama Angel dan Prety? Ada apa ini? Dan kenapa juga ada banyak orang? Kayak mau konser BTS saja, batin Ei.


Setelah sempat shock dengan kehadiran Angel, Prety dan Ferry. Ei mulai sibuk mencari-cari keberadaan Hesa. Dan akhirnya ia menemukan suaminya. Ei langsung tersenyum pada Hesa dan hendak melambaikan tangan pada suaminya.


Namun, niatnya ia urungkan saat Ei tahu siapakah orang yang ada di samping Hesa. “Tidak mungkin … ini … tidak mungkin,” gumam Ei lirih. Dan membuat Febi bingung sendiri dengan sikap temannya.


“Ada apa Ei?” tanya Febi. Ei masih belum menjawab karena ia terlalu shock dengan banyaknya kejutan yang ia lihat hari ini.


BERSMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2