Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 35 Tom and Jerry


__ADS_3

Ei dan Hesa saling kejar-kejaran seperti anak kecil dan membuat seisi kamar berantakan bagai kapal pecah. Mereka mungkin tidak sadar kalau sudah membuat kegaduhan dan terdengar dari luar. Abdi dayang yang melintas di luar kamar Hesa sampai geleng-geleng kepala karena bingung mendengar Ei berteriak-teriak histeris seolah malam ini adalah malam syahdu antara Hesa dan Ei.


Semua orang mengira, aksi Ei dan Hesa yang bagai Tom and Jerry adalah proses ngadon untuk menciptakan keturunan ningrat yang baru. Padahal aslinya mereka ini sedang berantem seperti anak-anak TK. Saling lempar bantal guling dan membuat lusuh kasur mereka sendiri.


“Ei, Kau tidak lelah? Aku lelah!” ujar Hesa tanpa tahu kalau diluar kamarnya sedang ada dayang yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Lelah versi Hesa jelas berbeda dengan ‘lelah’ versi abdi dayang yang ada di luar kamar pangeran mereka.


“Aku juga lelah, tapi kau itu menyebalkan. Pokoknya aku nggak akan berhenti sampai aku mengalahkanmu dan membuatmu tak bisa bangun lagi!” cetus Ei dan semakin melongolah para abdi dayang Hesa dan Ei ketika mendengar omongan taun putri mereka.


Semua dayang saling pandang dan He-Ri alias heboh sendiri. Mereka berbisik-bisik betapa ganasnya Ei saat berada di atas ranjang.


“Besok kita bisa lanjut lagi, ayo istirahat sebentar,” ajak Hesa dan ucapannya itu semakin menguatkan praduga para dayang bahwa baik Ei dan Hesa sedang main kuda-kudaan.


“Nggak mau! Salah sendiri! Siapa yang mulai!” bentak Ei dan mereka mulai membuat kegaduhan lagi sampai orang yang mendengar dari luar ngeri-ngeri sedap sendiri.


“Astaganaga … ternyata calon putri di keluarga ini lumayan kuat juga melayani pangeran, ya? Sampai pangeran Hesa yang terkenal paling kuat fisiknya kewalahan,” bisik salah satu abdi pada rekannya.


“Benar, pantas saja pengeran cinta mati sama dia, tak hanya tangguh di luar, di atas ranjang juga dia bikin pangeran kelepek-kelepek. Kau dengar itu? Pasti pangeran ada dibawah dan mereka main ehem hem dengan ganas.”


Para dayang mulai berbisik-bisik ria membahas berita hangat antara Ei dan Hesa yang sedang perang nikmat di ranjang. Mereka tidak tahu perang yang mereka pikir sebenarnya perang sungguhan dalam arti sebenarnya. Ei dan Hesa saling lempar guling dan bantal lantaran Ei kesal karena Hesa terus saja menggodanya. Tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.


Sementara di dalam, Hesa sudah tidak bisa menghindar lagi. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan ia langsung menangkap tubuh Ei lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya.

__ADS_1


“Sssssttt! Diam sebentar, Ei.”


“Ada apa?” tanya Ei penasaran melihat Hesa berubah jadi sangat waspada. Ei kaget tiba-tiba dipeluk Hesa, tapi ia jadi ikutan waspada juga.


Sang pangeran berjalan mengendap-endap menuju pintu kamarnya dan tanpa peringatan, Hesa membuka pintu kamar tersebut sehingga membuat para abdinya yang sedang fokus mencuri dengar di balik daun pintu langsung jatuh terjerembab saat Hesa membukanya.


Tentu saja Ei kaget karena baru tahu ada yang sedang menguping. Kedua dayang wanita itu gelagapan karena ketahuan. Bahkan mereka jadi salah tingkah sampai terus berbenturan tak karuan karena bingung mau melarikan diri atau tidak.


“Sedang apa kalian di sini?” tanya Hesa penuh selidik.


Para dayang itu terkejut melihat rambut Ei berantakan dan betapa hancurnya kamar Hesa. Dalam hati mereka sama-sama berkata, sekuat apa permainan ranjang antara Hesa dan Ei sampai membuat seisi kamar seperti habis kena rudal.


“Jawab pertanyaanku!” bentak Hesa dan membuat kedua abdi itu gemetar.


“Sambil berghibah?” sela Hesa cepat.


“Kami tidak berani Yang mulia. Mohon maafkan kelancangan kami.” Para abdi dayang itu berlutut di hadapan Hesa sambil mengatupkan kedua tangan mereka. “Tolong jangan hukum kami pangeran Hesa, kami sungguh tidak mendengar apa-apa karena kami baru saja datang.”


Ei berjalan mendekat ke arah Hesa. Ia kasihan melihat para abdi ini sedang gemetar ketakutan. Sebenarnya, bukan salah mereka sepenuhnya. Mereka hanya tertarik untuk mencuri dengar atas kegaduhan yang Hesa dan Ei buat sehingga mereka salah paham pada apa yang terjadi diantara pasangan suami istri ini.


“Jika ayahku tahu apa yang sedang kalian lakukan, pasti kalian berdua bakal dihukum.”

__ADS_1


“Ampun Pangeran, sungguh maafkan kesalahan kami, kami tidak akan mengulangi lagi.” Para abdi itu memohon belas kasih Hesa.


“Kalau kalian tahu tindakan kalian ini lancang, kenapa kalian berdua masih ada di sini? Kali ini, kalian kulepaskan, tapi lain kali, jangan harap kalian bisa lepas dari hukuman tatas tindakan lancang kalian! Pergi! Aku tidak mau melihat wajah kalian berseliweran di sini!” usir Hesa dan kedua abdi itu langsung berlarian pergi menjauh dari kamar Hesa tanpa bisa bersuara lagi.


Hesa menutup pintu kamarnya sambil mendengus kesal. Ei jadi merasa bersalah pada dayang-dayang tadi. Untunglah, Hesa tidak menghukum mereka sehingga gadis itu merasa lega. Sebagai Pangeran, Hesa bukan orang yang suka bertindak semena-mena. Biasanya, pengeran itu sombongnya nggak ketulungan, sok berkuasa dan kadang ada yang menyalahgunakan kekuasaan.


Tetapi Hesa lain, di kampus tak ada yang tahu kalau Hesa adalah bangsawan. Yang mereka tahu, Hesa hanyalah salah satu mahasiswa paling pintar dan berprestasi, makanya dia tenar. Apa jadinya jika seisi kampus tahu kalau asdos tampan dan yang paling pintar di kampus adalah seorang bangsawan pula, pasti akan lebih banyak wanita yang menginginkan Hesa jadi milik mereka.


Kalau dipikir-pikir, Ei ini beruntung menjadi istri pilihan dari pangeran ningrat seperti Hesa. Namun karena ia oneng, keberuntungannya ini malah ia anggap sebagai kesialan. Entah kapan Ei ini sadar kalau ia adalah wanita paling beruntung di dunai karena memiliki Hesa disisinya. Tanpa banyak bicara, si oneng Ei mengambil beberapa gelas untuk diisi air minum.


“Untuk apa gelas-gelas itu?” tanya Hesa bingung.


“Untuk pembatas,” jawab Ei singkat dan meletakkan gelas-gelas kecil itu tepat di tengah-tengah ranjang yang membatasi tempat tidur Ei dan Hesa meski mereka berdua satu ranjang. “Sebelah kanan tempat tidurmu, sebelah kiri tempatku. Dan gelas bersisi air ini adalah pembatasnya. Ini untuk jaga-jaga supaya kau tidak berbuat macam-macam padaku saat aku tidur.” Ei tersenyum manis melihat wajah melongo Hesa. Gadis itu mengambil posisi enak dan langsung tidur.


“Kenapa kau tidak tidur di kursi saja? Ini kan kamarku?” Hesa tak terima. Sebab, jika salah gerak saja, maka sudah dipastikan pakaian Hesa bakalan basah terkena air semua.


“Siapa suruh kau membawaku kemari. Aku tidak mau tidur di kursi. Kalau kau mau, kau saja yang tidur sana!” cetus Ei dan ia langsung tidur dengan tenang.


Namun, bukan Hesa namanya kalau ia mudah menyerah begitu saja dengan Ei. Begitu gadis itu terlelap, gelas-gelas berisi air, Hesa teguk sampai habis dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu, dia tidur di samping Ei dan sengaja mendekat agar Ei tidur dibahunya. Dan benar saja, Ei yang terlelap tanpa sadar memang tidur dibahu Hesa dan memeluk Hesa dengan erat layaknya guling.


Karena terlalu lelah, akhirnya mereka berdua terlelap sambil saling berpelukan.

__ADS_1


***


__ADS_2