Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 33


__ADS_3

Hesa kembali ke dalam kamarnya dalam keadaan emosi. Ia tidak pernah menyangka kalau ayahnya nakal bertin dak sejauh ini. Apa jadinya Ei kalau saja gadis itu hanyalah gadis normal biasa. Mungkin saat ini Ei sudah pindah kea lam baka, bukan di kamar Hesa.


“Sepertinya, aku tidak bisa mempertahankanmu disisiku Ei. Kematian, bisa saja menjemputmu kapan saja kalau aku memaksamu ada didekatku.” Berkali-kali, Hesa membuang napas seolah ia tak rela bila harus melepaskan Ei dari hidupnya.


Kini Hesa tak punya pilihan lain, keselamatan Ei jauh lebih penting dari apapun. Hesa berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya untuk melihat wanita yang ia cintai. Hati Hesa langsung serasa adem ayem saat melihat Ei duduk menunggunya dalam keadaan cemas. Begitu Hesa masuk, Ei langsung berdiri dan menyongsong kedatangannya sampai ia sendiri lupa kalau kakinya masih nyeri.


Gadis itu hampir saja jatuh kalau saja Hesa tak segera mengangkat tangan Ei. “Hati-hati, bukankah kakimu masih sakit?” ujar Hesa dan tanpa permisi, ia menggendong Ei lalu mendudukkannya di kursi panjang depan tempat tidur Hesa. “Selonjorkan kakimu, biar kuperiksa apakah masih bengkak atau tidak.”


“Kau marah padaku? Kau tadi pergi ke mana? Apa ayah akan menghukumku? Kira-kira hukuman apa yang bakal aku terima?” tanya Ei penasaran dan mengubah topik pembicaraan.


“Kau tidak salah, jadi kau takkan dihukum,” jawab Hesa sambil membuka perban di kaki Ei untuk diganti dengan yang baru.


“Syukurlah kalau begitu, haah … leganya. Aku pikir aku bakal mendapat hukuman karena membuat ayahmu pingsan di hari pertama aku datang ke istana ini.”


Hesa menatap Ei dalam diam. Bisanya pangeran ningrat itu bakalan jahil pada Ei dan membuat hadis itu emosi. Namun kali ini tidak. Ada hal penting yang harus Hesa sampaikan terkait keputusan besarnya.


“Ei,” ujar Hesa.


“Ada apa? Apa … aku jadi dihukum?” tanya Ei curiga kalau Hesa cuma nge-prank dirinya.


“Bukan, tapi ada yang harus aku katakan.”


Melihat wajah Hesa yang tampak serius,m Ei jadi tegang sendiri. Jangan-jangan dirinya memang dihukum tapi Hesa sengaja menutupinya.


“Ada apa? Aku kena hukuman, kan? Bilang saja hukumannya apa, aku siap kok!”


“Bukan itu, Ei. Kenapa yang ada di otakmu cuma hukuman saja?”


“Lalu apa? Kau jangan bikin aku tegang kunyuk! Ngomong setengah-setengah begitu kan kesal jadinya.” Ucapan Ei ada benarnya juga. Hesa terlalu bertele-tele sehingga membuat gadis itu salah paham sendiri.

__ADS_1


“Kedepannya, mungkin akan sangat sulit untukmu. Ini jauh dari ekspektasiku. Maaf sudah melibatkanmu.” Hesa mengatur napas sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. “Sepertinya, kita akhiri saja sandiwara kita sebelum kau kenapa-napa.” Wajah Hesa tampak sedih tapi ia tulus saat mengobati luka Ei.


Ei terkejut, tapi juga tak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa aku tidak salah dengar? Apa dia lagi ngigau? Yang dia ucapkan itu serius, nggak sih? Atau cuma prank doan? Tanya Ei dalam hati.


Melihat wajah Hesa melas begitu, rasanya tidak mungkin kalau Hesa sedang bercanda. Ei jadi tidak enak hati sekarng. Ia juga bingung dengan perasaannya. Harusnya ia bersorak sorai saat Hesa mengatakan kalau ia akan mengakhiri sandiwara pernikahan mereka jauh lebih cepat dari perjanjian. Bahkan ini belum ada seminggu mereka berakting jadi pasangan suami istri. Namun sudah harus berakhir.


Inilah yang Ei inginkan sejak awal. Namun, entah mengapa gadis itu malah jadi ikut sedih juga saat melihat wajah Hesa. Kalau ini berakhir, artinya ia tak perlu bertemu dengan Hesa lagi.


“Apa … kau sungguh-sungguh akan mengakhiri sandiwara kita?” tanya Ei memastikan.


“Aku rasa ini yang terbaik untukmu.”


“Apakah kau … akan menikahi wanita yang akan memenangkan sayembara sekalipun kau tidak menyukainya?”


Hesa menatap wajah sedih Ei. Ia tahu ada kecemasan di mata wanita yang ada dihadapannya ini. “Kenapa? Kau cemburu?” godanya sambil tersenyum.


“Idih, siapa juga yang cemburu, aku hanya ingin tahu saja. Kemarin-kemarin kau ngotot tidak mau menikahi wanita lain selain aku, sekarang berubah lagi. Kan aneh?”


“Kau mau pergi lagi?”


“Besok kau harus pergi kuliah. Karena ujian semester akhir sudah dimulai. Jangan pikirkan masalah sayembara lagi.”


“Jika kau memberitahu keluargamu sekarang, apakah kau bisa jamin aku tidak akan mendapat hukuman juga? Bagaimanapun, aku sudah terlanjur terjun ke dalam air dan pakaianku sudah basah. Butuh waktu untuk mengeringkannya. Prinsipku sama sepertimu. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Aku tidak mau berhutang budi banyak padamu dan membuatku tidak bisa tidur. Akan aku selesaikan misi menjadi istri palsumu dan kuhadapi semua rintangan di rumah ini. Untungnya kita tidak saling cinta, jadi mudah bagiku menghadapi ayahmu yang sangat membenciku.”


“Apa kau tidak tahu kau bisa saja mati sia-sia di sini? Kau tidak punya siapa-siapa di luar sana. Akan mudah bagi keluargaku menghabisi nyawamu. Aku tidak mau kau kenapa-napa Ei. Ini sungguh diluar dugaanku. Kalau aku tahu, aku takkan memaksamu.”


“Ini juga merupakan tantangan bagi hidupku. Aku sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini. Siapa bilang aku tidak punya siapa-siapa. Aku punya anak-anak panti asuhan, aku punya Angel dan Prety serta teman-teman kampus lainnya. Dan aku punya kau. Yah, walaupun kau itu sangat menyebalkan. Tapi kau selalu melindungiku disaat aku dalam bahaya. Aku tidak akan mundur bertarung dengan ayahmu. Mau ditaruh di mana mukaku saat bertemu dengan Febi jika aku mundur sekarang. Percayakan padaku, aku akan mengalahkan semua kandidat calon istrimu dan keluar sebagai pemenangnya supaya kau bisa bebas.”


Ei berdiri dan berjalan mendekat ke arah Hesa. Dua insan itu sedang saling menatap dengan perasaan mereka masing-masing.

__ADS_1


“Aku akan memenuhi misi yang kau berikan padaku. Aku sudah tidak bisa mundur lagi sekarang karena kesempatan itu sudah kulewatkan. Aku juga bukan tipe orang yang menjilat ludahku sendiri. Jika aku mundur sekarang, sama saja membenarkan persepsi ayahmu yang menganggapku hanyalah wanita jalaang. Aku harus tunjukkan kalau aku bisa jadi luar biasa. Sebagai istrimu, aku tidak akan membuatmu malu. Namun, Aku tidak bisa berjalan sendirian menghadapi keluargamu. Kau … harus berjalan bersamaku.”


“Kau serius?” tanya Hesa langsung berubah senang mendengar kalimat panjang lebarnya Ei. Ini sungguh diluar dugaannya.


Artinya, Hesa tak perlu kehilangan Ei untuk selamanya. Tadinya Hesa pikir gadis bar-bar itu bakalan bahagia dan langsung meminta pergi dari sini. Ternyata ia salah besar, Ei malah bertekad membantunya sampai akhir.


“Apa aku kelihatan bercanda?” Ei balik bertanya dan Hesa hendak mencium Ei. “Eits! Apa yang kau lakukan?”


“Mau menciummu!” jawab Hesa langsung semangat 45.


“Enak aja! Meski aku setuju berjuang bersamamu bukan berarti aku mau jadi budak nafsummu dudul! Ingat ya, aku belum jatuh cinta padamu. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri, bukan karenamu!”


“Terserah kau bilang apa, kalau cinta ya cinta, nggak ada alasan lain.”


“Siapa yang bilang cinta?” pekik Ei mulai kesal lagi dengan Hesa.


“Kaulah!”


“Nggak ada!” tolak Ei mentah-mentah. “Nggak ada cinta-cintaan! Aku cuma murni menolongmu, nggak lebih dari itu. Kau jangan salah paham!”


“Sebenarnya kau itu sangat mencintaiku, Ei. Hanya saja kau tidak mau mengakuinya.”


“Terserah kau sajalah, percuma juga ngomong sama batu. Bikin ginjalku naik!” Ei buang muka dan menjauh dari Hesa. Ia langsung berbaring ke tempat tidur, mencoba mengacuhkan si asdos yang berdiri di belakangnya sambil tertawa tanpa suara.


“Kau mau kutemani tidur?” tanya Hesa dari balik punggung Ei.


“Pergi sana! Jangan buat aku berubah pikiran gara-gara membantumu keluar dari jeratan perjodohan pernikahanmu yang kolot ini! Astaga aku menyesal memutuskan membantumu. Kau bikin bengek hidupku!” bentak Ei dan Hesa malah tertawa.


“Oke, tapi lihat malam nanti!” ujarnya dan Ei sudah tidak mau dengar.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2