Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 43 Bisikan Cinta Hesa


__ADS_3

Ei tiba di ruang kelas jauh sebelum ujian dimulai. Ia menggeledah tasnya untuk mencari kartu ID-nya. Angel dan Prety juga baru tiba dan ikutan bingung karena Ei mengobrak abrik tasnya sendiri seperti sedang mencari-cari sesuatu.


“Cari apa, Ei?” tanya Angel. Mereka bertiga terpaksa berdiri di koridor depan kelas agar tidak menghalangi jalan orang-orang yang sedang berlalu lintas.


“Kartuku, perasaan tadi pagi udah aku masukin tas, kok nggak ada, ya?” dengan panik Ei terus mengobrak abrik tasnya dan mengingat-ingat di mana ia menaruh kartu ID-nya. “Masa ketinggalan. Kayaknya nggak mungkin, jelas kartu ID-ku …” Tiba-tiba Ei teringat sesuatu.


Agar tidak lupa, sebelum berangkat Ei sengaja mengalungkan kartu ID-nya di leher dan masuk ke dalam mobil Hesa. Lalu, mereka berdua sempat terlibat kontak fisik bersama.


Jangan-jangan jatuh saat Hesa menciumku tadi, batin Ei dan langsung buru-buru pergi ke tempat Hesa.


“Haissh sial, Hp-ku ketinggalan. Bagaimana ini, masa iya aku ke tempat Hesa. Eh tunggu! Aduh Ei kenapa kau itu oneng sekali. Hesa jurusan apa? Gimana bisa kamu nggak tahu apapun tentang suamimu astaga!” Ei merutuki dirinya sendiri sambil bergegas pergi dalam keadaan bingung.


Untunglah Prety dan Angel berlari mengejar Ei. “Woy Ei Oneng! Tunggu!” seru Angel yang berlari lebih cepat dari Prety. “kau mau ke mana? Main nyelonong gitu aja, bentar lagi mau ujian.”


“Aku mau menemui Hesa. Aku yakin kartuku ketinggalan di mobilnya!” terang Ei buru-buru tapi ia bingung, mau cari Hesa di mana. Kampus ini sangat luas dengan banyak fakultas. Yang Ei tahu Hesa adalah asdos sementara. Jurusan asli Hesa Ei sungguh-sungguh tidak tahu. Mana ponselnya ketinggalan pula.


“Kok berhenti? Katanya nyari Hesa?” tanya Prety akhirnya bisa menyusul kedua temannya.


“Pasti si oneng ini nggak tahu suaminya jurusan apa. Kan dia oneng, kalau nggak oneng mana mungkin kartu Id aja sampe ketinggalan.” Angel yang menjawab dan Prety hanya geleng-geleng kepala. Sudah nggak kaget dengan kelakuan teman onengnya ini.


“Diam kalian, berisik sekali. Kalau nggak mau bantu nyari si asdos itu lebih baik pergi sana,” cetus Ei. Ia bingung bagaimana cara menemukan Hesa sedangkan jurusan dan fakultasnya apa, Ei sama sekali nggak tahu.

__ADS_1


“Ei Ei, ada ya, cewek oneng markoneng kayak kamu. Hesa itu anak teknik semester 7, dia sudah ambil skripsi sekarang dan bentar lagi lulus. Harusnya dia ada program KKN tapi diundur karena dia jadi asdos.” Akhirnya Prety yang memberitahu.


“Darimana kau tahu?”tanya Ei, ia yang udh jadi bini palsunya Hesa dan baru saja jadian aja nggak tahu kalau kekasihnya itu sudah semester 7 sementara dia masih semester 3.


“Semua wanita di kampus ini tahulah Ei. Apalagi dia salah satu senior paling populer di sini setelah Leo. Kamunya aja yang dudul,” komentar Angel.


Ei tak menampik omelan temannya karena memang benar. Gadis itu bergegas pergi ke fakultas teknik untuk menemui suaminya. Namun, baru juga Ei sampai di taman faskultasnya, tiba-tiba saja Margaret datang dan menghalagi langkah Ei yang sedang terburu-buru.


“Mau apa kau! Minggir!” cetus Ei. Ia tak mau berurusan dengan orang nggak jelas seperti Margaret dan mencoba ambil jalan pintas lain. Namun, kemanapun Ei melangkah, Margaret selalu saja menghalangi jalan Ei.


“Ada apa denganmu?” tanya Ei sambil mengerutkan alisnya.


“Kenapa kau bisa turun dari mobil Hesa waktu di pom bensin?” tanya wanita itu penuh curiga.


“Nggak ada, Mbaknya salah lihat kali, orang tadi aku berangkat sendiri. Tanya saja sama semua anak yang ada di sini. Ada yang lihat aku bareng pak asdos nggak?” seru Ei dengan lantang agar yang lain bisa mendengar.


Memang tidak ada yang melihat Ei dan Hesa masuk kampus bersama apalagi satu mobil. Hesa datang sendiri begitu pula dengan Ei yang sudah sampai di gedung fakultasnya saat Hesa memasuki gedung utama kampus. Jelas alibi Ei sangat kuat walau Margaret yakin, mobil yang ada di depannya saat isi bensin adalah mobil Hesa dan ia yakin kalau Ei keluar dari dalam mobil itu lalu menghilang.


“Tidak mungkin aku salah lihat,” gumam Margareta.


Ei lega karena ia melepas jaketnya dan ia masukkan ke dalam tas sehingga pakaian yang Margaret lihat saat ia keluar dari dalam mobil Hesa tidak sama dengan yang ia kenakan sekarang.

__ADS_1


“Mungkin yang kau lihat bukan aku, tapi wanita lain. Kalau sudah tidak urusan, harap minggir. Jangan sampai bikin gossip yang nggak-nggak kalau nggak ada bukti.” Ei sengaja menyenggol bahu Margaret dan melewatinya.


Tapi si Margaret masih belum puas. Ia hendak menggeledah tas Ei guna membuktikan kalau dugaannya tentang wanita yang keluar dari dalam mobil Hesa itu adalah Ei, bukan wanita lain. Sayangnya, hal itu tidak jadi dia lakukan lantaran semua siswi pada heboh melihat Hesa dan teman-temannya datang.


Dengan kerennya, Hesa berjalan santai diikuti teman-temannya di belakangnya. Banyak yang bertanya-tanya apa tujuan Hesa datang ke fakultas SAINS yang sama sekali bukan fakultasnya. Para kaum hawa ini jadi bertanya-tanya, jangan-jangan gosip bahwa Hesa memacari anak SAINS itu memang benar.


Hanya saja, tidak ada yang tahu siapakah anak SAINS yang sudah merebut hati sang idola kampus, kecuali Angel dan Prety pastinya. Kedua teman Ei itu tahu persis untuk apa pak asdos mereka repot-repot datang ke fakultas SAINS.


Di tangan cowok tampan itu, tergenggam sebuah kartu ID yang merupakan milik Ei. Di tengah sorak sorai kaum hawa, mata Hesa hanya tertuju pada Ei seorang yang berdiri dalam diam dan lumayan cemas kalau hubungan keduanya terbongkar dengan kedatangan Hesa kemari.


Untunglah, Margareta terlalu percaya diri tingkat tinggi, dia pikir Hesa tersenyum padanya yang kebetulan posisi Margaret berdiri, memang tepat di depannya Ei. Padahal senyum manis Hesa itu hanya ia tujukan untuk istri tercinta.


“Hesa!” seru Margaret dengan Pe-Denya melambaikan tangan namun yang diserukan tidak membalas. Justru teman-teman Hesalah yang membalas lambaian tangan Margaret sehingga wanita ulat keket itu jadi manyun karena kecewa.


Lebih nyeseknya lagi, Hesa melewati Margaret begitu saja tanpa mau menoleh padanya dan bahkan tidak mengganggap Margaret ada. Sebaliknya, Hesa tetap berjalan lurus dan melewati Ei, tapi tangannya tanpa kentara menyerahkan kartu ID istrinya ke tangan Ei.


“Kartumu, ketinggalan, ini kukembalikan,” bisik Hesa pelan dan hanya Ei yang bisa mendengar.


Selebihnya, seolah tidak mengenal Ei, Hesa berjalan lurus ke depan melewati istrinya tanpa menimbulkan kecurigaan. Semua mahasiswi di kampus ini hanya terpusat pada ketampanan Hesa. Mereka tidak tahu, kartu ID yang tadi digenggam Hesa, sudah berpindah tangan dan dibawa oleh Ei.


Tentu saja Ei sangat senang dan ia langsung putar arah menuju kelasnya untuk mengikuti ujian di hari kedua. Sedangkan Margaret jangan ditanya. Ia sangat kesal karena dicuekin sama Hesa padahal mereka juga sempat dijodohkan walau Hesa menolak mentah-mentah perjodohan itu sehingga keluarga Hesa memutuskan mengadakan sayembara mutlak yang tak bisa di ganggu gugat, termasuk Hesa sendiri

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2