Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 8 Menikahlah Denganku


__ADS_3

Ei terbangun dari tidur panjangnya setelah berhari-hari hanya mengurung diri di kamar kosnya. Iapun mulai memikirkan ucapan Angel dan Prety sebelumnya bahwa tak mungkin selamanya Ei menyiksa diri sendiri seperti ini hanya karena di bully. Bagaimanapun juga ia harus bangkit dan mendapatkan keadilan atas apa yang dialaminya sekarang.


“Lawan mereka Ei, jangan takut kalah! Kebenaran akan selalu menang!” gumam Ei menguatkan dan menyemangati diri sendiri.


Gadis oneng itu bangun dari tidurnya dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Kini, penampilannya jauh lebih rapi daripada sebelumnya yang sudah seperti Siamang tanpa tulang. Hal pertama yang harus Ei lakukan setelah membaik adalah keluar cari makan untuk isi ulang energi.


Baru juga Ei membuka pintu kamar kosnya dan hendak keluar. Tiba-tiba saja, seorang pria tampan sudah berdiri diam di depannya sambil tersenyum manis pada Ei.


“Hai, apa kabar?” tanya pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Hesa. Pria yang jadi biang masalah dalam hidup Ei sejak pertama kali mereka berjumpa.


Sadar kalau Ei dalam bahaya besar, ia buru-buru menutup pintu kamar kosnya tapi terlambat, tangan Hesa lebih cepat dan lebih kuat dari tenaga Ei sehingga pangeran kampus itu memaksakan dirinya masuk ke dalam kos wanita yang diaku pacarnya.


Sontak saja Ei melongo, antara sok dan tak rela bila singgasananya ini dimasuki pria asing seperti Hesa yang sudah mengacaukan hidup sempurnanya.


“Mau apa kau ke sini? Pergi!” usir Ei kasar. Ia tidak habis pikir bagaimana Hesa tahu letak kosnya. Padahal kenal aja nggak.


Bukannya langsung menjawab, Hesa malah rebahan di atas kasur empuknya Ei. “Huaaah … lumayan nyaman juga. Ternyata begini rasanya jadi anak kos,” ujarnya.


“Aku bilang pergi! Kenapa kau malah rebahan disitu!” bentak Ei sangat kesal dengan pria bernama Hesa ini. Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada angin tida ada hujan, tiba-tiba saja Hesa datang tak diundang. Pakai acara rebahan pula, memangnya ini kamar neneknya.


Hesa bangun dan menopang kepalanya dengan satu tangan lalu menatap lurus Ei yang mukanya memerah karena marah. “Kenapa kau diam saja di situ? Kemarilah,” pintanya sok mesra sambil sengaja menggoda Ei.


“Kau budeg, ya? Pergi nggak! Atau aku bakal teriak nih!” Ei hendak membuka mulutnya bersiap teriak sekencang-kencangnya tapi tidak jadi gara-gara ucapan Hesa.

__ADS_1


“Teriak saja, yang rugi kau sendiri. Aku sih siap-siap saja!” ujarnya.


“Apa maksudmu siap-siap saja? Siap apanya?” tanya Ei bingung. Entah kenapa ia punya firasat buruk soal ini.


“Orang akan mengira kalau kau dan aku habis …” Hesa mengangkat dua jari dan melekuk-lekukkannya seperti telinga kelinci.“Kau paham, kan? Karena di kamar ini hanya ada aku dan kau saja! Malah kemungkinan besar, kau dan aku bakal segera dinikahkan.”


Ei langsung sadar dan ia membuka lebar-lebar pintu kamar kosnya agar terlihat dari luar. “Tidak terjadi apa-apa antara kau dan aku. Sekarang pergi! Jangan pernah lagi datang kemari! Pergi Soang!” teriak Ei sekesal-kesalnya sehingga mengundang banyak perhatian orang.


Tak perlu menunggu waktu lama bagi orang-orang di sekitar untuk berkumpul di depan kamar kosnya Ei. Mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi.


“Pergi, atau mereka akan mengeroyokmu!” ujar Ei merasa menang sambil menopang kedua tangannya di depan dada melihat para penghuni kos berkerumun di depan kamar kosnya.


Hesa menunduk sambil menyembunyikan senyumnya. Seolah menuruti apa kata Ei, pemuda itu bangun dan berjalan pelan mendekati pintu keluar. Tadinya Ei pikir Hesa bakal benar-benar pergi, tapi ternyata dugaan gadis itu salah besar.


Wajah Ei langsung melongo antara shock dan juga terkejut. Sungguh aksi Hesa benar-benar diluar prediksinya. Kedatangan pangeran kampus yang tiba-tiba itu sudah membuat Ei shock bukan kepalang. Sekarang, ditambah lagi dia bikin ulah dengan mengatakan kalau mereka berdua adalah sepasang suami istri di hadapan banyak orang. Hancur lebur hidup Ei sekarang gara-gara Hesa.


“Apa yang kau katakan barusan? Siapa yang kau maksud suami istri, ha? Buka nggak pintunya!” bentak Ei kesal. Kali ini dia benar-benar marah besar.


“Nggak, kalau kau mau buka, ambil saja kuncinya di saku celanaku." Hesa merentangkan kedua tangan tanda siap digerayangi Ei.


Jelas Ei tidak mau melakukannya. "Kau tahu apa yang sudah kau katakan?"


"Memang aku bilang apa?" Hesa pura-pura polos.

__ADS_1


"Siapa yang kau bilang suami istri, ha? Kapan aku menikah denganmu? Astaga, bagaimana kalau mereka salah paham!" Ei jadi panik sendiri dan mondar mandir ke sana kemari. Di tambah lagi, ia terkunci bersama Hesa di kamar kosnya sendiri.


"Ya aku dan kaulah, dan itu benar kok, kamu bakal jadi istriku. Nggak akan lama lagi.”Hesa menyeringai. Ia sangat puas melihat wajah Ei pucat pasi begini.


“Hah, dasar gila! Edan! Nggak waras! Kalau kau sudah nggak normal, pergi ke rumah sakit jiwa sana! Jangan ke sini!” sengal Ei seperti wanita yang sedang kalap.


Siapa yang tidak emosi. Masalah soal gosip jadi pacar Hesa saja masih belum terselesaikan hingga sekarang, ini malah ditambah pernyataan Hesa yang mengatakan kalau mereka adalah sepasang suami istri.


“Nona Shreya Fayola Serendipity!”panggil Hesa dan Ei langsung menoleh kearahnya.


Lah bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku? Batin Ei bingung sebingung-bingungnya sampai ia memicingkan mata menatap wajah tampan Hesa.


Pemuda tampan nan menawan itu mendekatkan diri di depan Ei yang terus berjalan mundur sampai gadis itu menabrak dinding kamarnya sendiri. Hesa terus maju dan jarak diantara mereka berdua semakin dekat dan erat. Kini, wajah Hesa benar-benar ada di atas wajah Ei karena postur tubuhnya lebih tinggi.


“Aku datang kemari … untuk menyelesaikan masalah diantara kita. Mari bekerjasama selagi aku masih baik,” tandas Hesa sehingga membuat Ei sampai menelan salivanya dalam-dalam.


“Aku … tidak mengerti apa maksud ucapanmu! Kau sendiri tidak mau mengklarifikasi gosip yang beredar diluar sana.” Ei jadi tergeragap karena gugup didekati Hesa seperti ini. Tubuh mereka hampir menempel satu sama lain. Tapi sepertinya Hesa sengaja mengintimidasi Ei agar keinginannya terpenuhi.


“Menikahlah denganku!” ujar Hesa tiba-tiba dan langsung membuat mata Ei melotot seolah hampir mau melompat keluar.


“A-apa?” teriak Ei saking terkejutnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2