
Sesuai janji Refald, ia membantu Ei dan Hesa menuruni tangga dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya sebagai Raja demit dari dunia lain. Dalam hitungan detik, baik Ei dan Hesa sudah ada di markas Hesa dan Hesa sendiri masih belum sadar dari pingsannya. Namun Refald sudah memastikan kalau kekasih Ei itu baik-baik saja.
Kedatangan Refald cs sempat membuat kaget para pasukan hacker Refald. Namun mereka tak berani berbuat apa-apa ataupun ikut campur karena mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Hesa dan Ei.
“Kalian semua jangan khawatir, Bos kalian baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Sebentar lagi juga akan sadar.” Refald menjelaskan dan iapun beralih menatap Ei yang terus ada di sisi Hesa.
Wajah Ei begitu sedih menatap pujaan hatinya terbaring lemah di atas Kasur. Ingin rasanya menangis tapi gadis itu berusaha menahannya sepenuh hati. Bagaimanapun juga Ei tidak boleh lemah dan goyah. Apapun keputusan yang bakal Ei ambil adalah yang terbaik untuk Hesa meski tidak untuk dirinya.
“Ei … kami harus pergi sekarang. Kau … tidak apa-apa, kan?” tanya Fey sambil menepuk pelan bahu Ei.
“Ehm, kalian berdua pergilah. Terimakasih banyak atas bantuan kalian dan maaf jika untuk kesekian kalinya, aku membuat repot kalian berdua.” Wajah Ei tampak sedih tapi ia berusaha tersenyum di depan Fey meski hal itu percuma karena ratu demit itu tahu betul apa yang dirasakan Ei saat ini.
“Jangan begitu, ini sudah menjadi tugas kami.kau adalah orang baik yang wajib kami bantu. Justru kami sangat mencemaskan keadaanmu. Jika kau mau … aku bisa tinggal untuk menemanimu, biar Refald saja yang pergi …”
“Tidak …,” tolak Ei cepat. Ia tak ingin merepotkan Fey lebih dari ini sekalipun istri Refald itu memang sangat baik padanya melebihi keluarga Ei sendiri. “Kau tidak boleh membiarkan Refald sendirian. Kekuatannya adalah kau. Jika kau di sini bersamaku, bagaimana dengan suamimu? Aku bisa mengatasi ini sendiri. Tidak perlu secemas itu padaku.” Ei berusaha terus tersenyum agar Fey dan Refald tak terlalu memikirkan keadaan Ei setelah kepergian mereka.
Refald diam tak bersuara, tapi ia berjalan pelan mendekat ke tempat istrinya berada. “Ayo Honey, kita tidak punya banyak waktu, jika terlalu lama di sini. Aku khawatir Pak Po akan berulah dan memperkeruh keadaan.”
Mendengar kata Pak Po, Feypun langsung menegang. Yang dikatakan suaminya memang benar. Pak Po si oneng itu tidak bisa lama-lama dibiarkan sendirian, sekalipun keonengannya bermanfaat dalam situasi tertentu, sekali oneng, tetaplah oneng.
“Ya sudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Kita pasti akan seera bertemu lagi. Kami permisi.” Fey memeluk Ei dengan tulus sambil memberikan sesuatu di genggaman tangan Ei. “Ini duplikatnya, dan bukan berlian asli. Kau bisa gunakan ini untuk membantu rencanamu. Sedangkan yang asli …”
__ADS_1
“Aku tahu,” sela Ei dengan senyum yang dipaksakan. “Terimakasih banyak. Ini sangat berguna untukku.” Mata Ei berkaca-kaca dan air matanya sudah hampir saja keluar.
Dengan hati bercampur aduk tak karuan, Ei membantu mengusap air mata Ei yang sengaja ditahannya tapi pada akhirnya tetap tumpah ruah juga. Ei menangis dipelukan istri Refald disaksikan Refald dan seluruh pasukan hacker Hesa yang memiliki sejuta tanda tanya atas apa yang mereka lihat pada Fey dan Ei.
“Aku percaya kau pasti bisa. Kau wanita terkuat yang pernah ada. Kau bisa melalui ini semua dengan mudah.” Fey menyemangati Ei dan berhasil. Ei sudah tidak menangis lagi.
“Maaf, aku tahu harusnya akh tidak seperti ini. Pergilah dengan Refald, jangan sampai terlambat. Sampai ketemu lagi.”
"Sungguh kau tidak apa-apa?" tanya Fey sekali untuk memastikan.
"Iya ... sungguh aku tidak apa-apa. Bye!"
Fey dan Refald sama-sama melambaikan tangan untuk Ei dan mereka pamit undur diri. Begitu keluar dari markas Hesa, pasangan raja dan ratu demit itupun langsung menghilang. Mereka memang manusia dan bukan hantu, tapi Refald adalah orang istimewa yang diberkahi dengan kekuatan yang tak bisa dimiliki manusia lainnya sehingga untuk pergi kemanapun yang Refald suka, ia dan istrinya tak perlu susah-susah memakai alat transportasi apapun. Cukup clang cling clang cling sudah pasti sampai tujuan. Enaknya jadi Raja demit Refald. Lebih enak lagi yang jadi pasangannya.
“Ada apa ini kakak ipar? Kenapa Big Hit bisa pingsan? Harusnya ini tidak mungkin terjadi mengingat fisik seorang Big Bos itu sangat kuat. Ia saja bisa menakhlukkan gunung tertinggi di dunia. Masa sekarang dia pingsan? Apa yang terjadi pada kalian berdua dan kenapa pasangan tadi membantu kalian?” tanya Corpury dan pertanyaan itu mewakili seluruh teman-teman hacker Hesa.
Ei tidak langsung menjawab, berat baginya untuk menyatakan apa yang sedang terjadi saat ini. Namun, ia tak punya banyak waktu. Ei memberikan cincin berlian pada Corpury dan secarik kertas berisi pesan darinya yang ia tulis dengan tangannya sendiri.
“Jika dia sadar nanti … tolong berikan ini padanya. Semua yang ingin kukatakan sudah tertulis jelas dalam secarik kertas itu. Aku tak bisa cerita banyak pada kalian soal apa yang terjadi. Tapi jika kalian ingin dia hidup lebih lama … jangan pernah dia menemukan keberadaanku. Jika kami tetap bersama … maka dia akan mati. Ini memang tidak masuk akal, tapi aku … sudah dikutuk.”
“Apa kau bercanda? Kau percaya hal semacam itu? Kenapa kau bisa dikutuk? Apa kau mencuri bunga mawar tetangga?” tanya Hoodie setengah tertawa karena menurutnya, ucapan Ei adalah lelucon yang tidak masuk akal.
__ADS_1
“Awalnya aku tidak percaya, harusnya aku sudah mati jika saja Hesa tidak datang menentang takdir garis hidupku. Dan sekarang … nyawanya dalam bahaya bila tetap bersamaku. Aku bukan wanita yang terbaik untuknya. Aku berharap dia bisa menemukan wanita lain yang lebih tepat untuknya daripada wanita pembawa masalah sepertiku.”
Sambil bicara, Ei menatap sedih wajah tampan Hesa yang masih belum terjaga dari pingsannya. Ei juga membelai lembut wajah pucat sang kekasih sambil menahan sejuta rasa yang teramat sangat pengap.
Teman-teman Hesa hendak protes tapi langsung disela oleh Ei. “Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Inilah yang terbaik untuk Hesa dan kalian semua agar tetap aman dan tak mengalami hal buruk karenaku. Tolong jaga dia untukku. Dan jangan biarkan dia menemukan keberadaanku. Tolong.” Usai bicara seperti itu Ei mencium kening Hesa dengan segenap hati dan jiwanya untuk terakhir kali sebagai salam perpisahan. Setelah itu, Eipun pergi begitu saja.
Beberapa rekan Hesa hendak mencegah kepergian Ei tapi Keem menghalangi langkah mereka sambil berseru, “Jangan! Biarkan dia pergi.”
“Apa kau tidak lihat? Kakak ipar pergi sebelum big hit sadar? Bagaimana kalau dia menanyakan kekasihnya, kita harus jawab apa?” pekik Lyric
“Apa kau buta? Kakak ipar mencampakkan Big Hit dengan alasan kuat. Kau tidak dengar apa yang dia katakan tadi? Big Hit bisa mati bila terus bersamanya. Artinya itu memang benar.”
“Itu aturan dari mana? Siapa yang buat, ha? Dan kau percaya itu? Haloo, ini zaman modern, you know! Don’t make up stories.”
“Watch you mouth, Lyric! Yang kita hadapi ini bukan manusia, tapi Tuhan. Aku hanya percaya pada apa yang aku lihat. Kakak ipar begitu mencintai Big Hit dengan nyawanya, makanya ia mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya. Jika tidak, mana mungkin kakak ipar meminta kita untuk menyembunyikan keberadaannya. Pasti ada sesuatu yang tidak kita tahu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia fana ini. Hanya Big Hit yang bisa menjawab semua teka teki kisah cintanya dengan kakak ipar. Dan kita … tidak bisa mencampurinya. Namun instingku berkata, meski sekarang mereka berpisah. Suatu hari nanti, entah kapan itu, di suatu tempat. Keduanya akan dipertemukan kembali dan bersama.”
Penjelasan Keem yang panjang lebar kali tinggi itupun membuat bungkam semua orang. Mereka memang tidak tahu teka-teki dibalik kepergian Ei yang memutuskan secara sepihak kekasihnya apalagi saat Hesa dalam keadaan pingsan. Pemikiran Keem sangat masuk akal, Ei pasti punya alasan kuat mengapa dirinya mencampakkan Hesa di saat keduanya lagi sayang-sayangnya.
“Lalu … apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Slava.
“Kita tunggu saja sampai Big Hit sadar. Semua keputusan ada di tangan Nahkoda. Sebagai awak, kita hanya ngikut saja.”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
...****************...