Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 71


__ADS_3

Ei tiba di Bandar Udara Internasional Los Angeles (IATA: LAX, ICAO: KLAX, FAA LID: LAX). Bandara tersebut merupakan sebuah bandar udara yang melayani kota Los Angeles, California, Amerika Serikat. LAX terletak di barat daya Los Angeles di kota Westchester. Letaknya sekitar 16 mil (27 km) dari pusat kota.


“Kenapa kau membawaku ke LA? Kenapa tidak langsung ke Harvard saja?” tanya Ei pada Fery saat keduanya berjalan. Gadia itu masih malas bertemu dengan keluarganya.


“Aku pikir … kau harus bertemu dengan keluarga kita,” jawab fery.


“Tidak, tidak sekarang. Aku lihat dijadwal besok hari pertamaku kuliah. Aku harus siap-siap cari tempat tinggal di sana dan fokus belajar.”


“Kau baru saja sampai. Kau butuh istirahat.”


“Tidak, aku akan ke Harvard sendiri kalau kau tak mau mengantarku. Aku masih belum siap bertemu dengan mereka semua setelah pelarian yang kulakukan. Mereka mungkin sangat membenciku.”


“Mereka tidak membencimu, Ei. Mereka justru merindukanmu. Jika tidak, mana mungkin mereka berani membayar mahal aku untuk membawamu bertemu mereka. Ayo kita temui mereka sekarang. Lagipula, anak-anak panti yang kau asuh juga ada di asrama LA. Kau bisa menemui mereka nanti karena lokasinya dekat dengan rumah keluarga kita.”


“Tetap saja aku tidak siap bertemu mereka sekarang. Terimakasih sudah menguruskan semuanya untukku. Aku akan pergi ke Cambridge sekarang. Tolong, sampaikan salamku pada anak-sanak dan katakana aku belum bisa bertemu dengan mereka sekarang.” Ei langsung menghentikan taksi pertama yang lewat didepannya dan meminta pak sopir menuju lokasi yang disebutkan Ei.


Fery hanya bisa menatap kepergian sepupunya dan melaporkan pada keluarganya kalau mereka sudah tiba di Amerika. “Ehm … kami sudah sampai … tidak, Ei tidak mau … iya …. Dia ke Harvard barusan. Ya sudah … aku akan ikuti dia sampai kalian kemari.” Fery menutup panggilannya dan mengejar Ei.


***


Amerika, sudah taka sing lagi bagi Ei. Meski ia dibesarkan di negara ini, tetap saja ia masih mencintai tanah kelahirannya, yaitu tanah air negeri Indonesia. Baru beberapa jam saja Ei meninggalkan negera macan tidur itu, Ei sudah sangat rindu.


Syukurlah ia cepat menemukan lokasi tempat tinggal yang pas untuknya selama ia menempuh pendidikannya di universitas impiannya. Ia bahagia sekali akhirnya bisa menginjakkan kaki di sini meski hatinya serasa sepi. Tanpa Angel, tanpa Prety. Dua sahabat yang sangat berarti untuk Ei karena bersama mereka, Ei bisa mengeluarkan bakat keonengannya yang terpendam.


Waktupun, berjalan dengan cepat. Hari ini adalah hari pertama Ei kuliah dan ia merupakan mahasiswi baru dikampusnya. Tentu saja, sebagai warga yang berasal dari Asia, kedatangannya sempat mencuri perhatian banyak orang. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat Ei tidak nyaman.


“Hei cantik …” sapa seseorang yang barusan dilewati Ei. Pemuda itu tertawa aneh bersama dengan rekan-rekanya yang lain.

__ADS_1


“Dia sombong juga, bagaimana kalau kita kunci dia?” usul teman pemuda itu.


“Tentu saja, itu sudah tugas kita. Kapan lagi bisa mengunci seorang wanita, Asia.” Sang pemuda yang tadi menyapa Ei pun menyetujui usulan jahil teman-temannya dan menjadikan Ei sebagai target permainan mereka.


Ei memang sengaja diam saja dan memilih untuk tidak terlibat dengan kelompok pemuda urakan itu. Ia datang ke sini bukan untuk mencari musuh, tapi menimba ilmu agar cita-cita Ei bisa terwujud. Gadis itu terus berjalan menuju fakultasnya dan meminta jadwal mata kuliah yang harus ia isi setelah memberikan bekas-berkas yang diminta untuk persyaratan administrasi di ruang TU.


Berkali-kali gadis itu mengeluarkan napas berat. Ia harus adaptasi lagi di lingkungan barunya dan memulai lagi dari awal, ia sangat merindukan Angel dan Prety. Namun, Ei harus bertahan dan tetap semangat. Ia akan menyelesaikan kuliahnya secepatnya dan kembali ke Indonesia untuk berkumpul dengan teman-temannya.


“Apa yang sedang Hesa lakukan sekarang, ya?” gumam Ei yang tiba-tiba saja kepikiran Hesa.


***


Di tempat lain, Hesa masuk ke dalam istana megahnya dengan hati riang gembira. Ia tak tampak sedih meskipun kekasih hatinya telah meninggalkan negara ini entah sampai kapan. Ia berjalan sambil terus memutar-mutar kunci mobilnya sambil bersiul.


“Hesa!” panggil Salvataro yang sepertinya sudah lama menanti kedatangan putranya.


“Dari mana?” tanya ayahnya. sepertinya, Savatinov sudah tak terkejut lagi seperti terakhir kali Hesa ada di rumah ini.


“Dari bandara untuk mengantar kepergian calon istri tercinta yang sudah ayahanda usir dari sini,” jawab Hesa tenang.


“Jaga mulutmu saat bicara pada orang tua. Kau tidak dilahirkan untuk bicara tidak sopan padaku.”


“Dimana letak ketidaksopananku, Ayahanda … aku tak mengatakan orang lain dengan sebutan ‘sampah’ seperti yang ayahanda lakukan pada Ei. Aku juga baru tahu … seorang bangsawan aristocrat diperbolehkan mengeluarkan kata ‘sampah’ untuk merendahkan orang lain yang ternyata … stratanya jauh di atas kita.”


“Hesa!” bentak Savatinov.


“Rasa hormatku pada ayahanda sudah sirna. Untuk menghormati diri sendiri saja Ayahanda tidak bisa, bagaimana bisa menghormati orang lain.” Hesa balik badan dan bermaksud pergi meninggalkan ayahnya. Ia sudah terllau lelah menghadapi sifat arogan ayahnya.

__ADS_1


“Karena calon istrimu telah mengundurkan diri, maka aku akan mengadakan sayembara lagi untukmu …” Savatinov mengalihkan pembicaraan untuk menghentikan langkah kaki putranya dan memang berhasil, Hesa berhenti berjalan dan kembali menatap ayahnya dengan sikap tenang.


“Tidak perlu Ayahanda …” Hesa melangkah maju ke depan dan membuka kancing kemejanya hingga ia bertelanjang dada. Tanpa ragu sedikitpun, Hesa mencopot gelas kebangsawanannya tepat didepan ayahandanya dan meletakkannya di atas meja.


“Apa yang kau lakukan? Pasang kembali gelangmu!” bentak ayah Hesa marah dengan tindakan bodoh Hesa.


“Tidak ayahanda … aku takkan memakai gelang gelar ini sampai aku membawa kembali istriku ke rumah ini. Aku bersumpah atas nama cinta yang ada di seluruh dunia ini. Sebelum aku menikahi wanita yang kucintai … aku takkan memakai gelang gelar kebangsawananku. Ini adalah sumpahku,” tandas Hesa sangat yakin dengan keputusannya.


“Kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Dengan lepasnya gelang ini, kaupun juga melepas semua fasilitas yang kau dapatkan sebagai pangeran di rumah ini.” Savatinov menatap geram wajah santai putranya. Ia bahkan mengepalkan kedua tangannya.


“Aku mengerti Ayah.” Hesa melirik semua anggota keluarga yang muncul dari segala arah karena mereka mendengar keributan yang terjadi antara Hesa dan ayahnya. “Aku bahkan mencoba mengerti saat ayah menyakiti wanita yang kucintai. Aku memang tak bisa berbuat apa-apa saat itu karena sebagai pangeran di rumah ini, aku harus menjaga nama baik keluarga kita. Tapi … sekarang sudah tidak lagi, aku … tak terikat lagi dengan keluarga ini dan akan kudapatkan kembali wanita yang aku cintai sepenuh hati. Ayah atau siapapun, takkan bisa mencegah ataupun melarangku karena aku ... bukan lagi pangeran di rumah ini.” Hesa meletakkan kunci mobil Ferrarinya dan berjalan kea rah Mahendra.


Saudara Hesa yang satu itu melempar sebuah tas hitam yang sepertinya sudah ia siapkan sebelumnya tepat ke tangan Hesa. Tak lupa kakak Hesa yang sangat pengertian itu melempar kaos putih dan jaket hitam kesukaan Hesa agar bisa langsung dikenakan adiknya.


“Terimakasih, Kak! Aku pergi!” ujar Hesa sambil memeluk kakaknya.


“Selamat menikmati kebebasanmu adikku, Doaku bersamamu.” Mahendra menepuk pelan bahu adiknya.


Tak lupa, Hesa juga langsung memeluk ibunya yang sejak tadi sudah menangis, tapi tak bisa berkata-kata. Sebagai serang ibu, pasti ia menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan apa yang dilakukan Hesa juga tak luput dari keputusan yang menurut putranya adalah yang terbaik. Wanita anggun nan elegan itu hanya bisa mendukung keputusan Hesa sekalipun itu sangat bertentangan dengan hatinya.


“Kenapa kau lakukan ini, anakku?” isaknya.


“Aku harus menjemput menantu ke 4 dari keluarga ini Ibunda, jangan menangis karena aku akan kembali secepatnya.” Hesa memeluk ibunya yang masih menangis. Ia tahu ibunya ini sangat mengerti dan sangat memahami Hesa.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2