Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 18 Pertandingan Cinta


__ADS_3

Keesokan paginya, Hesa dan Ei sarapan pagi bersama di warung biasa para pendaki hendak melakukan perjalanan mereka untuk hiking. Ei terus memerhatikan Hesa yang sedang serius bicara pada salah satu warga di desa ini sambil sesekali melirik Ei yang terus mengawasinya. Entah apa yang sedang pangeran ningrat penuh talenta itu bicarakan. Sepertinya itu adalah hal yang serius.


“Kami akan menemui Bapak lagi sekembalinya dari hiking,” ujar Hesa sebagai kalimat penutupnya sebelum ia pindah tempat duduk di depan Ei.


Wajah Ei langsung berubah manyun ketika Hesa melihatnya menghabiskan makanannya. Apalagi asdosnya yang tampan itu tak pernah berkedip saat melihatnya.


“Kau lihat apa?” cetus Ei jadi tidak berselera makan saat Hesa terus menerus menatapnya. Perutnya langsung kenyang begitu saja.


“Kau jauh lebih cantik ketika bangun tidur,” jawab Hesa jujur sambil menopang dagunya dengan tangan.


“Uhuk!” Ei langsung tersedak dan buru-buru Hesa menepuk pelan punggung Ei.


“Minumlah,” pinta cowok itu sambil menyodorkan segelas air putih.


Ei langsung meneguknya sampai habis. Ia sangat tidak menyangka kata rayuan gombal itu benar-benar keluar dari mulut seorang Hesa. Gadis itu jadi tidak percaya kalau pria didepannya ini tak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain.


“Baru dipuji begitu saja kau sudah terbatuk-batuk. Apa jadinya dirimu jika aku mengeluarkan semua jurus rayuan mautku padamu,” ledek Hesa sambil tertawa.


“Heh, bayi ubur-ubur! Aku tersedak bukan karena pujianmu yang garing itu? Udah dari sononya kalau semua wanita yang terlahir di seluruh dunia ini itu memang cantik. Lah kalau tampan itu bukan wanita, tapi pria!” cetus Ei kesal dan lebih memilih berdiri pergi meninggalkan Hesa untuk membayar makanannya daripada empedunya bermasalah.


Namun, sang pemilik warung memberitahu Ei kalau makanan yang Ei makan barusan sudah dibayar beserta biaya penginapan Ei semalam. Kebetulan uang Ei juga menipis dan hanya cukup buat ongkos pulang, jadi ia biarkan saja Hesa membayarnya. Lagipula Ei tidak minta dibayarin. Gadis itu sangat berharap hari ini adalah hari terakhir dia bertemu dengan asdos tampan titu.


Bagaimanapun juga, aku harus menang. batin Ei menyemangati diri sendiri.


“Bisa kita mulai pertandingannya sekarang?” tanya Ei sok ready to war.


“Tunggu, aku habiskan makananku,” ujar Hesa padahal ia tidak makan daritadi tapi malah sibuk bermain hp.

__ADS_1


“Kau kan sudah makan? Maksudmu …selain makan makanan manusia, kau juga makan barang-barang elektronik? Begitukah?”


Hesa meletakkan ponselnya dan berdiri menatap wajah Ei yang juga berdiri tepat didepannya. “Aku sedang siaran langsung sekarang. Seluruh kampus menyaksikan pertandingan kita. Dalam pertandingan ini, akulah yang menentukan jalurnya. Kita akan mendaki bersama-sama dan selama pertandingan, tidak boleh ada yang membantu satu sama lain jika salah satu dari kita ada masalah. Mereka semua yang melihat life kita, setuju dan mereka pula yang menentukan startnya.” Hesa menunjukkan ponselnya dimana dalam live streaming yang melihat Ei dan Hesa lumayan banyak juga.


Beragam komentar tersemat didalamnya dan rata-rata isinya adalah dukungan untuk Hesa. Sedangkan untuk Ei tidak ada. Cuma akun Angel dan Prety saja yang menyemangati Ei. Para netizen ini mungkin tidak tahu kalau Hesa menang, artinya Ei harus menjadi istrinya.


“Kenapa kau tidak bilang pada mereka kalau aku kalah aku harus menjadi milikmu?” tanya Ei sengaja memancing amarah netizen yang melihat livenya Hesa sekarang supaya berbalik mendukungnya.


“Aku tidak live di medsosku karena aku tidak main medsos, ini medsosmu. Aku menyadap ponselmu dan para pengikutmu sangat mendukungku untuk menjadikanmu milikku. Tuh … mereka sudah tidak sabar supaya kita mulai pertandingannya.” Hesa tertawa melihat wajah shock Ei.


“Kau bilang apa? Medsosku!” pekik Ei kaget.


Gadis itu memang mematikan ponselnya agar Hesa tidak bisa menemukannya. Tapi ternyata hal itu malah dimanfaatkan si cunguk ini untuk menyadap akun media sosialnya dan disalahgunakan seperti ini.


“Dasar Kukang patah Tulang! Matiin nggak itu?” Ei mencoba merebut ponsel Hesa tapi pria tersebut langsung mengarahkannya ke atas sehingga Ei tidak bisa meraihnya karena tubuh Hesa jauh lebih tinggi dari tubuhnya Ei.


Gadis cantik didepannya ini lompat-lompat dan berusaha meraih ponsel Hesa agar livenya dimatikan sekarang juga. Namun na’as, kaki Ei terpeleset sehingga tubuhnya oleng dan ambruk menimpa tubuh Hesa yang ada didepannya.


Dua sejoli itupun tak bisa menentang gaya gravitasi bumi sehingga keduanya sama-sama terjatuh ke tanah dengan posisi Ei ada di atas tubuh Hesa. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Ei tak sengaja mencium Hesa saat keduanya sama-sama terjatuh.


Mata Ei melotot seolah mau melompat keluar dan gadis itu malah berteriak sekencang-kencangnya sambil refleks langsung menampar pipi Hesa untuk yang kedua kalinya.


“Aaaaaaaaaaaaaggghh!” teriak Ei disusul dengan bunyi tamparan keras.


Plak!


***

__ADS_1


Tato cap 5 jari menempel sempurna di pipi Hesa akibat tamparan dari Ei. Mereka berdua saat ini sedang berjalan menuju lereng gunung dan bersiap memulai pertandingan mereka baik ke puncak gunung Pangrango. Sesuai kesepakatan, Hesa memilih medan yang tak banyak digunakan stranger lain saat mendaki gunung ini.


Tentu saja Ei tak menolak karena ia siap dengan medan apapun. Suasana diantara keduanya mendadak tegang setelah insiden tak terduga di warung tadi pagi.


“Ada peraturan yang harus dipatuhi selama kita berdua bertanding.” Hesa memulai pembicaraan dan mengesampingkan rasa sakit dipipinya. “Pertama, tidak boleh membantu rival yang sedang dalam masalah. Biarkan masalah itu kita selesaikan sendiri-sendiri. Bila darurat, masing-masing diantara kita hanya punya 3 kesempatan mendapat pertolongan. Lebih dari itu, berarti yang dibantu gugur dan yang membantu keluar sebagai pemenangnya. Kedua, banyaknya waktu istirahat. Waktu pendakian ke gunung itu kurang lebih 4 -5 jam. Artinya kita punya waktu istirahat 1 jam sekali. Lebih dari 5 kali istirahat dianggap gugur. Kau paham?” tanya Hesa setelah ia menjelaskan panjang lebar peraturan pertandingan cinta keduanya.


“Paham!” cetus Ei agak kasar.


“Ladies first!” ujar Hesa sambil memegangi pipinya yang bertanda cap 5 jarinya Ei.


“Kau saja yang duluan!” ujar Ei tidak enak hati tapi sekaligus kesal juga. Ia malu sebenarnya, makanya Ei lebih memilih berjalan di belakang Hesa.


“Kalau aku duluan, kau kalah. Sebaiknya, kau jalan duluan selagi aku masih bersikap baik sekalipun kau menggampar wajahku 2 kali.”


“Salah sendiri! Siapa suruh kau menyadap akun medsosku dan memakainya sembarangan!” sentak Ei mulai meluapkan kekesalannya pada Hesa.


“Aku tidak punya medsos apapun. Makanya aku pakai akunmu untuk memeriahkan pertandingan kita berdua sekaligus meminimalisasi kecurangan. Merekalah yang akan jadi juri kita.”


“Tapi kenapa harus pakai akunku, kau itu menyebalkan sekali!” cetus Ei dan ia langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Hesa di belakangnya dan Hesa hanya tertawa saja.


Kalau boleh jujur, Hesa sangat menikmati ciuman dadakan yang tak disengaja Ei sebagai pemanis di pagi hari. Berkali-kali Hesa memegangi bibir bekas ciuman Ei tapi Ei langsung memelototinya.


Haisssh sial! Kenapa dia yang dapat ciuman pertamaku Vangkeeeekk! Rutuk Ei dari dalam hati karena ia tak ingin membahas kejadian tadi pagi dengan Hesa di hutan ini.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2