
Para anggota Hacker sedang berdiskusi untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi Hesa. Mereka sepakat untuk menuruti apa yang dikatakan Ei meski mereka tidak tahu apakah hal itu yang terbaik untuk Hesa atau tidak.
Bertepatan dengan itu, Hesa pun sadar dari pingsannya dan agak bingung karena tidak mendapati Ei disisinya. Iapun hendak pergi mencari-ceri keberadaan sang kekasih karena di telepon nomer Ei sudah tidak aktif lagi. Bahkan sepertinya, Ei sudah membuang ponselnya ke sembarang tempat agar tak mudah di lacak oleh Hesa ataupun timnya.
“Jangan bergerak dulu kalau kepalamu masih pening. Kau sudah pingsan kurang lebih selama 2 hari,” ujar Keem yang setia menunggui Hesa dan duduk disamping tempat tidurnya.
“Di mana Ei?” tanya Hesa mencoba untuk mengontrol emosinya. Kepalanya masih serasa berat dan seluruh tubuhnya lumayan sakit semua.
“Aku tidak tahu, tapi ia meninggalkan ini untukmu.” Keem berdiri dan memberikan secarik kertas yang didalamnya berisi cincin berlian. Hesa yang melihat hal itu langsung terbelalak tak percaya. Iapun membaca sepucuk surat dari Ei yang kurang lebih isinya adalah kata perpisahan.
Hesa langsung meremas kertas berisi pesan perpisahan itu lalu membuangnya ke sembarang arah. Pangeran ningrat itu mencoba tenang agar tak terlalu larut dalam emosi walau dalam hati Hesa muncul gejolak jiwa membawa dan serasa terbakar hebat. Ia memaksakan diri bangun dan langsung melacak keberadaan Ei lewat komputer canggihnya. Namun hasilnya nihil. Hesa tak bisa menemukan kekasihnya dimanapun bahkan di negara asal keduanya.
Semua teman-teman Hesa hanya diam dan tak berani berkata-kata karena mereka tahu, kondisi Hesa sedang labil. Hanya Keem saja yang berani ada di dekat Hesa. Lainnya memilih menjauh ketimbang jadi sasaran empuk amarah Bi Hit mereka.
“Percuma, aku sudah mencoba melacaknya tapi saat menemukan titik lokasi ponselnya, ternyata ada di sungai tepat dekat patung Liberty. Kau dicampakkan, apa aku harus ucapkan selamat?” ledek Keem.
“Don’t sass me!” cetus Hesa dan Keem malah tertawa.
“Ayolah, dunia tidak akan runtuh hanya kau ditinggal seorang wanita. Di luar sana banyak jutaan wanita yang mengantri untuk kau jadikan kekasih.”
“Persetan dengan mereka semua. Katakan padaku apa yang Ei katakan pada kalian sebelum dia pergi. Katakan dengan jujur sejujur-jujurnya. Apa dia memintamu untuk tidak membantuku melacak keberadaannya?” wajah Hesa tampak sangat serius. Ia memeriksa banyak sekali data yang tertera di komputernya.
“He’em, dia melarangku membantumu melacak keberadaannya. Dia berharap kau bisa mencari wanita lain yang jauh lebih baik darinya. Dia bilang dia dikutuk. Apa itu benar? Sejujurnya itu sangat tidak masuk akal terutama bagi kami para hacker. Dia juga bilang … kau akan mati bila terus bersamanya.”
Hesa tertegun, ia kembali melihat cincin yang pernah ia sematkan di jari manis Ei sebelum ia pingsan. Dalam diam Hesa langsung menuju ruang elektronik dan memeriksa kembali cincin itu.
“Ada apa?” tanya Keem.
“Cincin ini palsu. Yang asli masih dipegang oleh si oneng itu. Dia pikir aku tidak tahu apa rencananya? Aku tahu semuanya. Aku bahkan tahu alasan dia mencampakkanku.”
“Aku tidak mengerti kau ini bicara apa.”
Hesa tersenyum licik dan duduk di kursi depan computer. Semua teman-teman Hesa menatap Big Hitnya dengan Heran. Hesa mengambil satu minuman kaleng dan meminumnya dalam sekali teguk.
“Big … apa … kau tidak apa-apa? Kenapa kau senyam senyum sendiri?” tanya Hoodie setengah ngeri melihat perangai Hesa yang mendadak berubah dari yang tadinya marah, sedih dan kecewa akibat patah hati, sekarang jadi ketawa ketiwi seperti orang kesetanan.
“Hodsey, Kirrril, pesan makanan dan minuman sebanyak mungkin. Ayo kita berpesta,” ujar Hesa semringah.
“Pesta? Untuk apa? Tidak ada yang ulang tahun di sini.”
“Seperti kata Keem tadi, aku mau merayakan diriku yang dicampakkan. Dan kau Keem, apa kau sudah putus dengan para pacarmu?” tanya Hesa dan membuat semua teman-temannya hanya geleng-geleng kepala.
“Sudah sih, tapi aku baru jadian lagi kemarin dengan entahlah siapa namanya aku lupa.”
“Putuskan saja dia. Kita akan merayakan kejombloan kita semua.”
__ADS_1
Permintaan Hesa ini sungguh sangat diluar dugaan. Para teman-temannya ini sudah sangat khawatir setengah mati kalau Hesa kalap dan ngamuk karena ditinggal pergi Ei. Eh ternyata eh ternyata malah sebaliknya. Hesa mengajak semua teman-temannya berpesta ria untuk merayakan hari jomblo mereka bersama.
***
Di saat semua teman-teman Hesa tertidur lelap di sembarang tempat akibat kekenyangan, hanya Hesa saja yang terjaga. Wajar sih karena kekasih Ei yang sudah jadi mantan itu telah tidur 2 hari. Begitu sadar, malah ditinggal pergi sang pujaan hati.
Salah satu computer canggih Hesa berbunyi dan langsung menyalakan warna merah di beberapa titik lokasi yang di cari Hesa. Pria tampan itu kembali tersenyum licik dan langsung menelepon seseorang.
“Halo Kanjeng Ibu … aku akan pulang dalam waktu dekat, siapkan penobatanku kembali … tidak … aku tidak akan tinggal dengan kalian karena aku sudah dapat pekerjaan. Pernikahan … akan kubawa pulang menantu ibu setelah kudapatkan pekerjaanku. Tapi itu butuh waktu lama. Harap sabar menunggu. Sudah itu saja … sampai bertemu lagi, sampaikan salamku pada semuanya.” Hesa menutup panggilan teleponnya dan berjalan ke kamarnya.
Namun, Keem ternyata sudah bangun dan tak sengaja mendengar pembicaraan Hesa. Iapun mengikuti Big Hitnya dari belakang sembari mencari tahu apa yang akan direncanakan Hesa. Kenapa ia tak cemas pada Ei. Dan malah tampak sangat santai.
“Apa … kau menerima kandasnya hubungan kalian?” tanya Keem to the poin.
“Tidak,” jawab Hesa cepat.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Tidak ada, aku akan ke kampus besok dan mengurus semua hal yang kuperlukan untuk kembali pulang ke Indo.”
“Lalu kakak ipar?”
“Kami akan bertemu, tapi tidak sekarang. Kuikuti semua permainannya dan kuturuti apapun keinginannya.”
“Sesimple itukah?” tanya Keem masih tidak percaya pada Hesa.
“Kau ingin aku bagaimana? Memaksanya kembali padaku sementara ia punya alasan kuat meninggalkanku? Tidak akan berhasil dengan cara itu. Masalahku dengan Ei sebenarnya tidak ada. Tapi kami dihadapkan dengan masalah takdir. Yang kulawan bukan Ei, melainkan takdir cinta kami. Semua butuh proses Keem. Dan aku harus mulai 0 lagi.”
“Lalu kau akan tinggal di mana setelah ini? Kau bilang kau tidak akan pulang ke rumahmu?”
“Aku akan pulang dan tinggal di kota kecil, yang jauh dari tempat tinggalku di Indonesia. Aku mendaftar jadi dosen di sana dan tinggal menunggu panggilan saja. Harusnya sih sudah ada jawaban. Aku harus cepat sampai. Jika tidak … semuanya akan berantakan. Ah satu lagi … aku pasrahkan semua hal yang ada di sini padamu selagi aku tidak ada. Jangan bikin ulah dan setialah pada satu wanita saja. Jangan cari yang sempurna karena di dunia ini yang sempurna hanyalah Tuhan.”
Dalam kondisi galau, Hesa masih sempat-sempatnya ngasih wejangan pada Keem si playboy cap singa. Padahal Hesa sendiri butuh dukungan bila ingin mengejar cinta Ei kembali.
...***...
1 tahun kemudian ...
Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat. Hesa memilih bekerja di sebuah kampus yang letaknya ada di pinggiran kota. Kota ini adalah kota terpencil yang terkenal dengan keindahan alamnya. Semua penduduknya ramah lingkungan dan mengedepankan pendidikan.
Kota ini juga merupakan kota satu-satunya yang memiliki universitas di mana semua mahasiswanya memiliki prestasi gemilang disetiap bidang dan siapapun yang lulus dari kampus tersebut dijamin bakal sukses.
Hari ini … merupakan hari di mana Hesa mengajar sebagai dosen dan tentu saja ia langsung popular terutama di kalangan kaum hawa. Bila semua wanita terpesona akan ketampanan dan betapa hebatnya Hesa saat memberikan kuliahnya, hanya ada 1 mahasiswi yang sama sekali tak tertarik dengan dosen barunya. Sebaliknya, wanita itu malah tercengang melihat Hesa ada di kampus ini dan langsung memercikkan api kebencian.
“Halo … salam kenal. Aku Mahesa Arleon Rajasanaghara. Aku baru saja lulus dari Harvard dan aku menjadi dosen komunikasi di kampus ini. Senang bertemu dengan kalian semua,” sapa Hesa saat pertama kali ia datang dan menyapa semua mahasiswa yang mengikuti kelasnya.
__ADS_1
Matanya juga langsung tertuju pada seorang mahasiswi cantik yang mulutnya tak bisa berhenti menganga saat menatapnya. Hesa tersenyum licik karena wanita yang ia lihat itu adalah mantan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan si oneng Ei yang duduk rileks di bangkunya.
***
"Hai mantan, apa kabar, lama tidak bertemu. Aku senang melihatmu," sapa Hesa pada Ei.
Saat ini keduanya janjian bertemu di loteng gedung kampus mereka seusai kuliah. Saat kuliah berlangsung Ei dan Hesa sama-sama pura-pura tidak saling kenal. Padahal keduanya adalah mantan yang dirindukan.
“Tapi aku tidak senang melihatmu. Kenapa kau datang kemari? Pergilah dari sini dan jangan coba-coba mengganggu hidupku yang sudah bahagia tanpamu!” gertak Ei.
“Seseorang meninggalkanku dan mencampakkanku tanpa kutahu apa alasan jelasnya. Pesan yang dia tinggalkan nggak jelas sama sekali. Jika kau jadi aku … apa kau akan diam saja dan meratapi nasibmu karena putus cinta? Tidak mantan, aku harus buat perhitungan dengan orang itu, kalau bisa akan kupaksa dia kembali jadi milikku,” tandas Hesa sengaja menyindir Ei.
Hesa melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Ei dengan tajam. Namun yang disindir tak gentar sedikitpun. Ei malah menunjukkan sikap tidak welcomenya pada Hesa.
“Asal kau tahu … walaupun kau membunuhku … aku takkan pernah mau bersamamu lagi," tegas Ei.
“Aku memang akan membunuhmu. Bahkan disaat pertama kali kita bertemu, aku ingin sekali membunuhmu dengan hati dan segenap jiwaku supaya kau tahu … betapa besarnya cintaku padamu.”Tanpa ekspresi, Hesa menatap Ei dengan tatapan mata elangnya.
“Bulshit! Jika kau tidak pergi dari sini, maka aku yang akan pergi.” Ei balik badan dan meninggalkan Hesa yang tetap tampak tenang dengan senyum manisnya yang menawan.
Sebelum Ei membuka pintu loteng, Hesa berteriak dengan kencang. “Akan kupastikan kau tidak akan bisa lari lagi dariku, Mantan! Aku sudah menerima takdirku, sekarang giliranmu! Terimalah takdirmu. Kau akan datang padaku dan memohon … untuk segera kunikahi … secepatnya!”
"Dasar sinting!" gumam Ei.
Seruan Hesa membuat Ei kesal, tapi ia menganggap peringatan mantan kekasihnya itu hanya isapan jempol belaka. Ei tetap pergi dan meninggalkan Hesa sendiri di loteng kampus.
Ei tidak tahu apa yang direncanakan Hesa kali ini. Ia juga tidak paham apa maksud ucapan dosennya yang sok keren itu. Yang jelas, Ei tidak boleh bersama dengan Hesa. Jika tidak, kapanpun mala petaka bisa saja menimpa Hesa ataupun keluarganya.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Hesa datang bukan untuk ditinggal Ei lagi. Ia juga datang tidak dengan tangan kosong dan pastinya sudah menyiapkan semuanya untuk menjerat Ei agar mantan kekasihnya itu tidak bisa kabur lagi darinya. Kali ini, Hesa tidak main-main, permainan yang dimainkan Ei, kini beralih dikendalikan Hesa.
Sudah saatnya Ei masuk ke dalam lubang yang gadis itu buat sendiri. Sudah saatnya pula Hesa mengeluarkan seluruh senjatanya dan akan benar-benar menjadikan Ei miliknya untuk selamanya dan takkan Hesa biarkan siapapun memisahkan mereka.
“Kita akan bertemu lagi Ei, di KUA!” tandas Hesa sambil membuang cincin berlian yang dulu pernah Ei titipkan pada Corpury untuk diberikan padanya.
Cincin itu bukan cincin asli, tapi palsu, yang asli tetap ada pada Ei tapi tidak dipakai di jari manis. Melainkan sengaja Ei pakai sebagai kalung dan disembunyikan dibalik pakaian agar tak terlihat oleh siapapun.
...THE END...
...SELESAI...
...****************...
...Haloooo semuaaa ... meski novel ini sudah tamat, bukan berarti ceritanya berakhir. Lanjutan cerita ini bakalan aku rilis sebentar lagi di novel baru dengan judul baru. Harap sabar menunggu babak baru kisah cinta Ei dan Hesa di kampus baru mereka. Hesa sudah lulus dan jadi dosen, Ei masih harus menempuh 1 tahun lagi....
...Apa yang direncanakan dosen tampan itu pada Ei? Benarkah mereka akan menikah? Bagaimana caranya? Simak di novel sekuelnya ya …...
__ADS_1
...kalau udah rilis pasti bakalan aku kasih tahu baik di sini maupun di instagramku....
...Terimakasih atas semua dukungan kalian. Tanpa kalian aku nggak akan mungkin punya semangat untuk melanjutkan menulis. Sampai ketemu lagi di novel Hesa dan Ei berikutnya ya …...