
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Ei langsung berangkat pergi ke kampus tanpa sarapan dulu. Semua keluarga Hesa meminta Ei untuk sarapan bersama tapi gadis itu menolak dengan alasan kalau dirinya sudah sangat terlambat. Ia bahkan meninggalkan Hesa yang sedang mandi di kamar mereka.
“Ei, sarapanlah dulu!” pinta Ibu Hesa.
Ei berjalan pelan menghampiri ibu mertuanya dan bersalaman tanda minta restu layaknya seorang anak yang izin berangkat untuk menimba ilmu. Ibu Hesa jadi semakin sayang pada menantu langkanya ini.
“Maafkan Ei Ibunda, ini sudah sangat terlambat. Saya khawatir tidak diizinkan ikut ujian kalau datang terlambat,” ujar Ei sopan.
“Huh, salah sendiri! Kalau tahu ada ujian kenapa kau tidak bangun pagi. Kau pikir rumah ini rumah nenek moyangmu apa? Dasar tidak berguna. Kayak gini mau jadi menantu di keluarga kita? Yang ada malah bikin malu sejagad raya.” Sungguh ucapan yang benar-benar menohok dari ayah mertua Ei.
Namun, Ei yang oneng dan pada dasarnya punya sifat bodo amat, cuek is the best dan no reken you. Tampak biasa saja saat di sindir ayahnya. lagipula, Ei tidak benar-benar berniat menjadi menantu di keluarga yang sangat jauh dari kapasitasnya sebagai rakyat jelata.
“Terimakasih pujiannya Ayahanda, pesan Yang mulia akan saya ingat.”
“Siapa yang memujimu …” Savatinov mulai emosi melihat Ei.
“Oh iya, topinya sangat bagus Ayahanda,” sela Ei cepat. “Teruslah memakai itu karena sangat cocok untuk Anda. Saya izin berangkat dulu. Ananda permisi.” Ei mengucapkan itu sambil memberi salam dengan mengatupkan kedua tangan.
Tak lupa ia juga memberi salam dengan cara sama kepada kakak-kakak dan adik iparnya yang langsung tertegun melihat sikap berani Ei saat berbicara dengan pemimpin istana ini.
Awalnya, Ei berjalan pelan dan menunjukkan sisi anggunnya. Namun, begitu ia tak terlihat oleh siapapun. Gadis itu langsung berlari tunggang langgang menuju pintu keluar istana rumah Hesa.
__ADS_1
Yang menarik dalam diri Ei adalah, ia tak mau menggunakan fasilitas mewah yang disediakan keluarga Hesa. Padahal sebagai istri Hesa, Ei berhak menggunakan fasilitas mobil sama seperti yang digunakan Hesa saat berangkat kuliah. Si oneng Ei malah memilih menghentikan taksi pertama yang lewat di depan rumah suaminya.
Hesa berlari keluar untuk mengejar Ei tapi sayang, ia terlambat. Istrinya sudah masuk ke dalam taksi dan menuju kampus.
“Ada apa denganmu, Hes?” tanya kakak pertama Hesa yang juga keluar rumah dan bersiap berangkat bekerja.
“Memangnya kenapa?” Hesa balik bertanya pada kakaknya.
“Apa mataku karatan? Kenapa kau pilih gadis yang lebih pantas jadi pelayanmu ketimbang istrimu? Apa sudah tidak ada wanita cantik lain di dunia ini sampai kau harus memilih wanita tak tahu moral dan budi pekerti sebagai menantu ke-3 di rumah ini. Lihat kaak iparmu ini, dia cantik, multitalenta dan bisa dibanggakan. Lihat juga istri kakakmu Heri, dia wanita berpendidikan yang punya sopan santun karena ia putri keraton dari Jawa. Dan gadis itu? Apa yang kau lihat darinya?” cetus kakak Hesa mulai mengomeli adiknya.
“Aku melihat apa yang tidak bisa kau lihat, Kak. Kau mana tahu kalau di dalam sebuah kubangan lumpur, terpendam sebuah emas berharga yang tak ternilai harganya. Jangan samakan Ei dengan kakak ipar, karena jelas mereka adalah orang yang berbeda,” tandas Hesa dan kakaknya bernama Hendra itu pergi bersama istri yang amat ia bangga-banggakan.
“Jangan dengarkan dia, kau sudah tahu betul seperti apa si Hendra itu, kan? Dia cerminan mutlak dari ayah kita.” Heri yang mendengar percakapan Hesa dengan kakaknya, mencoba menghibur adiknya.
“Aku suka dengan istrimu. Kehadirannya di rumah ini memberikan kesan tersendiri.”
Hesa tidak menyahut, dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia tak heran dengan kepribadian Ei karena itulah yang menjadi alasan kenapa Hesa mantap menjadikan gadis bar bar itu sebagai istrinya. Sekalipun seluruh dunia menentang hubungan keduanya. Sang asdos tetap ingin Eilah yang menjadi pendamping hidup Hesa untuk selamanya.
Jalan yang Hesa tempuh ini memang terjal dan berliku. Tapi ia yakin, ketulusan cintanya akan selalu bisa memberikan solusi di setiap badai yang menerpanya.
***
__ADS_1
Ketika hampir saja sampai di kampus, Ei baru ingat kalau ia tidak punya banyak uang untuk membayar taksi. Ini sudah kesekian kalinya si oneng Ei sadar betapa bodohnya dia. Dengan cemas, Ei melihat argo yang ada di dalam taksi dan betapa terkejutnya dia begitu tahu berapa nominal yang harus ia bayar.
Ei merogoh tasnya dan membuka isi dompetnya. Mata Ei terbelalak tak percaya ketika melihat isi dompetnya diisi penuh dengan uang pecahan nominal 100 ribuan dan 50 an. Tak hanya selembar atau 2 lembar. Tapi dompet itu full dengan uang.
“Uang siapa ini?” gumam Ei lirih dan juga kaget. Seingatnya, uang di dompet Ei cuma tinggal 50.000, tidak lebih dari itu. Gadis itu terus bertanya-tanya, siapakah orang yang mengisi dompetnya dengan segepok uang.
“Apa aku salah ambil dompet ya? Tapi ini benar dompetku. Ada fotoku dan semua tagihan-tagihanku. Apa mungkin … Hesa yang mengisinya. Tidak salah lagi, pasti dia,” gumam Ei panik sendiri. Ingin marah tapi ia juga bingung. Seumur-umur ia tidak pernah pegang uang sebanyak ini.
“Non, sudah sampai, totalnya 115 ribu,” ujar sang sopir taksi membuyarkan lamunan Ei ketika ia sudah sampai mengantarkan sang penumpang ke tempat tujuannya.
Ei tergeragap dan buru-buru ia mengeluarkan uang dari dompetnya. Sang sopir mengambilkan kembalian untuk Ei tapi karena bel kampus sudah berbunyi, Ei pun buru-buru pergi dan berlari menuju gedung fakultasnya.
“Non! Kembaliannya!” teriak sang sopir.
“Buat Bapak saja! Terimakasih ya Pak!” seru Ei buru-buru. Dalam hati, ia berjanji akan mengembalikan semua uang Hesa termasuk uang yang ia gunakan untuk membayar taksi.
Seluruh teman-teman Ei langsung senang melihat Ei akhirnya kembali berkuliah lagi setelah memutuskan bolos gara-gara gossip miring yang menimpanya. Untunglah Ei ini punya teman sejati yang care padanya sehingga gossip tentang hubungannya dengan Hesa akhirnya dianggap sebagai angin lalu belaka.
Selagi Ei tidak ada, semua teman-teman sekelas Ei berusaha keras meyakinkan semua orang di kampus bahwa kekasih Hesa bukanlah Ei. Untunglah semua orang percaya karena mereka merasa, Ei memang sangat tidak pantas untuk pengeran seperti Hesa. Banyak dari mereka menghapus komentar negatif soal Ei di medsos masing-masing. Alhasil, lambat laun, gosiip tentang Hesa dan Ei hilang begitu saja bagai angin yang hanya numpang lewat. Kini, Ei bisa kuliah lagi dengan tenang tanpa perlu khawatir dilabrak para fans fanatiknya Hesa.
“Ei! Kau kembali!” seru Angel dan Prety ketika melihat Ei duduk dibangku kuliahnya. Dua wanita itu langsung memeluk tubuh temannya dengan erat saking bahagianya. Ei sendiri juga sangat senang setelah lebih dari seminggu, ia tak pernah melihat sahabat sejatinya ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***