
Hesa juga menggunakan es batu kecil yang entah ia dapat dari mana lalu membungkusnya dengan sapu tangannya. Ia menempelkan saputangan berisi es batu tersebut ke bagian yang lebam. Ei menatap wajah tampan suaminya yang sedang merawat lukanya dengan penuh cinta.
“Sepertinya, kau sudah jatuh cinta padaku,” ujar Hesa sambil tersenyum. Ia sudah tidak marah lagi sekarang. Ekspresinya berubah total dari saat di belakang kampus tadi.
“Siapa juga yang jatuh cinta padamu. kau memegang pipiku jadi aku tak bisa menoleh ke tempat lain selain kearahmu. Dasar narsis! Aaaak … kok sakit?”
“Tahanlah sebentar, es ini mengurangi bengkak. Apa terasa sangat sakit banget ya? Kau mau memukulku? Supaya kita bisa berbagi rasa sakit?” tanya Hesa pada Ei dan tidak menganggap Prety dan Angel ada di sekitarnya.
Kedua sahabat Ei itu menatap risih dua sejoli yang sedang main sok sweet-sweetan layaknya dunia hanya milik mereka berdua saja dan menjadikan dua wanita ngenes ini sebagai obat nyamuk belaka.
“Nggak usah aneh-aneh deh. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa.” Ei merebut saputangan dari tangan Hesa lalu memeganginya sendiri. Ia malu dengan sikap Hesa yang sok perhatian padanya dan jadi tidak enak hati dilihat kedua sahabatnya.
“Kenapa kau tidak beritahu temanmu siapa Mio Caro? Mereka jadi menuduhku selingkuh darimu.”
Ei langsung menatap Angel dan Prety yang berdiri menatap sinis kearahnya. Eipun memberi tahu kalau Mio Caro adalah Ei sendiri. Tentu saja, cara Ei memberitahu itu unik. Ia menggunakan bahasa isyarat sehingga kedua temannya harus berpikir keras untuk bisa mencerna arti bahasa isyarat yang di sampaikan Ei. Sayangnya, kedua teman Ei ini sama sekali tidak mengerti maksud Ei.
“Woy kobokan kenalpot. Kau pikir kami ini tunarungu dan tunawicara apa? Kenapa kau pakai bahasa isyarat begitu. Tinggal bilang saja siapa Mio Caro. Ribet amat sih? Itu ngapain tanganmu gerak-gerak begitu, ha?” celetuk Angel dan Hesa memalingkan wajah untuk tertawa.
“Lagian kau itu onengnya kebangetan sih Ei, Hesa memintamu ngasih tahu kami, bukan memintamu ngasih bahasa isyarat,” timpal Prety jadi keki setengah mati. “Sudahlah Ngel, percuma ngomong sama si teko penyok. Bikin empeduku bengkak saja. Ayuk pergi dari sini dan cari gebetan supaya bisa pamer kemesraan kayak mereka berdua!” Prety ngambek dan menggandeng tangan Angel pergi meninggalkan Hesa dan Ei berdua saja.
“Lah, kok kalian pergi!” ujar Ei hendak mengekor tapi tangannya ditarik Hesa sehingga gadis itu terduduk dipangkuan suaminya.
__ADS_1
“Mau ke mana?” tanya Hesa sambil mendekap tubuh langsing istrinya.
“Mau ngasih tahu mereka siapa Mio Caro-mu.”
“Sudah telat. Mereka sudah pergi, lain kali saja kau beritahu mereka. Kita harus segera pulang ke rumah.” Hesa terdiam. Ngajak pulang, tapi ia malah standby duduk di kursi dan tidak membiarkan Ei pergi.
“Katanya pulang, kok tetap diam di sini?” tanya Ei bingung. Namun, ia tetap waspada takut kalau-kalau ada orang melihatnya. Ei menatap sekeliling dan danau ini benar-benar sangat sepi.
“Kau harus tetap bersamaku, agar aku tidak pergi ke tempat para preman itu dan mematahkan semua tulang tangan dan kaki mereka. Membayangkan kau berkelahi dengan mereka sampai mendapat luka lebam seperti itu membuatku marah dan kesal.”
Napas Hesa tampak naik turun, sepertinya kemarahan Hesa masih belum hilang sepenuhnya dan Ei ingin meyakinkan suaminya kalau dirinya baik-baik saja. Awalnya, Ei juga marah sama seperti Hesa setelah tahu siapa biang keladi yang menyuruh preman-preman itu mengganggu teman-temannya. Namun, Ei sadar kalau semua wanita yang jatuh cinta pada Hesa pasti akan melakukan hal sama bila cintanya tak berbalas. Termasuk dirinya.
“Sekarang aku tahu kenapa kau begitu disukai banyak kaum hawa di dunia ini.” Ei memanyunkan bibirnya karena ia jadi minder sendiri. Ei merasa, Hesa terlalu sempurna untuknya.
“Karena kau tidak mudah didapatkan. Kau menolak semua wanita yang menyukaimu tapi kau dekat dengan wanita yang tidak menyukaimu. Seandainya aku menyukaimu sejak awal, apa … kau juga akan menjauhiku dan menolakku? Lalu aku akan jadi seperti Sulis karena aku terlanjur cinta mati padamu.”
“Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Kau dan Sulis jelas berbeda.”
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanya Ei.
“Pertama, karena kau itu Oneng. Ke-2, pada dasarnya kita punya karakter sama. Ke-3, aku sudah jatuh cinta padamu sejak kau berteman dengan Febi. Pertama kali aku melihatmu saat kau datang ke rumahnya dan bersikap kalau Febi itu sama sepertimu dan yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara darah biru dan yang bukan. Kau menganggap keluarga Febi hanya manusia biasa dan kedudukannya sama di mata Tuhan. Kau bahkan membuat Febi sadar bahwa dia hidup di dunia manusia, bukan di hutan. Sejak dia mengenalmu, dia melakukan banyak pelanggaran yang mengubah sejarah keluarga aristokrat kami. Sejak saat itulah aku merasa, kaulah satu-satunya wanita yang paling cocok menjadi istriku.” Hesa menceritakan hal yang menyatakan seolah dirinya sudah lama mengenal Ei. Masa itu, adalah masa di mana Ei masih SMA.
__ADS_1
“Kalau itu alasanmu. Langen dan Fani juga sepertiku, Angel dan Prety juga. Kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka. Tidak harus aku.”
“Terlalu banyak sekali kebetulan yang terjadi diantara kita berdua Ei. Kau mungkin bahkan tidak sadar kalau mungkin kita sudah berjodoh sejak kita dilahirkan ke dunia ini. Lagian, Langen sudah punya Rey, Fani sudah punya Bim bim. Angel, dia suka Leo meski cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau Prety … aku lebih suka dia jadi muridku saja. Kaulah yang sempurna untukku. Lagipula Prety bukan jodohku, tapi jodoh orang lain.”
“Sejak kapan kau jadi Sun Go Kong, ha? Bisa tahu kalau dia jodoh orang lain.”
“Aku bukan hanya bisa jadi Sun Go Kong, ataupun biksu Tong, Ei. Tapi aku juga bisa jadi dewa cinta. Bukankah itu juga pekerjaanmu. Tukang mak comblang! Kau kan, yang comblangin Febi dan Rangga.”
Ei terdiam, pembicaraan antara Hesa dan Ei seputar kisah mereka sukses membuat Hesa lupa akan kejadian yang menimpa istrinya. Tanpa mereka berdua sadari, cinta sudah mulai bersemi di hati Hesa dan Ei.
***
Kabar soal penyerangan Ei juga sampai di telinga ibu Hesa. Dan tanpa menunggu waktu lama, sang ibunda tercinta meminta Hesa dan Ei untuk datang ke istana. Namun, Hesa menolak dengan alasan, Ei butuh waktu untuk menenangkan diri. Selain itu, ini merupakan kesempatan emas untuk Hesa agar ia bisa 24 jam full dengan Ei, tanpa diganggu oleh siapapun.
“Ya sudah kalau istrimu baik-baik saja. Jangan sekalipun tinggalkan Ei sendirian lagi. Sehabis ujian kalian harus langsung pulang ke rumah. Ibu sudah mengirim orang istana untuk melatih Ei. Dia harus berlatih dengan giat karena sayembara akan segera dimulai begitu kalian berdua selesai ujian.” Itulah kalimat yang dikatakan ibu Hesa di telepon.
“Baik Ibunda tercinta, akan ku jaga menantu ibu dengan baik. Sampai bertemu lagi nanti.” Hesa pun menutup panggilannya.
Saat ini, Hesa sudah ada di rumah Ei di mana banyak sekali anak-anak asuhan Ei sedang bermain bersama dengan mereka semua. Orang yang dikirim kanjeng ibunya Hesa juga sudah tiba dan orang itu, siapa lagi kalau bukan Febi dan Rangga. Teman Ei sendiri.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***