
Pembicaraan Ei dengan Hesa yang dilakukan tepat di atas dahan pohon dan di atas ketinggian tebing tinggi menjulang, membawa Ei seolah terhanyut dalam suasana yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Dalam hati gadis barbar itu, timbul suatu rasa penasaran akut tentang siapakah Hesa sebenarnya. Kepribadiannya serta hal-hal yang berkaitan dengan sang pangeran ningrat langka ini.
Terlebih, Ei sangat ingin tahu, apa alasan Hesa memilih dirinya menjadi bagian dari hidupnya. Rasa itu begitu kuat sehingga Ei memutuskan menunggu jawaban dari Hesa atas pertanyaannya yang ia ajukan sebelumnya.
Wajah Hesa tersenyum manis saat Ei terus menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang ada di pikiran gadis itu.
“Hei, cantik,” panggil Hesa sehingga Ei berasa ingin muntah mendengarnya.
“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Ei.
“Kenapa? Aku kurang jelas? Kau memang cantik. Apa kau tidak tahu?”
“Apa ini saat yang tepat untuk membicarakan apakah aku cantik atau tidak?”
“Bukan begitu, aku hanya ingin bilang, kalau kau terus menatapku seperti itu, aku khawatir, kau akan jatuh cinta padaku jauh lebih cepat dari yang kuperkirakan. Belum sampai 4 tahun, kau tidak bisa melupakanku dalam ingatanmu. Dan kau akan tenggelam dalam lautan cintaku yang begitu dalam sampai kau tak bisa keluar dari belenggu cinta yang kuberikan untukmu …” ujar Hesa sok narsis sehingga membuat Ei melting sendiri.
“Stop! Jangan bicara lagi! Plis!” seru Ei langsung keki. Gadis itu mengangkat kedua tangannya samai ke depan wajah seperti orang yang sedang berdoa memohon ampunan pada Yang Maha Kuasa. Tidak hanya itu, si oneng Ei malah komat kamit nggak jelas kayak mbah dukun baca mantra.
“Kau sedang apa?” tanya Hesa heran dengan tingkahnya Ei.
__ADS_1
“Aku sedang membaca surat-surat pendek agar setan alas yang merasuki otak dan pikiranmu segera pergi. Aku rasa, kau itu sedang kesetanan sekarang, makanya kau bicara ngelantur kemana-mana,” terang Ei masih sambil komat-kamit nggak jelas.
Hesa langsung tepok jidat sambil bergumam, “Sebenarnya, yang kesetanan bukan aku, tapi kau. Astaga Ei. Tidakkah kau paham kalau aku sedang merayumu? Wanita normal biasanya langsung kelepek-kelepek mendengar kata-kata romantis yang baru saja kuucapkan. Tapi kau enggak. Bukannya meleleh malah baca doa? Kau pikir kita sekarang sedang kondangan?”
“Nah loh … ketahuan kan, berapa banyak wanita yang sudah jadi korban perasaanmu?” tanya Ei penuh selidik.
“Nggak ada, baru kau saja yang kurayu. Sungguh, dan kalimat itu mengalir begitu saja tanpa bisa kukendalikan.”
Ei memicingkan mata seolah masih tidak percaya dengan apa yang Hesa katakan. Tapi … melihat betapa tampannya wajah pria yang ada di hadapan Ei, tiba-tiba saja jantung gadis itu dag dig dug sendiri tanpa sebab.
Omegot, ada apa denganku. Kok jadi deg degean ditatap Hesa begitu? Sadar Ei, kau tidak boleh tertarik pada pangeran buaya ini. Jangan percaya kalau ia tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Korban perasaannya pasti amat sangat banyak. Batin Ei mulai diam dan sedang bergelut kuat dengan perasaannya.
“Alasan kenapa aku memilihmu,” ujar Hesa akhirnya mau menjawab pertanyaan Ei. Ei pun tampak antusias mendengarkan dengan seksama dan mengesampingkan apa yang menjadi pikirannya saat ini.
“Atas dasar apa kau bisa seyakin itu? Aku belum tentu bisa melakukannya,” ujar Ei masih belum puas dengan jawaban Hesa.
“Kau … satu-satunya wanita yang berani menamparku, 2 kali malah. Kau tahu … jika kau tidak bersamaku sekarang, orang-orang ayahku sudah pasti menangkapmu sejak kemarin-kemarin untuk diadili atas tuduhan menyakiti salah satu keturunan bangsawan,” terang Hesa menakut-nakuti Ei dan ia memang tidak sepenuhnya berbohong.
Pasukan khusus ayah Hesa sedang sibuk mencari-cari keberadaan Ei. Selain untuk disidak, Raden Savatinov juga penasaran seperti apa model wanita yang dipilih putranya sebagai pendamping hidup Hesa. Sebab, Ei didapuk sebagai biang kerok Hesa menolak semua putri bangsawan yang dipilihkan keluarga kerajaan.
__ADS_1
“Maksudmu … aku adalah umpan? Kau menyembunyikan wanita yang kau cintai agar tidak tertekan dalam lingkungan keluargamu, dan kau menjadikanku penggantinya seperti yang ada di film-film cinta beda kasta. Iya, kan?” tanya Ei.
“Bukan,” jawab Hesa cepat. “Wanita yang kucintai adalah kau Ei. Tidak ada yang lain. Dan aku tidak menyembunyikan wanita manapun. Apa kau juga salah satu korban drakor? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu padaku?”
Ei tertawa, ini sungguh lelucon yang sangat lucu baginya dan sedang dimainkan oleh seseorang berdarah biru.
“Kenapa kau tertawa, aku serius. Dan aku tidak pernah berbohong.”
“Sepertinya otakmu bermasalah. Matamu juga sudah buta. Lihat aku … apa yang ada didiriku sampai orang sepertimu jatuh cinta padaku. Keluargamu juga tidak seburuk yang kau pikirkan. Mereka pasti mencari wanita yang bibit bebet dan bobotnya sama dan setara denganmu. Tapi bukan aku. Sangat mustahil bagi seorang pangeran tampan berkuda putih sepertimu tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain di dunia ini. Dan sekalinya cinta itu datang, kau memilihku seolah tak ada wanita yang lebih baik dariku. Bukankah itu lucu?”
“Ei Sayangku cintaku permata hatiku kekasihku dan pujaan hatiku … dalam cinta tidak ada persyaratan apapun. Sebelum aku jatuh cinta padamu, aku tidak memintamu untuk setara denganku. Persetan dengan perbedaan kasta diantara kita berdua. Yang aku inginkan adalah ada disisimu. Itu saja.” mata Hesa begitu tulus saat mengatakan kalimat cinta yang begitu menyentuh jiwa.
Bahkan Ei saja sampai dibuat terpana mendengar ucapan Hesa. Namun, karena Ei ini sangat oneng. Ia malah menganggap Hesa ini kerasukan setan akut.
Wuah, jangan-jangan pangeran ningrat ini salah makan obat, atau bisa jadi dia memang benar-benar ketempelan setan alas yang ada di hutan ini. Kalau begitu, sebaiknya aku cepat pergi dari sini, sebelum pengaruh setan yang merasukinya semakin kuat. Hii … kok aku jadi ngeri melihat cowok ini, dia beneran asdos nggak sih? batin Ei sambil memerhatikan Hesa.
Ei sudah tak khawatir lagi dengan kondisinya yang bergelantungan di dahan-dahan pohon mirip seperti penghuni hutan asli. Gadis itu bangun berdiri sambil berpegangan kuat dan mulai memanjat tanpa mengucap sepatah katapun pada Hesa. Hesa juga ikut bergerak, tapi kali ini, ia ada di samping Ei. Tetap waspada dan melindungi calon istrinya.
“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Hesa disela-sela mereka berdua memanjat dahan dari satu pohon ke pohon lain yang ada di atas mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***