Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 22 Perjalanan Pendakian Cinta Hesa


__ADS_3

Bagaimana cara mengusir setan alas ini dari Hesa, ya? Dibacain doa juga nggak mempan, batin Ei lagi. Ia tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang diinginkan Hesa. Setidaknya, sampai mereka berdua keluar dari kesulitan ini.


“Apalagi? Tidak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti permainanmu. Lagipula kau menyandra semua anak-anak panti asuhanku. Jika aku menolak, kau takkan pernah mempertemukanku dengan mereka semua, kan? Kau tahu mereka adalah kelemahanku sekaligus rahasia besarku. Lagipula ini cuma 4 tahun, dan tugasku adalah mengalahkan semua kandidat calon istri yang dipilihkan keluargamu.” Ei menjawab sambil terus memanjat.


“Benar. Dengan ke-onengan … ehm … maksudku … dengan kemampuanmu yang mumpuni, aku yakin semua kandidat yang dipilihkan ayahku. Tidak akan bisa mengalahkanmu.”


“Okeh, hanya 4 tahun kan? Artinya, sampai aku lulus kuliah, kan?”


Hesa mengangguk. “Benar, dan semua biaya kuliahmu, aku yang tanggung. Kau hanya perlu jadi istriku dan belajar sampai kau lulus.”


Ei terdiam dan tidak bicara lagi. Ia fokus pada dahan-dahan yang ia pegang sebagai bahan pijakan antara kaki dan tangannya. Sayangnya, kali ini ia salah meraih dahan pohon karena dahan tersebut ternyata adalah dahan yang patah sehingga tubuh Ei yang bertumpu pada dahan itu langsung terjatuh. Untungnya, Hesa sigap meraih tangan Ei sebelum gadis itu benar-benar terjatuh dari ketinggian. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila Ei terjatuh dari sini dan kejadian tersebut sangat tak terduga sama sekali.


“Aku memegangmu, Ei! Jangan takut! Jangan lihat ke bawah dan terus lihat aku. Aku di sini … untuk melindungimu,” ujar Hesa sekuat tenaga menarik tubuh Ei ke atas dengan menggunakan satu tangan sementara tangannya yang lain bertumpu pada dahan yang kuat.


Ei sendiri langsung memanjat dan dengan susah payah berdiri dekat di samping Hesa berada. Tubuh Ei lumayan gemetar karena tadi itu hampir saja dirinya meregang nyawa. Hesa langsung melepas currier dan memberi Ei minuman di botol.


“Minumlah ini,” ujar Hesa dan Ei langsung meminum air yang diberikan Hesa padanya.


“Terimakasih, lagi-lagi kau menyelamatkanku,” ujar Ei lega walau tadinya ia sempat was-was karena tanpa dinyana-nyana, hampir saja nyawanya melayang dalam hitungan detik.


“Kau kalah!” ujar Hesa sambil tersenyum senang. “Ini ke-tiga kalinya aku menyelamatkanmu. Dan dalam peraturan pertandingan cinta ini, bila ada yang membantu lawan 3 kali, maka lawan yang dibantu dinyatakan kalah.”


“Tunggu!” Ei tak terima. “Kau hanya membantuku 2 kali? 3 kali darimananya?” tanyanya.


“Saat aku mengajakmu naik tebing ini dengan memperlihatkan pita merah buatan Iwan, itu adalah bantuan pertama. Bantuan kedua, kau terpeleset dan aku menangkap tubuhmu. Dan yang terakhir adalah barusan. Kau harus menikah denganku sekarang Ei. Aku yang menang.” Hesa tersenyum senang.

__ADS_1


“Kau gila? Mana bisa menikah sekarang? Lagian mana ada orang menikah di hutan dan disaat panjat tebing begini? Kayaknya otakmu itu benar-benar bermasalah,” cetus Ei kesal dan ia hendak memanjat lagi mendahului Hesa. Ia sangat kesal karena Ei kalah walau pertandingan ini sangat tidak masuk akal baginya.


Namun, karena keonengannya, Ei mau saja dikelabuhi Hesa padahal jelas-jelas apapun hasil pertandingan yang mereka berdua lakukan, Hesa bakal keluar sebagai pemenangnya. Sebab cowok itu punya banyak kartu As-nya Ei yang bersifat mengikat.


“Ouch!” erang Ei karena ternyata kakinya terkilir sehingga tidak bisa digerakkan. Kaki kanannya terjepit ranting pohon dan Ei tidak memerhatikannya sehingga saat ia bergerak, langsung terasa sakitnya.


“Kau tidak apa-apa?” Hesa menunduk memerhatikan kaki Ei.


“Tidak tahu, tiba-tiba saja sakit sekali bila digerakkan,” rintih Ei menahan sakit. Ia mencoba menggerak-gerakkan kakinya tapi semakin digerakkan, rasanya semakin sakit. Gadis itu bingung karena tak bisa bergerak lagi.


“Diamlah sebentar, biar kuperiksa,” ujar Hesa mencoba menyentuh kaki Ei dan gadis itu langsung mengerang kesakitan.


“Aaaaghh! Jangan disentuh, sakit banget!” pintanya karena memang sakit sekali apalagi saat Hesa menyentuhnya.


“Sepertinya, kau tidak bisa berjalan dalam keadaan begini. mungkin terjadi saat kau terjatuh yang pertama tadi dan diperparah jatuh yang kedua barusan.”


“Demitlah yang takut padamu. Begitu ada kau, mereka langsung kabur,” ledek Hesa dan bibir Ei langsung manyun karena ucapan cowok itu sama persis seperti yang dikatakan Iwan.


“Naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu ke atas.” Hesa berjongkok di depan Ei sambil terus berpegangan pada dahan pohon di sekeliling mereka.


“Hah?” Ei kaget tapi langsung menolak tawaran Hesa. “Tidak, bagaimana kalau kita berdua malah jatuh. Aku berat loh!”


“Currier yang kubawa ini jauh lebih berat daripada tubuhmu. Kita letakkan tas-tas kita di sini dan bawa apa yang diperlukan. Sesampainya diatas, aku akan minta pengawalku untuk mengambil tas ini kembali. Ayo naik.”


“Kenapa malah ke atas, kenapa kita tidak turun ke bawah?”

__ADS_1


“Naik ke atas justru lebih aman ketimbang turun. Sudah jangan banyak tanya, percayalah padaku. Aku akan membawamu turun dengan aman. Aku janji.” Hesa bersiap menggendong Ei.


Meski masih ragu, Ei tak punya pilihan lain. Sebab, ia sendiri tidak ingin bermalam di tengah tebing curam begini. Membayangkannya saja sudah serem apalagi jika sampai benar-benar mengalaminya.


Alhasil, Ei benar-benar digendong Hesa naik ke atas tebing. “Peluk tubuhku dengan kuat, jangan sampai dilepaskan,” ujar Hesa memperingatkan.


Oh tidak, ini salah! Jerit Ei dalam hati tapi ia tak punya pilihan lain selain menempelkan tubuh bagian depannya di punggung rata Hesa. Ei sempat terkejut karena ternyata pria yang ia kurus kering itu punya otot yang kekar juga.


***


Perjalanan pendakian cinta Hesa dan Ei dimulai. Entah seperti apa stamina Hesa sebenarnya. Ia merayap selangkah demi selangkah naik ke atas tebing sambil menggendong Ei dipunggungnya dan cowok itu tak tampak mengalami kesulitan. Hanya napasnya saja yang ngos-ngosan.


Awalnya, suasana diantara keduanya tampak canggung, tapi … lama kelamaan Ei merasa tenang dan nyaman berada dipunggung Hesa. Apalagi, ia juga bisa menikmati pemandangan alam yang menakjubkan dari atas sini. Sungguh, ini adalah momen langka yang mungkin takkan pernah terulang dua kali. Sebab, setelah ini, Ei akan terkurung dalam keluarga Hesa dan ia takkan bisa bebas lagi seperti sekarang.


“Rumahmu, pasti seperti di neraka. Sangat sepi, dan membosankan,” ujar Ei membuka pembicaraan saat ia ada di punggung Hesa.


Sepertinya kau sangat tahu seperti apa kehidupan para keturunan bangsawan.”


“Tentu saja aku tahu, aku pernah ke rumah Febi dan suasana di sana begitu mencekam seperti kuburan. Makan aja nggak boleh ada suaranya. Senyap seperti nggak ada orang. Kuburan saja masih ramai bila dibandingkan rumah Febi.”


“Itu masih belum ada apa-apanya. Keluargaku tidak sama seperti keluarga Febi yang welcome pada siapa saja tanpa memandang kasta. Kau tahu sendiri, Rangga bukanlah bangsawan sama seperti Febi, tapi ayah dan ibunya merestui hubungan mereka meski gara-gara kau dan yang lainnya, dia kabur dari rumah dan menentang adat istiadat keluarga kami. Febi bahkan pernah diasingkan di Keraton sebagai bentuk hukuman dan Rangga berlutut di hadapan Kanjeng Romo meminta ampunan untuk Febi.”


“Aku tahu, aku sudah dengar soal itu. Pada akhirnya mereka juga akan menikah sebentar lagi begitu mereka berdua lulus kuliah.”


“Nah, itu kau tahu. Jika Febi bisa, kenapa kau dan aku tidak bisa?” ujar Hesa jadi semakin bersemangat sampai akhirnya ia ada di puncak tebing.

__ADS_1


Keduanya sama-sama memanjat tebing dan mencoba berdiri diatasnya. Namun, mata keduanya langsung terbelalak tak percaya karena ternyata, di atas tebing ini, sudah ada yang menunggu kedatangan mereka.


BERSAMBUNG


__ADS_2