Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 7 Pilihan Hati Raden Mas Leo Mahesa


__ADS_3

Meski Ei sudah mengklarifikasi di depan khalayak bahwa hubungannya dengan Hesa itu tidak benar, tetap saja dia jadi trending topic utama di dunia maya di mana semua orang dikampusnya sedang heboh membicarakannya. Apalagi ada yang memvideo kasus penamparan Hesa yang dilakukan Ei. Semakin hebohklah dunia jagad maya soal ini di mana Eilah yang jadi tertuduh. Gadis malang bar-bar itu jadi semakin terpojok.


Gosip tentang Ei dan Hesa, lebih banyak mengundang kontranya bila dibandingkan pronya karena selama ini tak banyak orang di kampus mengenal siapa Ei. Sekalinya tahu, image Ei sangat buruk dan malah dinobatkan sebagai gadis jahat penakhluk hati Hesa. Ei benar-benar kena mental di sini. Tak hanya mendapat serangan verbal, ia bahkan diserang diberbagai media sosial sehingga membuat Ei bolos kuliah selama berhari-hari dan memilih mengurung diri di kamar kosnya yang cuma berukuran 5 x 7 m.


Prety dan Angel berusaha membujuk Ei untuk kembali masuk kuliah, tapi gadis itu tidak mau. Ia sudah terlanjur malu dan tidak punya muka lagi menghadapi kemarahan para kaum hawa fans fanatiknya Hesa karena pria tampan itu adalah idola dikampusnya.


“Mau sampai kapan kau mengunci diri di kamar sempit ini? Udah mau seminggu loh. Cuekin ajalah mereka, ngapain kau urusin. Toh berita kau pacarnya Leo KW juga nggak bener, kan? Kalau kau sembunyi gini apa nggak membuat mereka malah semakin yakin kalau gosip itu benar?” tanya Angel untuk kesekian kalinya saat membujuk sahabatnya agar mau berangkat kuliah bersamanya.


“Bukan mereka yang aku hindari, Ngel. Tapi si berengseek Leo KW itu. Sampai sekarang dia nggak mau klarifikasi kalau yang aku utarakan ke mereka itu benar. Kita cuma taruhan, nggak lebih. Dengan sok nya dia cengar-cengir kuda kalau ditanya soal hubunganku dengannya. Kan artinya dia sengaja memperkeruh suasana! Aku nggak mau liat mukanya lagi. Kalau perlu aku bakal pindah kampus!”


“Yeee … jangan dong … terus kita-kita ama siapa kalau kau pindah?”


“Ya, ayok pindah kampus juga!” ajak Ei, onengnya mulai kumat lagi.


“Heh Oneng Markoneng, kau pikir pindah kampus itu kayak main lompat tali? Butuh proses yang ribet dan njelimet tahu! Ngasih usul itu yang masuk akal dikit napa sih?” protes Prety sambil ngemil.


“Prety benar Ei, nggak gampang pindah kampus gitu aja. Jangankan pindah kampus, pindah jurusan aja belibetnya minta ampun. Kalau kau terus seperti ini. Yang ada kau sendiri yang rugi.”

__ADS_1


Ei terdiam sambil manyun, “Huaaaaa … terus aku harus gimana? Ada yang punya ilmu santet nggak? Mo nyantet itu Siamang nggak punya tulang! Seenak jidatnya ngaku-ngaku jadi pacar orang! Mana aku belum pernah pacaran pula!” Ei terus merengek dan itu membuat kedua sahabatnya ngenes sendiri melihat Ei seperti itu.


Sudah kondisi Ei ini amat sangat berantakan, tak terawat, entah mandi entah tidak, bahkan yang lebih mirip Siamang tanpa tulang itu Ei sendiri, bukannya Hesa. Kalau pangeran kampus itu sih tetap tampan dan cool, sangat santai-santai saja dan seolah jadi artis dadakan. Setiap hari Hesa hanya tebar senyum di mana-mana saat ditanya kepastian hubungannya dengan Ei.


Untuk kesekian kalinya, terpaksa Ei bolos kuliah lagi hari ini. Kondisinya benar-benar tidak memungkinkan untuknya masuk kuliah kalau nggak ingin dibully lebih parah.


***


Buntut dari permasalahan ini juga berdampak di keluarga Hesa. Di luar sana sang pangeran kampus memang tampak santai dan biasa-biasa saja menghadapi gosip yang beredar tentang hubungannya dengan Ei, tapi di istana keluarga ningratnya, huru hara itu membuat keluarga Hesa murka.


Sekali lagi, Hesa memang bukan orang biasa, dia masih keturunan darah biru dari zaman kerajaan. Keturunan langsung dari raja Rajasanaghara, dan gelar Hesa adalah pangeran Arleon Rajashanagara atau biasa dipanggil Raden Mas Leo Mahesa. Yang memanggil Hesa dengan sebutan Leo pasti tahu kalau pangeran kampus itu masih keturunan darah biru seperti Erson yang jadi pemicu Ei salah paham kala itu.


Namun, perlakuan itu berbeda dengan orang-orang yang tinggal dikawasan keraton kerajaan Hesa berada, terutama di lingkungan istananya yang menganggap Hesa adalah pangeran istimewa karena dianugerahi ketampanan dan kecerdasan luar biasa serta digadang-gadang bakal menjadi penerus tahta keluarganya yang berjalan hingga sekarang.


Tak heran, bila gosip di kampus Hesa perihal hubungannya dengan Ei membuat keluarga, termasuk Ayahanda Hesa sendiri memanggil putranya di istana kediamannya.


“Benarkah kabar yang kudengar di kampusmu, Hesa? Kau tahu kalau kau sudah kujodohkan? Pemilihan seleksi calon putri untukmu sudah dekat? Kenapa kau malah bikin huru hara yang mengguncang istana? Apa yang kau pikirkan?” tanya ayah Hesa yang bergelar Gusti Randa atau yang biasa di panggil Raden Savatinov.

__ADS_1


“Maafkan hamba Ayahanda, hamba hanya meringankan beban ayahanda untuk tak lagi repot memilihkan calon putri untuk hamba, karena hamba sudah memiliki tambatan hati sendiri. Dialah yang akan jadi calon istri hamba, bukan yang lain,” jawab Hesa tampak sangat tenang, padahal ia sedang di sidang.


“Apa kau sudah gila!” bentak Raden Savatinov mulai naik pitam mendengar jawaban Hesa. “Kau tahu masalah apa yang kau timbulkan? Istana kita sedang terguncang! Para tetua lain tak sembarangan memilihkan pendamping hidup pangeran sepertimu. Ingat Hesa! Kau itu keturunan darah biru, yang akan menjadi istrimu harus memiliki kualitas bibit bobot bebet sesuai kriteria keluarga kita. Bukan wanita sembarangan yang kau temui di pinggir jalan!”


Ucapan Savatinov benar-benar tepat. Hesa pertama kali bertemu dengan Ei memang di pinggir jalan saat sama-sama sarapan burger.


“Hamba tidak minta dilahirkan untuk menjadi pangeran Ayah, kalau disuruh memilih, menjadi rakyat biasa tanpa gelar lebih baik daripada menjadi pangeran yang seumur hidupnya harus dikekang untuk kepentingan politik kerajaan. Wanita pilihan hamba, bukanlah penjahat ataupun teroriis, ia juga bukan iblis Ayah. Dia wanita baik-baik yang memberi warna dalam hidup hamba yang tadinya hanya hitam legam. Pilihan hamba tetaplah dia. Bukan Margaret, Melinda atau siapapun yang Ayahanda pilih.” Mata Hesa menatap tajam ayahnya tanda keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat.


Raden Savatinov amat sangat terkejut mendengar jawaban putranya mengenai persoalan siapa yang bakal menjadi pendamping hidupnya. Dari kesekian putranya, hanya Hesa saja yang tidak mau dijodohkan. Saudara laki-lakinya yang lain selalu mematuhi perintah Savatinov tanpa syarat. Berbeda dengan Hesa yang lebih memilih jalur hidupnya sendiri.


Karena sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, Hesapun pamit undur diri setelah menyampaikan apa yang harus ia sampaikan. Ayahnya hanya mengamati punggung putranya yang pergi meninggalkan istana.


“Bawa wanita itu kemari, dan jangan sampai Hesa tahu. Pastikan pula tidak seorangpun tahu kalau kau membawa gadis itu ke istana ini,” perintah Savatinov pada pengawal setianya.


“Baik Yang mulia, akan hamba laksanakan,” ujar sang pengawal dan pamit undur diri juga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2