
“Jangan lakukan apapun yang membuat reputasimu menurun, tetaplah jadi Hesa yang dipuja-puja. Meski aku tidak suka, aku tetap bangga, dengan begitu aku bias tunjukkan pada dunia kalua wanita pilihan Hesa juga luar biasa. Oke,” ujar Ei sambal menatap Hesa tapi pelukan tangan Ei yang melingkari tubuh kekasihnya tidak Ei lepaskan.
Hesa membenturkan keningnya di kening Ei sambal berkata, “Ada banyak orang model seperti itu di kampus ini. Aku khawatir kalua aku tidak bertindak, mereka akan menindasmu. Belum tentu 24 jam penuh aku bias bersamamu. Sesuatu yang buruk bias saja terjadi kalua kau tak ada disampingku.”
“Aku paham, aku juga mengerti, tapi aku di sini tidak sendiri. Aku punya pacar keren loh, nggak ada yang luput dari pengamatannya. Masa kau ragu dengan apa yang kau miliki sekarang. Kekuatanmu adalah aku, jadi aku tidak boleh takut pada orang-orang seperti mereka. Sudahlah, jangan perpanjang masalah ini. Aku harus focus pada kuliahku dan kembali ke Indo.”
“Loh, kok ke Indo, bukannya kau datang ke sini hanya karena ingin menghindari hujatan netizen?”
“Lah di sini ternyata kau jauh lebih tenar, apa bedanya? Mending aku balik ke Indo. Pokoknya bulan depan kalau semua mata kuliahku terselesaikan dengan cepat aku kan kembali ke Indo. Hadueh menyebalkan sekali, nggak di sini nggak di sana kau selalu saja ada di mana-mana.” Ei melepas pelukannya pada Hesa dan pergi turun.
Hesa tidak mengejar, ia malah menatap sekeliling sambil tertawa sendiri mendengar gerutuan Ei barusan. Cowok itu mulai berpikir, memang tidak seharusnya ia meragukan kebebasan Ei sebagai kekasihnya ditengah kepopulerannya yang meroket ini. Hesa harus percaya sepenuhnya pada kemampuan Ei terlebih Ei memang bukan wanita biasa seperti pada umumnya.
Baru juga Hesa mulai lega dengan hati dan kegalauannya, tiba-tiba melalui headset yang terpasang di telinga Hesa, ia mendengar panggilan dari Keem.
“Hesa, kau ada di mana? Bukanlah kau bersama kekasihmu?” tanya Keem dari seberang sana.
“Barusan dia turun, ada apa?”
“Cepatlah, istrimu barus aja di culik, nomer platnya 674*** arah jam 12. Kau pakai mobil land rover yang ada di belakang kampus.”
“Apa?” Mata Hesa melotot karena kaget tapi ia juga langsung melihat ke bawah gedung dari posisi tempatnya berdiri saat ini.
Tak ingin buang waktu, Hesa langsung mengambil ancang-ancang untuk menuruni gedung secepat kilat. Ia memanfaatkan pipa dan meluncur turun tanpa pengaman. Kemejanya sempat rusak dan ia hanya menggunakan pakaian tanpa lengan. Si gangster berlari cepat menuju mobil yang dibilang Keem.
“Ini mobil siapa?” tanya Hesa melalui headsetnya.
“Mobilku, kebetulan aku sedang kencan,” jawab Keem.
“Lalu kau di mana?” tanya Hesa lagi.
“Dibawah mobil jeep yang menculik kekasihmu, cepatlah aku sudah tidak kuat pegangan,” ujarnya dan Hesa langsung menambah kecepatan.
__ADS_1
Berkat arahan Keem, dengan mudah Hesa menemukan mobil yang membawa Ei ke sebuah gedung tua. Tak lupa Hesa juga memanggil seluruh anak buahnya untuk membantunya mengatasi tikus got yang telah berani menculik Ei disaat Hesa lengah sedikit saja.
Mobil itu sadar kalau diikuti dan sengaja berhenti di tengah-tengah bangunan gedung tua yang tak terurus. Hesapun juga berhenti dan menunggu sembari membuat waktu untuk Keem agar mencari posisi aman sebelum keberadaannya di ketahui musuh.
“Kalian sudah tahu siapa mereka?” tanya Hesa pada anggota tim heckernya melalui headsetnya.
“Mereka teman sekelas Ei sekaligus muridmu. Apa yang akan kau lakukan pada mereka?”
“Aku belum tahu, pastikan tidak ada polisi di sekitar sini.”
“Terlambat, ada mobil patroli mendekat ke titik lokasi kalian.” Lyric memperingatkan.
“Alihkan, buat onar atau apa, yang penting jangan sampai mereka tahu aku ada di gedung ini.” Perintah Hesa pada rekan timnya. Mereka semua berkomunikasi dengan alat komunikasi buatan Sonia.
“Gampang, serahkan padaku!” seru Lyric bersemangat. Dan dalam hitungan detik, ia mengacaukan sistem pengendali lampu lalu lintas sehingga semuanya mati mendadak dan menyebabkan kemacetan di mana-mana.
Akibatnya, mau tidak mau semua jajaran polisi baik yang sedang patroli atau yang bertugas di tempat diminta untuk mengkondisikan jalan. Asli, keahlian Lyric menyabotase system pengendali otomatis lampu lalu lintas sukses memberi ruang Hesa untuk mengeksekusi siapa saja yang cari gara-gara dengannya.
“Tidak perlu, aku sudah lama tidak pemanasan, aku akan menyelesaikannya sendiri. Kalian bisa minum kopi sambil menyaksikanku.” Hesa juga tak kalah sombong. “Bagaimana kondisi pacarku?”
Tatapan mata Hesa menatap lurus ke depan. Satu per satu orang-orang yang ada di dalam mobil jeep hitam itu turun dan yang diberitahukan Slava pada Hesa memang benar.
“Dia pingsan, ada di jok belakang, Keem sedang berusaha mengeluarkannya lewat bagian bawah mobil. Sedikit lagi dia berhasil. Ah satu lagi … di dalam mobil itu ada bom.” Slava menjelaskan.
“Wah, mereka adalah para kriminal, kau harus hati-hati Hes, anggotamu sedang bergerak ke tempatmu, mereka mengepung gedung itu. Kau aman dan bisa lakukan apa saja pada mereka selagi polisi belum tiba,” Hoodie ikut memberitahu.
“Seberapa bahaya bom itu?” tanya Hesa masih tampak tenang dan waspada. Ia selalu hati-hati dalam bertindak apalagi ini menyangkut keselamatan Ei.
“Itu bukan bom sungguhan!” ganti Sonia yang menjawab. “Hoodie hanya menakutimu. Itu hanya bom mainan, sepertinya mereka mau menggertakmu.”
Hesa tersenyum sinis, orang sekelas Hesa mana mungkin bisa digertak. “Dimana Corpury?” tanyanya.
__ADS_1
“Dia bersama dengan yang lainnya sedang berdiri di depan gedung untuk jaga-jaga. Ia tak ingin rekan polisinya mendekati areamu. Kau punya waktu kurang lebih 1 jam sampai lampu lalu lintas itu selesai diperbaiki.”
“Oke, kerja bagus teman-teman.”
“Hesa!” seru Keem tiba-tiba. “Aku kesulitan membawa istrimu! Kau bisa bantu aku? Di jok mobilku ada granat kecil, alihkan perhatian mereka dan bantu aku mengeluarkan istrimu!”
“Heleh, bilang saja kau takut dihajar Hesa kalau kau berani menyentuh kakak ipar!” goda Hoodie.
“Diam kau!” bentak Keem. Mereka berdua saling adu mulut di seberang sana dan Hesa membuka laci kecil yang dimaksud Keem tanpa peduli pada keributan teman-temannya.
Hesa keluar dari dalam mobil dan maju sambil menggigit pucuk granat dan siap dilemparkan. Awalnya Nathan dan rekan-rekannya tampak biasa saja saat melihat Hesa turun seorang diri dari dalam mobilnya. Mereka bahkan siap menghajar Hesa dengan menggunakan parang dan tombak yang entah mereka dapat darimana.
Namun, begitu tahu apa yang digigit Hesa dan hendak dilemparkannya, Nathan dan yang lainnya jadi kalang kabut. Niat hati mau mengancam Hesa dengan menggunakan Ei, ternyata mereka malah terancam sendiri karena di tangan kanan Hesa ada granat. Bisa di tebak apa yang bakal terjadi kalau sampai granat tersebut meledak.
“Apa-apaan kau! Kenapa bawa –bawa granat segala?” tanya Nathan pada Hesa yang sudah siap melempar granatnya ke arah Nathan dan teman-temannya.
Bukannya menjawab, Hesa malah terkekeh. “Matilah kalian semua!” ujar Hesa dan ia langsung melempar granat itu ke arah Nathan yang lari tunggang langgang.
"Apa yang kau lakukan! Jangn dilempar!" teriak Natha. dan seluruh teman-temannya.
Sayangnya mereka terlambat, granat sudah terlanjur di lempar. Meski bentuknya kecil tapi kekuatan ledakannya sama dahsyatnya dengan granat-granat pada umumnya. Hesa sendiri langsung melompat ke bawah mobil jeep di mana sudah ada Keem yang hendak menurunkan Ei dari bawah.
Namun, hal itu sudah tidak diperlukan lagi, akibat lemparan granat Hesa, mobil jeep itupun ikut hancur juga, sebelum benar-benar meledak Hesa menggendong kekasihnya dan bersama dengan Keem, ia menjauh agar tak ikut terkena ledakan.
Ketiganya berlindung di balik dinding gedung bertepatan dengan meledaknya mobil jeepnya Nathan. Sang pemilik mobil yang juga kebetulan masih bisa selamat juga dari ledakan sangat shock saat tahu mobil kesayangannya telah hancur lebur.
"Tidak! Mobilku!" isak Nathan menangisi mobilnya yg telah hangus dan tak berbentuk. "Awas kau Hesaaa!" teriaknya marah.
Tapi, nasib malang masih menimpa Nathan dan anak buahnya yang lain karena dari belakang ada yang membekap mulut mereka dengan sapu tangan dan membuat semuanya pingsan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***