Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 31 Si Oneng Ei


__ADS_3

Ayah Hesa langsung diboyong ke ruangannya ditemani oleh istri dan beberapa abdi setianya. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama pada Savatinov agar segera siuman lagi. Sementara Ei, ia jadi kikuk sendiri dan tidak menyangka kalau belut yang ia masak, malah bikin mertuanya pingsan.


Begitu semua orang pergi, bukannya marah, Hesa langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai menahan perutnya. Ini kali asdos tampan itu melihat belut di masak di dalam panci dalam keadaaan utuh lengkap dengan kepalanya. Jangankan ayahnya, anak kecil saja pasti bakalan menangis menjerit-jerit. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Hesa menarik tangan Ei dan masuk ke dalam kamar mereka. Hanya tempat itulah yang paling aman untuk Ei sekarang.


Di dalam kamar, Hesa tak henti-hentinya tertawa. Setiap kali melihat wajah manyun Ei yang duduk di kursi panjang, tawa Hesa keluar lagi sehingga membuat istri palsunya semakin keki padanya.


“Tertawa aja terus, puas-puas kau tertawa ha, semoga saja rahangmu kaku dan tidak menutup selamanya!” cetus Ei kesal melihat Hesa yang terus saja menertawainya.


“Jangan dong Sayang, kalau rahangku kaku, bagaimana aku bisa menciummu?” godanya.


“Hilih! Dasar mesum!” bentak Ei.


Suasana hatinya sedang buruk sekarang, bukannya dihibur, Hesa malah semakin membuatnya badmood akut. Gadis itu jadi menyesali keputusannya kembali ke sisi Hesa dan bersedia mengikuti sayembara.


“Sepertinya aku sudah gila karena memilih balik badan waktu itu. Harusnya aku pergi meninggalkannya dan kabur sejauh-jauhnya,” gumam Ei sambil melirik Hesa yang masih terus melihatnya.


“Kau bilang apa?” tanya Hesa karena ia mendengar gumaman Ei.


“Tidak apa-apa, tertawa aja terus sampai kau mati kaku,” cetus Ei kasar. Ia melipat tangan di kedua dadanya sambil membelakangi Hesa.


Tanpa dinyana-nyana, Hesa langsung memeluk Ei dari belakang sehingga gadis itu menjerit karena kaget.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku atau aku teriak sekencang-kencangnya!” pekiknya mencoba melepaskan diri dari Hesa tapi sayangnya, suami bengeknya ini enggan melepas tubuh rampingnya Ei.


“Teriak saja, toh tidak aka nada yang datang,” ujarnya, “Terimaksih kau sudah kembali, aku pikir kau memilih pergi meninggalkanku saat ayah memberimu pilihan,” bisik Hesa mesra di telinga Ei sehingga gadis itu berhenti bergerak.

__ADS_1


“Kau jangan Ge-Er. Aku kembali karena Febi memintaku untuk membantumu keluar dari masalah ini. Lagipula aku juga banyak berhutang budi padamu. Nggak ada salahnya aku membalas budi baikmu supaya aku tidak punya hutang apapun padamu ketika kita berpisah nanti.”


“Benarkah? Bukannya … kau sudah mulai jatuh cinta padaku?” goda Hesa dan Ei langsung menendang kaki Hesa supaya ia bisa melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Hesa merintih, “Ouch … kakiku patah, tolongin dong!” seru Hesa sok kesakitan tapi Ei malah tenang-tenang saja. Nggak panik sama sekali saat melihat suaminya menunduk dan memegangi kaki yang katanya patah.


“Aku menendang kaki kananmu, kenapa yang kau bilang patah itu kaki kiri? Sejak kapan kakimu bertukar tempat, ha?” cetus Ei. Ia tahu, tendangan kakinya tidak ada apa-apanya buat Hesa karena fisik cowok itu jauh lebih kuat darinya.


“Hehe, ketahuan ya? Aku memang tidak pandai berakting.”


Mata Hesa menatap manik mata Ei. Wajah tampan itu sengaja mendekat dan menunduk mengikuti gerakan tubuh Ei yang mencondongkan tubuhnya ke belakang gara-gara menghindari wajah Hesa yang terus maju diatasnya. Hesa memegang pinggang Ei dan terus menatapnya lekat-lekat seolah hendak mencium Ei.


“Kau mau apa? Jangan macam-macam denganku atau ku bikin bonyok mukamu!” ancam Ei.


Wajah Ei dan wajah Hesa hanya 5 cm saja jaraknya. Ei juga pasti bakal jatuh kalau saja Hesa tak menahan pinggangnya. Merasa tak kuasa, Ei hanya bisa memejamkan mata berharap Hesa tidak menciumnya.


“Wajahmu jadi merah merona begitu, kenapa kau memonyongkan bibirmu, ha?” tanya Hesa dan tiba-tiba saja, ia tertawa lagi dan Ei semakin dongkol dengan Hesa.


Sialan! Dasar Biawak! Umpat Ei dalam hati dan Hesa melepaskan tubuh Ei untuk memberi ruang.


“Bisa berhenti tertawa nggak sih? Kau itu menyebalkan sekali!”


“Habisnya kau itu lucu dan menggemaskan sekali Ei. Kau selalu membuatku ingin terus menggodamu. Apa kau lihat seperti apa wajahmu barusan? Kau pikir aku akan menciummu? Tidak sekarang Ei, nanti malam saja saat kau tidur.” Lagi-lagi Hesa tertawa.


“Itu tidak lucu! Aku benar-benar ingin mencincangmu!” Ei marah dan sangat kesal dengan Hesa.

__ADS_1


“Kau sangat luar biasa Ei. Kau adalah satu-satunya wanita di dunia yang bisa membuat ayahku pingsan.” Hesa terus tertawa mengingat wajah shock ayahnya dan semua orang yang ada di ruang makan saat Ei mengeluarkan belut dari dalam panci.


Tentu saja kejadian itu merupakan hiburan tersendiri bagi Hesa. Sudah lama juga ia tidak pernah tertawa lepas seperti ini dan itu berkat Ei yang onengnya sudah tak bisa didefinisikan lagi dengan kata-kata. Gadis itu masuk di keluarga ningrat, bukan sembarang keluarga seperti yang lainnya. Bisa-bisanya dia menghidangkan belut dan membuat semua orang terkejut.


“Terus bagaimana? Apa aku akan dihukum? Aku hanya menuruti perintah Ayah, katanya aku boleh masak apa saja yang ada. Di dapur tidak ada apa-apa. Mau masak bebek atau ayam aku tidak bisa menyembelih mereka. Nggak tega. Di kolam cuma ada belut dan ular saja. Ikan-ikan di kolam itu juga pada hilang entah ke mana. Apa kau tahu? Ular-ular berbisa itu mau menggigitku, untung aku sigap dan langsung menebas semua kepala binatang melata tersebut tepat waktu.” Ei berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi supaya ia tidak dianggap sengaja membuat ayah Hesa pingsan.


Tawa Hesa langsung hilang dan wajahnya berubah menegang. Ia langsung menatap tajam Ei yang duduk didepannya.


“Kau bilang apa barusan? Ular? Sungguh kah di kolam itu ada ular? Kau tidak mengada-ngada, kan?” tanya Hesa penuh selidik. Tadinya Hesa berpikir Ei hanya menakut-nakuti ayahnya saja. Tak di sangka … memang benar ada ular di rumahnya.


“Iya, serius. Aku baru tahu keluargamu pelihara ular juga di kebun. Kenapa tidak kalian buatkan kandang sendiri, sih? Bila pekerja di dapur ada yang digigit, gimana? Kan bahaya? Ularnya tidak hanya 1, tapi banyak,” jawab Ei masih tidak sadar kalau yang sedang dalam bahaya besar bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.


Hesa bangun berdiri dan tampak marah. Tanpa bicara apa-apa, ia pergi keluar kamar dan tak menggubris panggilan Ei yang heran dengan perubahan dadakan sikap Hesa.


“Hei, kau mau ke mana? Apa aku salah bicara? Kenapa kau marah? Memangnya ada apa? Hei, Hesa! Jawab aku!” teriak Ei tapi yang diteriaki diam saja dan terus nyelonong pergi dalam keadaan emosi tingkat tinggi.


Kedua tangan pengeran tampan itu bahkan sampai mengepal kuat. Jalannya cepat dan napasnya naik turun saat menuju ke suatu ruang.


“Ada apa dengan si kunyuk itu? Apa aku beneran salah bicara? Memangnya kenapa kalau aku memberi saran untuk dibuatkan kandang ular. Daripada ular-ular itu berkeliaran di kolam dan menakuti binatang lain. Dasar keluarga ningrat yang aneh, ular kok dipelihara, tidak ada binatang peliharaan yang lain apa? Singa atau macan gitu.”


Ei terus berpikir apakah ia melakukan kesalahan atau tidak. Sebab ia bingung melihat Hesa tampak sangat marah padahal barusan suaminya itu terlihat sumringah.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2