
Begitu di dalam taksi, Ei langsung mengucapkan satu alamat yang menuju ke rumah Angel sambil menahan gejolak rasa karena perlakuan aneh Hesa padanya. Dikarenakan Ei tidak punya uang, ia terpaksa meminjam uang sahabatnya untuk ongkos taksi dan sementara numpang nginap di rumah Angel yang kebetulan hanya di huni Angel sendiri.
Untunglah Angel ini adalah teman terbaik Ei. Sehingga ia selalu membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi Ei saat ini.
“Ya ampun Ei, kok bisa sih?” tanya Angel langsung ikutan shock setelah Ei menceritakan apa yang terjadi padanya hingga membawanya kemari.
Bahkan soal Hesa yang memintanya menjadi istri pura-puranya untuk mengecoh keluarga Hesa. Minus soal panti asuhan yang ia kelola saat ini.
“Ya bisalah, buktinya sekarang aku ada di sini.” Ei sedih dan tak bertenaga. Kalau seperti ini, gadis itu tak tampak oneng lagi, melainkan ngenes di hati.
“Ya sudahlah kalau begitu. Kau tak perlu khawatir untuk tempat tinggal dan pekerjaan. Kau bisa tinggal di sini bersamaku. Kebetulan aku tinggal sendiri, kan. Kalau soal pekerjaan, aku akan membantumu. Kau bisa bekerja di restoran bibiku menjadi pramusaji setelah pulang kuliah. Tapi … apa kau tidak keberatan? Siang kuliah malam bekerja?” tanya Angel karena selain kuliah, Ei juga harus bekerja paruh waktu.
Mata Ei tentu saja langsung berbinar senang. Karena itulah yang ia inginkan. Selalu ada hikmah di balik musibah. Ia langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan sangat erat karena kesulitannya langsung teratasi berkat bantuan Angel.
“Tentu saja aku tidak keberatan, Ngel. Wuah … makasih banget kamu udah bantuin aku. Aku jadi terharu,” ujar Ei senang.
“Kau ini apa-apain sih, kan aku temanmu, mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja sementara kau sedang kesulitan. Yah, kuakui aku tak bisa memberikan bantuan finansial, karena kau tahu sendiri uang saku aja aku masih minta.”
Ei melepas pelukan sahabatnya sambil tersenyum riang. Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Angel. Sudah cantik, tidak sombong, baik hati pula.
“Tidak apa-apa, ini aja sudah lebih dari cukup untukku.”
“Ya sudahlah, ini sudah malam. Besok kita harus berangkat kuliah. Kau tidak boleh bolos lagi mulai sekarang. Jika tidak … jangan salahkan aku kalau kau kuusir dari sini gara-gara bolos kuliah lagi,” ancam Angel.
“Siap komandan!” Ei tertawa dan kembali memeluk sahabatnya.
__ADS_1
“Ciee, yang mau jadi istri sultan,” goda Angel tiba-tiba.
“Apaan sih kau Ngel,” ujar Ei jadi berubah dongkol lagi.
“Itu … dibawain bekal sama buku-buku kuliah. Enak banget cadi calon istri asdos. Kayaknya pak asdos tampan itu beneran suka kamu deh Ai. Kenapa nggak ditrima aja. Lagian kan nggak ada salahnya," usul Ei sambil mengamati buku-buku yang dibawa Ei. “Semua catatan ini lengkap loh. Boleh pinjam ya?” serunya.
“Pakai saja, lagian aku nggak minta dia bawain itu semua. Jelas aku nggak bisa trima tawaran si asdos itu Ngel. Kita jelas berbeda kasta. Sekali lihat saja aku tahu dia pasti bukan berasal dari kaum sudra seperti kita. Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Gara-gara dia ngaku-ngaku pacarku, sekarang aku dibenci seisi kampus. Dan kau ingin aku terima tawaran dia gitu? Sama aja aku bunuh diri dong, Ngel? Para fans fanatik Hesa itu sangar-sangar. Lagian jujur, aku sama sekali nggak kenal Hesa. Masa iya mau main nikah aja sama dia, sekalipun itu hanya pernikahan sandiwara.”
“Benar juga ya, terus … apa yang akan kau lakukan sekarang. Bukankah kau bilang dia akan terus mengejarmu sampai kau bersedia menikah dengannya?” tanya Angel ingin tahu apa rencana Ei saat ini.
“Aku akan menghindarinya. Sebisa mungkin jangan sampai ketemu dia. Dan aku butuh bantuanmu. Kita akan pura-pura bertengkar hebat dan aku seolah hilang tanpa jejak. Jika tidak, ia akan mengikutimu dan bakal tahu di mana keberadaanku. Untuk sementara ini aku tidak akan ikut mata kuliahnya dan akan kuulang di semester depan saja setelah professor Yohanes kembali. Kau mau bantu aku, kan?”
“Tentu saja, apapun yang terbaik untukmu pasti aku bantu. Tapi ... kau yakin nau pakai cara ini?"
"Nggak ada cara lain selain menghindar ataupun kabur dari dia. Aku tak mau hidupku bermasalah gara-gara dia. Lagian, aku juga sadar diri. Orang sepertiku, nggak pantas buat cowok setenar dia."
Ei mengangguk senang karena memiliki sahabat yang bersedia membantu mengatasi masalahnya terutama persoalan tentang Hesa. Dua sahabat baik itu langsung tidur karena besok aktivitas mereka berdua benar-benar padat merayap. Belum lagi Ei mulai main petak umpet dengan Hesa agar tidak bertemu muka dengan pria tampan itu. Pasti bakal repot dan butuh tenaga ekstra untuk bisa menghindar ataupun melarikan diri.
Sayangnya, meski sudah tengah larut malam, Ei tetap tidak bisa tidur. Ia jadi merasa tidak enak hati pada Hesa karena sudah marah-marah padanya. Itu bukan sikap Ei yang sebenarnya, berhubung ia sedang emosi atas apa yang menimpanya, makanya ia luapkan amarahnya pada Hesa dan memang semua kejadian hari ini gara-gara dia.
“Apa aku keterlaluan, ya? Tapi salah dia juga sih? Kenapa juga dia memaksaku menjadi istri bohongannya? Kayak nggak ada cewek lain aja,” gumam Ei bangun dari tempat tidur. “Sial, gara-gara ponselku hilang, aku tidak bisa menghubungi anak-anak. Bagaimana keadaan mereka sekarang, ya?” Ei berdiri di tepi jendela dan manatap langit-langit di tengah malam buta.
Gadis itu membuka kotak bekal milik Hesa yang masih utuh dan memakannya. Kebetulan ia sangat lapar dan belum makan, jadi Ei menghabiskannya sementara Angel sudah terlelap sejak tadi di alam mimpi.
“Bekalnya enak sekali, sayang kalau tidak dihabiskan. Apa karena buatan seorang ibu, ya?” gumam Ei yang jadi galau akut sekarang.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, Ei dan Angel bersiap-siap untuk berangkat bersama ke kampus mereka. Ei sempat terpaku saat melihat semua tumpukan buku-buku catatan yang sengaja dibawakan Hesa untuknya. Melihat buku-buku itu, rasa bersalah Ei jadi semakin kuat. Di tambah bekal makanan yang ia tumpuk di meja. Mau tidak mau, Ei harus mengembalikannya bagaimanapun caranya. Yang penting jangan sampai bertemu muka dengan pemiliknya.
“Sepertinya, aku harus minta seseorang untuk membantu mengembalikan wadah bekal ini. Prety mau nggak, ya?” Ei bergumam sendiri.
“Aaaaaa!” tiba-tiba saja Angel berteriak di depan ponselnya dan membuat Ei jadi terkajut.
“Ada apa?” tanya Ei langsung mendekati sahabatnya.
“Berita tentangmu sudah tidak ada! Bahkan di daftar pencarian juga tidak ditemukan. Hp ku langsung eror kalau aku mengetik namamu. Ada apa ini? Kok jadi aneh gini? Apa ada hacker yang sedang meretas ponselku?” teriak Angel panik karena gawainya memang langsung hang. Untung masih bisa dinyalakan lagi.
“Masa sih? Kok bisa?” tanya Ei bingung dan juga penasaran. Karena ia sudah tidak punya ponsel, makanya Ei tak bisa cari tahu siapa yang membuat berita tentang dirinya hilang dari situs forum kampus ataupun medsos lainnya.
“Buktinya bisa. Ini aneh. Sebaiknya kita cari tahu di kampus. Aku yakin, semua orang pasti sedang gempar sekarang.”
Karena tak punya banyak waktu, dua sahabat itu memutuskan untuk mengesampingkan masalah Ei dan segera berangkat ke kampus. Namun, siapa sangka, ketika Ei dan Angel keluar rumah, Hesa sudah berdiri diam di samping mobil Audi R8 hitamnya.
“Kau!” pekik Ei sangat kaget ketika melihat Hesa tersenyum manis padanya.
“Hai, mau berangkat kuliah bersamaku? Ada banyak hal yang harus kita bicarakan berdua, calon istriku,” ujarnya sambil membukakan pintu mobilnya.
Baik Ei dan Angel langsung melongo. Mereka berdua menatap satu sama lain dengan sejuta pertanyaan.
“Ba-bagaimana dia tahu … rumahku?” tanya Angel antara percaya dan tidak percaya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***