
Saat Hesa sedang asyik menggoda Ei, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh salah satu pengawal Hesa. Terpaksa Hesa menghentikan aksinya dan menatap lurus ke arah pintu seolah tahu siapa yang mengetuk pintu kamar pribadinya dan maksud kedatangannya kemari.
Tok tok tok!
“Tuan muda Hesa,” seru seseorang dari balik pintu. “Raden Kanjeng Savatinov memanggil Anda untuk menghadap beliau saat ini juga.”
Raut wajah Hesa langsung berubah drastis. Ia berdiri tegak dan berjalan ke arah pintu. Tanpa malu, Hesa yang sudah melepas kemejanya sengaja membuka pintu agar pengawalnya melihat kalau Hesa sedang sibuk dengan Ei dalam artian tertentu.
Sang pengawal langsung menundukkan wajah karena mengira ia datang di waktu yang tidak tepat. Dua pria berpakaian khusus ala kerajaan menundukkan kepala tanda memberi hormat pada Hesa.
“Beritahu, Ayahanda, aku akan segera ke sana setelah menyelesaikan apa yang baru kumulai. Kalian berdua mengganggu saja,” ujar Hesa dan langsung membuat Ei memelototinya.
Sang pengawalpun paham dan Hesa menutup kembali pintu kamarnya lalu menguncinya rapat-rapat. Ia masuk ke ruang ganti pakaian dan berganti baju di sana. Sedangkan Ei malah mengomel tidak jelas.
“Kenapa kau mengatakan itu pada pengawalmu?” tanya Ei setengah emosi. Ia berdiri tepat di depan ruang ganti Hesa.
“Memang aku bilang apa?” Hesa balik bertanya dari balik ruangan.
“Kau bilang … itu … pokoknya … pasti mereka salah paham dengan ucapanmu! Kita tidak melakukan apa-apa?” bentak Ei gugup bercampur belepotan karena ia bingung bagaimana mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
Hesa membuka pintu dan membuat Ei kaget karena wajah pria itu langsung muncul tepat dihadapannya. “Belum, kita memang belum melakukan apa-apa. Tapi aku khawatir, setelah ini … keluargaku akan memaksa kita melakukan apa yang sedang kau pikirkan sekarang.” Hesa tersenyum dan ia tampak sangat tampan saat memakai setelan kemeja warna biru. Warna itu adalah salah satu warna favoritnya Ei.
Ei langsung mundur meski dengan kaki terpincang-pincang. Sebisa mungkin ia jaga jarak dengan Hesa. Namun, gerakan refleksnya Ei semakin membuat Hesa keranjingan untuk menggoda istri palsunya ini.
“Ayo … sudah saatnya, orangtuaku melihat seperti apa menantunya,” ajak Hesa sambil menggandeng tangan Ei. “Kau mau kugendong?” tanyanya.
“Tidak, aku bisa jalan. Berkat obat dari Febi, kakiku mendingan.” Ei melepas tautan tangan Hesa dan berjalan duluan dengan kaki pincang.
__ADS_1
Gadis itu membuka pintu dan langsung bingung arah mana yang harus ia tuju. Lurus, ke samping kanan, atau ke samping kiri. Ia baru sadar, kalau kamar Hesa ini tepat ada di tengah-tengah persimpangan jalan. Dan lorong-lorong di didepannya sangat panjang seolah tak berujung.
Tanpa dinyana-nyana, Hesa langsung menggendong tubuh Ei dari arah belakang dan tentu saja Ei terkejut. “Diam dan jangan berontak, kau bisa tersesat kalau sampai salah jalan,” tandas Hesa sebelum Ei buka suara.
Karena Ei memang tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih. Terpaksa ia menurut saja. Rupanya, Hesa berjalan lurus ke depan dan menuju lift utama yang mengarah langsung ke lantai atas, bukan ke lantai bawah seperti perkiraan Ei. Untung saja Hesa menggendongnya, jika tidak mungkin Ei memilih jalan salah dan tersesat.
Hesa berhenti berjalan tepat di hadapan sebuah pintu berukuran besar yang dijaga ketat oleh dua pengawal istana Hesa. Para penjaga membukakan pintu masuk untuk Hesa dan Ei. Keduanya dipersilahkan melangkah ke dalam di mana ruangan itu adalah ruang pertemuan keluarga besar Hesa. Ayah dan Ibu Hesa juga sudah menunggu kehadiran putra mereka.
Mata Ei tak berkedip saat Hesa membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan bernuansa khas kerajaan di zaman dahulu. Bedanya bangunannya lebih luas dan modern di tambah desain interiornya tampak sangat kuat dan kokoh. Begitu masuk, Ei serasa seperti berada di istana ala negeri dongeng.
Mata ayah dan ibu Hesa lumayan terkejut karena putranya tak datang sendirian. Melainkan bersama wanita biasa dan sedang digendong pula. Sungguh pemandangan yang seharusnya tak pantas diperlihatkan Hesa saat ia menghadap orangtua.
“Apa-apaan ini? Kenapa dengan berandal itu?” geram ayah Hesa dan salah satu pengawal membisikkan sesuatu di telinganya sehingga sang pemilik istana berdeham keras.
Ibu Hesa penasaran dan ia menyikut lengan suaminya karena ingin tahu juga apa yang dibisikkan pengawalnya. Dengan enggan, ayah Hesa memberitahu apa yang pengawal itu laporkan padanya tentang kondisi dan situasi putranya sebelum datang kemari.
Bukannya marah seperti Raden Savatinov, Ibu kanjeng Hesa malah tersenyum bahagia sampai ia mengatupkan kedua tangannya seakan tak percaya. Ia langsung menatap wajah cantik Ei dan membuat Ei jadi bingung dan kikuk.
Sebenarnya Ei sangat malu digendong seperti ini apalagi pas disaat ia bertemu dengan mertuanya untuk kali pertama. Pasti kesan yang ditimbulkan adalah negatif mengingat aksi si pangeran ningrat sangat tidak lazim dilakukan oleh seorang keluarga keturunan aristokrat.
Hesa berhenti berjalan dan menurunkan Ei tepat di depan ayah dan ibunya yang duduk di kursi singgasana mereka. “Ananda datang, Ayahanda, salam sehat untuk Ibunda,” sapa Hesa dengan ramah dan sopan sambil menunduk serta mengatupkan kedua tangan.
Eipun mengikuti gerakan Hesa. Gadis itu tak berani menatap wajah mertuanya.
“Jadi … inikah wanita yang kau nikahi itu? Apa matamu buta Hesa? Dia tak lebih cantik dari Margaret? Kenapa kau bisa menjadikannya istrimu tanpa izin dari kami. Dan kau … kau … Dengan lancangnya datang sambil menggendong istrimu setelah kau ngadon di siang bolong!” bentak ayah Hesa.
“Iya Ayahanda, dialah wanita yang aku cintai. Namanya Shreya Fayola Serendipity. Nama panggilannya, Ei Ei. Dia yatim piatu.”Hesa malah memperkenalkan Ei tanpa dosa.
__ADS_1
Gula darah ayah Hesa langsung naik melihat Ei yang berasal dari kaum sudra dan tampak amat sangat biasa saja, tapi bisa bersanding di sisi putranya yang gagah nan tampan dan berasal dari keturunan ningrat. Tampak jelas kalau ayah Hesa sangat tidak menyukai Ei sebagai menantunya.
“Kau … kau berani menikahinya? Aku tidak akan pernah merestui pernikahan kalian. Ceraikan dia! Dan suruh dia pergi dari sini sekarang juga. Aku tidak mau melihatnya!” seru Savatinov dan betapa senangnya hati Ei mendengar kalimat itu.
“Baik Kanjeng Gusti, terimakasih sudah meminta saya pergi,” ujar Ei salah sebut nama ayah mertuanya dan membuat siapa saja yang mendengarnya langsung tertawa.
Karena oneng, Ei tentu saja tidak sadar kalau ia salah ucap. Dan dengan senangnya, Ei malah hendak balik badan. Namun, lengannya dicekal Hesa kuat-kuat sehingga Ei tidak bisa bergerak.
Savatinov jelas heran dengan menantunya yang satu ini. Di mana-mana kalau menantu diusir mertua pasti menangis dan merengek minta tidak diusir dan melakukan segala macam cara agar diterima menjadi menantu. Lah tapi Ei tidak. Sebaliknya, istri Hesa ini malah senang bukan kepalang ketika dirinya diminta berpisah dari Hesa.
“Sudahlah Suamiku, baru datang kenapa Hesa kau marahi. Kau tidak boleh mengusir menantu kita seperti itu. Bagaimanapun mereka sudah menikah. Lihatlah, putra kita yang satu ini sudah dewasa. Dia bahkan berusaha keras membuatkan cucu untuk kita,” bujuk ibu Hesa yang sangat keibuan dan sabar.
Eipun langsung kecewa karena ia tidak jadi diusir pergi. Ia menunduk sambil cemberut.
“Tidak bisa!” sentak ayah Hesa. Nada suaranya lumayan tinggi juga dan bikin kaget. “Berandal ini sudah melanggar peraturan. Tidak seharusnya dia menikahi wanita lain tanpa izin dariku. Pernikahan mereka tetap tidak bisa kuakui. Sayembara pemilihan calon istri Hesa tetap akan dilaksanakan. Siapapun yang terpilih, Hesa harus tetap menikah dengan pemenang sayembara. Ini sudah peraturan turun temurun keluarga ningrat kita.”
Suasana mendadak tegang karena ayah Hesa secara terang-terangan menentang hubungan Hesa dan Ei. Kalau pasangan normal, sebagai pihak wanita, harusnya sih Ei sedih dan terluka bagai tersayat-sayat belati tertajam di dunia karena di tolak mertua. Berhubung hubungan Ei dan Hesa hanyalah sandiwara, gadis itu sih tenang-tenang saja. Nggak ada sedih-sedihnya sama sekali. Cuma dia kecewa karena ibu Hesa membelanya dan terpaksa harus ada di sini sebagai menantu.
“Mau bagaimana lagi, Suamiku.” Wanita anggun nan cantik itu masih tampak sabar menghadapi suaminya yang temperamen. “Mereka berdua adalah pasangan suami istri. Kita juga sudah menerima surat-surat pemberitahuan pernikahan mereka. Masa mau dipisah begitu saja. Lalu, bagaimana dengan nasib menantu kita yang sudah dicicipi Hesa. Apa kau tidak berpikir jika itu terjadi padaku? Habis manis sepah dibuang?”
“Ini tidak ada hubungannya denganmu, Istriku. Kau dan wanita itu beda.” Ayah Hesa malah cekcok sendiri dengan istrinya gara-gara pernikahan sandiwara putra mereka.
“Apa bedanya Suamiku, kami sama-sama wanita.” Ibu Hesa ternyata adalah orang yang beperan juga. Ia bahkan berdiri dan langsung memeluk Ei dengan rasa iba yang tak terkira. “Lihat apa yang dilakukan putramu padanya. Gara-gara senjata pamungkasnya yang buas, seelangkangan gadis malang tak berdaya ini koyak sampai berjalanpun dia tak bisa. Apa masih tega kau meminta Hesa meninggalkannya?”
Tuing!
Ibu ini bicara apa? Senjata pamungkas apanya? Ada apa dengan selangkanganku? Pada ngomong apa sih mereka ini? Tanya Ei dalam hati dengan ekspresi kikuk karena tidak paham.
__ADS_1
Ei langsung menatap ibu mertuanya dengan sangat bingung sebingung-bingungnya sementara Hesa sejak tadi sudah menahan tawa.
BERSAMBUNG