
Hesa terdiam mendengar curhatan Ei mengenai sosok nenek misterius yang membuat gadis itu nangis kejer seperti ini. “Ceritakan padaku, seperti apa nenek itu? Dia bukan nenekmu, tapi kau menangis sesenggukan begini saat mengingatnya,” tanya Hesa. Ia mencoba memahami perasaan istrinya.
Ei mundur selangkah dari tubuh suaminya yang sedang bertelanjang dada. Ei mengambil selimut dan memakaikannya pada Hesa dalam diam, agar suaminya itu tidak kedinginan. Gadis itu tidak bersuara dan masih terisak. Sesekali ia menyeka air matanya dan berjalan pelan menuju balkon. Ei kembali menatap langit-langit malam dan berharap ada bintang jatuh lagi.
“Dia memang bukan nenekku,” ujar Ei mulai bercerita, “awal mengenalnya aku bahkan sangat membencinya karena dia sungguh menyiksaku. Nenek jahat itu … pernah numpang tinggal denganku di rumah yang sekarang sudah menjadi panti asuhan. Dia selalu marah-marah, banting piring, meja dan bahkan buang makanan yang susah payah aku buat."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Hesa. "Kalau dia tidak menyukaimu, kenapa kalian tinggal bersama?"
"Aku tidak tahu. Setelah aku menyeberangkan jalan untuknya, entah kenapa dia terus mengikutiku dan minta tinggal denganku. Karena aku sendiri, maka aku tidak keberatan. Saat itu, aku baru saja lulus SMA dan bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Kadang aku menjadi bartender di sebuah bar tapi tidak setiap hari.”
Ei berhenti bercerita karena malu pada Hesa yang akhirnya tahu betapa sulitnya hidup yang ia jalani selama ini. Hesa berjalan mendekat ke tempat Ei berdiri di pagar balkon sambil masih memakai selimut pemberian istrinya.
“Kenapa berhenti? Teruskan ceritanya, aku akan jadi pendengar yang baik,” pinta Hesa.
“Tidak, aku malu. Kau pasti mengira kalau aku adalah wanita malam karena pekerjaanku yang sering keluar masuk kafe dan bar. Bertemu dengan banyak pria hidung belang dan terpaksa melayani mereka meskipun mati-matian aku tetap menjaga kehormatanku agar tidak ternodai oleh mereka.” Ei memalingkan wajah.
“Aku tahu kau bukan wanita seperti itu, aku tahu seperti apa dirimu lebih dari yang kau tahu. Kau bahkan pernah mematahkan hidung salah satu pelanggan gara-gara ia bersikap kurang ajar padamu.”
“Lah bagaimana kau tahu?” tanya Ei terkejut.
“Sudah kubilang, aku jatuh cinta padamu jauh sebelum kau mengenalku. Aku menyaksikan sendiri saat kau menghajar pria itu. Kau sangat keren kau tahu, padahal aku sudah merencanakan segudang macam cara untuk menghabisi semua pria yang menggodamu, tapi kau mengatasi mereka semua dengan baik tanpa ikut campur tanganku. Gimana aku tak semakin terpesona padamu, kau tangguh dan menawan.”
__ADS_1
Ei mulai berpikir setelah mendengar penjelasan Hesa.“ Jangan-jangan kau … terus mengikutiku? Bahkan pertemuan kita saat aku salah mengambil burgermu, kau sudah merencanakannya, kan?” tanya Ei.
“Kalau itu kebetulan, aku habis bertengkar dengan ayahku masalah perjodohan, dan aku tidak sempat sarapan. Makanya aku berhenti di pinggir jalan dan tak sengaja bertemu denganmu.” Hesa membalikkan tubuh istrinya kembali menatap langit-langit. Ia membuka selimut yang ia kenakan dan menarik Ei ke dalam pelukannya.
Dengan kata lain, Ei dan Hesa sedang berbagi selimut bersama sambil sama-sama menikmati indahnya malam bertabur jutaan bintang. Mereka berdua sama-sama mengenang masa-masa awal perkenalan mereka hingga akhirnya Ei membalas cinta Hesa. Sayangnya, hubungan keduanya ini masih diselimuti dengan berbagai misteri.
Hingga detik ini, Ei tidak tahu kapan persisnya Hesa mulai jatuh cinta padanya dan sepertinya suaminya ini menyimpan satu rahasia besar yang belum diketahui Ei. Di sisi lain, Hesa juga masih penasaran siapakah Ei sebenarnya, benarkah dia hanya seorang gadis biasa di kalangan rakyat jelata. Sebab, Ei sungguh sangat istimewa, ia sangat berbeda dengan wanita biasa lainnya. Istrinya ini punya aura tersendiri yang tidak dimiliki wanita lainnya terutama dari kalangan kaum sudra.
“Lanjutkan ceritamu soal nenek ini. Kau tidak perlu malu karena aku mencintaimu lengkap dengan segala kekuranganmu.” Hesa mencium lembut pipi Ei sambil memeluknya dengan erat.
“Nenek itu sangat cerewet, dan banyak menuntut. Kau bisa bayangkan betapa capeknya aku saat mengurus nenek dan bekerja siang malam demi mencukupi kebutuhan kami. Dia juga terus memintaku menghafalkan banyak sekali buku-buku sejarah yang tak kupahami apa maksudnya. Serta mengajariku banyak hal. Tapi itu terlalu berat dan aku mulai putus asa karena tak sanggup dengan sikap kerasnya yang memaksaku menjadi seperti kehendaknya.” Ei mulai sedih, ia mulai menangis lagi saat mengenang sosok nenek yang ia ceritakan pada Hesa.
“Apa kau mengusirnya?” tebak Hesa.
“Aku jahat kan? Harusnya aku turuti saja kemauannya menjadi pribadi seperti yang nenek itu inginkan, tapi aku menolak dan membuat hati nenek sedih. Mungkin dia kecewa padaku makanya memutuskan pergi tanpa melihat wajahku lagi. Dan yang membuatku sedih .. nenek itu sangat menyukai bintang. Dia sangat berharap bisa melihat bintang jatuh bersamaku. Tapi tidak pernah kesampaian.” Ei menangis, ia tak kuat lagi bercerita karena merasa sangat bersalah pada nenek yang pernah ada dalam hidup Ei meski hanya sesaat.
Hesa merengkuh tubuh Ei ke dalam pelukannya dan membantu mengusap air mata istrinya. Sekarang, ia paham kenapa Ei nangis kejer setiap melihat bintang, mungkin istrinya teringat akan keinginan si nenek misterius itu yang tak pernah Ei penuhi sehingga rasa bersalah itu muncul dalam diri Ei.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Setelah sayembara selesai. Kita akan cari nenek itu sama-sama sampai dapat supaya kau tidak nangis kejer lagi seperti ini. Aku tidak mau kau menangis gara-gara orang lain sementara aku menjaga air matamu agar tidak keluar. Karena setiap tetesan air mata indahmu, sangat berarti bagiku, Ei. Aku tidak suka kau menangis. Aku ingin kau terus tersenyum dan bahagia selama aku ada disisimu.”
Ei menatap wajah Hesa yang langsung tersenyum manis padanya. “Wuah lihatlah … si oneng Ei sudah jatuh cinta pada pangeran ningrat,” goda Hesa.
__ADS_1
“Dasar Ge-Er!” Ei mendorong tubuh Hesa dan langsung masuk ke kamar mandi.
Hesa ingin menyusul dan melanjutkan menggoda Ei tapi ponselnya berdering dan wajahnya langsung kaku. “Ya sudah, aku akan pulang setelah ini,” ujar Hesa menutup panggilannya bersamaan dengan Ei yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
“Ada apa? Kenapa kau manyun begitu?” tanya Ei.
“Aku harus pergi,” jawab Hesa.
“Ehm pergilah,” suruh Ei santai dan malah senang kalau suaminya seera pergi dari sini. dengan begitu, tidak ada yang menjahilinya lagi. “Kenapa masih di sini? pergilah!” usir Ei.
“Kau tak ingin aku menemanimu? Aku bisa beralasan … kalau kau butuh aku …”
“Tidak! Kau itu bengek, aku mungkin takkan bisa istirahat dengan tenang kalau kau ada di sini. Pulanglah, aku sudah tidak apa-apa.”
Hesa kecewa, dan Ei malah menyembunyikan senyumnya.
“Ya sudah, aku akan pulang, jangan kangen padaku kalau aku sudah pergi dari sini,” ancamnya.
“Idih, yang ada malah kau yang kangen sama aku. Dasar narsis! Bye bye …” ganti Ei yang menggoda Hesa.
Wajah Hesa dongkol akut, sebagai gantinya, ia meletakkan selimut Ei dan memakai jaket hitam Ei tanpa izin. “Aku akan pergi sekarang, dan aku takkan mengembalikan jaketmu.” Hesa membuka pintu keluar karena ponselnya terus saja berdering meninggalkan Ei yang tertawa tanpa suara melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***