
Ei tidak segera menjawab pertanyaan Hesa, wajah cantik gadis itu nya menatap dalam diam tatapan mata sang kekasih yang menantikan penjelasan dengan sejuta rasa. Perlahan, Ei mendekat ke arah Hesa. Gadis itu meraih kedua tangan kekasihnya dan memasang wajah sedih. Ingin rasanya Ei menangis tapi mati-matian ia tahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah di sini.
“Maafkan aku, aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi … cinta saja tidak cukup. Diantara kita … ada dinding yang begitu tinggi sehingga aku … sangat sulit menggapai dinding itu untuk tetap bersamamu.” Nada suara Ei bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Ungkapan Ei sungguh membuat perasaan Hesa berkecamuk tak karuan tapi ia mencoba tetap bersikap tenang. Mungkin ada yang salah di sini, mungkin sedang terjadi sesuatu yang ia tak tahu sehingga kekasihnya bicara kalimat yang menjurus menuju kata perpisahan.
“Kau tak perlu lakukan apapun untuk memanjat dinding penghalang cinta kita. Cukup aku saja yang memanjat. Kau hanya diam dan tunggu saja, aku akan datang padamu. Tapi … jangan katakan hal seperti itu seolah kau minta pisah dariku? Bagaimana kau bisa menikah dengan orang lain sementara kita saling mencintai? Apa si bangsaat itu yang menyuruhmu? Kau takut padanya?” mata Hesa mulai memerah, ia tak percaya Ei mudah menyerah pada cinta yang mereka punya.
Lagi-lagi Ei terdiam seolah sedang menahan sesuatu hal yang sangat sulit ia ungkapkan. “Yang bisa kukatakan padamu hanyalah … maaf … dan terimakasih atas semua hal yang pernah kau lakukan untukku. Tempat ini … kau … dan aku … tidak bisa bersatu … kau harus hidup tanpaku dan aku mohon dengan sangat … pergilah.” Ei menunduk untuk menyembunyikan air matanya dari Hesa. Berat rasanya ketika harus mengungkapkan kalimat perpisahan tapi Ei harus melakukannya. Bukan demi dirinya, tetapi demi Hesa.
“Tidak … aku tidak percaya kau mengatakan ini padaku. Apa kau pikir aku akan mau pergi dari sini dan membiarkanmu menikahi teman masa kecilmu? Pasti ada kospirasi di sini …”
“Hesa!” ujar Ei dengan nada suara yang serak, “Tidak ada kospirasi apapun. Ini keputusanku. Cinta memang tidak harus memiliki bukan, kau bilang asal aku bahagia, kau rela melakukan apa saja. Dan sekarang aku ingin kau pergi dari sini dan tinggalkan aku. Itulah permintaan terakhirku.”
“Tidak Ei … kau jangan berkata seperti itu. Baru kemarin kita bahagia menjadi pasangan kekasih, oke aku salah. Aku mengerjaimu dengan pura-pura ditahan polisi. Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi jangan hukum aku seperti ini. Kau takkan pernah bisa bahagia bersama dengan pria itu. Kau hanya mencintaiku.” Hesa meyakinkan Ei agar menarik kembali ucapannya.
__ADS_1
“Kau bilang kau melindungiku kan? Hal serupa juga sedang kulakukan demi melindungimu. Jika kau memang benar-benar mencintaiku, harusnya kau mengerti keputusanku ini meski kita sama-sama tahu kalau kau dan aku saling mencintaimu. Sayangnya … aku … tak bisa bersamamu. Dan apa kau tahu hal yang mem buat dadaku semakin sesak dan tersiksa? Aku … tak bisa memberitahumu apa alasanku memintamu pergi dariku. Aku tak bisa mengatakannya, aku tak bisa mengungkapkannya, kalau kau mencintaiku, tolong mengertilah posisiku. Aku tak mau kau kenapa-napa Hesa … tolong mengertilah.”
Kali ini, Ei sudah tak kuasa membendung air matanya. Gadis itu menangis sesenggukan di dada Hesa. Hesa sendiri tertegun menyaksikan betapa menderitanya Ei sekarang meski ia tak tahu apapun apa yang membuat sang pujaan hati seperti ini.
Si gangster tampan ini memejamkan mata seolah bisa merasakan betapa sakitnya hati Ei sekarang. Pelan tapi pasti, Hesa memegang kedua bahu Ei dan menatapnya dengan mesra. Membantu mengusap air matanya dan Ei jadi semakin tersedu-sedu.
“Aku mencintaimu Ei. Aku tidak menginginkan apapun selain bersamamu. Aku tak suka kau menangis karena aku sudah berjanji padamu kalau aku akan selalu menjagamu. Aku juga janji akan selalu membuatmu bahagia sekalipun aku harus berkorban nyawa. Ini bukan janji palsu. Aku bersumpah aku tidak akan mengingkari janjiku.” Hesa menangis tapi tampak sangat tegar.
Sedangkan Ei, tangisnya semakin menggebu seolah ia tak kuasa lagi untuk mengatasi situasi ini. Gadis itu menangis dipelukan Hesa. Ia tak ingin berpisah dengan kekasih tampannya ini. Tapi keadaan tak memungkinkan untuk Ei memilih bersama dengan Hesa.
“Bagaimana kau bisa bicara seperti itu? Apa kau tahu … aku mati-matian melindungimu. Aku tidak ingin kau terluka gara-gara aku. Aku melakukan semau ini hanya untukmu. Aku ingin kau tetap hidup meski tanpaku. Kenapa kau tidak menghargai pengorbananku?” isak Ei sambil berkali-kali mengusap air matanya.
“Lebih baik aku mati daripada tidak bisa bersamamu. Tapi kau jangan khawatir, selama kau masih bernapas, aku akan tetap hidup untukmu. Aku akan menunggu jandamu. Jika sampai si berengseek itu membuatmu mengeluarkan air mata setetes saja, maka hari itu juga akan menjadi hari kehancurannya. Aku tidak tahu apa yang menimpamu selama kau tidak bersamaku. Aku paham, aku mengerti, dan aku akan pergi. Bukan pergi meninggalkanmu … tapi pergi menjagamu dari jauh. Aku akan mengawasimu Ei. Dan akan selalu mencintaimu.”
Tangis Ei pecah lagi dan ia langsung memeluk Hesa dengan sangat erat seolah enggan ia lepaskan. Sayangnya, hati Ei semakin tersayat-sayat jika ia berlama-lama dengan Hesa. Karena tak kuasa menahan rasa sakit yang begitu hebat karena tak bisa bersama dengan sang kekasih. Ei pun berlari menjauh meninggalkan Hesa yang hanya bisa terpaku melihat punggung Ei semakin menjauh darinya.
__ADS_1
Hesa yang tadinya sempat tertegun, hendak menyusul kepergian Ei tapi langkahnya dicegah oleh pria yang bernama Koga, pria tampan yang merupakan teman masa kecil Ei yang juga bakal calon suaminya itu mencekal kuat lengan Hesa.
“Lepaskan tanganmu!” bentak Hesa marah sampai matanya memerah.
“Aku akan jelaskan semuanya. Dengarkan aku baik-baik.” Mata Koga menatap tajam mata Hesa.
“Semuanya sudah jelas, Ei ada dibawah tekanan keluarganya dan memaksanya menikah denganmu. Jika Ei tak menuruti keluarganya, mereka akan membunuhku.” Rupanya, meski Ei tak memberitahu alasan perpisahannya dengan Hesa, Hesa sudah bisa menebaknya.
Hesa menarik paksa tangannya dari cekalan Koga lalu balik badan dan memutuskan untuk pergi dari sini sesuai dengan yang diinginkan Ei. Pria tampan itu tahu saat ini Ei pasti sedang menangis dan ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang.
“Kutitipkan dia padamu. Aku tidak bercanda saat mengatakan akan menghabisimu kalau kau berani menyakitinya.” Hesa beranjak pergi tapi langsung di halau oleh Koga.
“Berhenti! Kau salah paham!” serunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***