Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 20 Rahasia yang Terbongkar


__ADS_3

Hesa tidak langsung menjawab pertanyaan Ei dan sengaja membuat wanita didepannya ini penasaran akut. Dengan lembut, Hesa membelai pipi Ei tapi gadis itu langsung menghindar menjauh selangkah ke belakang.


“Jika kau ingin tahu dari mana aku tahu rahasia para cewek-cewek itu, serta siapa aku, kita turun sekarang dan menikah. Keluargaku sedang menunggu kedatangan kita berdua. Tak perlu buang-buang waktu di sini hanya untuk mencari tahu siapakah yang menang diantara kita.” Hesa memberikan pilihan terbaik untuk Ei berpikir, agar tidak membuang-buang tenaga naik ke puncak.


Gadis itu berbalik dan menatap tebing tinggi yang curam dan sangat menakutkan. Suasana angker juga mulai menyelimuti mereka berdua. Ei pernah dengar dari Iwan tentang keberadaan lembah kematian di mana tempat mengerikan ini sudah memakan korban sekitar lebih dari 5 orang.


Angin pegunungan berhembus kencang. Suasana begitu dingin mencekam. Sejuta pertanyaan seputar Hesa menyelimuti seluruh hati dan pikiran Ei. Ada begitu banyak misteri dan teka-teki tentang Hesa dan Ei juga baru sadar, untuk apa ia melakukan ini bila hasilnya sudah jelas terlihat. Menang atau kalahnya Ei, Hesa tetap akan memaksanya untuk menjadi istrinya, bukan kekasih lagi. Melainkan langsung ke tahap istri.


Jalan satu-satunya adalah mengikuti permainan Hesa. Tapi Ei sungguh tidak mau menikah muda, jadi pacar saja dia ogah apalagi jadi istri.


“Kemarilah Ei! Aku berubah pikiran. Akan kutunjukkan di mana Iwan, Theo dan teman-temannya membuat pijakan untuk Langen dan Fani agar mereka berdua bisa mengalahkan Bimbim dan Ray. Yah, meski pada akhirnya, kedua cwek itu curang dan membuat kekasih bertekuk lutut dihadapan mereka. Kau pasti juga sudah tahu kecurangan apa yang mereka lakukan, kan?”


Lagi-lagi Ei dibuat terkejut oleh ucapan Hesa di mana semua itu harusnya hanya diketahui dirinya dan orang-orang yang disebutkan Hesa.


“Rangga!” serui Ei mulai menemukan sesuatu dari teka-teki tahunya Hesa soal rahasia teman-temannya. “Kau tahu dari dia, kan? Dasar pengkhianat si Rangga!”


“Lebih tepatnya calon istrinya!” ralat Hesa. “Rangga bukan cowok munafik yang menjual rahasia teman-temannya sendiri.


“Apa? Febi?” mata Ei melotot dan berjalan mendekat ke arah Hesa yang sedang mencari-cari sesuatu di pohon-pohon tebing.


Pohon-pohon tersebut tumbuh horizontal, bukannya vertical seperti pohon-pohon normal lainnya. Hal itu karena akar pohon tertancap di dinding tebing sehingga pohonnya tumbuk datar sejajar dengan tanah.


“Kau jangan bohong! Febi itu seorang bangsawan yang sangat aristokrat. Tidak mungkin dia ember pada orang se-…” Ei tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia tersadar sesuatu akan fakta tentang siapakah Hesa. Gadis itu menatap wajah tampan Hesa lekat-lekat.

__ADS_1


Setelah tahu, Ei langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan seakan tidak percaya pada apa yang ia lihat. Dan bodohnya, Ei baru sadar siapakah Hesa sebenarnya.


“Tidak … tidak mungkin … aku pasti sedang bermimpi.” Ei menepuk-nepuk pipinya sendiri berharap bahwa yang ia ketahui ini hanya mimpi. “Kau … kau … adalah …


“Raden Mar Arleon Mahesa Savatinov Rajasanaghara sepupu Raden Ajeng Feby, calon istri Rangga.” Hesa kembali memperkenalkan siapa dirinya dan juga gelarnya di depan Ei. “kalau di zaman kerajaan, harusnya kau berlutut dan menyembahku karena aku adalah seorang pangeran. Berhubung ini sudah abad 20, keberadaan kami sudah tak begitu berarti lagi dimasyarakat umum.”


“Itu karena zaman istana sentris tak begitu mengenal agama. Tapi menurut agama yang kuanut, satu-satunya yang harus kusembah adalah Tuhanku, bukan dirimu.”


“Kau benar. Lagipula aku juga tidak setuju dengan peraturan di zaman kerajaan. Aku bersyukur terlahir di zaman peradaban seperti sekarang dan bertemu denganmu.”


Mata kedua sejoli itu saling menatap satu sama lain. Ei dengan rasa shocknya setelah tahu siapakah Hesa. Dan Hesa dengan keyakinannya tetap ingin mendapatkan Ei sebagai pendamping hidupnya.


“Jika kau memang salah satu bangsawan seperti Febi? Kenapa kau memilihku dan memaksaku masuk dalam keluargamu? Padahal strata kita berbeda jauh. Kau berasal dari kaum bangsawan dan aku berasal dari kaum sudra rendahan. Kasta kita jelas sangat berbeda bagai bumi dengan langit. Apa kau sengaja membuatku merasakan betapa sengsaranya menjadi rakyat jelata ditengah trah ningrat seperti kau dan keluargamu?” tanya Ei setelah ia berusaha keras menenangkan diri.


Sang pangeran ningrat menarik tangan Ei untuk memijak pijakan yang dibuat Iwan dan keduanya mulai merangkak naik ke atas bersama-sama. Ei terdiam, tapi juga tidak menolak ajakan Hesa. Keduanya bergantian memijak dahan satu ke dahan lainnya dan menikmati proses naik panjat tebing curam bersama.


Hesa begitu sigap menjaga dan melindungi Ei. Apalagi disaat gadis itu kurang fokus dan hampir saja terpeleset. Sang pangeran ningrat langsung menangkap tubuh Ei meski ia sendiri tak peduli jika harus tergores ranting-ranting pohon di pipi dan tangannya demi menyelamatkan Ei.


“Hati-hati … dahannya licin,” ujarnya dan Ei menatap luka sabetan di pipi Hesa. Darah segar mulai keluar dari balik kulit mulus putih itu.


“Berhenti!” pinta Ei saat Hesa hendak menarik tangannya ke atas. “kita duduk di dahan besar itu. Biar kuobati lukamu,” ujarnya sebagai bentuk ucapan terimaksih karena tanpa diminta Hesa telah menyelamatkannya.


Hesa menurut dan keduanya duduk di dahan yang kebetulan saling berhadapan dan berdekatan. Ei mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam ransel hitamnya lalu mengobati luka-luka sabetan di tangan dan pipi Hesa.

__ADS_1


“Terimakasih,”ujar Ei sambil menempelkan plester di pipi Hesa.


“Sama-sama,” ujar Hesa sambil tersenyum manis semanis madu.


Ei langsung gugup ditatap Hesa seperti itu. Namun, ia berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Untuk mengalihkan perasaanya yang tiba-tiba jadi tak karuan, Ei mengajukan pertanyaan mumpung mereka berhenti sejenak.


“Jadi … kau sudah mengenalku sejak lama. Sebab, kisah Langen dan Fani terjadi saat aku masih SMA kelas IX. Tidak mungkin kau baru tahu sekarang.”


“Sepertinya begitu.” Hesa tersenyum penuh makna sehingga membuat Ei jadi bertanya-tanya. Ia sungguh merasa tak pernah bertemu Hesa sebelumnya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Di mana?" tanya Ei lagi.


"Aku tidak yakin," jawab Hesa ambigu.


Ei jadi bingung dan semakin yakin kalau Hesa pasti menyembunyikan sesuatu. Selama mendaki bersama dengan para pecinta alam lainnya, gadis itu tak pernah sekalipun melihat wajah Hesa. Atau mungkin dia nya yang lupa.


Makanya Ei yakin kalau Hesa ini pemula. Tapi sekarang Ei sanksi. Dilihat dari fisik Hesa, pria tampan itu bukanlah seorang pemula. Bahkan lebih terkesan pro. Ia juga mengenal baik Fey dan Refald.


Sekarang Ei baru tahu dan paham, pantas Hesa mengenal Fey dan Refald. Sebab, mereka berdua juga sama-sama keturunan Ningrat dari raja-raja di zaman dulu. Di tambah lagi, sepertinya Hesa masih ada hubungan darah dengan Febi, jika tidak, mana mungkin dia tahu kisah menarik Febi, Fani dan Langen sewaktu mereka masih SMA dulu.


“Kau belum jawab pertanyaanku sewaktu kita di bawah tadi,” ujar Ei masih menunggu.


Kini giliran Ei yang menanti sebuah jawaban dari Hesa. Keduanya sama-sama duduk di atas dahan pohon seperti duduk di restoran. Nggak ada takut-takutnya padahal mereka berdua ada di atas ketinggian.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2