
Perlombaan terakhir di babak kedua ini adalah lompat tinggi setingg 2 m. sungguh perlombaan yang lumayan sulit untuk dilakukan apalagi bagi orang awam. Beberapa peserta sudah mengeluh karena merasa kalau ini adalah sayembara pemilihan calon putri paling aneh yang pernah diadakan.
Banyak yang menilai, perlombaan ini sama sekali tidak nyambung dengan tema sayembara. Ada indikasi kecurangan dan juga deskriminasi. Para orangtua calon putri juga pada menyatakan protes karena putri-putri mereka bukan seorang olahragawan yang bisa melakukan jenis cabang olahraga temasuk lompat tinggi.
Namun, yang namanya Savatinov, bisa aja ngelesnya. Dia mengadakan cabangolah raga berkelas karena ia ingin punya menanti yang ketahanan fisiknya kuat dengan dalih bahwa wanita zaman dulu dan zaman sekarang berbeda. Bila di zaman dulu, seorang permaisuri saja bia dilatih mengangkat pedang dan bisa berperang, maka calon putri di zaman sekarang harus bisa melakukan apa saja termasuk olahraga berat demi menjaga katahanan fisik agar tetap kuat.
Alasan yang nonsense sebenarnya, tapi karena Savatinov sangat berkuasa, yang lain tidak bisa apa-apa. Bahkan Hesa dan ibunyapun tak bisa membantah perintah sang Raden. Namun, bukan Hesa namanya kalau ia tidak siap siaga tetap menjaga istrinya dari segala hal yang membahayakan. Ia tahu ada indikasi kecurangan di olahraga ini dan ia sudah merencanakan sesuatu untuk berjaga-jaga.
Ei tidak perlu menang di babak kedua ini karena poinnya aman. Hanya saja, Hesa merasa aka nada yang mencelakai istrinya.
“Maaf Mio Caro, kali ini aku tak bisa menemanimu mengikuti lomba lompat tinggi. Aku harus pergi dan melakukan sesuatu,” ujar Hesa pamitan sebelum perlombaan di mulai. Ia sengaja membawa Ei ke belakang gedung yang sepi.
“Memangnya, kau mau ke mana.” Ei jadi tidak bersemangat kalau tidak ada Hesa disisinya.
“Nanti kau akan tahu. Aku tidak bisa cerita padamu sekarang. Semangat oke. Aku yakin kau bisa. Kau tidak perlu menang. Cukup hati-hati dan jaga diri baik-baik.” Hesa menggenggam erat tangan Ei dan mencium keningnya.
Dengan senyum merekah ruah, Hesa melepas kalungnya yang selalu ia kenakan dan memakaikannya pada Ei. Ei sempat terkejut melihat kalung pemberian Hesa, tapi ia jadi bingung dengan situasi yang canggung ini.
"Kau tidak tanya ini apa?" tanya Hesa setelah memakaikan kalungnya di leher Ei.
"Ck, anak TK juga tahu kali, kalau ini kalung. Nggak mungkin ular kan?" decak Ei memerhatikan simbol bintang di ujung kalungnya.
"Itu bukan hanya sekedar kalung, Ei. Separuh nyawaku ada di dalam kalung itu. Sekarang, sudah kuberikan padamu. Artinya, separuh jiwaku ada dalam dirimu. Jaga kalung itu baik-baik dan jangan sampai hilang. Sebab, itu adalah kalung pemberian almarhum kakekku sebelum beliau tutup mata. Kalung ini sangat berharga untukku. Sama seperti dirimu yang begitu berharga bagiku."
Ei terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Dia terus mengamati kalung pemberian Hesa dan tidak berkomentar apa-apa. Mereka berdua sengaja mojok agar tidak bisa dilihat orang.
Namun, di sudut lain, tepatnya di pinggiran taman. Margaret mengintip apa yang Hesa dan Ei lakukan. Iapun jadi geram melihat Hesa tampak begitu mesra pada wanita yang berdiri membelakangi Margareta. Hati dan jiwa si walang kadung serasa terbakar hebat. Ia marah dan benci pada Ei yang ternyata sudah merebut Hesa darinya.
Padahal, diawal kuliah dulu, Margaret sudah sangat yakin kalau Hesa bakalan jadi miliknya. Tak disangka, malah Ei yang mendapatkan pangeran ningrat itu.
__ADS_1
“Ada yang mengintip kita, sepertinya itu caon istrimu yang lain,” goda Ei. Hesa langsung menutupi tubuh Ei dengan tubuhnya agar tak tampak dari sudut manapun. Dengan kata lain, Ei terkurung dalam dekapan Hesa.
“Biarkan saja, kita ciptakan saja gossip baru. Dengan begitu, ayahku bakalan kalang kabut. Yang penting wajahmu tak terekspose." Hesa melepas topinya dan memakaikannya pada Ei.
Hesa endak mencium bibir istrinya tapi dicegah oleh Ei dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi suaminya. “Jangan di sini. Nanti saja kalau aku keluar sebagai pemenang istri sahmu. Baru kau boleh menciumku.”
“Lalu yang kemarin-kemarin gimana? Kita sudah berciuman berkali-kali,” tanya Hesa.
“Itu bonus!” jawab Ei dan mereka berdua sama-sama tersenyum.
“Pakai topi ini dan ayo kita pergi. Kau masuk ke ruangan dan aku harus ke suatu tempat.”
“Apa … kau lama kembali?” tanya Ei manyun. Semangatnya langsung luntur mengingat Hesa tak ada didekatnya. Ia jadi tak berniat memenangkan lomba lompat tinggi ini karena Hesa tidak ada.
“Tidak, hanya sebentar. Aku … ingin tahu, setinggi apa istriku bisa melompat.”
Hesa tidak menyahut, sebaliknya, ia merangkul bahu istrinya meninggalkan taman dan kembali ke tempat mereka masing-masing karena perlombaan akan dimulai.
***
Margaret baru saja datang saat Ei melakukan pemanasan. Gadis walang kadung itupun sengaja melakukan pemanasan juga di dekat Ei agar bisa mencibirnya. Namun, Ei sengaja pakai headset sehingga ia tak dengar apapun yang diucapkan Margaret padanya.
“Dasar jalaang, murahaan, berapa harga tubuhmu itu ha? Dan berapa Hesa membayarmu sampai kau bisa berbuat serendah itu padahal kalian berdua belum menikah. Lihat saja, aku sudah merekam apa yang kau dan Hesa lakukan di belakang tadu. Aku tinggal posting saja dan kita akan lihat, apa yang bakalan terjadi. Tamatlah riwayat kalian!” ancam Margaret.
“Maaf, kau bilang apa?” tanya Ei sambil melepas headsetnya. Ia tersenyum ramah pada saingannya seolah ia tak dengar apa-apa.
Mata Margaret melotot dan ia tak terima karena merasa direndahkan oleh Ei. Saat istri Hesa itu pergi menjauhinya, Margaret sengaja menjegal kaki Ei sehingga gadis itu hampir jatuh terjungkal. Walang kadung tersebut sudah sangat senang ketika melihat wanita yang dibencinya hendak nyosor ke tenah.
Namun, diluar dugaan, tubuh Ei yang terjungkal itu langsung bertumpu pada satu tangan kanannya yang telapaknya sengaja Ei letakkan di atas tanah dan ia melakukan jungkir balik ala penari sirkuis yang sempurna. Ei memutar kaki dan tubuhnya 360 derajat dan berdiri tegak lurus setelah mendaratkan kakinya dengan mulus.
__ADS_1
Tentu saja aksi Ei itu langsung menyita banyak perhatian orang-orang dan spontan mereka yang melihat adegan Ei barusan langsung tepuk tangan. Sedangkan Margaret jangan ditanya, ia sudah seperti cacing kepanasan karena gagal mencelakai istri Hesa. Sambil menendang-nendang kaki, Margaret pergi dan meninggalkan Ei yang tiba-tiba saja jadi seleb dadakan berkat aksi memukaunya ala Steven Chou.
Sayangnya, bahu Ei langsung cedera. Dia merasakan sakit, dan langsung pergi. Padahal perlombaan akan dimulai. Ei ke toilet untuk memeriksa bahunya dan ketika persendiannya diputar, sakitnya luar biasa sampai Ei hampir saja berteriak tapi ia tahan saking sakitnya.
“Aduh, sial. Sepertinya, bahuku cedera.” Ei langsung cemas dan lemas. Ia takut kalau ia tidak bisa ikut perlombaan ini.
Namun, gadis itu tidak ingin mengecewakan Hesa dan anggota keluarganya yang lain. Karena Ei sudah melangkah sampai sejauh ini dan tidak ingin mengecewakan siapapun yang mendukungnya. Jadi, Ei nekat ikut saja dan kembali ke arena perlombaan dengan menahan rasa sakit yang amat sangat.
Begitu Ei datang, lomba sudah dimulai dan Ei mendapat giliran yang terakhir. Semakin mendekati gilirannya. Ei sangat semakin was-was. Ia sudah berkeringat dingin. Bahunya masih serasa sakit tapi ia sengaja tak memperlihatkannya. Sampai akhirnya, tibalah giliran Ei untuk melakukan lompat tinggi.
Semua mata mulai tertuju pada istri Hesa yang sempat memperlihatkan aksi memukaunya saat ada orang yang hendak mencelakainya. Mereka penasaran apakah Ei bisa melompat tinggi seperti aksi jungkir baliknya yang keren tadi. Sepertinya, Ei duah jadi idola dan mereka yakin bahwa Ei adalah kandidat paling dominan dalam sayembara pemilihan calon putri ini.
Diiringi suara teriakan meriah, Ei mengambil galahnya dan mulai bersiap-siap. Ei berdiri di garis start dan berkosentrasi penuh pada pembatas ketinggian. Ia mulai berlari setelah peluit pertama dibunyikan. Ei sangat was was sekarang. Ia sengaja tak melihat sekeliling agar bisa fokus ke 1 titik. Begitu posisinya pas, Ei menancapkan galahnya di tanah dan mulai melompat.
Awalnya sih berhasil, tapi cedera di tangannya membuat Ei kesakitan dan kehilangan keseimbangan. Di luar dugaan, tongkat galah yang menjadi tumpuan tubuh Ei, mendadak patah dan gaya gravitasi bumi langsung menarik tubuh kecil Ei ke tanah. Dan sialnya, tubuh istri Hesa itu terlempar ke samping matras.
Kepala Ei bisa saja bocor atau pecah kalau ia menyentuh permukaan tanah karena posisi tubuhnya keluar atau melenceng dari matras yang disediakan. Semua sudah berteriak histeris karena kejadian mengerikan itu begitu cepat terjadi.
Namun, dewi fortuna masih melindungi Ei dari segala macam bahaya yang mengintainya. Seorang pria yang berdiri tak jauh dari tiang penyangga pembatas lompat tinggi berlari cepat dan siap menangkap tubuh Ei yang terlempar bebas dengan posisi tubuh menghadap ke atas.
Gaya gravitasi bumi begitu kuat sehingga tubuh Ei yang terlempar, mendarat sangat keras di tubuh pria yang menangkapnya. Kedua orang itu sama-sama terjatuh dan berguling-guling ke lantai. Namun pria itu melindungi Ei agar kepalanya jangan sampai menyentuh tanah.
Ei pingsan karena cedera bahu dan terlalu shock atas apa yang barusan ia alami. Samar-samar, ia seperti melihat Hesa ada didepannya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
“He-hesaa,” ujar Ei lirih dan matanyapun terpejam.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1