
Pak Po jelas protes karena ia merasa kalau dirinya ini benar. Sebab, ciri-ciri buah yang diberitahukan Refald sudah sangat pas dengan tumbuhan yang ia pegang ini. Poci pocicu itu ingin melepaskan diri dari cubitan Ei tapi anehnya, ia tidak bisa. Mendadak, Ei jauh lebih kuat darinya padahal ia bukan bagian dari Refald. Ei juga manusia biasa, tapi bisa melawan Pak Po yang notabennya adalah makhluk tak ksat mata.
“Hei Baragola, sesunguhnya ... kau ini seetan apa manusia, sih? Kenapa kau bisa membuatku merasakan sakit? Kau bukan Raja atau istri Raja, dan kita juga beda alam. Kenapa cubitanmu terasa sakit?” tanya pak Po.
“Meneketehe!” sengal Ei kesal. Iapun melepaskan cubitannya dan menatap sosok Pak Po yang penampilannya sangat berbeda dari biasanya.
“Meneketehe itu dari keluarga mana?”
“Itu bukan nama keluarga dudul Baragajul! Maksudku itu mana ku tahu kenapa aku bisa mencubitmu. Padahal kan kau setaan ya? Jangan-jangan aku sudah mati?” Ei malah bertanya pada dirinya sendiri dan menatap kedua tangannya yang tetap sama seperti sebelumnya.
“Kau itu masih hidup dasar oneng markoneng, buktinya kau masih bernapas dan kau punya suhu tubuh,” papar Pak Po.
“Siapa yang kau bilang oneng, ha! Kau itu yang oon!” Ei kesal lagi dan ia mencubit kembali pipi Pak Po sampai pocong itu mengerang kesakitan.
Sekuat tenaga anak buah Refald itu melepaskan diri dan berlari ke balik punggung Hesa untuk berlindung. Pak Po tidak bisa melawan Ei karena Hesa takkan terima. Selain itu, cubitan Ei benar-benar membuatnya sakit sampai pipinya kini mulai membengkak.
"Hesa minggir! Aku mau cincang si poci oneng itu, seenaknya saja, dia manggil aku oneng. Padahal yang oneng kan dia!" cetus Ei meminta kekasihnya menyingkir dari pandangannya.
"Lah kau sendiri juga oneng, sadar diri dikit napa?"
"Yee dasar Baragajul! Belum pernah kena lempar sepatu kau, ha?" Ei sudah bersiap melepas sepatunya untuk ia lemparkan pada Pak Po.
"Pernah, aku sering kena lempar sandalnya Ratu Fey."
Wajah Ei sudah kesal melihat Pak Po, ia bermaksud melempar Pak Po dengan sepatunya tapi Hesa mencegahnya. "Jangan Sayang, nanti kau pakai apa kalau sepatumu kau lemparkan ke dia."
Ucapan Hesa ada benarnya. Ei tak jadi melempar dan kembali memakai sepatunya. Tapi ekspresi Ei masih kesal dengan Pak Po.
“Sepertinya, Pak Po kualahan menghadapi kekasih Hesa,” bisik Fey pada suaminya.
“Biarkan saja, Ei adalah keturunan Putri kerajaan Jawa di mana pada masa itu, Pak Po hidup di zamannya. Kekuatan Pak Po melemah kalau di sentuh Ei. Mungkin itu kutukan untuk Pak Po karena dulu pernah menolak nenek buyutnya Ei.” Refald terkekeh.
“Sepertinya ini takdir yang rumit. Ei dan Hesa, sama-sama keturunan Raja. Tapi perjalanan cinta mereka begitu terjal sampai harus mengalami hal seperti ini. Hukuman macam apa yang diterapkan keluarga Ei sampai tega menghukum keturunan Raja dengan mendaki tangga setinggi ini. Mustahil bagi mereka bisa sampai ke atas dengan selamat.”
“Mereka berdua sama seperti kita berdua Honey, dan untungnya, kakekku bersahabat dengan kakek Hesa. Tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Karena Hesa juga istimewa. Kalau kau adalah keturunan langsung dari putri Candra Kirana, Hesa adalah keturunan langsung dari Raden Inu Kertapati. Kau tahu sendiri bagaimana perjuangan kakek buyutmu itu saat mendapatkan nenek buyutmu. Harus berpisah dan berkelana menyusuri banyak gunung dan hutan. Barulah mereka dipertemukan. Sudah dipertemukan, cobaan datang silih berganti. Hal serupa juga dialami Hesa dan Ei.”
__ADS_1
“Benarkah? Kenapa kau baru beritahu aku sekarang kalau Hesa adalah keturunan kakek buyutku?”
“Aku juga baru saja tahu setelah Hesa mencopot gelarnya demi bisa mengejar cinta sejatinya. Lampu semua tempat bersemayamnya jiwa para raja terdahulu menyala terang di dunia lain sana. Sebagai Raja demit, jelas itu bukan suatu hal yang baik. Artinya, jika ada salah satu keturunan para raja menangguhkan gelarnya, para raja-raja sebelumnya pastilah berduka.” Ekspresi Refald seperti sedang menunjukkan kecemasan yang amat sangat.
“Apa berdampak pada kelangsungan hidup di dunia ini ataupun di dunia sana?” tanya Ei ikut cemas.
“Jika Hesa tak segera kembali memakai gelang kebangsawanannya dalam waktu dekat, keluarganya akan ditimpa petaka besar. Namun, sulit membuat Hesa kembali memakai gelang itu.”
“Kau tinggal beritahu saja dia apa yang terjadi jika Hesa tak kembali memakai gelangnya.”
“Tidak bisa Honey, itu melanggar takdir yang sudah ditentukan Tuhan. Meski aku tahu segalanya, aku tak bisa sembarangan mengubah atau mencegahnya.”
“Lalu Bagaimana, apa sebaiknya, beritahu Ei?”
“Dia sudah tahu, feeling Ei sangat kuat. Jika tidak, mana mungkin ia nekat menjalani hukuman ini. Tadinya gadis itu pikir, dengan kematiannya, maka Hesa akan kembali ke keluarganya. Tapi dugaannya salah. Hesa malah datang kesini dan keduanya rela mati bersama. Kita hanya akan membantu mereka mengatasi masalah yang ada di sini, selebihnya, kita serahkan saja pada kekuatan cinta mereka.”
Fey terdiam, apa yang dikatakan suaminya tidak salah. Cinta sejati memang butuh pengorbanan. Cinta Ei dan Hesa memang banyak sekali mendapat ujian.
Namun, semakin berat ujian yang diterima, semakin kuat juga cinta mereka. Fey menatap wajah Hesa yang terus mengamati pergerakan kekasihnya yabg sibuk berdebat dengan Pak Po mengenai siapakah yang paling oneng. Padahal keduanya sama-sama oneng.
“Hei Baragola,” bentak Pak Po membuyarkan lamunan Fey. Rupanya, Pak Po dan Ei belum selesai berdebat juga. “Kata raja,” imbuh Pak po. “buah murbei itu kalau belum masak warnanya merah, kalau sudah masak warnanya hitam. Bentuknya juga kecil. Ini kan sama!” sengal Pak Po ingin membuktikan kalau dirinya itu benar.
“Tapi bukan tumbuhan ini dudul Baragajul! Kau ini sudah salah masih ngeyel juga.” Ei mendorong sosok Pak Po ke belakang dan berjalan pelan menuju tempat Hesa berada.
Kebetulan, di antara buah-buahan yang diambilkan kekasih Ei itu ada buah murbei yang lezat dan enak. Ei mengambil sisa buah itu lalu memberitahukannya pada Pak Po.
“Ini yang namanya buah murbei, dan yang kau pegang itu adalah tumbuhan ‘rante’ namanya itu kalau di daerah tempatku tinggal. Kalau daerah lain, aku kurang paham apa namanya. Wajar kalau kau jadi ular, lah kau sudah memakan makanan yang di makan ular. Kau ini bisa bedakan murbei dengan buah lainnya nggak sih? Kalau nggak tahu itu tanya! Jangan sok tahu begitu!” Ei malah menggurui.
Pak Po cemberut akut. Pipinya sudah dibikin bengkak, eh sekarang kena omel pula.
“Hadeuh, harusnya aku tidak mencabut pedang itu di lehermu supaya kau selamanya jadi Python dan tidak bikin spaneng orang lain lagi. Sejak kapan murbei berubah bentuk jadi bulet-bulet kecil begitu.”
“Sudahlah Sayang, kasihan Pak Po sejak tadi kau omelin terus,” ujar Hesa iba juga dengan Pak Po.
“Kenapa kau malah bela dia? Yang jadi kekasihmu kan aku, bukan Pak Po. Salah sendiri kenapa dia jadi oneng begitu, kan sebel!” ganti Ei yang cemberut.
__ADS_1
Hesa membuang napas panjang menahan sabar. Ucapan Ei itu harusnya ditujukan untuk diri Ei sendiri karena kekasihnya itu sama onengnya dengan Pak Po. Begini nih, kalau Oneng ketemu Oneng, nggak ada yang mau ngalah.
Refald menepuk pelan bahu Hesa dan memberikan kode mata yang hanya dimengerti mereka berdua. Sang raja demit itu mendekati Pak Po dan memintanya untuk pergi daripada berdebat dengan Ei, tapi pocong tampan itu takut kalau di culik lagi, jadi dia memutuskan untuk mengikuti Refald dan Fey kemanapun sang majikannya berada.
“Aku akan mengawal Hesa dan Ei sampai ke atas Pak Po, kau tidak bisa ikut kami.”
“Hamba ikut Yang Mulia saja, karena ini Amerika, Hamba takut tersesat.”
“Kau kan seetan Pak Po, kau tak perlu naik pesawat atau angkutan umum, kau bisa pergi kemanapun kau suka. Memangnya siapa yang menyesatkanmu. Kau ini ada-ada saja.”
“Hamba akan menjaga Yang mulia Ratu dari marabahaya, Raja. Hamba tidak akan mengganggu perjalanan kalian. Hamba akan diam saja di sepanjang jalan. Tapi izinkan saya untuk ikut dengan kalian.” Pak Po Keukeuh ingin ikut Refald dan Fey.
“Ya sudah, tapi jangan salahkan aku kalau kau gigit jari nanti,” cetus Refald dan ia kembali ke sisi istrinya setelah mengkode Hesa pakai kedipan mata. “Ayo Honey kita naik.” Refald mengalungkan kedua lengan Ei dilehernya lalu menggendong istrinya menaiki tangga satu per satu.
Hal sama juga dilakukan Hesa. Pria tampan itupun tanpa permisi menggendong Ei menaiki tangga satu demi satu. Ei jelas kaget karena tiba-tiba saja di gendong. Langit-langit juga masih gelap, ditambah perjalanan menunju puncak masih sangat jauh.
“Kenapa kau menggendongku, aku bisa jalan sendiri, turunkan aku. Nanti kau lelah. Kau tidak sama seperti Refald. Dia raja demit, sedangkan kau hanya manusia biasa.”
“Aku memang manusia biasa, tapi cintaku padamu sama kuatnya dengan Refald. Kau jangan khawatir. Tinggal sedikit lagi kita akan sampai.”
“Tetap saja, aku tidak mau kau kelelahan. Turunkan aku, kita jalan berdua.”
“Tidak, aku tidak akan menurunkanmu sampai kita sampai di puncak. Kau diam saja Sayang. Dan pegang leherku kuat-kuat supaya kau tidak jatuh.”Hesa tersenyum manis pada Ei dan senyumannya membuat hadia itu tak bisa berkutik lagi.
Hati wanita mana yang tidak bahagia bila diperlakukan istimewa oleh sang kekasih hati. Entah ada apa dengan Hesa sehingga ia ngotot ingin menggendong Ei sampai atas. Itulah yang membuat Ei penasaran tapi ia suka.
Tangga menuju puncak masih sangat jauh. Ei memerhatikan Refald yang sudah naik lebih dulu dengan cepat. Kalau ini soal persaingan kekuatan fisik, jelas Hesa kalah telak dengan si raja demit itu. Tapi sepertinya, bukan itu yang dilakukan Hesa. Ada hal lain yang tidak Ei tahu kenapa Hesa menggendongnya sampai atas.
Kendati demikian, Ei tetap merasa sangat kagum dengan kekasihnya. Peluh keringat mulai bercucuran memenuhi wajah Hesa dan Ei dengan telaten mengusap peluh tersebut menggunakan lengan bajunya. Ei juga merobek sebagian kaos bagian bawahnya dan ia pakai sebagai sapu tangan untuk mengusap peluh yang mengalir deras di pelipis Hesa yang malah tampak sangat tampan kalau berkeringat.
“Duh apesnya, mereka berdua bikin iri saja, mana tidak ada Divani di sini,” gumam Pak Po yang melayang di udara sambil mengiringi perjalanan Hesa dan Refald sambil menggendong pasangan mereka masing-masing naik ke puncak tangga.
Sungguh sweet dan romantis.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***