Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 38 Dijemput Suami


__ADS_3

Ujian hari pertama, berjalan dengan tertib dan lancar. Walau banyak masalah yang sedang menimpa Ei, gadis itu bisa mengerjakan soal ujian dengan baik karena ia memang diberkahi otak encer dalam hal akademik. Tapi kalau dalam hal non akademik, jangan ditanya, onengnya sudah melebihi kapasitas.


“Astaga, soal ujian tadi kenapa sulit sekali, sih.” Prety mulai menggerutu karena ia sangat kesulitan mengerjakan soal yang diujikan. Padahal ia sudah begadang untuk belajar, tetap saja ia tidak bisa mengerjakan.


“Mungkin kau butuh usaha lebih keras lagi. Tapi aku juga kesulitan sih, soalnya diluar ekspektasi.” Angel membenarkan.


Mereka berdua menatap Ei yang sejak keluar kelas, ia hanya diam saja seolah sedang memikirkan banyak hal.


“Ada apa dengan si Ei. Kok dia diam saja dan tidak begitu ceria semenjak ia kembali kuliah? Bukankah dia sudah ….” Prety tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Angel langsung membungkam mulut temannya yang ember ini.


“Sssst, jangan keras-keras, bukankah Ei sudan memperingatkan untuk tak memberitahu siapapun soal statusnya yang sekarang. Jangan sampai seisi kampus tahu Pret.” Angel mengingatkan.


Yah, hubungan suami istri palsu yang diperankan Ei dan Hesa memang sudah diketahui sahabat dekat Ei. Hanya dua orang inilah tempat berkeluh kesahnya Ei kalau ia ada masalah. Dan berkat mereka pula, status Ei dan Hesa masih aman terjaga kerahasiaannya.


“Tapi kenapa dia murung begitu, semua wanita yang ada di kampus ini berlomba-lomba mendapatkan pak asdos, kenapa Ei malah sedih begitu.”


“Kan dia oneng, Pret. Wanita normal pasti bakal bersyukur bisa jadi istri pilihan pak Hesa. Berhubung dia oneng makanya dia begitu. Kau jangan kaget,” bisik Angel dan Ei jelas bisa mendengarnya.


“Bisa nggak sih kalian nggak ghibahin aku, kedengeran tahu!” protes Ei.


Menjadi istri diam-diamnya Hesa ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Saat di kelas ujian, ia sempat mendengar kalau beberapa mahasiswi dari jurusan lain menyatakan cinta pada suaminya. Tentu saja mereka pasti ditolak mentah-mentah oleh Hesa, tapi tetap saja, hati Ei tidak tenang. Ei jadi galau akut sekarang. Ia takut kalau dirinya sudah mulai ada rasa untuk Hesa.


Di saat, pikiran Ei dipenuhi oleh Hesa, tiba-tiba saja, matanya melotot saat melihat Hesa berjalan pelan kearahnya.


“Astaga, sepertinya aku sedang stress berat sampai berhalusinasi melihat bayi marmot itu datang kemari,” gumam Ei menatap wajah tampan suaminya yang semakin lama, semakin dekat saja.


Kedua teman Ei mengikuti arah pandang Ei dan mereka juga terkejut karena orang yang mereka bicarakan datang juga. “Hei Oneng, kau itu tidak berhalusinasi, tapi suamimu itu beneran datang kemari.” Prety mengingatkan.


Kedatangan Hesa yang begitu tiba-tiba langsung menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Untung fakultas ini sedang sepi karena ujian hari pertama sudah selesai dan banyak yang sudah pulang. Tak banyak orang tahu dan hanya beberapa saja yang melihat heran Hesa masuk ke gedung fakultas SAINS.

__ADS_1


“Nona Ei Ei, ikut denganku. Kau sudah tidak ikut mata kuliahku hampir beberapa minggu. Kau harus mengerjakan tugas yang kuberikan saat ini juga,” ujar Hesa pada Ei agar kedatangannya menemui istrinya tak dicurigai mahasiswi lainnya.


“Hah?” mata Ei mendelik dan meminta penjelasan pada Hesa tentang kedatangannya kemari.


“Ikut aku, kita tidak punya banyak waktu karena jam kerjaku sudah habis,” ujar Hesa yang bila diartikan ke dalam bahasa cinta, ia sedang mengajak Ei berkencan.


Hanya Prety dan Angel saja yang bisa memahami bahasa cinta Hesa berkedok asdos memberikan tugas negara pada mahasiswinya. Mereka berdua langsung mendorong Ei untuk menuruti ajakan suaminya.


“Sudahlah, ikut saja … kami bisa pulang bersama kok. Cieee yang dijemput suami. Pakai acara suruh ngerjain tugas lagi, tugas apaan?” celetuk Pretty di telinga Ei.


“Tugas Romantisasi dalam kencanisme agar bisa menumbuhkan benih-benih cintanitrat," timpal Angel dalam bahasa ilmiah dan sains mentang-mentang mereka bertiga ini mengambil jurusan sains.


Ei benar-benar kesal karena kedua teman-temannya ini terus saja meledeknya. Daripada di ledek terus, akhirnya Ei mau saja ikut dengan suaminya yang sedang tertawa mendengar bahasa ilmiah ala Angel.


Kedua pasangan suami istri itu berjalan bersama beriringan tanpa saling bicara dan sama-sama menatap lurus ke depan. Hesa membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Ei masuk.


“Cepat masuk sebelum ada yang lihat,” pinta Hesa lembut.


“Aku hanya ingin memastikan kau tidak kabur lagi seperti tadi pagi.” Hesa menyalakan mesin dan mengajak istrinya pergi ke suatu tempat.


“Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku hanya ingin konsentrasi pada ujianku dulu sebelum menghadapi tantangan di keluargamu. Kau jangan semakin menekanku!”


“Kapan aku menekanmu, aku hanya … tidak mau kau salah paham.”


“Salah paham gimana?” Ei tidak mengerti apa maksud Hesa.


“Kau pasti sudah dengar soal gossip banyaknya mahasiswi yang menyatakan cinta padaku …”


“Oh, soal itu, kau jangan khawatir. Aku tak peduli kau menerima atau menolak mereka. Terserah kau saja. Justru akan lebih baik bagiku kalau kau menerima mereka. Dengan begitu, tugasku akan selesai sampai di sini.”

__ADS_1


“Kau cemburu?”


“Kenapa aku harus cemburu?”


“Suaramu terdengar marah.”


“Siapa yang marah? Aku tidak marah.” Ei menghela napas panjang. Mereka berdua malah berdebat di dalam mobil.


Sebenarnya, saat di toilet kampus, tepat pada waktu jam istirahat, ia tak sengaja melihat Hesa dipeluk oleh seorang wanita walaupun Hesa langsung mendorong gadis cantik malang itu menjauh darinya. Hesa bahkan bersikap kasar pada wanta itu dan langsung pergi begitu saja.


Ei galau akut antara kasihan dan juga bingung. Harusnya sih Ei biasa-biasa saja dan tidak merasakan apa-apa karena sejak awal, Hesa memang diidolakan banyak orang. Bukan 1 atau 2 wanita yang cinta mati sama Hesa, tapj banyak dan tak terhitung jumlahnya.


Secara Hesa adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Tak heran bila ia digilai banyak wanita bahkan setiap hari ada saja yang menyatakan cinta pada suami Ei ini.


“Ei, aku tahu seperti apa perasaanmu saat ini. Tapi sebelum pengumuman pemenang sayembara pemilihan istriku diumumkan, aku tak bisa memperkenalkanmu ke hadapan publik sebagai istriku. Aku hanya berharap, kau benar-benar mengakuiku sebagai suamimu. Itu akan mempermudah semuanya, baik untukku, ataupun untukmu.”


Ei terdiam, perasaannya campur aduk sekarang. Namun Ei tidak boleh goyah. Ia tak boleh terlalu larut dalam perasaan sampai ia sendiri bisa memastikan seperti apa perasaannya terhadap Hesa.


Gadis itu teringat sesuatu dan mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. “ Apa ini?” tanya Ei mulai mengubah topik pembicaraan.


“Dompet,” jawab Hesa sambil melihat jalan lurus di depan.


“Kau yang mengisi uang di dompetku, kan? Apa aku pengemis? Aku tak minta apapun darimu.”


“Siapa yang bilang kau pengemis. Sudah jadi tanggung jawabku mengisi dompet istriku yang kosong. Suami macam apa aku yang membiarkan istrinya tak pegang uang sementara kebutuhan hidupnya sangat banyak. Termasuk kebutuhan yang ada di tempat ini,” terang Hesa panjang lebar dan tanpa Ei sadar, mereka berdua sudah ada di tempat yang amat sangat familiar bagi Ei.


“I-ini …” Ei langsung tertegun antara percaya dan tidak percaya pada apa yang lihat sekarang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2