
Kalau Febi dan Rangga sudah datang, artinya Ei harus bersiap-siap memasuki pintu gerbang kesengsaraan. Sebab, sepasang kekasih abadi itu, adalah ahli dalam bidang menyiksa orang bagi siapa saja yang ingin masuk dalam keluarga bangsawan.
Melihat kedatangan Febi alias sepupu Hesa sendiri, Ei bukannya merasa senang, melainkan sedih karena hari-hari buruknya akan dimulai saat ini, di detik ini juga. Namun, berbeda halnya dengan Hesa, pangeran ningrat ini menyambut kedatangan pasangan sejoli ahli damai itu dengan suka cita.
Kenapa kok Hesa menjuluki Febi dan Rangga sebagai pasangan ahli damai. Sebab, mereka berdualah yang selalu mendamaikan Langen dan Rei kalau lagi berantem, serta membuat hubungan Fani dan Bim Bim jadi adem ayem. Selain itu, bila keduanya sedang dalam masalah, baik Febi ataupun Rangga selalu bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan matang dan kepala dingin. Tidak menggebu-gebu seperti yang lainnya. Itulah sebabnya mereka berdua bisa langgeng hingga sekarang.
Tak menuntut kemungkinan, Febi dan Rangga bakal berperan penting dalam kelancaran hubungan Hesa dan Ei, termasuk membantu Ei yang tadinya adalah gadis super bar-bar dan pembuat onar, berubah jadi putri Cinderella kesiangan.
“Hai Ei, lama tak bertemu. Sepertinya … kau sangat senang melihatku.” Rangga tersenyum melihat wajah manyun Ei.
Padahal aslinya Ei ini selalu kesal kalau bertemu dengan Rangga. Rangga itu 11 12 dengan Hesa yang suka sekali bikin orang jadi terkena Hipertensi bila bicara dengannya. Namun, tak dapat dipungkiri, perjuangannya demi mendapatkan Febi memang patut diacungi jempol. Sepertinya, Rangga adalah guru yang tepat untuk Ei bila ingin memenangkan hati ayah mertuanya agar Ei diakui sebagai menantu dari keluarga Savatinov.
“Feb, aku harus melakukan apa supaya kau putus dengannya?” tanya Ei keki pada Rangga dan Febi hanya membalas Ei dengan senyuman.
“Bukankah kau yang comblangin aku dengan Febi?” Rangga menyela Ei. “Kau juga yang membantu meyakinkan Febi saat Fani dan Langen membongkar perselingkuhanku dengan Melisa. Meski pada dasarnya aku tidak selingkuh. Melisa sadar diri bahwa wanita yang ada di hatiku hanyalah Febi. Tapi … yang menjadi pertanyaanku, kenapa kau melabrak Melisa sampai dia harus pindah sekolah?”
Ei tertegun, rupanya Rangga tahu soal pelabrakan itu. Padahal harusnya yang tahu hanya Langen dan Fani saja. Kok si toples penyok itu bisa tahu, ya? Jangan-jangan Iwan nih yang ngasih tahu. Kan dia 1 sekolah sama Melisa, wah perlu digorok si mulut ember Iwan, batin Ei.
“Woy Rangga, kau datang kemari bukan untuk mengenang akan masa lalu kalian, kan? Tapi untuk melatih istriku agar bisa jadi seperti Febimu. Dan kau tidak bisa menyalahkan Mio Caro-ku. Kau yang salah, siapa suruh kau mendua,” sela Hesa langsung melting melihat Rangga yang malah membuka aibnya sendiri. Ia juga tak terima bila Ei disalahkan atas kesalahan Rangga sendiri.
“Bagaimana kau bisa tahu? Febi saja nggak tahu kalau aku ngelabrak madunya?” bisik Ei pada Hesa.
__ADS_1
“Tidak ada yang tidak ku tahu tentangmu Ei.” Hesa menyentuh ujung hidung Ei dengan jari telunjuknya. “Kau bahkan akan lebih terkejut lagi jika tahu orang pertama yang kau temui di pendakian pertamamu itu siapa. Tapi, kau tidak perlu tahu sekarang, nanti saja kuberitahu kalau kita benar-benar sudah sah menjadi pasangan suami istri.”
Meski bingung dengan maksud ucapan Hesa, Ei tetap tersepona dengan perlakuan manis suaminya ini. Semakin jatuh cintalah Ei pada Hesa karena suaminya ternyata membelanya. Dulu sewaktu SMA, Ei memang jago sekali ngelabrak cewek yang berprofesi sebagai velakor atau PHO alias perusak hubungan orang. Termasuk kasus Febi yang diselingkuhin Rangga.
Tanpa berpikir panjang, si Oneng Ei mendatangi sekolahnya Melisa dan bikin onar di sana sampai simpanan Rangga itu malu sendiri dan langsung pindah sekolah setelah mengakhiri hubungannya dengan Rangga dan merelakan Rangga dengan Febi. Sungguh benar kata Cu Pat Kai, bahwa derita cinta itu memang tiada tara. Cinta sungguh rumit melebihi soal matematika.
Namun, meski Rangga pernah khilaf, Febipun memaafkan Rangga atas dasar nama cinta. Rangga sendiri juga membuktikan kalau cinta Rangga hanya untuk Febi seorang. Sebagai sepupu, tentu saja Hesa tahu semua yang terjadi pada Febi. Dan ia sangat terkejut saat Ei pernah menggampar Rangga gara-gara duain Febi. Dari situlah, Hesa juga mulai jatuh cinta pada Ei yang kala itu menjadi garda terdepan sepupunya kalau sedang ditimpa masalah.
“Oh, sorry, aku kelepasan. Jasa Ei padaku begitu besar, makanya … begitu kanjeng Ibu memerintahkan kami untuk mengajari istrimu layaknya seorang putri, aku langsung kosongkan semua jadwalku selama 3 hari ini. Aku akan jadi ibu perinya agar dia bisa menikah dengan Pangeran Hesa.” Rangga tersenyum, tapi entah mengapa, Ei merasa kalau senyuman kekasih hati Febi itu tampak amat sangat menakutkan.
Pelatihan calon putripun di mulai. Rangga dan Febi sungguh serius saat menjadi tutor Ei. Hal pertama yang dilakukan Ei adalah cara berjalan. Bukan berarti Ei tidak bisa berjalan dengan benar.
Rangga membuat satu garis lurus sepanjang 5 meter dan meminta Ei berjalan lurus mengikuti arah garis tersebut. Langkah kaki Ei dilarang melenceng dari garis dan ia harus berjalan sambil memanggul tumpukan buku di atas kepala Ei. Kalau gagal, Ei bakal di siram air seember. Gagal lagi, disiram lagi, gagal lagi, disiram lagi dan begitulah seterusnya.
Bisa dibayangkan berapa banyak ember yang disiramkan pada Ei karena untuk berjalan anggun saja ia tidak bisa. Namanya juga cewek bar bar disuruh jadi cewek anggun dalam semalam, ya jelas susah.
Byurrrr!
Untuk kesekian kalinya, Ei disiram Febi dengan air seember. Gadis itu menggigil kedinginan tapi Febi mencoba menyemangatinya agar terus berlatih sampai Ei bisa. Si Febi ini juga tak henti-henti memberikan contoh pada Ei bagaimana tutorial cara berjalan yang baik dan benar ala putri kerajaan zaman now.
“Fe-Feeeb, kok aku … di siram lagi, sih? Grrrr!” ujar Ei, nada suaranya bergetar karena ia kedinginan.
__ADS_1
“Mau gimana lagi? Daritadi kamu salah terus. Masih mending kamu aku siram air, aku dulu kena cambuk kalau nggak bisa jalan dengan benar, Ei.”
“Lah, kan aku bukan bangsawan sepertimu, Feb. Masa peraturan di istanamu kau terapkan padaku juga.”
“Lah, ini juah ngelatih kedisiplinan kamu, Ei. Supaya kau jadi permaisuri raja yang wibawa dan bijaksana.”
Ei buang napas, ia tak menyangka menjadi istri Hesa ternyata menyiksa juga. Ia menatap wajah suaminya yang juga menatap Ei tanpa kedip. Sedetikpun, pangeran ningrat itu tak pernah meninggalkan Ei dan terus menemaninya walau Hesa tak tega juga Ei terus disiram air oleh sepupunya karena salah latihan tarsus menerus. Hesa memberikan semangat 456789 agar Ei tak pantang menyerah saat berlatih.
“Lihat aku Ei.” Febi mulai melatih Ei lagi, “usahakan kaki kanan dan kaki kirimu tetap ada di garis lurus saat kau berjalan. Tubuhmu juga harus tetap tegak gerak. Seimbangkan tubuhmu melalui tumpukan buku-buku ini. Jangan sampai ada yang jatuh ataupun oleng. Kau paham?” tanya Febi setelah sekian kalinya ia memberikan contoh berjalan yang benar pada Ei.
“Pa-pa-ham,” ujar Ei menggigil kedinginan. Sebab seluruh pakaiannya sudah basah kuyup akibat disiram air ber ember-ember.
“Kita coba sekali lagi, kalau kau gagal, kita ulang nanti malam,” ucap Febi dan langsung bikin Ei shock. Disiang hari saja istri Hesa ini sudah menggigil kedinginan apalagi tengah malam. Bisa mati beku si Ei ini.
“Feb, yang bener dong, kau ini mau ngelatih aku apa mau bunuh aku sih? Malam hari kan airnya dingin banget, Feb,” rengek Ei.
“Makanya, kau harus konsentrasi.” Febi terus memacu semangat Ei agar ia terus giat berlatih. “Coba pakai high heels ini!” dengan bangganya Febi mengeluarkan sepatu kaca ber-hak tinggi dan semakin melongolah si Ei.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1