
Rombongan helikopter para sultan telah mendarat disebuah hutan pedalaman yang sepertinya tidak banyak di huni orang. Koga tidak langsung turun ketika helikopternya sudah mendarat bersamaan dengan helikopter-helikopter yang lain. Ia mengintai pergerakan semua orang yang ada di dalam helikopter milik keluar Ei agar ia tak ketahuan kalau sedang menyelipkan 1 anak orang.
“Aku akan turun duluan, begitu semua orang masuk ke dalam hutan, barulah kau turun, jangan sampai terlihat oleh siapapun. Ah … satu lagi, Ei akan diadili di sini, dan diberi kesempatan untuk memilih. Pilihannya sudah pasti, dia akan menaiki 1000 tangga tanpa dibekali apapun. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” tanya Koga sebelum dia turun.
“Aku tahu, terimakasih atas bantuanmu. Aku akan membalas budimu nanti.”
“Tidak perlu, kau cukup buat Ei bahagia, maka akupun bahagia. Semoga berhasil.” Usai bicara seperti itu, Koga turun dan ia bergabung dengan anggota keluarga Ei yang lain.
Kehadiran Koga sangat dibutuhkan di sini, sebab, paman Ei yang merupakan putra bungsu dari kakeknya, akan membiarkan Ei mempertimbangkan kembali keputusannya. Ei didatangkan ke tempat sakral peninggalan keluarga bangsawannya, untuk menjalankan hukuman yang harus dijalani Ei karena telah melarikan diri dan membuat malu citra keluarganya.
Sebenarnya, hukuman Ei bisa dihilangkan asalkan dia bersedia menikah dengan Koga. Pria pilihan keluarga Ei, tapi gadis itu menolak dan memilih menjalankan hukuman yang bisa dipastikan nyawa Ei bisa melayang. Hal itu si oneng lakukan, karena ia memilih untuk setia pada cintanya walau pada akhirnya gadis itu mengira takkan bisa bersama dengan Hesa lagi.
“Ei,” ujar paman Ei yang mengantar keponakannya menuju tangga yang akan menjadi tempat eksekusi bagi kekasih Hesa. “Pikirkan sekali lagi, kau tak perlu lakukan ini. Kau bisa menikah dengan Koga saat ini juga di hadapan makam leluhur kita. Dengan begitu, kau bisa terbebas dari hukuman.” Paman Ei yang begitu menyayangi keponakannya ini mencoba membujuk Ei untuk mengubah keputusannya.
Siapapun yang menaiki 1000 tangga ini sudah isa dipastikan takkan kembali. Sebab itulah tempat ini menjadi tempat sakral yang juga merupakan makam bagi bangsawan-bangsawan yang mendapatkan hukuman di tempat ini. Tak terkecuali ini.
“Aku tidak bisa menikah dengan pria yang kucintai Paman. Aku juga tidak melihat pria yang kucintai tersakiti karena pernikahanku. Baik aku, suamiku dan kekasih hatiku takkan bisa bahagia bila aku mengambil keputusan yang salah. Meski aku mati, aku tidak akan menyesali keputusan yang kuambil saat ini. Koga akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku begitupula dengan pria pilihanku. Aku akan menyaksikan mereka berdua bahagia dari alam sana.” Ei tersenyum manis dan menundukkan kepalanya tanda pamit untuk melangsungkan hukumannya, menaiki tangga tanpa dibekali apapun.
Penyebab tidak ada yang selamat begitu menaiki tangga ini, karena mereka kelelahan, kehausan dan juga hipotermia akut. Jika tidak segera diatasi, maka sudah dipastikan nyawa akan melayang begitu saja. Tak menuntut kemungkinan, hal itulah yang akan menimpa Ei begitu ia menaiki tangga ini.
Semua pihak keluarga Ei hanya diam membisu dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan hampir semua yang ada di sini turut bersedih dan menangis mengantar kepergian Ei yang pastinya, takkan bisa kembali turun lagi. Koga yang berdiri di podium bersama dengan yang lainnya, hanya menatap sekeliling berharap Hesa bisa menyelamatkan kekasihnya.
__ADS_1
Sebab, tak ada yang berani mencegah ataupun menghalangi keputusan Ei menaiki tangga eksekusi kecuali bila mereka ingin dihukum juga. Sebelum pergi, Ei melambaikan tangan kepada semuanya sambil berkaca-kaca tapi bibirnya tetap tersenyum bahagia seolah menunjukkan ia tidak pernah menyesali keputusannya.
Kematian sudah di depan mata, tapi wajah Ei tampak sangat senang tanpa beban. Hal itu karena Ei berpikir, ia mati membawa sejuta cinta yang ia miliki meski tak bisa melihat wajah Hesa untuk yang terakhir kali. Ei hanya bisa mengenang kenangan-kenangan indah yang ia habiskan saat bersama dengan pujaan hatinya. Dan kenangan itu … akan mengiringi langkah kaki Ei menaiki anak tangga demi anak tangga sampai tubuhnya tak kuat lagi berjalan.
Selamat tinggal cinta … selamat tinggal Hesa, cintamu padaku … akan menjadi hadiah terindah dalam hidupku, batin Ei dan ia mulai menaiki anak tangga pertama.
Saat melangkah di anak tangga pertama, mendadak seorang pria tampan muncul dari balik semak-semak dan langsung menggandeng tangan Ei untuk menaiki tangga bersama-sama. Sontak saja, Ei kaget dan tertegun setelah tahu siapa yang menggandeng tangannya begitu pula dengan semua orang yang hadir di sini kecuali Koga. Hanya Koga yang sudah tahu kalau Hesa bakal datang dan pria itupun sedikit lega.
“Ka-kau …” ujar Ei antara percaya dan tidak percaya melihat sang kekasih yang ia lindungi setengah mati, tiba-tiba saja ada di depan mata. “Bagaimana … kau … bisa ada di sini?” tanyanya.
“Aku bisa ada di sini, karena kekuatan cinta kita, Ei. Cintakulah yang membawaku kemari. Ayo …” ajak Hesa menaiki tangga disaksikan oleh seluruh keluarga Ei.
“Apa kau sudah gila? Kenapa kau kemari? Pergi dari sini? Ini bukan permainan Hesa. Kita berdua bisa mati jika kau nekat ikut denganku menaiki tangga ini, tempat ini adalah tempat orang-orang akan mati. Jangan sia-siakan hidupmu yang berharga hanya demi orang sepertiku,” ujar Ei kesal. Sudah dilindungi, eh orang yang dilindungi malah cari mati.
Beberapa orang hendak maju ke tempat Ei dan Hesa berada tapi dilarang oleh pamannya. Si Paman ingin tahu seberapa besar kekuatan cinta Hesa untuk Ei. Kejadian seperti ini, tentulah yang pertama kali terjadi di sepanjang sejarah perjalanan keluarga bangsawan Ei.
“Pikirmu, apa aku akan membiarkan kau mati sendirian tanpaku? Tidak Ei … aku tidak bisa melihatmu mati konyol di sini. Kita akan berjalan bersama, jika kau lelah, aku akan menggendongmu. Fisikku sangat kuat karena aku adalah salah satu stranger anggotanya Refald. Kau tidak akan mati, selama ada aku, aku akan menjaga dan melindungimu. Percayalah padaku Ei. Aku akan membawamu turun kembali dalam keadaan selamat dan sehat walafiat.” Hesa mencium mesra kening Ei tepat dihadapan semua orang.
Ciuman Hesa tentu saja mengagetkan Ei dan gadis itu jadi terharu melihat betapa besar cinta Hesa untuknya. Tatapan mata sang Big Hit begitu meyakinkan sehingga Ei tak tahu harus berkata apalagi. Percuma juga berdebat dengan Hesa karena pria itu jelas takkan pernah mau menuruti perkataannya. Mau tidak mau, Eipun berjalan bersama dengan Hesa menaiki anak tangga satu per satu dengan disaksikan seluruh keluarganya.
“Kau akan mati!” ujar Ei sambil menatap sendu wajah kekasihnya.
__ADS_1
“Aku tahu, aku siap mati demi bersamamu.”
“Kau bodooh! Kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku, tidak oneng sepertiku, tapi kau malah mau mati konyol di sini.”
“Kau benar, aku memang bodoh karena jatuh cinta pada gadis oneng sepertimu. Dan sepertinya, aku tidak bisa jatuh cinta lagi pada siapapun, makanya lebih baik aku ikut mati bersamamu. Tapi itu takkan terjadi. Aku takkan biarkan cinta kita berakhir sampai di sini sebelum kita berdua punya banyak anak. Aku masih perjaka loh, saying kalau aku mati muda sebelum bisa merasakan gimana rasanya Ilalang menusuk Bulan.”
Ei langsung memukul bahu Hesa dengan kencang. “Ih kau ini, apa diotakmu itu hanya ada hal semacam itu, ha? Siapa yang peduli kau itu perjaka atau tidak. Lagian apa pantas kau bicara seperti itu sekarang! Dasar encumm!”
Hesa tertawa dan malah bahagia dipukuli sang kekasih. Baginya, pukulan Ei adalah bentuk rasa sayang. Ia sendiri juga sudah membulatkan tekad untuk menghadapi masalah ini bersama. Hesa menggenggam erat tangan Ei. Ia takkan pernah melepas genggaman tangan itu sampai kapanpun.
“Wuah … tangganya tinggi juga, ya? Bilang padaku kalau kau lelah, aku akan menggendongmu.” Hesa menatap wajah bahagia Ei yang ada disampingnya.
“Ehm, aku akan bilang.”
“Ini mudah Ei … anggap saja kita sedang hiking. Kau tahu deretan pegunungan yang ada di China kan? Tempat ini hampir sama seperti di sana. Bedanya, tidak ada tempat untuk istirahat. Tapi kau jangan khawatir, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Kau dan aku … pasti bisa melalui ini semua.”
Hesa menatap lurus ke depan sambil memikirkan cara agar Ei tak kelelahan, kehausan dan kelaparan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1