
Hari pertama kuliah, Ei lebih banyak menyendiri karena ia perlu beradaptasi. Apalagi lingkungan di sini sangat sangat sangat berbeda dengan lingkungan yang ada di Indonesia. Amerika, dikenal sebagai negara liberal di mana semua manusia yang ada di negara ini bebas melakukan apa saja yang mereka suka.
Dari segi budaya dan social saja sudah jauh berbeda sehingga Ei lumayan merasa kesepian juga. Gadis itu merindukan teman-teman kuliahnya dan hampir melebur impiannya lalu kembali ke Indonesia. Namun, saat melihat betapa megahnya gedung Harvard University dan betapa hebatnya semua orang-orang yang ada di sini membuat Ei mengesampingkan semuanya dan fokus mengejar karirnya meski tak dapat dipungkiri ia sangat merindukan Hesa.
“Apa yang sedang Hesa lakukan sekarang? Kenapa dia masih belum menghubungiku. Apa … terjadi sesuatu?” gumam Ei sambil menatap pemandangan di luar jendela kamar asramanya. Ei sengaja memilih tinggal di asrama mahasiswa yang bernama Harvard Yard.
Baru saja dipikirkan, tiba-tiba saja satu nomer tak dikenal menelepon Ei dan gadis itu langsung mengangkatnya karena penasaran. Siapa tahu itu adalah Hesa. Dan benar saja, suara merdu Hesa langsung menghiasi wajah semringah Ei.
“Kau merindukanku?” tanya seseorang dari seberang sana dan Ei tahu betul suara siapa ini.
“Tidak,” jawab Ei sambil malu-malu kucing. "Aku membencimu."
“Sayang sekali, padahal aku sangat merindukanmu sampai setengah mati.”
“Dasar gombal! Nomer siapa ini? Kenapa pakai nomer baru, aku hampir saja memblokir nomer ini.”Ej mencoba menutupi perasaannya yang sedang berbunga-bunga karena di telepon Hesa.
“Aku pakai nomer teman, ada banyak hal yang terjadi tapi aku tak bisa cerita sekarang. Untuk beberapa hari ke depan mungkin aku tak bisa menghubungimu.”
Mendengar kabar buruk itu, taut wajah Ei langsung berubah cemas. “Ada apa? Apa ada masalah?” tanyanya.
“Ehm, sedikit. Aku tidak bisa cerita padamu sekarang. Kau sudah makan?” tanya Hesa.
“Sudah. Mau vc?” tawar Ei penasaran apa yang terjadi pada kekasih hatinya. Ei juga ingin melihat wajah Hesa.
“Aku mau keluar untuk menyelesaikan masalahku. Begitu selesai, aku akan menghubungimu lagi. Maaf Sayang, aku tak bisa lama-lama. Aku senang bisa mendengar suaramu dan kau tampak baik-baik saja di sana. Bye … aku cinta kamu selamanya. Aku sayang kamu sampai mati. I love you so much. Muah muah …” Hesa langsung menutup panggilannya sebelum Ei buka suara.
“Dasar bayi marmot burung perkutut, apa-apaan dia itu? Main tutup panggilan gitu aja. Menyebalkan sekali. Dasar kekanak-kanakan,” gumam Ei keki sendiri, tapi ia tersenyum juga. “Asataga … kenapa aku jadi cinta dia, fokus Ei. Lupakan Hesa sebentar dan konsentrasi belajar.” Ei meyakinkan dirinya agar tidak terus memikirkan kekasihnya yang entah sedang dalam masalah apa.
__ADS_1
Semua ini sangat baru bagi Ei. Lingkungan baru, kehidupan baru, dan Ei memulai semuanya lagi dari awal setelah sempat berbohong pada semua orang perihal status palsunya dengan Hesa walau sekarang hubungan keduanya sudah menjadi nyata.
***
Keesokan paginya, Ei berangkat ke kampus seperti biasa, berkat semangat dari kekasihnya yang menghubunginya semalam, Ei jadi lebih ceria dalam melewati hari-hari di kampus Harvard ini.
Gadis itu mulai menyapa teman-teman sekelasnya dan berbaur dengan semuanya. Dalam waktu sekejap, Ei dan teman-teman sekelasnya langsung akrab. Mereka bahkan banyak ngobrol dan berdiskusi tentang mata kuliah yang mereka ikuti.
“Mau ke kantin bersama?” tanya Jesica, salah satu teman Ei yang sudah akrab dengannya.
“Boleh,” ujar Ei senang. Mereka berdua berjalan beriringan dan beberapa anak laki-laki tiba-tiba saja datang menghampiri Ei dan Jesica.
“Halo …. kau Ei kan? Mahasiswi baru dari Indo. Salam kenal, aku Clark.” Salah satu pria bule tampan mengulurkan tangannya pada Ei.
Jessica langsung manyun karena Clark adalah salah satu idola kampus di sini. Bukannya menyapanya, malah menyapa Ei.
Yang diajak kenalan siapa, yang dikenalin siapa. Jessica lumayan terkejut juga tapi ia sangat senang melihat aksi anehnya si Ei ini. Kapan lagi bisa menjabat tangan sang idola kampus secara langsung kalau bukan karena si aneh Ei.
“Kenapa kau tidak mau menjabat tanganku? Jangan mentang-mentang kau cantik, kau berlagak sombong di sini?” tukas Clark karena tak terima dan merasa tak dihargai oleh Ei.
Ei mencium gelagat tidak menyenangkan di sini. dengan kasar Clark menepis tangan Jessica dan membuat gadis itu jadi malu. Ei maju ke depan teman barunya dan menatap tajam mata sang idola kampus itu.
“Temanku sudah mewakiliku, dia yang lebih berhak dan pantas berjabat tangan denganmu daripada aku. Kau benar, aku berasal dari Indonesia di mana budaya timur di sana lebih tahu bagaimana cara bersopan santun dibandingkan di sini. Di sini negara bebas, tidak ada aturan tertulis yang melarang kau harus berjabatan dengan siapa. Termasuk pada temanku yang baik ini.”
Clark langsung buang muka sambil tertawa. Baru kali ini ada wanita nyang menolak berjabat tangan dengannya dan malah menyerahkan tangan temannya untuk menggantikan dirinya berjabat tangan.
Tindakan Ei langsung membuat Clark kesal karena selain sebagai idola kampus, dia juga playboy. Sudah banyak wanita di kampus ini yang jadi korban perasaanya dan rata-rata dari mereka hamil di luar nikah. Berhubung ini adalah negara bebas, hal itu sangat wajar terjadi dan tidak jadi masalah. Apalagi kalau mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.
__ADS_1
“Tetap saja aku ingin tahu, kenapa bukan kau yang menjabat tanganku? Semua wanita di sini tergila-gila padaku. Apa karena kau sok cantik, lalu jual mahal?”
“Aku tak bisa berjabat tangan dengan sembarang pria di negeri ini. Aku sudah punya kekasih. Jadi … jangan coba-coba dekati aku lagi. Senang bertemu denganmu, permisi.” Ei tak ingin buang-buang waktu berhadapan dengan model pria hidung belang yang suka tanam sana tanam sini pada semua wanita.
Lebih baik dia pergi dan fokus saja pada kuliahnya. Ia tak mau cari masalah di sini dan ingin segera kembali ke Indonesia begitu semua mata kuliahnya terselesaikan sks nya.
Sejujurnya, Ei tidak betah di sini. Selain tak cocok dengan kebiasaan semua warganya, ia tak suka system liberal yang dijalankan di negara ini di mana tindak kriminalitas sangatlah tinggi. Yah meskipun menurut warga di sini, system tersebut adalah yang terbaik bagi mereka dibandingkan system pemerintahan lainnya.
“Wuah, kau hebat Ei. Kau satu-satunya wanita yang menolak mentah-mentah pendekatan yang dilakukan sang idola kampus. Amazing!” seru Jesica yang berhasil mengejar Ei. Keduanya saat ini sedang duduk berhadapan di salah satu meja kantin.
“Tapi kau mengidolakan orang seperti Clark, apakah di kampus ini tak ada laki-laki yang lebih baik darinya? Setidaknya, bukan pemangsa wanita.” Ei mulai mengutarakan pendapatnya.
“Selera orang beda-beda. Dimatamu dia berandal yang suka mempermainkan wanita di mana-mana. Ayolah … ini Amerika, Free sekss ada di mana-mana dan mereka melakukannya dengan siapa saja. Tak masalah bagiku dia orang seperti apa, yang jelas aku cinta dia.”
Ei menghela napas panjang. Ribet kalau bicara soal cinta yang memang nggak ada logika pasti untuk mendeskripsikannya. Apalagi ini Amerika, semua orang bebas melakukan apapun yang mereka suka tanpa ada yang melarang.
“Ya sudah, terserah kau saja.” Ei menatap buah yang ia ambil dari kantin lalu memakannya. Ei dan Jessica tidak tahu kalau dari luar jendela kantin ada yang sedang mengawasi mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Jesica setelah melihat menoleh ke arah luar jendela.
"Sepertinya, ada yang mengawasi kita."
"Kau ini ada-ada saja, untuk apa kita diawasi, toh kita bukan kriminal. Nggak usah takut.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1