Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 25 Permintaan Febi


__ADS_3

Melihat Ei terus memalingkan wajah darinya, Hesa jadi semakin keranjingan menggoda istri palsunya ini. Kapan lagi bisa mengerjai Ei karena sudah banyak membuat Hesa kerepotan. Pria tampan itu mendekat ke arah wanita yang sudah behasil mengisi ruang dihatinya. Kebetulan Ei tak bisa bergerak karena kakinya saikit.


“Kenapa kau tidak mau melihatku? Wanita lain diluar sana berlomba-lomba agar bisa melihatku seperti ini? Apa … kau takut jatuh cinta padaku? Atau … jangan-jangan …” Hesa sengaja menciptakan suasana tegang dan kini ia ada di balik telinga Ei sehingga gadis itu jadi risih sendiri.


“Dengar, ya tuan narsis!” bentak Ei kesal karena ia tahu ke mana arah pembicaraan Hesa.


Gadis itu langsung memutar kepalanya dan langsung terkejut. Hampir saja Ei berciuman lagi dengan Hesa tapi untungnya, ia bisa mengerem tepat waktu sehingga wajah keduanya tak jadi bersentuhan.


“Jangan berpikiran yang bukan-bukan. Aku hanya menjaga mataku agar tak ternodai olehmu. Dan satu hal lagi, aku sama sekali tidak nafsuu padamu! Bisakah kau pergi dan pakai bajumu saja? Daripada kau di sini dan membuat mataku jadi sakit,” cetus Ei kasar dan ia memberanikan diri menatap tajam mata Hesa yang berada tepat di depan wajahnya.


Hesa tersenyum dan semakin tergoda menggoda Ei. Sebab ia yakin, lain di mulut, lain pula di hati. “Kau pandai sekali menyembunyikan perasaanmu, Ei. Padahal, kau mulai menyukaiku,” ujar Hesa.


“Siapa bilang aku menyukaimu. Kau bukan tipeku. Aku ada di sini juga gara-gara kau! Jangan macam-macam denganku. Jika tidak ….”


“Jika tidak apa? Di ruangan ini cuma ada kita berdua. Semua orang di istana ini juga tahunya kita sudah menikah. Kalaupun aku macam-macam denganmu, mereka tidak akan mengganggu kita.” Hesa semakin mendekat dan terus mendekat sampai jantung Ei serasa berhenti berdetak. Sang pangeran tampan itu menatap lembut bibir Ei sehingga gadis itu jadi bergidik ngeri.


“Apa yang kau lihat! Pergi sana!” Ei mendorong tubuh Hesa menjauh darinya, tapi tetap saja sia-sia. Yang ada, Hesa malah semakin dekat dengan Ei yang tak bisa bergerak ke mana-mana.


Hesa terus memajukan wajahnya dan ia hendak mencium manis bibir istrinya. Namun sayang, aksi Hesa gagal karena tiba-tiba saja pintu kamarnya didobrak keras. Seorang wanita cantik berambut panjang masuk dan langsung berteriak kencang.


“Kalian berdua! Apa yang kalian lakukan?” teriak wanita yang baru saja masuk itu.


“Sial, mengganggu saja!” geram Hesa mengurungkan niatnya mencium Ei yang sudah menutup mata rapat-rapat sambil komat kamit berdoa dan ternyata doanya langsung dikabulkan.


“Kenapa kau tidak ketuk pintu dulu, ha? Apa kau lupa sopan santun di keluarga kita!” seru Hesa berdiri dan balik badan menatap wanita cantik yang baru saja masuk ke kamar Hesa tanpa izin.

__ADS_1


“Kau yang gila! Untuk apa kau memanggilku kemari! Kalau kau saki, pergi kerumah sakit saja sana! Kau pikir aku tidak sibuk apa?” bentak wanita cantik itu pada Hesa.


“Febi!” seru Ei dari balik punggung Hesa. Ia sangat senang karena Febi datang tepat waktu untuk menyelamatkannya.


Tentu saja wanita aristokrat bernama Febi itu langsung terkejut melihat Ei terbaring tak berdaya di atas ranjang sepupunya. Dan langsung berlari menghampiri Ei. Wajah si oneng Ei langsung ceria karena sang penyelamatnya datang.


“Astaga Ei, kau kah ini? Bagaimana kau bisa ada di sini? Apa yang terjadi padamu?” tanya Febi memeriksa kondisi Ei yang tampak amat shock. “Apa yang kau lakukan padanya? Kau apakan temanku?” tanya Febi pada Hesa.


“Baru juga mau kucium, tapi tidak jadi karena kau menggagalkannya,” jawab Hesa blak-blakan dan ia menuju ruang lemari pakaiannya untuk memakai pakaian.


“Apa!” Jelas Febi shock dan jadi salah paham pada apa yang ia lihat antara Ei dan Hesa.


Hesa yang bertelanjang dada di depan Ei dan hendak mencium gadis ini. Dan Ei yang tampak lemah seolah habis diajak bercocok tanam. Mata Febi langsung terbelalak antara percaya dan tak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang.


“A-apa … kalian berdua … habis … gitu ....”


Bagaimana Ei menjelaskan situasi yang ia alami pada Febi. Ei sungguh merasa terdzolimi sekali di kamar ini dan Hesa sangat pandai memanfaatkan situasi.


“Kenapa wajahmu shock begitu, Feb?” tanya Hesa setelah ia keluar dari ruang gantinya. “Kau tidak tanya kenapa temanmu ada di sini?” Hesa mengancingkan lengan kemejanya dan berjalan mendekat ke arah Ei lalu duduk manis disampingnya tanpa dosa.


“Kenapa?” tanya Febi sampai lupa. Ia terlalu shock melihat Ei ada di kamar seorang pangeran ningrat dimana gadis biasa seperti Ei tak mungkin diperbolehkan masuk ke dalam kamar ini dengan mudah kecuali jika Ei sudah menikah dengan Hesa.


“Aku rasa kau sudah sadar, dia istriku. Kami baru menikah kemarin, dan baru saja tiba hari ini.”


“Apa?” mata Febi melotot dan langsung menatap wajah Hesa. "Kok bisa? Bukannya kalian masih kuliah?" pekiknya.

__ADS_1


"Bisalah," jawab Hesa cepat. "Aku tidak mau kecolongan. Sebelum dijodohkan, aku harus menikahi wanita yang kucintai terlebih dulu."


Wuah, pintar sekali aktingnya, batin Ei.


Ei sudah hampir menangis tapi ia tak mampu mengatakan kalau Hesa tengah berbohong. Gadis itu berharap Febi bisa membantunya keluar dari masalah ini agar ia tak perlu berhadapan langsung dengan kedua orangtua Hesa ataupun mengikuti sayembara. Ei benar-benar tidak bisa tinggal di istana ini.


Diuar dugaan, Febi langsung meraih kedua tangan Hesa dan duduk di samping Ei dengan tubuh menghadap sepupunya. “Benarkah kau sudah menikahinya? Serius? Kok kamu nggak bilang sama aku? Apa Rangga dan yang lainnya tahu semua ini? Kapan kau dekat dengan Ei? Kok aku nggak pernah tahu? Dan kau Ei? Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan sepupuku? Apa dia yang menembakmu duluan? Pasti dia kan? Karena sudah bertahun-tahun lamanya si kunyuk ini terus menanyakan tentangmu padaku. Ternyata … kau …” Febi terus nyerocos tak karuan sambil menatap Hesa dan Ei bergantian sampai Ei menganga menatapnya.


Hilang sudah benteng terakhir Ei, ia pikir Febi ada dipihaknya, tapi ternyata Ei salah besar. Febi malah mendukung Hesa. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Hesa sudah lama mengorek informasi tentangnya. Pantas saja si asdos itu tahu banyak soal Ei berserta kelemahan-kelemahannya.


“Kau sedang sibuk dengan Rangga, kita bahkan jarang bertemu. Akan kuberitahu semuanaya padamu. Tapi sembuhkan kaki istriku dulu. Kasihan dia keseleo dan tidak bisa jalan. Tidak mungkin aku terus menggendongnya ke mana-mana. Orang akan mengira dia anakku, bukannya istriku,” ujar Hesa setengah bercanda.


Ei sungguh tak bisa berkata apa-apa. Febi ada dipihak Hesa, percuma juga dia bicara, toh ternyata selama ini Hesa merencanakan semua ini sudah bertahun-tahun lamanya.


Febi lumayan terkejut melihat kaki Ei yang sudah mulai membengkak. Hesa menjelaskan sedikit kejadian yang menimpa Ei selama ia ada di gunung Pangrango di mana gunung itu, juga merupakan salah satu tempat bersejarah dalam hidup Febi.


“Jadi kau dan Hesa sempat ke lembah kematian?” tanya Febi dengan sikap anggunnya saat mengobati kaki Ei untuk mengurangi rasa sakit dan bengkaknya.


“Iya, tempat itu … adalah tempat Rangga, Ray dan Bimbim, berkompetisi melawan Langen dan Fani, tanpamu.”


“Kau masih ingat, padahal, waktu itu aku ingin ikut, aku juga ingin mengalahkan Rangga. Tapi Iwan dan Theo melarangku ikut karena tempat itu sangat berbahaya, apalagi aku punya fisik yang lemah. Ranggalah yang memilih lokasi eksekusi itu untuk kekasih teman-temannya. Sayang aku tidak bisa ikut.” Febi tampak sangat antusias menceritakan kenangan masa lalunya.


“Tapi aku senang karena akhirnya kalian ber-6 hidup bahagia.”


“Dan aku terkejut Ei, Hesa … memakai cara Rangga dan kawan-kawannya untuk mendapatkanmu. Sungguh, aku tidak pernah menyangka itu. Aku tahu kau terpaksa menuruti keinginan sepupuku yang sinting itu. Aku tahu tak seharusnya aku bicara seperti ini padamu sementara aku memahami seperti apa karaktermu yang sangat menyukai kebebasan. Tapi … tolonglah bantu Hesa, Ei. Dia membutuhkanmu. Tempat ini adalah neraka baginya dan hanya kaulah yang bisa mengubah neraka di rumah ini menjadi sebuah surga. Jadilah pemenang sayembara istri Hesa. Jangan biarkan siapapun menang kecuali kau sendiri. Aku mohon.” Febi menatap nanar wajah shock Ei.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2