Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 77


__ADS_3

Ei menelepon nomer Hesa agar pria itu mau datang kemari menemuinya mumpung tidak ada orang. “Kau di mana? Kenapa ramai sekali?” tanya Ei saat menghubungi kekasihnya.


“Aku ada di lapangan, kau di mana?” Hesa balik bertanya dari seberang yang amat sangat ramai karena dipenuhi lautan manusia.


“Aku ada di taman. Aku mengubah lokasi pernyataan cintaku padamu karena di sana sedang ada acara penting.”


“Oh iya? Acara penting apa? Kemarilah, aku sudah mulai kepanasan,” pinta Hesa. Terdengar suara teriakan histeris yang memekikkan telinga siapa saja yang mendengar.


“Apa kau tidak lihat di sekelilingmu? Suasana di sana sangat ramai. Ke sini, saja, lebih sepi, jadi kau bisa dengar suaraku.”


“Ya sudah, aku ke sana. Tunggu aku, kau sudah siapkan bunga?” tanyanya masih sempat-sempatnya.


“Haruskah?” tanya Ei., ia tak pernah tahu bagaimana cara menyatakan cinta, jadi ia tak tahu apa-apa.


“Ya haruslah, aku akan ke sana sekarang! Cepat cari bunga yang bagus untuk kau berikan padaku!”


Ei menutup panggilannya sambil menggerutu. “Ada-ada saja, masa bilang cinta aja harus pakai bunga. Tapi ya sudahlah, yang penting di sini nggak ada orang. Sepertinya aku harus berterima kasih pada si gangster itu karena berkat dia, lapangan ini jadi sepi.” Ei sangat senang sekali.


Gadis itu menatap sekeliling sambil tersenyum karena suasana di sini lumayan sunyi tak berpenghuni. Dengan begitu, ia tak perlu merasa malu lagi. Ei memetik sembarang bunga yang bermekaran di sekitarnya dan tinggal menunggu kedatangan Hesa. Jantungnya sudah berdegup dengan sangat kencang. Tiba-tiba saja ia jadi gugup sendiri.


“Tenang Ei, kau hanya tinggal bilang I love you, aku cinta kamu, Aishiteru, Wo Ai Ni, Saranghaeyo, Ich lie be dich, Je t’aime. Udah beres,” gumam Ei mulai latihan.

__ADS_1


Baru kali ini ada orang menyatakan cinta tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ei menatap sekeliling, dengan hati cemas dan was-was. Matanya langsung tertuju pada sosok kepala yang muncul di ujung jalan. Ei langsung mengenali sosok yang terlihat kepalanya itu. Tidak salah lagi, sosok yang ditunggu-tunggu Ei telah tiba. Kedatangan Hesa menandakan kalau bumi itu memang bulat karena meski berada di dataran sama, pertama kali yang terlihat oleh Ei adalah kepala kekasihnya dulu lalu bahunya, di susul tubuhnya dan yang terkahir adalah kaki Hesa.


Lama-kelamaan seluruh anggota tubuh Hesa mulai tampak terlihat dan ternyata ia tak datang sendirian. Awalnya Hesa memang terlihat seorang diri, tapi ternyata ada sosok lain di samping kanan dan kirinya. Lambat laun, muncul orang-orang di belakang Hesa dan jumlah mereka semakin lama, semakin bertambah.


Tak tanggung-tanggung, orang-orang yang berjalan di belakang Hesa bukan hanya berjumlah puluhan atau ratusan, tapi ribuan hingga puluhan ribu dan mereka datang dari segala penjuru arah. Mereka semua sepertinya sengaja mengepung taman ini.


Mulut Ei menganga lebar tatkala melihat banyak lautan manusia yang ikut memenuhi taman dan terus berjalan bersama dengan Hesa di belakangnya. Ke manapun Hesa melangkah, mereka semua ikut juga. Bukan hanya kaum hawa yang mengikuti langkah kaki kekasih Ei itu, para kaum adam juga ikut berjalan bersama-sama dengan Hesa.


Dalam sekejap, taman yang tadinya sepi, kini penuh dengan orang. Yang lebih mengejutkan lagi, penampilan Hesa, sangat jauh berbeda saat ia ada di Indonesia. Biasanya, Hesa tampak sangat charming dan selalu rapi karena ia adalah seorang asdos.


Tapi di sini, style Hesa berubah. Ia memakai celana kain berwarna hitam dan memakai kaos putih yang ia masukkan ke dalam celana dan dipadukan dengan hem warna tosca lengan pendek yang sengaja tak dikancingkan. Hesa juga memakai ikat kepala bercorak dominan warna merah dan sedang sibuk mengemut permen lolipop. Karena cuaca sangat panas, ia memakai kacamata hitam.


“Ada apa ini? Kenapa semua orang malah mengikuti Hesa Kamari?” gumam Ei. Pikirannya sudah kacau kemana-mana melihat banyaknya lautan manusia mulai memenuhi taman disekitarnya.


Saking shocknya, bunga segar yang baru saja dipetik Ei terjatuh di bawah kakinya. Hesa yang sudah berdiri di depan Ei, menunduk dan memungut bunga itu lalu diberikan kembali pada Ei yang tertegun menatapnya berserta semua orang yang ada di belakang Hesa.


“Mulutmu, bisa masuk angina kalau kau terus menganga begitu Darling,” ujar Hesa sambil membantu Ei mengatupkan bibirnya. “Kau sudah siap katakana cinta padaku? Bunga ini untukku, kan?” tanyanya lembut sambil tersenyum manis pada Ei, tak lupa Hesa membantu menyibak rambut Ei yang menutupi wajah cantik kekasihnya.


Suara gemuruh langsung memenuhi area ketika Hesa berlagak sok mesra dihadapan mereka semua. Ini yang mau nyatakan cinta Hesa apa si Ei sih.


“A-ada apa ini … kenapa … ada banyak orang di sini? bukannya mereka harusnya menyambut si ketua gangster yang datang menyapa mereka? Kenapa malah mengikutimu kemari?” tanya Ei terbata-bata.

__ADS_1


Hesa tak langsung menjawab, dia tersenyum sambil menunduk menahan tawa. Rupanya, Ei benar-benar belum tahu siapa Hesa.


Bukan kebetulan orang-orang yang ada di sini berhenti berjalan ketika Hesa berdiri di depan Ei. Mereka memang sengaja mengikuti Hesa kemari karena Hesa … bukan sembarang Hesa. Kekasih Ei ini adalah ketua gangster yang tadi sempat Jesica bicarakan dengan Ei. Berhubung, Ei ini oneng, ia tidak menyadari kalau saat ia menelepon Hesa di lapangan tadi, semua orang sedang mengerubungi Hesa dimana dia adalah idola di kampus ini yang sudah dinanti-nanti kehadirannya.


Hesa sengaja menebar rumor kedatangannya ke kampus untuk menjadi saksi mata dari janji yang Ei ucapkan untuk menyatakan cinta padanya. Kapan lagi Ei mau bilang cinta dan mengakui Hesa sebagai miliknya tepat dihadapan banyak lautan manusia seperti sekarang ini. Tentulah Hesa takkan melewatkan kesempatan emas ini. Iapun memanfaatkan popularitasnya sebagai idola kampus demi menunjukkan pada dunia kalau Hesa, sudah ada yang punya.


“Mereka datang kemari karena mereka mengikuti idola mereka Ei. Si ketua gangster yang sempat hilang selama 2 tahun. Kini dia ada di sini.


"Di ... di mana?" tanya Ei masih belum ngeh juga. Ia bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari si ketua gangster.


Hesa gemas sekali dengan pacar onengnya ini. Pemuda tampan itu memegang kedua pipi Ei supaya wajah Ei mau menatapnya.


"Di sini, di depanmu, akulah idola mereka. Dan mereka kemari, untuk menyaksikan bahwa aku ... hanya menjadi milikmu.”


Mulut Ei langsung menganga lebar lagi setelah mendengar ucapan mengejutkan Hesa dan sepertinya akan sangat sulit untuk dikatupkan. Gadis itu sangat shock sekali sampai serasa ingin pingsan, tapi ia tak tahu harus pingsan di mana. Ei merasa dirinya benar-benar bodoh sekali sampai tidak sadar kalau kekasih hatinya, pemuda yang menjadi pujaannya, ternyata adalah seorang ketua gangster yang paling ditakuti di sini.


"Tidak mungkin, pacarku ... ketua gangster?" gumam Ei lalu ia pun pingsan dalam dekapan Hesa.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2