Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 90


__ADS_3

Hesa dan Ei sampai di tempat pemakaman Juwita. Sangat mudah bagi seorang Hesa untuk mencari tahu di mana almarhum teman baru Ei itu dimakamkan. Namun, sesampainya di lokasi pemakaman, Ei tidak langsung turun dari mobil Hesa. Gadis itu malah fokus menatap satu per satu foto yang pernah diberikan Juwita sebelum dia tiada.


“Kau yakin kau akan melakukannya? Kau bisa mengurungkan niatmu jika kau tak kuasa melakukannya. Kau berhak untuk menolak amanah yang diberikan mendiang Juwita karena masalahnya bukan urusanmu.” Hesa menggenggam erat tangan Ei.


“Sudah sampai sini, mana mungkin bisa balik lagi. Kau benar, masalah Juwita memang bukan masalahku. Tapi … yang membuatku tak bisa menolak amanahnya, kami berasal dari negara yang sama. Mana mungkin aku mengabaikan saudara senegara sendiri dalam keadaan seperti ini. Kalau aku jadi Juwita, apa yang akan kau lakukan padaku?” tanya Ei meminta pendapat kekasihnya.


“Kau takkan pernah bisa jadi Juwita ataupun mengalami nasib sama sepertinya, karena aku hanya mencintaimu seorang. Bagiku, kaulah satu-satunya wanita terbaik di dunia ini. Yang lain aku tidak peduli.”


“Hadeuh, percuma bicara denganmu! Disaat begini kau masih bisa bicara gombal begitu.”


“Siapa yang menggombal? Aku tidak bilang kalau aku rela mati untukmu dan rela melakukan apa saja asalkan kau bahagia bersamaku. Akan kugapai bintang dan bulan demi bisa menyenangkanmu. Akan kuseberangi lautan dan kujelajahi hutan untuk mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kan aku tidak bilang begitu Ei Ei.”


Ei melongo tapi ia langsung sadar kalau pacarnya itu agak agak konslet. “Terserah kau sajalah, suka-suka kau saja!”


Bukannya senang, Ei malah dongkol akut dengan rayuan gombal Hesa. Dimintain pendapat, malah kata cinta dan rayuan maut yang keluar.


Dasar sok sweet! Batin Ei melirik sekilas kekasihnya lalu ia membuka pintu mobil dan keluar menuju tempat Juwita dimakamkan.


Dengan berpakaian serba hitam, rambut dikucir kuda dan memakai kacamata hitam. Ei berjalan pelan memasuki ruang pemakaman di mana seluruh orang-orang terdekat Juwita datang untuk berbelasungkawa tak terkecuali suami Juwita sendiri dan orang yang sempat sang mendiang bahas dengan Ei beberapa waktu lalu.


Melalui foto yang tadi sempat dilihat Ei. Dari kejauhan gadis itu langsung tahu siapakah target pertamanya. Kebetulan orang itu, berdiri di paling belakang sehingga memudahkan Ei untuk beraksi.

__ADS_1


Tanpa permisi, Ei memegang bahu seorang wanita dan memaksa wanita tersebut untuk balik badan menghadapnya. Wanita itupun kaget dan yang lebih mengagetkan lagi adalah, dengan berani Ei langsung menampar pipi kiri wanita tersebut menggunakan seluruh tenaga yang Ei punya.


Plak!


Wanita yang tak diketahui namanya itupun jatuh terjerembab ke tanah. Darah segar langsung mengalir di sudut bibirnya saking kerasnya tamparan Ei.


“Apa yang kau lakukan?” bentak seorang pria itu marah besar sampai mendorong tubuh Ei ke belakang.


Semua orang yang ada di ruang pemakaman itupun langsung menatap benci Ei. Namun, bukannya takut, Ei malah menampar wajah si pria jauh lebih keras dari sebelumnya. Pria itupun ikut terjatuh di samping si wanita dan semakin heranlah semua orang yang ada di sini.


“Hei Nona! Ada apa ini! Kenapa kau bikin onar di pemakaman menantu keluarga ini! Apa salah mereka sampai kau menampar wajah menantuku dan teman putriku?” bentak seorang wanita paruh baya yang mungkin sudah tak tahan dengan sikap kurang ajarnya Ei karena tak menghormati upacara pemakanan Juwita.


Dengan wajah datar tanpa kenal takut, Ei memelototi si wanita dan si pria yang baru saja dia gampar secara bergantian.


“Apa!” seru semua orang kaget mendengar apa yang baru saja Ei katakan.


“Kau ini bicara apa? Jangan main tuduh sembarangan! Siapa yang kau sebut selingkuhan!” teriak si pria tapi si wanita langsung gugup karena rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama ini sudah ketahuan.


“Aku bukan asal bicara tanpa bukti, semua bukti perselingkuhan kalian! Ada di sini!” tandas Ei penuh emosi.


Ei membuka amplop coklat yang berisi ratusan foto-foto perselingkuhan pria yang ternyata adalah suami Juwita dengan si wanita yang juga sahabat dekat sang almarhum. Gadis itu menaburkan semua foto-foto itu di langit-langit sehingga semua orang yang ada di sini bisa menyaksikan semuanya.

__ADS_1


Foto-foto tersebut berjatuhan dan semua orang menyaksikan gambar-gambar mengejutkan. Tak sedikit orang yang memungut untuk memastikan bahwa semua foto itu nyata dan bukan editan.


Mata semuanya melotot seolah mau melompat keluar dan langsung menatap marah pada si pria yang ternyata telah berkhianat tanpa sepengetahuan keluarga. Beberapa dari mereka langsung emosi dan memukuli si pria dan si wanita dengan membabi buta saking kesalnya.


Melihat dua pelaku selingkuh itu dikeroyok dan dipukuli massal, Ei tersenyum puas dan sekilas menatap lurus foto wajah cantik Juwita yang sedang tersenyum di atas peti matinya.


“Sudah kulakukan amanahmu. Kini semua orang tahu seperti apa penderitaanmu meskipun menurutku … ini tidaklah cukup. Aku ingin membunuh mereka, tapi … jika kubunuh mereka sekarang, kau pasti bakal jauh lebih menderita di alam sana. Sekarang, kau bisa tenang karena perselingkuhan suamimu … sudah terbongkar.” Ei bicara lirih pada foto Juwita.


Gadis itu melewati si pria dan si wanita yang habis babak belur karena di pukul banyak orang. Itu masih belum seberapa bila dibandingkan dengan dosa yang sudah mereka buat. Namun, tugas Ei hanya selesai sampai di sini karena ia tak mau ikut campur lebih dalam lagi.


Dengan kerennya, Ei pun berjalan keluar setelah meletakkan bunga pemberian Hesa di atas peti mati jasad Juwita. Namun, saat di luar pemakaman, tepatnya di halaman depan. Suami Juwita berteriak kencang menghentikan langkah kaki Ei.


“Hei kau gadis bodoh! Tunggu!” teriaknya dengan muka babak belur dan kondisi pakaian yang amat berantakan.


Sambil tertatih-tatih, si pria yang entah namanya siapa itu berjalan menghampiri Ei yang berdiri menatapnya dengan tenang. Ekspresi Ei sama sekali tak menunjukkan ketakutan sama sekali. Sebaliknya, ia terkesan menantang sip ria yang kedok perselingkuhannya telah ia bongkar atas permintaan almarhum istri pria itu sendiri.


“Kau sudah menghancurkan semua rencana yang sudah kususun matang-matang. Kau sudah menghancurkan hidupku! Kau puas sekarang!” teriaknya dengan lantang dan penuh dengan emosi tingkat tinggi.


Dan Ei sendiri tetap tenang dalam sikap diamnya, gadis itu maju selangkah dan menatap tajam wajah si pria yang diselimuti amarah. “Belum, aku belum puas. Yang kau dapat ini … tak sebanding dengan apa yang pernah kau lakukan pada istrimu. Semoga kau berumur panjang sehingga penderitaan yang kau alami setelah ini berlangsung lama sampai kau mati nanti.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2