
Kali ini, Ei tidak menolak ketika Hesa memberikan ciuman manis padanya. Mungkin karena Ei merasa kalau dirinya mulai tertarik pada pria yang sudah memberikan banyak kejutan untuknya.
Wanita mana yang tidak kelepek-kelepek diperlakukan semanis itu. Apalagi, Ei baru ingat, ia pernah memanfaatkan kepopuleran Hesa sebagai alibi menolak preman kampus yang menyatakan cinta padanya sewaktu masih jadi MaBa dulu. Pantas saja, waktu itu ia tidak tahu siapa dan seperti apa Mahesa yang merupakan salah satu mahasiswa paling populer dikampusnya.
“Kenapa kau memanfaatkan namaku? Dan bukannya nama Leo, atau pria-pria lainnya yang ada di kampus?” tanya Hesa setelah ia selesai mencium Ei.
“Tidak tahu,k waktu itu aku hanya kepikiran nama ketua kelompok kami yang katanya paling tampan dan banyak digilai banyak cowok. Kalau Leo kan gangster, bisa mati aku kalau ngaku-ngaku jadi ceweknya dia. Cuma itu aja sih yang kupikirkan kala itu. Untungnya kau juga tak pernah muncul selama kegiatan OSPEK. Jadi aku aman.”
Waktu itu, pilihan Ei memang ada dua, kalau nggak pakai nama Leo, ya Mahesa, 2 nama itu tidak pernah Ei tahu seperti apa wajahnya dan Ei asal sebut nama Mahesa saja. Dan berhasil, sang preman kampus mundur alon-alon dan Ei melupakan kejadian waktu itu. Tak disangka, Mahesa yang ia manfaatkan membalas dendam dengan cara sama dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta meski Ei masih belum mau mengakuinya.
“Ya sudah, tidurlah dilenganku.” Hesa meletakkan kepala Ei dibahunya sambil tersenyum manis. Ajaibnya, si oneng Ei menurut seperti terhipnotis oleh pesona Hesa.
Walau kata cinta belum terucap dari bibir Ei, dari mata istrinya sudah tampak jelas, kalau Ei sudah mulai membuka hatinya untuk Hesa. Terbukti kalau Ei tidak marah meledak-ledak seperti biasanya ketika Hesa nyosor kayak soang. Begitu pula saat Hesa meminta Ei merebahkan kepala di lengannya. Ei jadi jinak-jinak merpati sekarang.
Malam itu, Hesa dan Ei sama-sama tidur lelap. Ei sengaja membelakangi Hesa agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dan Hesa sendiri memang tidak Berniat jahat. Ia tahu batasannya dan setia menunggu sampai hari yang ia nantikan tiba, yaitu menghalalkan Ei untuknya.
Jam 03.00 pagi waktu setempat, Ei bangun terlebih dulu dan keluar untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Bi Tarmi ternyata juga bangun lebih awal dan menyiapkan bekal untuk Hesa dan Ei.
“Bibi bangunnya pagi sekali? Aku bisa menyiapkan bekal kami sendiri. Bibi istirahat saja,” ujar Ei yang baru selesai mandi.
“Tidak apa-apa, selagi kau di sini, Bibi senang menyiapkan makanan untukmu. Bangunkan suamimu dan kalian harus makan sesuatu sebelum berangkat.”
Mendengar kata ‘suami’ Ei jadi tersipu malu, teringat akan ciuman hangat Hesa yang bikin ia mabuk kepayang dan langsung bikin Ei lumayan tidak bisa tidur. Baru juga Ei mau membangunkan Hesa, tiba-tiba saja Hesa sudah ada dibelakang istrinya dan langsung mengejutkan Ei.
__ADS_1
“Astaga! Kapan kau muncul di sini? Bikin jantungan saja!” Ei memegangi dadanya karena kaget melihat Hesa yang tanpa suara mendadak ada di didekatnya.
Hesa menggenggam tangan itu sehingga jantung Ei berdetak semakin cepat. Di pagi-pagi buta begini, Ei malah diajak senam jantung.
“Aku sudah di sini sejak tadi Ei, kau saja yang tidak sadar. Kenapa tidak bangunkan aku kalau kau sudah bangun?” Hesa menatap Ei dengan penuh cinta seolah mereka baru menjadi pengantin baru saja.
“Ini juga aku mau bangunin kamu. Sejak tadi ponselmu berdering terus dan itu dari Kanjeng Ibu. Apa kau tidak bilang kalau kita bermalam di sini?”
“Sudah, barusan aku bilang, dan kita … akan terus bermalam di sini selama ujian berlangsung.” Hesa tersenyum melihat mata Ei berbinar-binar senang mendengar kabar gembira darinya.
“Benarkah? Seminggu? Kau serius?” Ei tertawa sekaligus terkejut. Tanpa sadar ia menggenggam kedua tangan Hesa sambil jingkrak-jingkrak saking senangnya.
“Serius, kalau kau tidak percaya, kau bisa telepon sendiri Kanjeng Ibu.”
Bi Tarmi mengingatkan agar keduanya segera makan, meski ini terlalu pagi, tetap saja sebelum berangkat, perut harus di isi. Apalagi Ei dan Hesa sama-sama sedang ujian. Otak akan jadi fresh bila kondisi perut kenyang.
Sebenarnya Ei masih berat meninggalkan anak-anak panti ini karena ia masih sangat merindukan mereka. Namun, mengingat nanti sepulang ujian masih bisa bertemu lagi, Ei jadi bersemangat dan ia sangat berterimakasih pada suami palsu yang bengek ini atas banyaknya kejutan yang diberikan Hesa untuknya.
“Terimakasih,” ujar Ei saat keduanya ada di dalam mobil Hesa dan mereka berdua sengaja berangkat dipagi-pagi buta agar tidak terlambat mengingat jarak rumah Ei lumayan jauh dari kampusnya.
“Sama-sama. Tapi aku tidak mau hanya sekedar ucapan terimakasih saja.” Hesa mulai berulah.
“Kau ingin apa?” tanya Ei, ia sudah tidak kaget kalau pangeran ningrat ini pasti menginginkan sesuatu yang lebih. Namun karena Hesa sudah sangat baik padanya dan semua orang terdekatnya, Ei tak keberatan menyanggupi apapun permintaan Hesa.
__ADS_1
“Berikan hatimu padaku, seutuhnya … tanpa sisa. Dan hatimu hanya untukku, tidak boleh dibagi dengan yang lain.”
“Lah, hatiku kan cuma satu, kalau hatiku kau minta, aku bisa mati dong?” ujar Ei merasa aneh dengan permintaan suami palsunya ini.
“Bukan hati empedu Ei Ei Mio Caro, tapi hati yang berhubungan dengan ketulusan cinta.” Hesa geleng-geleng kepala. Ia lupa kalai istrinya ini oneng juga.
“Tunggu, Ei Ei Mio Caro itu siapa lagi? Namaku kan Ei, bukan Ei Ei Mio Caro.”
“Ei Ei itu kalau dalam bahasa China artinya ‘Hai’ Mio Caro dalam bahasa Italia adalah ‘Sayangku’ kalau digabung, Ei Ei Mio Caro, adalah Hai Sayangku. Paham!”
Ei manggut-manggut, tapi tiba-tiba saja Hesa menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dan tidak ada orang sama sekali.
“Kenapa berhenti? Kau lelah? Baru juga 15 menit lalu kita berkendara. Masa kau sudah lelah?” tanya Ei bingung.
Kedua tangan Hesa masih mengepal kuat di atas kendali setir. “Ei Sayang … aku tanya sekali lagi padamu, bisakah kau memberikan hatimu hanya untukku? Bukan hati organ dalam tubuhmu. Tapi hatimu, cintamu,l kasih sayangmu, bisakah kau berikan hanya untukku. Jika kau memberikannya, akan kupastikan, kau bakal bahagia bersamaku.” Mata Hesa menatap manik mat Ei dengan segenap hati dan jiwanya.
Awalnya Ei terkejut, tapi ia tak bisa terus-terusnya menyangkal, atau menyembunyikan perasaannya. Sejak Hesa hadir dalam hidup Ei, gadis itu sudah merasakan sesuatu yang aneh dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin inilah saatnya Ei mengakui perasaannya walau ada sedikit keraguan dihatinya. Namun, tidak ada salahnya bila dicoba.
Tanpa bicara, Ei melepas sabuk pengamannya dan langsung mencium mesra bibir Hesa sebagai jawaban atas pertanyaan dari pangeran Ningrat ini. Hesa kaget, tapi ia segera paham. Pria tampan itu membalas ciuman Ei dan keduanya saling berpelukan mesra di tengah dinginnya pagi dan di tempat yang teramat sunyi.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1