Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 30 Masakan yang Bikin Pingsan


__ADS_3

Meski Ei mendapat lampu hijau dari ibu mertuanya, tapi tidak dengan ayah mertua Ei yang sejak awal sangat tidak suka dengannya. Baru saja Ei berjanji melaksanakan titah dari mertuanya, kini Ei langsung diuji kesabarannya. Ayah Hesa sengaja meminta Ei membatu memasak di dapur. Tentu saja, titah sang ayah mertua langsung ditentang oleh putra dan istrinya.


“Ayah … saat ini, kondisi Ei sedang tidak sehat. Tolong biarkan dia beristirahat sampai dia sembuh.” Hesa membela istrinya. Ia tahu kalau ayahnya pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk Ei.


“Aku hanya menyuruhnya memasak, bukan membunuh orang. Kenapa kau yang heboh?” cetus Savatinov. Iapun beralih pada menantunya. “Kau sendiri yang bilang kalau kau akan melakukan apapun yang kukatakan, Ei. Kau tidak keberatan bila harus memasak sekarang, kan?”


“Baik, Ayahanda. Akan saya laksanakan. Kira-kira … Anda ingin makan apa, Ayahanda?” tanya Ei gugup karena takut salah tindak.


“Apa saja, apapun yang ada di dapur, masak saja.”


“Baik, Ayahanda.” Ei menurut tapi Hesa malah menentangnya.


“Ini tidak ada dalam peraturan sayembara Ayah. Jangan mempersulit Ei,” ujarnya.


“Siapa yang mempersulit? Aku memintanya memasak sebagai menantu, bukan sebagai peserta. Apa salahnya jika aku ingin memakan masakan yang dibuat tangan menantuku.”


Ucapan ayah Hesa masuk akal juga. Tidak ada yang tahu kalau sang pemilik istana ini sudah menyiapkan jebakan khusus untuk Ei agar menantunya tidak betah tinggal di istana ini lalu memutuskan pergi. Sungguh trik yang licik untuk sekelas bangsawan seperti ayah Hesa ini.


Eipun menyanggupi apapun yang diucapkan ayah mertuanya tanpa curiga. Gadis itu langsung menuju ke dapur dan anehnya, ia tak mendapati apapun di meja dapur istana.


“Kau yakin akan melakukan semua ini? Sepertinya, ayahku sedang menjebakmu,” bisik Hesa saat keduanya ada di dapur.


“Aku tahu, ayahmu sedang mengujiku. Tapi kau jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya. Pergilah, jangan ganggu aku atau ayahmu akan semakin mempersulitku.” Ei tampak tenang-tenang saja sambil memerhatikan seluruh hal yang ada di dapur istana mertuanya. Dapurnya lumayan amat sangat luas.

__ADS_1


“Bagaimana dengan kakimu. Kau mana bisa memasak dalam keadaan seperti ini?” Hesa sungguh mencemaskan Ei, tapi yang istrinya bilang ini benar. Semakin Hesa terjun dan ikut campur, maka ayahnya akan semakin membuat Ei sengsara di rumah ini.


“Sudah tidak apa-apa, obat yang diberikan Febi bekerja dengan sangat baik. Pergilah dan jangan ganggu aku.” Ei mendorong tubuh Hesa keluar ruang dapur di mana seluruh staf yang bekerja di bagian dapur sedang menunggu berjejer di luar ruangan.


“Kalian juga tidak boleh masuk oleh Ayah?” tanya Hesa dan semua koki di depannya mengangguk lesu.


Ayah Hesa tiba-tiba saja datang dan memerintahkan semua orang meninggalkan dapur istana di detik ini juga. Siapapun, di larang mendekati dapur kecuali Ei seorang. Tentu saja perintah ayah Hesa ini sangat mencurigakan. Terlihat jelas, kalau Savatinov sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk Ei.


“Ayah! Apa Ayah tidak keterlaluan? Bagaimana bisa Ei memasak untuk kita semua padahal dia sendiri sedang dalam keadaan kurang sehat begitu?”


“Dia jadi begitu kan salahmu, bukan salahku. Dan aku tidak mau tahu. Pergi dari sini atau aku akan menghukum istrimu lebih berat dari ini. Cepat pergi!” bentak ayah Hesa.


Mau tidak mau, Hesa terpaksa pergi dan hanya bisa percaya sepenuhnya pada istri barbarnya itu. Hesa paham Ei bukanlah tipe wanita lemah yang mudah terintimidasi. Ini adalah ujian pertama untuk Ei dan Hesa yakin, istrinya itu bisa melaluinya dengan baik.


***


Di pintu belakang dapur, Ei menemukan kebun yang lumayan luas dan banyak ditanami tumbuhan serta buah-buahan. Dari sini, Ei akhirnya paham. Keluarga Hesa bukannya tidak menyediakan bahan pangan untuk di masak. Melainkan mereka memetik sendiri dari hasil kebun yang mereka tanam.


Ada begitu banyak sayuran yang ditanam dan juga sudah siap penen. Cabai dan tomat, rempah-rempah dan bahan bumbu dapur lainnya, semua ada di sini. Kandang ayam, bebek dan kolam ikanpun juga banyak. Tinggal pilih mau menu apa.


Ei bingung sebenarnya, mau masak ayam, ia tak tahu bagaimana cara menyembelih binatang yang benar karena Ei takut salah kaprah. Alhasil, gadis itu memutuskan untuk memasak ikan saja. Namun, bukan ikan yang Ei dapat dari kolam ikan. Melainkan sesuatu yang amat sangat mengejutkan.


“Wuah … ini baru mantap. Aku yakin pasti semua orang suka ini,” gumam Ei senang dan ia langsung menuju dapur untuk menunjukkan keahliannya memasak. “ternyata, ada untungnya jadi anak pecinta alam. Dalam keadaan apapun bisa melakukan apa saja.” Ei tersenyum senang.

__ADS_1


Akhirnya, tibalah acara makan siang bersama. Ayah Hesa sangat terkejut saat melihat E bak-baik saja dan sehat walafiat.


“Kau baik-baik saja?” tanya ayah Hesa Heran.


“Iya, Ayahanda, saya baik-baik saja. apakah harusnya saya terluka?” pertanyaan yang memojokkan dari si oneng Ei.


“Tidak juga, melihat seperti apa dirimu aja aku tahu kalau kau bisa mengatasi semua masalah dengan mudah. Ya sudahlah, aku salut kau bisa memasak hidangan sebanyak ini.” Savatinov mulai santai dan bersiap menyantap makanan masakan Ei.


Di meja makan, hanya ada ayah dan ibu Hesa, Hesa sendiri dan juga Ei. Beberapa nampan yang ditutup panci tertata rapi di meja makan. Bau aroma masakan yang lezat membuat lidah jadi tergoda untuk segera menyantapnya.


Ei sendiri mengambil nampan terbesar dan meletakkannya di depan sang mertua. Tentu saja ayah Hesa senang dan tidak sabar ingin makan masakan calon menantunya. Namun begitu nampan besar itu dibuka, mata ayah Hesa langsung melotot seolah ingin melompat keluar.


Tak hanya ayah Hesa, semua orang yang ada di ruangan ini langsung kaget setelah tahu apa isi dalam nampan itu.


“A-apa-apaan ini?” serunya tapi jantungnya tidak kuat. Savatinov benar-benar kaget sekagetnya. “apa kau sengaja melakukan ini?” bentaknya marah.


“Ini belut Ayah, ada ular juga sih … tapi masih aku kukus di dapur. Kalau ayah mau, akan kuambilkan sekarang. Ular itu hampir saja menggigitku. Untung aku sigap dan bisa mengajaknya untuk di masak di hutan, ular bisa digunakan untuk survive Ayah. Katanya sih dagingnya enak. Aku sih tidak suka makan daging,” terang Ei panjang lebar dengan polosnya tanpa peduli pada semua tatapan mata yang mantap heran padanya.


“Kenapa kalian semua menatapku seperti itu? Bukankah aku disuruh memasak apa saja? inilah yang kumasak, enak kok. Aku tadi sudah mencicipinya dan aman.” Ei tersenyum kuda dan Hesa malah tersenyum salut pada Ei.


Sedangkan ayah Hesa jangan ditanya. Matanya geli melihat belut yang ada dihadapannya dan langsung pingsan seketika.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2