
Bagaimana Hesa tidak terkejut, ia tak pernah menduga kalau pasukan khusus ayahnya sudah ada di depan mata dan berdiri tegap seolah memang menunggu Hesa dan Ei sejak tadi. Sang pangeran ningrat langsung menurunkan Ei dari punggungnya yang juga memandang bingung orang-orang berpakaian serba hitam itu.
“Siapa mereka? Apa … kau mengenal mereka?” bisik Ei dari balik punggung Hesa.
Dilihat dai penampilan mereka saja, Ei bisa menebak kalau mereka bukanlah pendaki. Sikap dan poisi mereka lebih mirip tentara. Mereka semua juga memakai peralatan lengkap ala seorang bodyguard istana negara. Dan yang paling membingungkan, bagaimana bisa mereka sampai di atas bukit setinggi ini dengan memakai setelan jas hitam lengkap.
Apa mereka naik pesawat? Tapi kok aku nggak dengar ada suara mesin pesawat lewat? Batin Ei mencoba tenang dan waspada melihat sekelompok orang yang entah dari mana datangnya.
“Ei.” Hesa berbisik pelan. “Ada cincin di kantong celanaku, tadinya mau kuberikan padamu saat kita ada di puncak, tapi sepertinya, kita kalah cepat dengan mereka. Pakailah cincin itu jika kau ingin hidup lama,” ujar Hesa lirih. Matanya terus menatap lurus orang-orang kepercayaan ayahnya yang tak bergeming ditempatnya.
Tentu saja Ei bingung, tapi jika melihat ekspresi Hesa yang tampak tegang dan serius. Ei yakin kalau suasana di sini sedang genting. Mengingat siapa Hesa dan latar belakangnya, gadis bar bar itu cari aman dan langsung merogoh saku celana Hesa.
Benar saja, ada cincin di saku celana asdos itu. Ei lumayan terkejut karena tidak menyangka, Hesa ternyata romantis juga. Bisa-bisanya ia mau memberikan cincin di atas gunung meski hal itu gagal terlaksana. Tak heran, bila semua wanita di bawah sana tergila-gila padanya sekalipun cowok didepannya ini mengaku tidak pernah tertarik pada mereka semua.
Hesa melirik Ei yang langsung menggunakan cincin di jari manisnya lalu kembali menatap semua pengawal ayahnya satu per satu. “Kalian bisa menungguku di bawah, kenapa harus repot-repot kemari? Apa kalian pikir aku akan bunuh diri dengan wanita yang kucintai? Kami hanya bulan madu karena aku dan Ei, sudah menikah!” seru Hesa dengan lantang dan pastinya sukses mengejutkan Ei.
“Heh, codot, kapan kita menikah?” geram Ei.
“Hari ini, anggap saja begitu. Sudahlah, kau diam saja dan nurut saja sama aku, okeh.” Hesa mengedipkan satu matanya untuk menggoda Ei yang terlalu shock.
Hesa memegang tangan Ei yang memakai cincin darinya sebagai bukti bahwa ucapannya tidak salah. Padahal aslinya ia berbohong pada para pengawal ayahnya untuk menyelamatkan Ei. Sebab, Hesa tahu kalau mereka ingin menangkap Ei dan membawanya ke istana ayahnya untuk diinterogasi.
Begitu semua pengawal Hesa melihat cincin yang tersemat dijari manis Ei, mereka semua langsung berlutut di hadapan Hesa dan Ei sambil menunduk sebagai rasa hormat. Ternyata, cincin pemberian Hesa bukanlah sembarang cincin.
Cincin permata itu adalah cincin turun temurun yang diwariskan leluhur Hesa untuk diberikan pada calon pendamping hidup Hesa sekaligus symbol kebangsawanan yang tersemat dalam gelar Hesa dan keluarganya. Siapapun yang memakai cincin tersebut harus dihormati. Tak heran jika pengawal ayah Hesa yang tahu seluk beluk cincin tersebut langsung memberikan hormat pada sang pemilik cincin baru.
__ADS_1
“Sendiko dawuh, Putri!” seru para pengawal berpakaian serba hitam dengan lantang secara bersamaan layaknya orang yang sedang paduan suara. Mereka semua menunduk sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan khidmad.
Mata Ei sudah hampir melotot keluar melihat apa yang ia saksikan sekarang. Seumur-umur Ei hidup, baru kali ini ada orang berlutut dan memberi hormat padanya dan ia tidak tahu harus berbuat apa bila ada orang yang memberinya hormat seperti itu. Untungnya, ia pernah melihat beberapa film kolosal saat masih tinggal di kosan dan Ei sedikit memendekkan diri sebagai balasan rasa hormat pasukan pengawal ayah Hesa alias calon mertuanya.
Hesa tersenyum karena akhirnya Ei mengerti adat dan aturan di istananya, meski tidak semuanya. Setidaknya, ini adalah awal permulaan yang baik untuk Ei.
Setelah mendapat balasan salam dari Ei alis putri baru mereka, para pengawal ayah Hesa kembali berdiri.
Dasar codot kunyuk! Bisa-bisanya dia ngibul? Main ngaku-ngaku nikah segala. Ternyata ada untungnya melihat drama kolosal kesukaan kakak kelas. Kalau nggak, semua orang ini pasti bakal menggantungku hidup-hidup. Lagian kau juga begok sih Ei. Ngapain juga kau mau memakai cincin dari kunyuk itu! Makin runyam, kan jadinya, jerit Ei dalam hati menyesali keputusannya menuruti ucapan Hesa. Ia ingin melepas kembali cincinnya tapi Hesa melarangnya dan semakin menggenggam erat tangan Ei seolah enggan ia lepaskan lagi.
“Pakai terus cincin itu jika kau ingin selamat dan sehat walafiat. Itu cincin pemberian almarhum nenekku,” bisik Hesa mesra.
Ei terdiam, ia juga masih belum bisa bergerak karena kakinya terkilir dan masih sakit. Jika tak segera dirawat, pasti kakinya bakal bengkak.
“Kebetulan kalian ada di sini, ambilkan tas-tas kami di bawah sana. Dan siapkan dokter istana, aku ingin Febi sendiri yang merawat Ei. Karena dia sedang terluka. Di mana helikopternya?” tanya Hesa sambil menggendong Ei. Kali ini gadis yang diaku istri oleh Hesa tidak digendong di belakang, melainkan digendong di depan.
“Ada di balik bukit itu Pengeran, mari ikut kami.” Salah satu pengawal ayah Hesa berjalan lebih dulu diikuti yang lainnya. Mereka semua mengawal kepergian Hesa.
Dua pengawal mendekat ke arah Hesa dan hendak menggantikannya menggendong Ei tapi Hesa langsung menolak. “Biarkan dia bersamaku. Dia tidak terlalu berat,” ujar Hesa dan kedua pengawal itupun mengerti. Mereka berjalan mundur di belakang Hesa dan membiarkan pengeran mereka berjalan lebih dulu.
“Kita mau ke mana?” bisik Ei, firasatnya mulai tidak enak. Entah mengapa gadis itu merasa sedang digelandang karena ketahuan berduaan di dalam hutan.
“Maafkan aku, Ei. Sepertinya … kau sudah tidak bisa bebas lagi mulai dari sekarang. Kau dan aku … akan dikurung di istana. Tapi kau jangan khawatir, selama kau memakai cincin itu, orang-orang istana tidak akan pernah berani macam-macam denganmu,” terang Hesa.
“Hah?” mata Ei memelototi Hesa.
__ADS_1
“Ah … satu lagi, sepertinya … kita akan tinggal bersama, karena sekarang, kau adalah istriku.”
“Tunggu tunggu!” sela Ei cepat setengah bergidik agar pengawal ayah Hesa tidak dengar. “Kapan aku menikah denganmu? Kau jangan mengada-ngada. Aku tidak bisa tinggal denganmu! Kau tahu itu!”
“Mau bagaimana lagi? Apa kau punya pilihan lain sekarang? Tetap menjadi istriku, atau mati. Cuma itu pilihannya. Dan jika kau mati, bagaimana dengan para anak-anak panti asuhanmu, siapa yang akan membantu mereka menjalani hidup yang fana ini?”
Tubuh Ei langsung lemas. Ia benar-benar terjebak dalam lingkaran cinta Hesa yang sangat rumit bin njelimet. Sudah bisa dibayangkan bakal seperti apa kehidupan Ei di rumah Hesa nantinya. Gadis bisa dari kalangan rakyat jelata mendadak jadi seorang putri Cinderella, jelas bukanlah hal yang mudah.
“Kau tidak akan prnah bisa membohongi keluargamu. Aku yakin, mereka tidak bodoh sepertiku yang mudah dikibuli olehmu. Lihat saja, begitu kita sampai ke sana, mereka pasti akan langsung tahu kalau kita hanya bersandiwara. Dan aku bakal dihukum karena bersekongkol denganmu.”
“Kita tidak akan ketahuan, karena aku sudah menyiapkan semuanya. Surat keterangan bahwa kita sudah menikah juga pasti sudah siap sekarang. Kita tinggal ambil saja di rumah kepala desa. Kau ingat orang yang ku ajak bicara di warung sebelum kita bertanding bukan? Dialah yang mengurus pernikahan kita meski belum terdaftar secara negara. Tapi setidaknya sah di mata penduduk desa dan agama.” Hesa terkekeh dan semakin shocklah Ei menatap betapa senangnya Hesa saat ini.
“Tapi kapan kita menikahnya … astaga, ijab kabul saja tidak pernah. Kau jangan gila.”
“Namanya juga sandiwara, ya beginilah skenarionya. Tapi kau jangan cemas Ei. Kedua orangtuaku akan mengatur pernikahan secara resmi bila kau memenangkan pemilihan calon istri pangeran. Saat itulah, aku bakal benar-benar akan menikahimu.”
“Kau sinting!” ujar Ei tanpa sadar.
“Terimakasih, tapi aku tidak biasa dipuji seperti itu.”
“Siapa yang memujimu dasar bayi marmut!” Ei langsung esmosi tapi ia mencoba tenang karena para pengawal ayah Hesa sedang memerhatikan mereka berdua.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1