Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 40 Cerita Hesa


__ADS_3

Wajah Ei cemberut akut ketika ia harus satu kamar dengan Hesa. Secara hukum, mereka berdua bukanlah pasangan suami istri yang sah. Dan pernikahan mereka, hanyalah pernikahan palsu yang bertujuan untuk mengelabuhi keluarga Hesa agar si pangeran ningrat itu berhenti dijodohkan keluarganya walau pada akhirnya, sayembara pemilihan calon pendamping Hesa tetap saja digelar.


Kendati demikian, Hesa tetap tidak menginginkan wanita lain selain Ei. Seorang gadis barbar yang sangat berbeda dengan wanita lain seusianya. Sebenarnya, Hesa sudah lama mengenal Ei. Namun, ia baru mau melancarkan aksinya ketika dirinya dipertemukan kembali dengan Ei yang ternyata adalah adik kelasnya di kampus. Tak ingin membuang kesempatan, Hesa langsung mengikat Ei sebagai istri palsunya dengan cara yang tak biasa pula.


“Kau tidur di bawah,” ujar Ei saat Hesa masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Ei memang tidak punya pilihan lain lagi karena Bi Tarmi mengira dirinya benar-benar sudah menikah dengan Hesa. Tidak mungkin pula Ei memberitahu wanita yang sudah seperti ibunya sendiri ini tentang fakta sebenarnya hubungan dirinya dengan sang pengeran. Sebab, hal itu sama saja dengan menyulitkan mereka semua.


Gadis itu terus berpikir untuk memecahkan masalah ini, ia tak bisa mundur lagi karena sudah kepalang basah. Lagipula, Ei juga berjanji pada Hesa untuk menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.


“Oke, aku akan tidur di bawah,” jawab Hesa dengan senyum mencurigakan.


Ei lega, Hesa menurut dan patuh serta tidak protes seperti biasanya, tapi ternyata dugaannya salah. Hesa malah berbaring di samping Ei sambil berkata, “Naiklah, aku siap di bawah.” Hesa terlentang sambil tidur berbantalkan kedua tangan yang ia letakkan di belakang kepalanya.


Ei menggigit bibir bawahnya menahan geram melihat tingkah bengek si pangeran ningrat ini. “Kau tahu artinya di bawah nggak sih?” tanya Ei. Ia harus mengatur tensi darahnya agar tidak naik kalau sudah berurusan dengan Hesa.


“Tahu, aku dibawahmu dan kau diatasku, hehe.” Hesa malah terkekeh dan merentangkan kedua tangannya siap menyambut Ei yang akan tidur diatas tubuhnya.


“Nggak gitu juga konsepnya dasar bayi marmooot! Apakah semua pangeran keturunan bangsawan sepertimu itu begitu? Tukang mesum?” tanya Ei. Rasa kagum yang sempat ia rasakan pada Hesa atas perbuatan baiknya membantu merenovasi rumahnya ini jadi sirna.

__ADS_1


Hesa ganti posisi dan menopang kepalanya dengan satu tangan menatap wajah Ei yang duduk disampingnya dengan wajah penuh emosi. “Ehm … sepertinya sih begitu, Refald mesum, Leo juga. Mereka semua keturunan bangsawan dan pada mesum kalau sama pasangan mereka masing-masing.”


Ei menahan sabar, percuma juga bicara sama Hesa karena malah bikin dia kehilangan empedunya. “Ya sudah, kalau kau tidak mau di bawah. Biar aku saja! yang waras itu ngalah!” sindir Ei dan yang di sindir malah senyam senyum saja. Gadis itu bangun berdiri sambil mengambil satu bantal dan satu selimut lalu tidur di lantai yang beralaskan karpet tebal.


Karena ini daerah pegunungan, cuaca di sini lumayan dingin sehingga Ei sedikit menggigil saat ia membaringkan tubuhnya di atas karpet. Mau bagaimana lagi, Ei tidak bisa tidur seranjang dengan pria yang bukan suaminya apalagi Hesa itu mesum juga. Kalau bukan dia yang menjaga diri dan kehormatan Ei sendiri, siapa lagi.


Tanpa di nyana-nyana, Hesa ikut turun dan langsung mengangkat tubuh Ei ke atas ranjang tanpa permisi.


“Apa yang kau lakukan?” bentak Ei kasar.


“Tubuhmu sudah menggigil kedinginan. Kau tidak boleh sakit. Karena ujian masih kurang seminggu lebih. Tidurlah di sini.” Hesa membantu Ei menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Ya nggaklah, aku juga tidak mau sakit karena harus tetap melindungimu sampai pengumuman calon istri sahku resmi diumumkan keluargaku.”


“Hah!” Ei hendak bangun dari tidurnya tapi leher Ei ditekan kuat oleh Hesa sehingga gadis itu tidak bisa bangun lagi. “Apa yang kau lakukan?”


Hesa yang tampak santai menopang kepalanya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menekan leher istrinya agar tidak bangun. Tidak benar-benar menekan sih, lebih tepatnya memeluk Ei agar gadis itu mau tidur.


“Tenanglah Ei, aku tidak akan menyentuhmu. Aku tahu batasanku. Aku juga diajarkan bagaiman cara menghormati wanita sebelum diantara kita belum ada janur kuning melengkung. Sampai saat itu tiba, aku akan menjagamu. Menjaga kehormatanmu yang hanya kan kau serahkan untukku. Tapi tidak sekarang.” Mata Hesa menatap manik mat Ei yang jadi salah tingkah.

__ADS_1


Ei sudah tidak melawan dan malah berganti posisi membelakangi Hesa. Hal itu Ei lakukan karena dia malu, wajahnya sudah jadi merah merona. Dilihat dari siap Hesa dan latar belakangnya, ia memang bukan tipe pria yang suka melecehkan wanita. Bahkan Ei baru sadar, setiap kali ada wanita yang mendekatinya, pangeran ningrat itu selalu jaga jarak dan mengindari kontak fisik. Hanya dengan Eilah, Hesa berani menyentuh, memeluk dan bahkan menciumnya.


“Kau mungkin terkejut kenapa aku bisa mengenal Bibi Tarmi dan semua anak-anak yang ada di sini.” Hesa mulai mengubah topik pembicaraan karena ia tahu Ei sekarang sangat malu habis didepannya.


Kerena penasaran, Ei melupakan rasa malunya dan langsung putar badan menatap Hesa yang langsung menatapnya.


“Kenapa?”


“Mungkin kau lupa, di saat kau jadi mahasiswa baru di kampus. Ada pria yang menyatakan cinta padamu. Pria itu … kebetulan adalah preman kampus. Untuk menolaknya, kau menggunakan namaku yang kala itu sebagai tentormu tapi aku tidak pernah bisa hadir sebab di keluargaku sedang ada acara yang tak bisa ditinggal.”


Ei terkejut, ia mengingat-ingat kejadian ospek dulu. Di mana ia adalah salah satu anggota yang diprakarsai oleh seorang tentor tapi tidak pernah hadir dan memimpin langsung anggotanya. Malah posisinya diganti dengan tentor wanita yang galaknya minta ampun.


“Kau bilang pada preman kampus itu, kalau kau adalah pacarku. Mendengar namaku, preman itupun mundur karena dia tahu siapa aku. Kabar itu kudengar dari teman-temanku dan aku bermaksud mencarimu untuk buat perhitungan denganmu. Saat itu, aku menemukan alamat rumahmu. Di sini, bersama dengan anak-anak yang kau asuh. Aku datang sambil membawa berkas tuntutan atas pencemaran nama baik.


“Di kampus sudah heboh gossip tentang kekasihku yang bahkan aku tidak tahu siapa kau berani mengaku-ngaku sebagai pacarku. Namun, niatku menuntutmu ku urungkan setelah aku melihat fotomu. Aku mengenalmu, Ei, sejak kau masih SMA. Ditambah lagi Bi Tarmi bercerita, bahwa ke-10 anak di rumah ini … adalah anak asuhmu yang kau temukan di jalanan. Sejak saat itulah … aku jatuh cinta padamu. Dan kuputuskan untuk membalasmu dengan cara sama seperti yang kau lakukan padaku.”


Ei shock tapi Hesa langsung memberikan hadiah ciuman manis untuk menutup mulut Ei yang melongo.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2