Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 47 Derita Cinta Tiada Tara


__ADS_3

Yang dikatakan Angel benar, Ei tak boleh menunjukkan siapakah Ei sebenarnya meski di dalam hati gadis itu, ingin sekali ia menolong Prety. Mata Ei tertuju pada suaminya yang terus berjalan dengan santainya mendekat ke arah Sulis dan Prety berada. Teman-teman Sulis lainnya sudah melarikan diri karena takut kena amukan Hesa yang bila marah sudah mirip orang kesurupan.


Preman-preman sangar aja, dibuat lari tunggang langgang oleh Hesa apalagi mereka yang hanya insan biasa yang tak punya kekuatan apa-apa. Daripada hidup tak bisa lama, lebih baik kabur, selagi kesempatan masih ada. Itulah pemikiran teman-teman Sulis yang lebih memilih berkhianat ketimbang tidak selamat.


Wuah … kenapa Hesa semakin cool saja kalau jalannya begitu. Astagah sadarlah Ei, ini bukan saatnya kau mengagumi suamimu, batin Ei sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


Tiba-tiba saja, Hesa menjadi tipe cowok idamannya. Padahal sebelumnya Ei yakin kalau pangeran charming itu bukanlah tipenya karena gadis itu tak suka cowok kalem. Siapa sangka, dibalik kalemnya Hesa, tersimpan jiwa gangster juga.


Hati memang tak bisa berbohong. Perhatian Hesa saat membelai lembut pipinya yang lebam membuat jantung Ei semakin berdebar kencang. Apalagi saat Hesa dengan amarahnya yang membara, menghajar habis preman tadi. Ei sama sekali tidak menyangka, bahwa si kalem yang tampak mellow dan kutu buku itu, ternyata jagoan juga.


“Lepaskan dia!” ujar Hesa pada Sulis dengan tenang meski kedua tangannya mengepal kuat. “Sekalipun kau membunuhnya. Hatiku tidak akan berubah. Aku tidak bisa mencintai wanita lain lagi karena dalam hatiku hanya ada si Oneng yang disebutkan Prety padamu.”


“Siapa si Oneng itu? Cepat beritahu aku! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka dia juga tidak akan bisa mendapatkanmu!” seru Sulis dengan lantang. Pengakuannya juga membuat Ei tertegun melihatnya.


“Aku sudah cinta padamu sejak pertama kali masuk ke dalam kampus ini Hes,” lanjut Sulis tanpa sadar telah mengakui perasaannya pada Hesa. “Kau cinta pertamaku. Kau selalu baik padaku disaat semua laki-laki menjauhiku. Aku kira kau menyukaiku karena kau selalu menolak wanita yang dekat denganmu. Tapi kenapa … kenapa kau malah jadian dengan wanita lain yang kau sembunyikan identitasnya? Kenapa? Kenapa bukan aku saja yang kau jadikan kekasih? Sekalipun itu hanya pura-pura agar kau terhindar dari wanita yang mengincarmu.”

__ADS_1


Sulis menangis, tubuhnya merosot ke tanah karena tak kuasa menahan luka akibat cinta tak berbalas. Kesempatan itu, Prety gunakan untuk melarikan diri ke tempat Ei dan Angel berada. Kedua wanita itu langsung memeluk Prety dengan suka cita karena Prety telah lolos dari marabahaya yang mengancamnya. Kini, tinggal bagaimana cara mengatasi kekalutan hati Sulis sehingga ia bertindak gila dan nekat seperti ini.


Melihat betapa mirisnya Sulis sekarang ini, Ei jadi trenyuh. Patah hati, memang amat sangat menyakitkan. Tidak ada yang bisa menyalahkan orang yang sedang tersiksa akibat cinta. Seperti kata Cu Pat Kai. Derita cinta, memang tiada tara. Ei jadi merasa, kalau dirinya sedang jadi orang ke-3 diantara Hesa dan Sulis.


Gadis itu tidak tahu siapa Sulis dan sedekat apa Hesa dengannya. Tapi satu hal yang pasti, cinta Sulis untuk Hesa, pasti sangat besar. Bahkan lebih besar dari yang dirasakan Ei pada Hesa saat ini.


Apa jawabanmu, Hesa? tanya Ei dalam hati sambil terus menatap suaminya.


Ei sungguh angat ingin tahu seperti apa perasaan Hesa dan bagaimana ia mengatasi maslah cinta yang menginginkan balasan darinya. Sebab, yang mencintai Hesa pasti bukan hanya Sulis saja. ada Sulis Sulis lainnya baik di dalam ataupun di luar kampus ini.


“Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk menjadikannya milikku tanpa melukai hatinya. Dengan popularitasku yang sekarang, sulit baginya menjalani kehidupan normal jika kunyatakan cinta secara terbuka padanya, aku khawatir semua wanita di kampus ini akan menghakiminya. Itulah kenapa, akan lebih baik kalau tidak ada yang tahu siapa dia. Aku tak melarangmu mencintaiku, tapi … aku tak bisa membalas cintamu karena seluruh cintaku hanya untuk Mio Caro-ku.”


Hesa berjalan mendekat ke arah Sulis yang masih terpaku menatapnya. Sedikit banyak Hesa memahami seperti apa perasaan Sulis saat ini. Namun, prioritas utama Hesa bukanlah Sulis ataupun yang lainnya. Melainkan keselamatan dan kenyamanan Ei seorang.


“Siapapun yang mencoba melukainya, aku … adalah orang pertama yang berdiri paling depan untuk melindunginya. Jangan harap kau bisa menemukannya sampai waktunya tiba kuperkenalkan pada dunia tentang siapa dia dan status hubungan kami berdua. Sampai saat itu … jangan harap kau bisa menyentuhnya sekalipun kau sudah tahu siapa si Oneng Mio Caro-ku. Jangan lakukan tindakan bodoh ini lagi, karena yang rugi … adalah kau sendiri.”

__ADS_1


Usai bicara seperti itu, Hesa langsung balik badan dan pergi meninggalkan Sulis yang semakin menangis sesenggukan. Dari kejauhan, ada beberapa dosen yang berlari ke arah Sulis dan langsung menginterogasinya. Iapun dibawa pergi dosen-dosen itu entah ke mana.


Sedangkan Hesa, memberikan kode pada triple trouble maker alias triple nggak nggenah itu untuk pergi mengikutinya ke tempat sepi dan tidak diketahui banyak orang. Kebetulan, di dekat kampus itu, ada sebuah danau yang tampak sepi. Hesa duduk di kursi tepi danau sambil membawa sekantong keresek dan menikmati pemandangan danau.


“Mio Caro itu siapa, pak asdos? Kau selingkuh dari teman kami ya?” cerocos Angel saat ia tiba di depan Hesa bersama Ei dan Prety.


“Kau tidak tahu siapa Mio Caro?” Hesa balik bertanya, tapi matanya menatap wajah merah meronanya Ei.


Ya jelas saja lah si Angel dan Prety tidak tahu. Mi Caro adalah nama panggilan sayang Hesa untuk Ei dalam bahasa Italia. Dan yang tahu hanyalah Ei seorang. Orang lain mana paham.


“Tidak, kau bilang kau hanya mencintai Mio Caro, tapi kau menjadikan teman kami sebagai istrimu. Kau mempermainkan teman kami?” cetus Angel dan Prety setuju dengan Angel. Kedua teman Ei tak terima kalau Ei hanya dijadikan bonekanya Hesa.


Namun, bukannya menjawab pertanyaan kedua teman Ei, Hesa malah mendekat ke tempat Ei berdiri diam dan menuntunnya untuk duduk disampingnya. Dengan telaten, Hesa menuangkan alkohol yang ia beli di apotek terdekat ke atas kapas putih lalu mengusapkan lembut di pipi Ei yang lebam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2