
Seumur-umur tidak pernah sekalipun si oneng Ei memakai sepatu high heels. Saat kuliahpun, dia hanya pakai sepatu kets. Bagaimana mungkin dalam waktu singkat dia bisa berjalan anggun dengan memakai high heels begitu. Jangankan pakai sepatu ber-hak tinggi, berjalan feminim ala wanita tulen aja dia kesulitan.
“Wuah, ini penyiksaan, aku nggak mau pakai itu! Kau mau patahin tulang kakiku apa?” protes Ei.
“Mana ada orang pakai high heels patah tulang Ei. Jangan ngaco deh. Ayo pakai, kau harus tampak anggun dengan pakai ini.”
“Nggak, mending kau bunuh aku daripada harus pakai itu!” tolak Ei mentah-mentah.”
“Ayolah Ei, kau ingin lulus nggak?” bujuk Febi.
“Nggak, aku nggak mau pakai. Yang lain saja asal jangan high heels.” Ei keukeuh tetap tidak mau pakai. Baginya, sepatu ber-hak tinggi bagaikan momok menakutkan. Lebih serem ketimbang pak Po ataupun mbak Kun.
Febi buang napas dalam-dalam. Ei ini keras kepala juga dan Febi tidak tahu apa alasannya calon iparnya ini menolak pakai high heels. Akhirnya, Febi menyerah, iapun berjalan ke tempat Rangga dan Hesa berdiri untuk dimintain pendapat.
“Bagaimana ini, salah satu kriteria calon putri harus bisa berjalan menggunakan high heels saat memakai gaun pilihan istana. Kalau Ei tidak mau berlatih, di babak pertama saja, dia sudah kalah.” Febi menceritakan keluhannya pada dua pria tampan itu.
Rangga terdiam dan melirik Hesa yang sejak tadi tak pernah berpaling dari istrinya. Kekasih Febi itu sepertinya menyerahkan semuanya pada Hesa untuk mengatasi masalah ini.
Tanpa bicara, Hesa maju berjalan dan mengambil sepatu kaca high heels yang ada di atas meja dan membawanya pada Ei. Ei menatap lurus wajah suaminya begitu pula dengan Hesa.
“Aku tahu ini tidak mudah Ei, sepatu ini memang menyiksa, tapi … kau harus bisa memakainya dan mengontrol tubuhmu dengan tetap bisa berdiri tegak di atas sepatu ini. Aku akan menemanimu berlatih. Kau bisa berpegang padaku sambil memakai sepatu ini. Mau ya?” pinta Hesa dengan tatapan mata penuh dengan cinta. Ia bahkan mendudukkan Ei di kursi lalu berlutut didepannya.
Di tatap Hesa sepeti itu, bagaimana Ei bisa menolak bujukan manis suaminya. Bagaikan terhipnotis, Ei akhirnya menuruti keinginan Hesa untuk berlatih berjalan memakai High heels bersama suaminya.
Dalam diam, Hesa memakaikan sepatu kaca itu di kedua kaki Ei. Uniknya, ukuran sepatu kaca tersebut sangat pas dengan ukuran kakinya Ei. Tidak kurang dan tidak lebih. Sangat cocok.
__ADS_1
“Cantik, sepatu ini sangat cantik dikakimu,” puji Hesa dan ia mencium kening Ei seolah memberikan sebuah energi dan kekuatan cinta agar Ei lebih giat berlatihnya.
Bagai tersengat aliran listrik, Ei yang tadinya tidak bisa berjalan di garis lurus dengan benar, tiba-tiba saja ia bisa berdiri tegak tanpa oleng sedikitpun. Tentu saja, tangannya berpegang erat pada tangan Hesa.
Keduanya sama-sama berdiri dan saling menatap satu sama lain. Meski Ei sudah bisa berdiri sambil memakai high heels, tetap saja, Hesa jauh lebih tinggi dari Ei. Perlahan. Hesa meletakkan kedua tangan Ei di atas kedua bahunya dan ia memegang pinggang ramping Ei.
“Ayo jalan, aku mundur, kau maju. Tapi jangan menginjak kakiku. Kau pasti bisa Sayang,” ucap Hesa dengan mesra sehingga membuat Ei jadi mabuk kepayang dibuatnya.
Rangga dan Febi langsung menganga. “Tahu begitu, aku tak perlu repot-repot siapin ember untuk nyiram air si oneng itu. Latihan sma Hesa saja udah cukup!” celetuk Febi.
“Kau benar, sepertinya, kita sudah buang-buang waktu saja di sini karena ada tutor yang lebih baik dari kita. Menyebalkan.” Rangga menambahkan.
Secara ajaib, Ei yang sedang dituntun Hesa dengan mesra, akhirnya bisa berjalan anggun di garis lurus sambil memakai high heels pula. Mata Ei dan Hesa terus bertemu. Siratan pelangi cinta jelas terlihat menyembur keluar seolah di dunia ini hanya ada Ei dan Hesa saja.
“Jangan dulu, bagaimana kalau aku jatuh kalau kau melepaskanku.”
“Kau tidak akan jatuh, aku akan selalu sigap menangkapmu setipa kali kau mau jatuh. Percayalah padaku, aku takkan membiarkanmu jatuh.” Hesa meyakinkan istrinya kalau Ei pasti bisa.
Ei ragu, tapi tidak ada salahnya ia mencoba. Meski jantungnya sudah tidak karuan, ia harus bisa melakukannya demi Hesa yang sudah rela berkorban banyak untuknya. Benar kata Cu Pat Kai, cinta butuh pengorbanan, apalah artinya cinta jika tanpa pengorbanan. Dan inilah pengorbanan pertama yang dilakukan Ei untuk Hesa.
Hesa mulai melepaskan tangannya yang ada dipinggang Ei. Ia mundur dan sengaja menjauh dari istrinya. Awalnya, tubuh Ei mulai oleng dan hampir saja jatuh, tapi Ei merentangkan kdua tangannya untuk menyeimbangkan tubuhnya dan berhasil. Ei bisa berjalan tanpa dipegang oleh Hesa dan langkah kakinya tetap berada di garis lurus.
“Bagus Ei! Ayo terus lakukan!” seru Febi bertepuk tangan menyemangati Ei telah berhasil berjalan anggun dengan menggunakan high heels. Padahal tadi sudah pesimis tidak kalau ia gagal melatih Ei.
“Kekuatan cinta, memang luar biasa.” Ranggapun ikut berkomentar.
__ADS_1
Melihat sang pujaan hati telah berhasil berjalan anggun layaknya seorang putri raja. Hesa pun merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Ei yang berjalan lurus kearahnya. Ei jadi semakin bersemangat karena diujung garis ini, Hesa siap memeluknya dan tanpa sadar, Ei mempercepat langkahnya agar bisa cepat jatuh kepelukan Hesa.
“Kau berhasil Ei Ei Mio Caro. Daebak. Kau sangat luar biasa,” ujar Hesa yang langsung memeluk Ei dengan erat.
“Apa aku benar-benar berhasil?” tanya Ei antara percaya dan tidak percaya kalau dirinya bisa berdiri dan berjalan memakai high heels.
“Iya Sayang. Kau berhasil. Aku percaya kau pasti bisa.” Hesa ikut senang melihat istrinya senang. Keduanya saling berpelukan erat untuk merayakan keberhasilan Ei.
“Ehem hem.” Rangga berdeham. “Masih terlalu dini untuk kalian merasa senang. Ini baru latihan pertama, masih banyak latihan-latihan lain yang harus E pelajari dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya.” Ranggapun membeberkan sebuah gulungan kertas putih yang berisi jadwal latihan apa saja yang harus dijalani Ei.
Gulungan kertas itu bukanlah kertas folio atau hvs biasa seperti ukuran kertas pada umumnya. Melainkan kertas yang berupa gulungan kertas panjang yang panjangnya bahkan bisa mencapai puluhan meter. Di dalam gulungan kertas tersebut terdapat apa saja yang harus Ei lakukan dan pelajari.
Seperti sejarah kebangsawanan keluarga Hesa, tata tertib, adat istiadat, berbagai macam peraturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, ilmu-ilmu filsafat dan fisologi, buku-buku sejarah dan ilmu alam serta lain sebagainya. Bahkan latihan ketahanan fisikpun juga ada.
Kalau soal kekuatan fisik sih Ei tidak masalah karena ia setiap hari selalu latihan skot jump, sit up, push up, lari keliling lapangan minimal 5 kali. Hal itu Ei lakukan untuk menjaga staminanya karena ia adalah anak pecinta alam yang harus punya fisik sehat dan kuat. Namun, yang menjadi permasalahan selain hal disebutkan adalah banyak bahasa yang harus Ei kuasai. Sebab Febi yakin, pamannya yang bengek itu akan menjatuhkan Ei bagaimanapun caranya. Salah satunya adalah penggunaan kosakata bahasa.
“Ini latihan pemilihan calon istri apa calon presiden sih? Kok ribet dan ketat amat?” protes Ei langsung lemah lunglai ketika Febi dan Rangga menjabarkan serangkaian latihan yang harus Ei jalani. Hesa yang siap siaga, langsung memberikan bahunya agar Ei bisa bersandar.
“Sebenarnya, bukan seperti ini aturan sayembaranya,” terang Hesa, “Ayah telah banyak mengubahnya agar kau dan kandidat lainnya gagal dalam sayembara ini. Dan yang terpilih, adalah menantu yang diinginkannya. Tapi … aku yakin, kau pasti bisa menguasai semau ini Ei. Karena yang jadi istriku satu-satunya, adalah kau.” Hesa mencium mesra bibir Ei tepat di depan Rangga dan Febi tanpa malu dan ragu.
“Dasar pengeran nggak ada akhlak!” gumam Febi dan Rangga bersamaan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1