
Pengambilalihan sayembara calon putri dari keluarga Savatinov sangat bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Harusnya, nenek Hesa tidak boleh ikut campur tentang sayembara ini. Namun, ketika sang penguasa tertinggi turun tangan, maka Savatinov ataupun yang lainnya tal bisa membantah. Hal itu membuat ayah Hesa murka dan mengajukan petisi pada ibundanya.
Selagi para peserta sayembara termasuk Margaret dan keluarganya ada di pavilion mereka masing-masing. Savatinov menggunakan kesempatan ini untuk menemui sang ibunda yang harusnya beristirahat dengan damai dikediamannya dan jauh dari keramaian dunia.
“Kenapa Ibunda Ratu datang kemari tanpa memberitahuku terlebih dulu?” seru Savatinov langsung nyelonong masuk begitu saja ke kamar pribadi ibunya. Wajahnya tampak amat kesal dan marah karena ia merasa amat dipermalukan. Hilang sudah kewibawaannya ketika ibunya datang dadakan seperti ini.
“Duduklah sebentar Raden, tarik napas dan buanglah dalam-dalam. Aku tak mau kau menghadap Yang Maha Kuasa mendahuluiku kalau kau suka marah-marah begitu,” ujar nenek Hesa dengan tenang dan santai sambil menikmati teh melatinya.
Aroma melati yang begitu wangi membuat suasa hati jadi merasa damai. Ayah Hesa yang tadinya emosi juga mulai rileks apalagi setelah abdi dayang sang Gusti Raden Ajeng Ayu Kahiyang menghidangkan teh untuk ayah Hesa.
“Apa yang Ibunda rencanakan dengan Hesa sampai harus turun tangan dan ikut campur mengenai sayembara pemilihan calon putri. Sudah jelas diperaturan kalau tetua tak bisa ikut campur urusan keluarga inti saat pemilihan calon putri berlangsung, kenapa Ibunda melanggar peraturan itu?” tanya Savatinov, kali ini ia tidak emosi lagi. Mungkin, aroma teh melati mampu mendinginkan kepalanya.
“Apa kau tahu kenapa peraturan itu dibuat?” nenek Hesa malah balik bertanya pada putranya.
“Tentu saja karena waktu itu, ada yang menyalahgunakan kekuasaan sehingga kecurangan terjadi di mana-mana,” jawab Savatinov lirih karena merasa tersindir oleh ucapannya sendiri.
“Benar, dan itulah yang sedang terjadi padamu. Kau curang, kau menghalalkan segala macam cara demi mendapatkan apa yang kau inginkan dan bahkan tega mencelakai orang. Harusnya kau dihukum berat karena sikapmu ini sangat tidak mencerminkan keturunan para bangsawan sejati. Tapi itu nanti saja, kita fokus dulu pada sayembara pemilihan calon putri yang akan di mulai lagi."
__ADS_1
"Tapi ... ini sudah separuh jalan Ibunda, kenapa mesti diulang. Padahal tinggal melanjutkan saja?"
"Semua sayembara yang kau lakukan tak ada kaitannya dengan visi misi keluarga kita Savatinov. Kau menentukan perlombaan seenak udelmu dengan tujuan membuat lawan menantu yang kau inginkan gugur kecuali wanita yang kau pilih. Bukankah itu tidak adil bagi mereka? Sayembara ini akan diulang dan peserta yang gugur diperbolehkan mengikuti ulang lagi
"Tapi Ibu ..."
"Tidak ada tapi-tapian," sela nenek Hesa cepat dan mulai menunjukkan taringnya. Savatinov sudah tak berani bersuara kalau ibunya sedang dalam mode garang.
"Kalau kau tak suka dengan wanita pilihan putramu," lanjut Nenek Hesa, "setidaknya, lihat dulu apakah dia layak menjadi menantumu atau tidak dengan cara yang sportif. Tindakanmu itu sudah sangat memalukan, mana mungkin aku diam saja sementara kau sudah melenceng jauh.”
Di luar dugaan, nenek Hesa malah tertawa terbahak-bahak mendengar suara hati putranya yang dibuat pingsan 2 kali oleh menantunya sendiri. Yah, kabar tentang Hesa yang sudah menikah memang diketahui oleh nenek Hesa.
“Kenapa Ibunda malah tertawa? Apanya yang lucu?” tanya Savatinov keki juga melihat ibunya benar-benar tertawa lepas setelah mendengar keluh kesahnya.
“Tidakkah kau tahu? Kalau menantu pilihan putramu itu sangat unik? Kau sudah dibutakan dengan segala hal tentang duniawi Savatinov, kau lupa apa yang sudah diajarkan almarhum ayah dan kakekmu sebelum kau menggantikan mereka. Kau tak bisa menilai wanita yang dicintai Hesa hanya dari sampul luarnya saja. Apa yang bisa kau nikmati dari dunia yang hanya sementara ini sementara mata hatimu jadi buta karena tak bisa membedakan mana emas permata dan mana perak?” nenek Hesa bangun berdiri dari tempat duduknya dan menghadap putranya dari jarak dekat. Savatinovpun ikut berdiri juga.
“Apa maksud Ibunda?” tanyanya bingung.
__ADS_1
“Putramu jauh lebih jeli darimu. Hesa memang membuat perjanjian denganku. Dia bahkan memberikan kalung almarhum kakeknya pada wanita yang ia cintai dan rela melepas segalanya demi wanita itu. Ini bukan soal cinta membutakan segalanya, tapi kalung yang dimiliki Hesa, memang sudah kembali pada pemiliknya. Putramu tahu, mana berlian dan maka yang bukan.” Mata nenek Hesa menatap tajam wajah putranya lekat-lekat sehingga Savatinov lumayan ciut juga kalau ibunya bersikap seperti itu.
“Aku tahu siapa istri pilihan pengeran ningrat kita. Dia … tak seperti yang kau bayangkan. Aku peringatkan kau mulai dari sekarang juga. Jangan ganggu atau sentuh dia. Biarkan dia mengikuti sayembara ini hingga selesai. Jika kau dan si keluarga Margaret itu macam-macam, maka … bukan gelar Hesa yang aku copot, tapi gelarmu. Dan aku … tidak akan mengakuimu, sebagai putraku lagi. Kursi kebesaranmu akan digantikan putra sulungmu begitu kau kulengserkan. Camkan baik-baik ucapanku ini,” tandas Raden Ajeng Ayu pada putranya.
Sebuah ancaman yang tidak main-main dan sukses membuat Ayah Hesa tak bisa berkutik sedetikpun. Sejauh inikah ibunya harus bertindak?
Mata Savatinov mendelik karena tak percaya, ibunda tercintanya bisa berkata seperti itu hanya demi melindungi Ei. Hal tersebut jelas membuat mertua Ei ini bertanya-tanya, siapakah Ei sebenarnya dan bagaimana ibunya mengenal gadis itu. Namun, nenek Hesa enggan membeberkan bagaimana wanita paruh baya itu mengenal Ei.
Merasa sudah terpojok, dalam diam, Savatinov pergi meninggalkan ruangan ibundanya dengan hati galau segalau-galaunya apalagi ini kali pertama dalam hidup ayah Hesa. Ia diancam oleh ibundanya sendiri. Ancaman yang mematikan pula. Bukan orang asing ataupun musuh, ancaman itu, justru datang dari orang yang amat ia sayangi.
“Hubungi agen inteligen terbaik di negara ini. Suruh dia menyelidiki seseorang sampai tuntas. Berikan laporannya padaku secepatnya,” ujar Savatinov memberi perintah pada orang kepercayaannya melalui sambungan telepon. Ia bertekad mengorek sendiri informasi tentang menantunya yang penuh dengan misteri.
Nenek Hesa hanya geleng-geleng kepala melihat perangai putranya yang dulu amat bijaksana dan berwibawa, kini telah berubah drastis jadi arogan dan kekanak-kanakan. Entah karena alasan apa Savatinov jadi berubah begitu.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1