Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 64


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang penuh kejutan untuk Ei. Pertama, hadirnya kedua teman Ei di acara sayembara keluarga ningrat Hesa. Jelas memberikan tanda tanya besar bagi Ei mengingat ini bukan acara yang mudah disaksikan oleh rakyat jelata seperi Angel dan Prety. Kenapa kedua teman Ei ada di sini, itulah yang dipikirkan Ei sekarang.


Kejutan kedua, hadirnya Fery alias sepupu Ei yang juga duduk bersama dengan sahabat Ei. Entah itu kebetulan atau Angel memang mengenal Fery. Sungguh Ei bingung dan bahkan tidak bisa menerka manakah yang tepat. Lebih dari itu, yang paling dikhawatirkan Ei adalah kebohongan soal kehamilan Ei bakal terungkap dan Ei takut ini akan berakibat fatal.


Syukurlah Ei masih bisa melihat Hesa sehingga mungkin suaminya itu tahu kalau ada Fery diantara mereka di sini. tadinya Ei ingin menyerahkan masalah Fery pada Hesa, tapi kejutan ke-3 yang membuat Ei terbujur kaku adalah, seseorang yang duduk di samping Hesa merupakan sosok yang sangat Ei kenal.


Sosok tersebut, siapa lagi kalau bukan nenek Hesa alias nenek yang selama ini Ei cari-cari. Tidak salah lagi, Ei mengenal nenek Hesa yang ternyata adalah nenek yang pernah ia tolong dan pernah tinggal bersamanya lalu menghilang tanpa jejak. Siapa yang menyangka, kalau nenek Hesa adalah nenek yang sama seperti yang Ei ceritakan pada suaminya semalam.


“Tidak mungkin … ini sungguh tidak mungkin. Pasti ada yang salah di sini,” gumam Ei antara percaya dan tidak percaya.


“Ada apa Ei, apa kau kurang sehat?” tanya Febi lumayan mengkhawatirkan Ei yang tiba-tiba saja tampak shock berat.


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” jawab Ei berbohong, padahal wajahnya masih tegang dan agak sedikit gelagapan.


Bagaimana gadis itu tidak shock? Ia baru sadar kalau nenek yang ia tolong adalah neneknya Hesa. Entah ini kebetulan atau apa, Ei sungguh tidak tahu. Dan Hesa sendiri sepertinya juga masih belum ngeh kalau neneknya adalah nenek yang ditolong Ei.


“Nenek, aku akan menemui istriku, dia … sepertinya tidak baik-baik saja,” ujar Hesa pada neneknya karena ia sama cemasnya dengan Febi.


“Kau tidak boleh ke mana-mana. Jika kau menemui wanita itu, dia bisa terkena masalah. Tetaplah di sini dan lihat saja proses sayembaranya.” Nenek Hesa ternyata melarang cucunya untuk tidak bergerak ke mana-mana.


“Tapi Nek, dia istriku yang sesungguhnya dan yang kuinginkan, lihat saja wajahnya pucat basi begitu, mungkin dia belum sembuh. Bisakah kita tunda lagi sayembaranya,” pinta Hesa yang tampak amat sangat bucin dengan Ei.


“Wanita yang kau aku istrimu itu baik-baik saja, ia hanya shock. Kau tak perlu khawatir selebay itu. Ada Febi yang merawatnya. Kau harus tetap di sini dan baru boleh mendekatinya kalau dia keluar sebagai pemenangnya. Itupun kalau dia menang,” ujar nenek Hesa.


Suami Ei tak bisa bergeming kalau neneknya sudah bicara seperti itu. Semalaman Hesa tak bisa tidur karena merindukan istrinya. Hari ini, ia bisa melihat sang pujaan hati meski entah mengapa istrinya itu tampak shock saat melihatnya.


“Dia pasti menang, Nek. Aku … tidak akan pernah salah pilih,” tandas Hesa tanpa ragu dan matanya terus tertuju pada Ei yang sedang di hibur dan disemangati oleh Febi.


“Semoga saja yang kau katakana itu benar. Sebaiknya, kita mulai saja sayembaranya.” Nenek Hesa berdiri dan membuka acara sayembaranya. Di awal-awal, ia membeberkan apa saja yang harus dilakukan calon putri agar mereka bisa memenangkan sayembara ini.


Tidak ada latihan fisik dan lain sebagainya seperti sebelum-sebelumnya. Mereka semua akan diberi pertanyaan oleh tentor yang sudah ditunjuk nenek Hesa. Dan jika mereka bisa menjawab semua pertanyaan tentor tersebut, maka … dia lah yang akan keluar sebagai pemenang.


“Pertanyaan yang akan ditujukan akan digelar secara tertutup dan diawasi oleh cctv sehingga tak ada indikasi kecurangan apapun. Semua calon putri harus berbaris rapi sesuai dengan nomer urut yang sudah diberikan. Sayembara, segera dimulai dari sekarang!” seru nenek Hesa dengan lantang.

__ADS_1


Semua peserta langsung berbaris rapi sesuai nomer urut yang diberikan dan Ei mendapat nomer antrian paling belakang. Satu per satu, semua wanita yang menjadi calon istri Hesa masuk ke dalam satu ruang khusus dan diberi pertanyaan yang tidak diketahui oleh siapapun.


Rata-rata, satu orang memakan waktu 10 samapi 15 menit. Peserta yang bisa menjawab duduk di sebelah kanan, dan yang tidak lolos di sebelah kiri. Dari ke-40 peserta hanya Margareta yang ada di sebelah kanan. Artinya, gadis songong itu memang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim nenek Hesa dengan benar.


2 orang lagi adalah giliran Ei dan ia sangat gugup. Gadis itu bingung, apakah dirinya bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tutor.


“Shreya Fayola, nomer urut 43, sekarang giliran Anda!” seru seorang wanita dan Ei langsung tergeragap, tak terasa. Giliran dirinya yang masuk ke dalam ruang pertanyaan.


Ei sempat melirik Hesa yang juga menatapnya penuh harap. Hesa sangat percaya pada kemampuan Ei meski sebenarnya Hesa ragu karena ia juga tidak tahu pertanyaan apa yang sudah disiapkan neneknya sehingga 41 peserta gugur dan hanya menyisakan Margaret seorang. Kalau Ei gagal, artinya, Margaretlah yang bakal menjadi istri Hesa, bukan Ei.


Mata Ei tak hanya tertuju pada suaminya yang memberinya semangat dalam diam, tapi ia juga menatap nenek Hesa yang berkata tanpa suara, “Kau pasti bisa, ingat apa yang dulu pernah kuajarkan,”


Begitulah kira-kira kata yang diucapkan nenek Hesa hanya melalui bahasa bibir saja. Mulanya, Ei tidak paham tapi melihat gerak bibir nenek Hesa iapun mengerti dan mencoba mengingat-ingat apa saja yang dulu pernah nenek Hesa ajarkan pada Ei.


“Silahkan duduk, peserta nomer 43,” ujar sang tutor yang siap menyambut Ei begitu istri Hesa itu masuk ruangan.


Ei pun menurut dan ia duduk di depan sang tutor berkacamata, tapi tampan. Gadis itu juga memerhatikan sekeliling dan memang ada cctv terpasang diberbagai sudut ruangan. Dari sini sudah terlihat kalau ternyata, sayembara ini benar-benar diawasi dengan ketat,


“Siap Sir, silahkan ajukan pertanyaannya.” Ei menautkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya dan bersikap tenang.


Sebenarnya, ia lebih suka tantangan fisik ketimbang main otak begini, secara, kadang otak Ei ini miring sebelah sehingga ia tak yakin apakah ia bisa berpikir dengan jernih di saat genting begini.


“Oke, bahasa koreanya kecap asin?” tanya tutor itu.


“Hah?” tanya Ei mengira salah dengar.


“Bahasa Koreanya kecap asin.” Tutor itu mengulang pertanyaannya.


“Sir, nggak salah? Kenapa malah tanya bahasa Korea?”


“Lah kau mau jab apa tidak? Terserah kalau tidak mau jawab.”


“Mau Sir, maaf. Saya hanya merasa aneh saja, soalnya … ini kerajaan Jawa, bukan kerajaan Korea.”

__ADS_1


“Mau kerajaan Inggris, Belanda, Spanyol, Jepang, Arab, sebagai calon putri kau harus bisa fasih berbagai macam bahasa. Sekarang yang lagi tren adalah bahasa Korea. Keluargamu juga sering bepergian ke Korea. Kalau kau ingin jadi bagian dari keluarga ini, jawab saja pertanyaanku tadi.”


Ei terdiam dan tidak berani membantah lagi. “Bahasa Korea kecap asin adalah ‘gan-jang’,” jawab Ei.


“Oke, sekarang pertanyaan kedua, bahasa Koreanya saos taoco?” tanya tutor itu sambil mencatat sesuatu.


“Dwen-jang,” jawan Ei.


Tutor itu manggut-manggut karena jawaban Ei benar.


“Kalau bahasa Koreanya pabrik?” lanjut tutor itu.


“Gong-jang,” jawab Ei cepat dan lagi-lagi jawabannya benar.


“Wuah, kau pintar juga bahasa Korea ya?” komentar tutor itu sambil memberikan nilai untuk Ei. “lanjut pertanyaan berikutnya. Bahasa Koreanya manajer pabrik?”


“Gong-jang-jang.” Untuk kesekian kalinya, jawaban Ei benar lagi.


“Oke, ini pertanyaan terakhir. Kalau kau bisa menjawab dengan baik dan benar, kau lulus dan bersaing dengan peserta nomer 25. Ini pertanyaan terakhir, perhatikan baik-baik.”


Ei menelan salivanya dan memusatkan pikirannya pada pertanyaan yang akan diajukan tutor.


“Bahasa Koreanya Mr, Kang adalah manajer pabriknya kecap asin, dan Mr. Jang adalah manajer pabriknya saos taoco?”


Ei berpikir sejenak dan langsung menjawab, “Gan-jang gong-jang gong-jang-jang-eun Kang gong-jang-jang-i-go, dwen-jang gong-jang gong-jang-jang-eun Jang gong-jang-jang-i-da,” jawab Ei dengan tegas dan tepat sehingga membuat tutor itu melongo dan langsung tepuk tangan.


“Wuah, daebak! Selamat, kau masuk babak berikutnya, silahkan keluar!” Tutor itu berdiri dan langsung menjabat tangan Ei.


Sementara Ei jangan ditanya, dia kayak orang linglung karena bingung dengan pertanyaan tutor ini. Lah? Gitu doang? Serius ini? Ini sayembara ato ajang pemilihan TKW sih? Batin Ei.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2