Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 87


__ADS_3

Seluruh rekan-rekan Hesa tertawa ngakak melihat para sandera Hesa ngompol di tempat akibat efek suara seram yang sengaja mereka timbulkan. Sebenarnya, rumah angker yang dibilang Hesa itu tidak ada. Teman-teman hacker Hesa sengaja menakut-nakuti dengan membuat suasana ruangan tampak sangat angker dan menakutkan untuk menimbulkan efek jera agar Nathan dan teman-temannya tak cari gara-gara dengan Hesa lagi.


Bahkan, mereka juga memunculkan efek setan gentayangan ala Noni belanda yang terkenal seram menggunakan kecanggihan teknologi sehingga Nathan dan teman-temannya menjerit-jerit ketakutan hantu tersebut tampak nyata dan seolah benar-benar ada.


Ruangan tempat Nathan and the geng disekap, dibuat seseram mungkin sampai mereka lemas tak berdaya. Tidak hanya efek gerakan hantu gentayangan, tim Hesa juga bisa membuat benda-benda di sekeliling mereka jatuh dengan sendirinya tanpa disentuh. Tim Hesa benar-benar keren, film Hollywoodpun jadi tidak ada apa-apanya dengan kecanggihan yang digunakan teman-teman Hesa ini.


“Sampai kapan kita buat mereka ketakutan begitu?” tanya Kirril setelah puas tertawa. “Lihatlah, mereka sudah ada yang pingsan.”


“Tanya saja pada Cerpury, dia yang akan menangkap para tikus got itu,” jawab Slava sambil terus menekan tombol otomatis penghidup para setan untuk menakut-nakuti Nathan dan semua teman-temannya. Bahkan replika pak Po dan mbak Kun saja Slava masukkan atas izin Hesa. Kalau sampai pak Po dan mbak Kun sungguhan tahu, mungkin mereka bakal protes sama Refald.


“Biarkan saja sampai besok, aku akan datang dan menangkap mereka untuk diadili. Dasar cecurut nggak berguna, bikin repot saja.” Cerpury berdiri sambil meminum kopinya.


“Di mana di Big Hit? Apa dia sudah sampai?” tanya Hoodie. Mungkin ia sudah bosan bikin kejang para sandera Hesa.


“Keem dan Sonia membawa kakak ipar ke rumah sakit. Ada luka di kepalanya akibat benturan. Mungkin dia langsung menuju ke sana.” Slava menjelaskan.


***


Di rumah sakit, Hesa melihat Ei di ruang inap dari pintu luar. Kekasihnya sedang terbaring lemah dalam keadaan tak sadarkan diri. Dosis alkohol yang digunakan Nathan dan teman-temannya untuk membius Ei terlalu tinggi sehingga Ei tak kunjung sadar juga. Untunglah dokter di rumah sakit ini sudah mencoba menetralisir dosis tersebut dengan diberi penetral obat khusus sehingga Ei bisa segera sadar setelah ini.


Perlahan, Hesa membuka pintu lalu masuk dan duduk di sebelahnya. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Keem dan juga Sonia yang turut menemani Ei. Mereka berdua saling pandang ketika Hesa menatap Ei dengan sejuta rasa bersalah yang mendalam.


“Dokter bilang, 1 jam lagi dia akan sadar. Kau tak perlu cemas,” terang Sonia.


“Aku tahu, bukan itu yang kupikirkan saat ini. Berada disisiku, Ei akan selalu dihadapkan dalam bahaya besar. Penculikan seperti ini, pasti akan terjadi lagi dan lagi atau bahkan mungkin bisa lebih parah. Apalagi ini adalah Amerika.”


Keem berjalan mendekati Hesa dan menyerahkan semua data yang ada ditangannya pada pria yang dikenal sebagai Big Hit di kelompoknya. “Aku paham maksudmu, makanya aku sudah menyelidiki semua orang yang ada di Amerika. Mereka adalah orang-orang yang berencana menculik kekasihmu semenjak kau go public bersamanya. Nama-nama itu adalah mantan orang-orang yang pernah kau kalahkan. Niat mereka sama, ingin kau hancur.”


Hesa menerima data itu dan membacanya. “Banyak juga,” komentar Hesa tanpa ekspresi.

__ADS_1


“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Sonia penasaran.


“Apalagi, hancurkan mereka semua sebelum mereka semua menghancurkanku. Sepertinya kalian harus bekerja lembur lagi. Bobol semua akun medosnya, curi data pribadi mereka dan buat mereka bangkrut 7 turunan. Ini cara praktis agar mereka tak punya kekuasaan untuk berbuat jahat pada siapapun. Bila ada yang punya kelemahan, publis saja dan viralkan!”


“Siap! Wuah … ini yang sudah lama kutunggu-tunggu! 2 tahun vakum akhirnya jari jemariku bisa digunakan lagi!” seru Keem bersemangat tapi tidak dengan Sonia. Ia hanya diam tapi sebenarnya dia salut akan cinta Hesa pada Ei yang begitu besar dan dalam.


“Aku kan siapkan semuanya. Kau jaga Ei di sini sampai dia sadar.” Sonia balik badan dan pergi keluar.


Sedangkan Keem sibuk menelepon seseorang. “Halo Sayang … kita putus ya …. Aku mau menghilang beberapa hari. Mungkin nomerku takkan bisa lagi dihubungi. Bye …” ujar Keem sambil tertawa senang.


Hesa hanya geleng-geleng kepala melihat playboy cap kadal di depannya ini. Ia sudah tidak kaget lagi dengan Keem yang hanya memanfaatkan wanita hanya untuk bersenang-senang ataupun melancarkan misinya. Habis manis sepah dibuang, yah begitulah kira-kira pepatah yang pas disematkan untuk si playboy Keem ini.


Kendati demikian, Keem tahu betul apa yang harus dia lakukan dan tidak. Meski sering gonta-ganti pasangan, dia tetap menjaga kelelakiannya yang hanya akan ia berikan pada wanita yang berhasil mencuri hatinya kelak.


“Big Hit, aku pergi dulu. Jaga kakak ipar baik-baik.” Keem menepuk bahu Hesa dan pergi menyusul Sonia.


Hesa tak bersuara, tapi agak terkejut karena 1 tangannya dipegang oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Ei. Hesa menoleh ke arah kekasihnya yang ternyata sudah membuka mata sambil menatap lurus padanya.


Ei pun ikut memeluk Hesa dan memegang pinggang pria tampan itu. “Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa pria yang memanggilmu Big Hit tadi?” tanya Ei lirih.


Hesa melepas pelukannya dan duduk di sebelah Ei. Tubuhnya tetap membungkuk agar wajahnya tetap dekat dengan wajah Ei.


“Dia Keem, dialah yang membantu menyelamatkanmu dari penculikan Nathan,” terang Hesa sambil membelai lembut rambut Ei.


Ei sendiri mulai mengingat-ingat apa yang terjadi setelah ia pergi meninggalkan Hesa kala itu. “Ah … aku ingat, aku berpapasan dengannya dan tiba-tiba saja semaunya gelap. Mungkinkah dia …”


“Ehm, dia membiusmu sampai kau pingsan. Keem yang sedang kencan dengan pacarnya melihatmu dibawa pergi olehnya dan segera menghubungiku.”


“Lalu … ada di mana dia sekarang … dia masih hidup atau sudah mati?” tanya Ei cemas kalau-kalau Hesa membunuh orang yang menculiknya tak peduli siapapun itu.

__ADS_1


“Hampir saja aku membunuhnya. Tapi itu takkan menyelesaikan masalah dan hanya semakin memperburuk keadaan saja. Saat ini, mereka mungkin sudah lemas tak berdaya karena tim Big Hit sedang bermain-main dengan mereka. Besok, Cerpury akan memproses kasus ini dan Nathan akan dipenjara. Bukan penjara biasa, Cerpury akan menempatkannya dipenjara paling hina yang ada di negara ini.”


Ei mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”


“Nathan dan teman-temannya akan ditempatkan di penjara para Gaay. Aku rasa … kau tahu apa yang bakal terjadi di sana kalau orang seperti Nathan berada di sana. Kematian jauh lebih baik bila dibandingkan dengan penjara itu.”


“Wuah, kau kejam sekali!” ujar Ei antara bangga dan ngeri.


Hesa kembali memeluk kekasihnya dengan mesra sambil berbisik, “Terimakasih pujianmu, Sayang.”


“Itu bukan pujian, dasar sawo matang!” cetus Ei tapi sambil tersenyum.


“Bagiku, setiap kata yang keluar dari bibir indahmu ini adalah pujian untukku.” Hesa tersenyum. Ia bahagia melihat Ei sudah sadar dan kembali seperti semula.


“Jangan kencang-kencang meluknya, tubuhku masih sakit semua.” Ei mendorong tubuh Hesa.


“Oh maaf … aku terllau senang melihat kau baik-baik saja sekarang. Ini semau salahku, harusnya aku tak meninggalkanmu barang sedetik saja.”


“Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, ini salahku. Harusnya aku lebih hati-hati karena aku adalah pacarnya gangster paling berbahaya sekaligus hacker paling dicari di seluruh dunia. Ini mungkin bukan kali pertama aku diculik. Pasti akan ada penculikan-penculikan selanjutnya. Dan untuk yang berikutnya, aku sudah siap.”


Bukannya takut diculik, Ei malah jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Rupanya, diculik bukannya membuat otak oneng Ei ini waras, malah jadi semakin konslet.


“Ei Ei Mio Caro, dimana-mana, yang namanya orang habis diculik itu pasti trauma atau takut atau depresi atau apalah, ini kenapa kau malah berharap mau diculik lagi? Kau pikir diculik itu enak apa?” tanya Hesa heran dengan pemikiran pacarnya ini.


“Aku suka diculik … karena kau pasti akan datang menyelamatkanku dengan gaya sok keren gitu. Lagian, aku juga jago karate kok, sebelum kau datang, aku pasti bakal menghajar mereka duluan.” Ei sudah membayangkan dirinya berkelahi dengan para penculiknya lalu Hesa datang membantunya. Dengan begitu, Ei juga tak kalah keren dari Hesa.


Hesa hanya menundukkan kepala sambil mengusap-usap keningnya yang tidak gatal. “Kenapa aku bisa jatuh cinta padamu lebih dari apapun,” gumam Hesa lirih ingin tertawa tapi juga kesal.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2