
Di ruangan lain, ayah Hesa sudah mulai sadar dari pingsannya. Para abdi dan ibu Hesa yang merawatnya, jadi merasa lega.
“Syukurlah, Yang mulia sudah sadar,” ujar ibu Hesa dengan lemah lembut.
Awalnya, ayah Hesa mengeluh pusing, tapi ia langsung marah ketika ia ingat siapakah orang yang membuatnya pingsan seperti ini. Savatinov hendak bangun dan menuju kamar menantunya untuk buat perhitungan, tapi dicegah oleh ibu Hesa dan disuruh kembali berbaring di tempat tidur agar tidak pingsan lagi.
“Kurang ajar sekali, gadis itu? Bisa-bisanya dia menjadikan belut sebagai makanan! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus menghukumnya!” geram Raden Savatinov dari atas tempat tidurnya.
Bertepatan dengan itu, Hesa langsung membuka pintu dan nyelonong masuk ke dalam begitu saja. Raut wajahnya terlihat marah. Tindakannya ini memang dinilai kurang sopan apalagi ia masuk ke dalam kamar ayahnya tanpa izin terlebih dulu. Namun, yang Hesa pikirkan bukan masalah sopan santun seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya. Hesa marah, karena ia punya alasan kuat yang tak bisa ia tolerir.
“Ada apa? Kenapa kau masuk tanpa izin ke kamarku seperti masuk kandang sapi begitu? Apa kau lupa pada tata cara dan adab di rumah ini yang sudah kau pelajari sejak kecil?” bentak ayah Hesa ikut marah juga pada putranya.
“Adab?” Hesa malah balik bertanya seolah menahan geram. “Adab seperti apa yang ayah maksud? Apakah seorang bangsawan keturunan ningrat diperbolehkan membunuh menantu dikeluarganya? Apakah itu juga adab yang diajarkan di keluarga kita? Aku baru tahu hari ini kalau ada adab semacam itu.”
“Apa yang kau bicarakan Hesa? Kau tahu kalau kau itu sangat tidak sopan!” bentak Savatinov dan suasana mendadak menjadi tegang.
__ADS_1
“Kita sedang bicara masalah adab Ayah. Apakah suatu hari nanti aku boleh membunuh menantuku yang tidak kusuka dengan berbagai cara? Salah satunya, memasukkan ular berbisa di tempat menantuku berada!” seru Hesa blak-blakan mengeluarkan seluruh semua amarah yang ia pendam. Pernyataan Hesa, tentu saja langsung mengejutkan semua orang yang ada di dalam kamar ini.
Inilah alasan kenapa Hesa marah. Sebab ia tahu, ayahnya sengaja mencelakai Ei. Tak heran jika ayah Hesa meminta semua orang untuk tidak mendekati dapur sementara hanya ada Ei saja di tempat di mana binatang berbisa itu berada. Untunglah Ei ini bukanlah gadis lemah dan manja seperti wanita lain pada umumnya. Meski ia oneng, gadis itu bisa melindungi dirinya sendiri dan bahkan ia tidak sadar kalau dirinya dalam bahaya besar.
Semua orang termasuk ayah dan ibu Hesa sendiri terkejut bukan kepalang mengetahui fakta tak terduga ini. Terutama untuk ayah Hesa. Kalimat panjang putranya bagaikan sebuah tamparan keras untuknya. Namun, sebagai kepala keluarga, tentu saja, ayah Hesa ini tidak mau disalahkan.
“Maksudmu … kau menuduhku mencelakai istrimu? Begitu? Bagus … kau lebih percaya padanya ketimbang ayahmu sendiri!”
“Ei bahkan tidak tahu kalau ayah berusaha membunuhnya, Ayah!” sela Hesa dengan nada lumayan tinggi saking emosinya. “Gadis itu terlalu lugu untuk niat jahat ayah padanya. Ia tidak tahu kalau hidupnya dalam bahaya. Ei adalah gadis liar, dan memang tidak beradab seperti keluarga kita. Namun, berkat sifat liarnya, ia selamat dari adab keluarga yang ayah ajarkan padaku dan pada keluarga bangsawan lainnya bahwa orang yang tidak kusuka, ternyata layak mati ditangan kita. Sekarang kita tahu … gadis liar yang tak beradab itu, jauh lebih terhormat dari keluarga beradab kita yang tidak menghargai nyawa orang.”
“Aku tak melarang ayah memberikan Ei banyak ujian kelayakan sebagai pendamping hidupku, Ayah. Jika aku mau, aku bisa melepas gelarku sebagai seorang ningrat dan menjalani hidupku sendiri bersamanya sebagai sesama rakyat jelata. Tapi, aku tidak melakukannya karena aku ingin menunjukkan pada keluarga ini, bahwa aku … tidak salah pilih pasangan. Silahkan uji dia dengan peraturan dan adat istiadat keluarga kita, namun … gunakan cara yang bersih, bukan cara kotor seperti yang ayah lakukan pada Ei. Dia gadis baik-baik Ayah, ia tak pernah menyakiti siapapun, hewanpun tak pernah ia lukai. Jika ada yang menyakitinya, aku yakin, jangankan Tuhan, alampun tak rela bila Ei celaka.”
Hesa balik badan dan hendak pergi, tapi tidak jadi dan menatap tajam ayahnya lagi. “Satu hal yang harus Ayahanda tahu, aku akan selalu melindungi Ei apapun yang terjadi, sekalipun aku harus bertarung nyawa, aku tidak peduli. Akan kujaga dia dari semau mara bahaya yang mengintainya. Ini adalah sumpah cintaku untuknya.” Hesa tampak serius menatap wajah ayahnya yang tertegun melihatnya.
Tidak ada keraguan di hati dan wajah Hesa saat ia bersumpah dihadapan orangtuanya demi Ei. Semua orang jadi yakin, kalau cinta Hesa pada Ei memang benar-benar tulus. Tanpa mengurangi rasa hormat, Hesa menunduk dan pamit undur diri.
__ADS_1
Ibu Hesa langsung marah pada suaminya karena tidak menyangka, orang yang ia hormati setengah mati, tega berbuat keji. Hati ibu Hesa ikut kecewa menatap kemarahan putranya dan kini sudah hilang di balik pintu kamarnya.
“Jadi, Yang mulia melakukan itu pada menantu kita? Bisa-bisanya Anda begitu tidak punya hati seperti ini?” tanya ibu Hesa, masih shock.
“Bukan begitu Sayang, ini cuma salah paham.” Ayah Hesa mencoba menjelaskan.
“Salah paham bagaimana? Sekalipun karakter menantu kita terlalu bar bar dan jauh dari kata layak masuk ke keluarga kita, tidak seharusnya Yang Mulia berniat buruk seperti itu? Ini bukan diri Anda Yang mulia? Apa yang merasuki pikiran Anda sampai tega mencelakai menantu sendiri. Bagaimanapun Ei adalah manusia, dia anak yang dilahirkan dari seorang ibu sepertiku. Tidakkah kau pikirkan apa yang dirasakan orangtuanya kalau sampai Ei kenapa-napa? Dan tidakkah kau lihat betapa Hesa sangat mencintai istrinya? Kau sangat keterlaluan. Aku tidak mau punya suami kejam sepertimu.” Ibu Hesa langsung buang muka bahkan nada bicaranya yang tadinya sopan berubah jadi galak dan tidak beraturan.
Ibu mertua Ei pergi meninggalkan suaminya dan memilih tidur di kamar terpisah. Tentu saja Savatinov merutuki kebodohannya dan benar-benar terkejut karena untuk kali pertama istri dan putranya marah padanya. Hilang sudah wibawanya hanya karena rasa tidak sukanya terhadap Ei. Namun, bukannya sadar akan kesalahan yang ayah Hesa perbuat, Raden Savatinov malah semakin dendam pada menantunya dan bersumpah akan memisahkan Hesa dari Ei.
“Semua ini gara-gara gadis jalaaang itu. Keluargaku jadi membenciku. Lihat saja, aku akan terus membuatmu tidak betah berada di sini,” ujarnya dengan emosi.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1