Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 93 Pernikahan


__ADS_3

Hesa tersadar dari pingsannya dan ia membuka mata melihat segala hal yang ada di sekelilingnya. Ia ada di sebuah bangunan kosong yang tak terawat layaknya tempat sarang anggota gangster. Dari kejauhan, ia melihat sekelompok orang sedang berbincang-bincang membelakangi Hesa. Ada beberapa luka beset di hidung dan pipi Hesa entah karena apa.


Namun, luka kecil itu bukan masalah buatnya karena yang terpenting baginya adalah menemukan Ei dan beberapa teman Hesa lainnya. Pria itu tersadar kalau dirinya sudah tidak lagi terhubung dengan Keem atau anggota tim hacker lainnya. Ponselnya juga sudah raib entah kemana.


Dalam situasi ini, Hesa tetap berpikir tenang dan mencari jalan keluar. Sebelum mengambil tindakan, ia harus tahu situasi dan kondisi yang ada di tempat ini. Dari sekilas pengamatannya. Gedung ini lumayan dijaga ketat. Dan Hesa mulai berjalan pelan mendekati orang-orang yang sepertinya ditugaskan untuk menjaganya.


Dalam hitungan detik, Hesa melumpuhkan dua pria yang sedang asyik mengobrol itu dengan satu kali pitingan kepala. Gerakan Hesa begitu cepat sehingga dua pria itu pingsan seketika bahkan ada yang mengalami patah leher akibat pitingan kuat tangan Hesa.


Dua penjaga sudah dilumpuhkan, kini giliran penjaga yang ada di luar gedung. Dengan gagah berani Hesa berkelahi dengan para penjaga yang menghalangi jalannya. Ia bahkan sampai melompati pagar dan memukul orang-orang yang mencoba menyerangnya. Aksi keributan yang dibuat Hesa mengundang perhatian banyak orang tak terkecuali orang yang dicari Hesa. Si oneng Ei.


“Astaga, dia sudah sadar.” Eipun berlari menuruni tangga untuk menghentikan kekasihnya.


Saat sedang asyik bak buk bak buk, Hesa tak sengaja melihat Ei berlari menuruni tangga dan hendak menuju ke arahnya. Hesa pun berhenti memukul dan menghampiri kekasihnya. Ia bersyukur karena melihat Ei tampak baik-baik saja.


“Ei Ei, Sayang … apa kau tidak apa-apa?” tanya Hesa. Ia memerhatikan tubuh Ei dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk memastikan tidak ada yang kurang ataupun terluka.


“Aku baik-baik saja, apa yang kau lakukan? Wajahmu kenapa?” tanya Ei.


“Tidak apa-apa, tadi terluka karena habis berkelahi.”


“Kenapa kau bawa-bawa tongkat segala, buang tongkat itu ….” Pinta Ei tapi tatapan mata Hesa teralih pada 4 pria tampan yang datang mendekat ke arah Hesa dan Ei berdiri. Hesa langsung berdiri di depan kekasihnya untuk melindunginya dan siap menggunakan tongkat besi yang ia pegang untuk menghajar orang-orang kekar tapi berwajah tampan itu.


“Ei, kemari!” pinta salah satu pria yang berdiri paling depan.

__ADS_1


Tanpa suara, Eipun menurut dan ia pergi meninggalkan Hesa. Namun, dengan cepat Hesa mencekal lengan Ei dan menarik kembali kekasihnya ke dalam pelukannya.


“Kenapa kau menurut padanya? Memang dia siapamu? Tetap di sini bersamaku. Aku akan melindungimu, jadi kau jangan takut. Aku datang kemari untu membawamu pergi dari para penculik itu.”


Pria yang berdiri di depan Hesa tersenyum dan menarik tangan Ei yang satunya untuk berdiri di sebelahnya.


“Lepaskan tangannya!” tandas Hesa dengan mata berapi-api.


“Tidak akan!”


“Dia pacarku!”


“Huh, dia hampir jadi istriku kalau saja dia tak kabur dari rumah!”


“Hoooh, jadi kau suami bohongannya Ei? Huh … status suaminya Ei hanyalah kebohongan, aku adalah teman masa kecilnya Ei, aku yang mengajarinya naik sepeda dan berenang. Kami berdua dibesarkan bersama. Kau hanya beberapa bulan dengannya, sedangkan aku bertahun-tahun.” Pria tak bernama itu sengaja memanas-manasi Hesa sehingga kilatan mata api mereka berdua tampak begitu menyeramkan.


“Sekalipun kau dekat dengan kekasihku sejak kalian berdua lahir, tapi pria yang ditakdirkan untuk menemaninya sampai akhir hayatnya alah aku. Jika kalian bersama 18 tahun lamanya, amka aku akan ada disisinya sampai wanitaku ini menutup mata. Jika usia Ei Ei 60 tahun, maka 40 tahun dari sekarang, akulah yang ada didekatnya setiap saat.”


“Huh, kau bicara seperti itu seolah kau tahu saja berapa lama umur kalian. Kau bukan Tuhan, jadi kau jangan takabur. Baru jadi pacar saja bangga,” ledek pria itu dan ei yang mendengar percakapan mereka ini, jadi geregetan sendiri.


“Aku memang bukan dewa, aku juga bukan Tuhan, tapi cintaku pada Ei begitu dalam melebihi apapun yang ada di dunia fana ini. Lepaskan tangannya atau kulenyapkan kau sekarang juga,” ancam Hesa.


“Tidak akan!” tantang pria tampan itu tetap memegang erat lengan Ei kuat-kuat dan menariknya hingga tubuh Ei mendekat kearahnya.

__ADS_1


Hesa pun tak tinggal diam. Ia menarik kembali tangan kekasihnya ke dalam pelukannya dan Ei jadi rebutan dua lelaki yang berdiri menatap saling benci ini. Lama-lama Ei kesal juga dan ia menepis kasar kedua tangan yang menariknya.


“Heh bayi kukang!” bentak Ei pada pria yang menjadi rival Hesa, “Dan kau bayi marmot!” Ei juga membentak Hesa. “Kalian pikir aku boneka apa? Seenak jidat kalian main Tarik-tarik tanganku. Ini tangan nggak ada di toko manapun tahu, kalau sampai kedua lenganku ini putus, kalian mau tanggungjawab!” sengalnya sambil melotot dan berkacak pinggang.


Hesa terdiam begitupula dengan pria tak dikenalnya itu. Hesa tak ingin memperpanjang masalah dan langsung memegang kembali tangan Ei sembari mengajaknya pergi. Meski tak diberitahu, Hesa bisa mengerti di mana dia berada sekarang dan amarahnya sedang tidak stabil.


Cara satu-satunya agar emosinya tidak meledak adalah meninggalkan tempat ini sesegera ini. Urusan teman-teman Hesa yang entah ada di mana, itu urusan belakang. Yang penting si Ei sudah ketemu dalam keadaan utuh tak kurang satu apapun.


“Ayo kita pergi,” ajak Hesa, kali ini melembut. Ia tahu ia salah karena ia sedikit tak terima bila ada pria lain yang berani menyentuh kekasihnya apalagi samapi mengaku-ngaku pernah dekat dengan istrinya.


“Tidak … aku … tidak bisa pergi,” ujar Ei tiba-tiba dan mengejutkan Hesa.


“Kenapa? Apa kau mencintai pria itu? Makanya kau tidak mau pergi denganku? Apa kau tahu? Aku mengabaikan teman-temanku demi dirimu dan kau malah tidak mau pergi denganku?” tanya Hesa mulai emosi.


“Teman-temanmu baik-baik saja, mereka sedang berpesta fora di atas,” ujar Ei dan Hesa jadi bingung.


“Apa?” alis Hesa terangkat tanda tak mengerti. Namun, ia baru sadar kalau pakaian yang dikenakan Ei sangat cantik dan anggun. Pria itu langsung melotot saat Hesa melihat pria tampan yang tadi sempat bersitegang dengannya memakai setelan jas ala-ala seseorang yang sedang melangsungkan pernikahan.


“Baju apa yang kau kenakan itu? Kau mau menikah dengannya?” pekik Hesa antara percaya dan tak percaya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2