
Sungguh, Ei jadi sangat merasa bersalah pada Martin. Ia ikutan panik karena cowok itu sedang dikeroyok teman sendiri. Awalnya sih, Ei ragu. Masa iya mereka semua ngeroyok teman mereka sendiri? Namun, melihat betapa gaduhnya mereka, Ei jadi ngeri sendiri.
“Apa kau harus melakukan ini?” pekik Ei.
“Kau yang minta,” ujar Hesa singkat padat dan jelas.
“Kau bilang dia temanmu!”
“Justru karena dia temanku, makamya harus diingatkan bahwa merebut milik orang itu tidak baik.” Hesa tersenyum melihat ekspresi kesalnya Ei.
“Kau …” Ei sungguh tak tahu harus berkata apalagi. Ia tak terbiasa mengumpat. Ingin sekali ia menghajar pria yang ada didepannya tapi jelas hal itu takkan menyelesaikan masalah. Malah yang ada, masalah akan semakin bertambah.
“Sampai kapan kau diam saja? Kau mau si Martin Sumartono itu koma? Kau harus memberiku jawaban sekarang,” desak Hesa dan Ei jadi semakin bingung.
Sudah tidak ada waktu, suara teriakan Martin membuat Ei tak berdaya dan mau tidak mau ia harus memberi Hesa kepastian, gadis itu gelisah, kakinya berjingkat-jingkat di tempat. Berkali-kali dia menatap Hesa dan ruangan kelas teknik yang dipakai para teman Hesa mengeksekusi Martin. Entah apa saja yang mereka lakukan sampai pria tak berdosa itu teriak-teriak kesakitan.
Sial, kok jadi begini, sih? Omegot, apa yang harus kulakukan. Si kunyuk ini benar-benar …, jerit Ei dalam hati.
“Oke, lepasin dia!” tandas Ei sudah tidak punya pilihan lain lagi. Akhirnya hari, ini ia terpaksa beri jawaban juga dan tentu saja jawaban Ei sangat memuaskan Hesa.
“Bisa kau ulangi?” tanya Hesa ingin menghibur diri bahwa Ei tak menolaknya lagi.
“Oke, aku bersedia jadi istri pura-puramu. Tapi ingat ya, hanya pura-pura. Itupun kalau di depan keluargamu. Kalau di kampus …”
“Kau pacarku,” sela Hesa cepat. “Aku sudah umumkan itu ke pada semua orang.”
“Tapi … apa ini tidak aneh?”
“Aneh gimana?”
“Bukanlah di keluargamu aku jadi istri? Bukankah hal itu akan diketahui semua orang? Apa mungkin bisa di luar rumahmu, hubungan suami istri bohongan kita tidak diketahui siapapun?”
“Kau harus jadi istriku terlebih dulu sebelum benar-benar kunikahi.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti apapun ucapanmu. Menjadi istri sebelum menikah? Apa maksudnya itu?”
“Nanti bakal kujelaskan setelah pulang kuliah. Kau harus bertemu dengan kedua orangtuaku terlebih dulu. Barulah kau paham maksudku.”
Sungguh Ei menyesal telah bersedia menjadi istri pura-puranya Hesa. Bahasa pria tampan itu sangat susah dimengerti olehnya. Namun, demi menyelematkan Martin, ia terpaksa memberikan jawaban sesuai dengan apa yang diinginkan asdosnya ini.
Mungkin, Ei bisa saja cuek pada Martin dan membiarkannya disiksa temannya sendiri gara-gara Ei menjadikan Martin kambing hitam. Tapi. Tak menuntut kemungkinan Hesa akan mencari korban lain untuk membuat Ei menyerah dan bersedia menjadi istri pura-puranya. Yang Ei khawatirkan, Angel dan Pretylah korban selanjutnya dan gadis itu tidak mau kalau sampai kedua sahabatnya menjadi korban. Jalan satu-satunya adalah menerima tawaran Hesa dengan dalih Ei akan memikirkan cara untuk kabur darinya.
“Brays! Lepasin!” teriak Hesa dan teman-temannya langsung keluar kelas meninggalkan Martin sendirian di dalam.
Karena khawatir, Ei langsung lari ke dalam kelas di mana Martin Sumartono itu berada untuk mengetahui bagaimana kondisinya. Dan ternyata ….
“Kok kamu baik-baik saja?” tanya Ei melihat si Martin merapikan pakaiannya.
“Baik-baik bagaimana? Mereka semua menggelitiki tubuhku sampai geli semua!” cetus Martin dengan kesal. “Awas saja, aku bakal cari bedebaah yang sudah tebar fitnah kalau aku pacar kamu,” geram Martin dan keluar menemui Hesa.
Ei mengekor dibelakangnya dengan harap-harap cemas. Meski ia kesal juga karena merasa dibodohi oleh Hesa dan teman-temannya.
“Katakan, Hes. Siapa bedebaah yang fitnah aku ngerebut cewek kamu! Biar ku cincang dia!” tandas Martin belum tahu bahwa bedebaah yang ia maksud adalah Ei sendiri.
Martin akhirnya sadar bahwa orang yang memfitnahnya adalah Ei sendiri. Pria itu hendak mengejar wanita yang sedang melarikan diri samapi dapat tapi langkahnya langsung dicegah Hesa.
“Minggir!” bentak Martin. “Pacarmu itu kelewatan banget!”
“Aku yang urus dia, kau balik kuliah aja sana!” tandas Hesa dan Martin tak berani membantah.
Cowok itu balik badan menuju kelas kuliahnya tanpa suara lagi. Hesa memang bukan mahasiswa biasa di kampus ini. Selain Leo, ia juga punya pengaruh besar terutama di bidang akademik. Selain jadi asdos, dia juga merupakan ikon dari universitas ini. Berurusan dengan Hesa sama saja cari mati.
Hesa hanya tertawa saja melihat tingkah konyol Ei yang melarikan setelah sempat menjadikan Martin sebagai pacar ngaku-ngakunya. Salah sendiri, siapa suruh Ei berbohong pada Hesa. Akhirnya gadis itu kena batunya juga. Si asdos sengaja tidak mengejar karena ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari Ei. Tinggal menghadapi kedua orangtuanya saja sekarang.
Namun, Hesa lupa, kalau Ei itu somplak banget. Gadis itu tak hanya kabur melarikan diri dari Martin, tapi ia benar-benar kabur dari Hesa dalam artian sebenarnya. Di otaknya sudah banyak segudang rencana di mana gadis itu yakin kalau seorang Hesa tidak akan pernah bisa menemukannya.
“Kak Iwan!” seru Ei dari kejauhan memanggil seseorang.
__ADS_1
Rupanya, Ei tidak langsung masuk kelas mata kuliah pertamanya bersama dengan Angel dan Prety. Tetapi malah ke ruang pecinta alam di maan Iwan adalah ketuanya. Kebetulan cowok sedang mondar mandir di depan ruang PA.
“Ada apa Ei, ngapain kau ngos-ngosan begitu? Kayak dikejar setan alas aja,” ledek pria berambut gondrong itu.
“Bukan setan alas Kak, tapi dedengkot!” jawab Ei masih ngos-ngosan. Eh kak, pinjam peralatan hikingnya dong. Cuma beberapa hari saja. Lusa pasti bakal aku balikin,” ujar Ei sambil mengatur kembali napasnya.
“Hari gini kau mau muncak? Sebentar lagi kan ujian semester. Kita semua sekarang lagi off, fokus belajar buat ujian.”
“Siapa yang mau ngajakin kalian? Aku mau hiking sendiri, mau belajar di gunung biar bisa lebih konsentrasi dan nggak ada yang ganggu! Boleh ya, Kak!” bujuk Ei dengan pasang wajah sok imut. Sudah jelas tujuannya Ei hiking adalah menghindari Hesa yang pulang kuliah nanti bakal mengajaknya bertemu dengan kedua orangtua Hesa. Ei tidak siap dan ia sungguh tidak mau jadi istri sekalipun ini cuma pura-pura. Memangnya ini daram Korea?
“Kau jangan gila deh Ei. Nggak bisa! Kalau ada apa-apa sama kamu gimana? Walaupun demit di luar sana takut sama kamu, tapi alam kan nggak.” tolak Iwan mentah-mentah.
“Yee … memangnya aku cewek apaan, Kak? Dikira Kuyang kali.” Ei sewot diledek Iwan. “Ayolah, Kak! Plis! Pinjemin yak, 2 hari doang kok. Ayolah Kak, aku nggak punya banyak waktu.” Ei mengatupkan kedua tangan meminta belas kasih Iwan.
“Nggak, nanti aja kalau kau sudah selesai ujian. Kita hiking sama-sama. Kalau sekarang, nggak boleh. Lagian kau ini kenapa sih? Masa ratu demit takut sama setan?”
“Bukan begitu, Kak. Aku nggak bisa cerita sekarang. Demit satu ini sangat mengerikan, Kak. Mending menghindar dan cari aman. Boleh ya … plis, Kak. Nanti aku bantu buat dapetin nomernya Lalisa, deh.” Ei sungguh pasang wajah sememelas mungkin di hadapan Iwan sambil menawarkan sebuah tawaran yang menggiurkan.
Ei tahu kalau Iwan sangat menyukai seniornya yang bernama Lalisa. Si Primadona pencinta alam. Tak hanya namanya saja yang sama dengan salah satu member Blackpink, tapi wajah dan postur tubuhnya yang atletis juga mirip banget sama Lisa asli.
“Serius! Okeh kalau begitu! 2 hari, ya … mana nomernya?” Iwan langsung bersemangat ketika Ei menyinggung soal si Lalisa.
“Nanti aku kirim segera setelah aku keluar dari kampus ini! Bye kak Iwan, mamacih ya …” Ei langsung menyambar currier besar berisi peralatan hiking dan langsung pergi begitu saja ke tempat yang menurut Ei takkan bisa di jangkau oleh Hesa. Yaitu gunung.
“Haha … si kunyuk itu, takkan pernah bisa menemukanku. Mana mungkin anak manja kayak dia bisa naik gunung! Akhirnya … aku bebas! Hah … kenapa cara ini tidak terpikirkan olehku sebelumnya,” gumam Ei sambil jingkrak-jingkrak senang seperti anak kecil yang mau di ajak liburan.
Iwan sang ketua PA Cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah somplaknya Ei yang memang sudah terkenal humoris di organisasinya. Kendati demikian, Ei adalah satu-satunya pendaki teraktif wanita yang tergabung di kelompoknya dan memang sering hiking sendiri kalau sedang ada masalah. Meski somplak, cewek cantik itu punya fisik kuat melebihi pria.
“Sepertinya, ada yang mengejarnya lagi. Ei Ei, sampai kapan kau melarikan diri dari cinta yang terus datang menemuimu. Di mana-mana cewek itu mainnya di mall, nongkrong ama temen, lah itu cewek malah hobi naik gunung,” gumam Iwan sambil berlalu pergi.
Namun, langkahnya terhenti saat seseorang datang menghalangi langkah Iwan. “Gunung mana?” tanya seseorang itu dengan tatapan mata yang menakutkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***