Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 69


__ADS_3

Nenek Hesa tak berniat menjelaskan kenapa dia menampar putranya sampai 2 kali. Sang Gusti Kahiyang Ayu tetap berdiri di dekat ayah Hesa dan terus menatapnya dengan marah. Tamparan kedua ini, sukses membuat semua orang terheran-heran dan juga bingung walau pada akhirnya mereka mengerti.


Mereka semua sadar bahwa yang dikatakan Savatinov pada Ei memang tak pantas diucapkan oleh seorang bangsawan besar seperti ayah Hesa ini. Wajar, kalau sang permaisuri langsung bertindak tegas.


“Ei! Pergilah dari sini sesuai dengan apa yang dititahkan ayah mertuamu,” seru nenek Hesa tiba-tiba tanpa menoleh pada Ei Ei.


Hati Ei serasa remuk mendengar ucapan nenek yang amat sangat dirindukannya kini sama sekali tak mau melihatnya. Bahkan hingga detik terakhir keberadaan Ei di sini, sang nenek masih tidak mau menatap wajah Ei.


Kecewa, sedih dan juga serasa runtuh bercampur aduk dalam hati Ei dan gadis itu harus siap menerima ini semua. Ei menganggap ini adalah salah satu bentuk konsekuensi yang harus ia terima akibat telah membohongi keluarga Hesa. Dalam kondisi tubuh lemas, Ei melepas tangan Hesa dan berdiri untuk meninggalkan ruangan yang mungkin takkan pernah bisa dilihat Ei lagi.


Hesa ikut berdiri dan menyusul kepergian kekasihnya tapi langkah kaki Hesa di tahan oleh neneknya.


“Biarkan dia pergi sendiri Hesa! Kau tak perlu mengantarnya.”


“Tapi Nek …”


“Aku bilang … tetaplah di sini!” bentak nenek Hesa marah dan menatap lurus ayah Hesa yang masih tidak terima kedua pipinya digampar hanya karena Ei.


Sebenarnya, Hesa sangat ingin menyusul Ei yang bakal berangkat ke Amerika hari ini juga. Setidaknya, ia ingin mengantar kepergian istrinya setelah mengakhir sandiwara pernikahan mereka. Namun apa daya, Hesa tak berani menentang titah neneknya. Alhasil yang Hesa lakukan hanyalah menatap punggung Ei yang terus berjalan pergi tanpa mau menoleh lagi dan hilang ditikungan begitu saja.


Pintu ruangan keluarga kembali ditutup dan disitulah nenek Hesa mulai menjelaskan siapakah Ei sebenarnya dan kenapa sang wanita paruh baya yang elegan itu begitu marah pada putranya atas ucapan tak pantasnya yang dikatakan pada Ei barusan.


“Sebagai seorang ibu … aku … sangat malu melahirkan putra sepertimu Tinov. Kau adalah satu-satunya putraku yang aku banggakan dan bisa menggantikan posisi kakek dan ayahmu. Namun sayang beribu sayang, kau punya penyakit hati yang tak bisa disembuhkan kecuali oleh dirimu sendiri.”

__ADS_1


“Kenapa Ibunda bisa bicara seperti itu padaku? Apa salahku? Gadis itu sudah merusak citra keluarga kita, dia berani masuk ke dalam istana ini dengan segala kebohongannya, sekalipun dalang dari semua ini adalah putraku sendiri.” Savatinov mencoba membela diri.


“Inilah yang tidak kusuka darimu, kau gampang akrab dengan iblis berwujud manusia tapi kau membenci manusia berhati malaikat seperti wanita yang dicintai Hesa. Apa kau tahu siapa dia, Tinov?”


“Dia hanyalah gadis biasa dari kalangan kaum sudra. Apa yang bisa dibanggakan dari gadis desa seperti dia Ibunda?” tanya Savatinov tak terima.


“Kau salah, wanita yang kau benci itu, wanita yang kau kira hanyalah gadis desa bisanya … sebenarnya … dia adalah salah satu keturunan darah biru dari zaman kerajaan Majapahit. Aku masih menyelidiki siapakah raja yang menjadi kakek buyut Ei. Derajatnya dan juga stratanya … jauh lebih tinggai dari kita Tinov. Dan kau merendahkan salah satu keturunan Raja. Kau tahu betul kalau itu adalah suatu penghinaan besar? Seandainya sang raja masih hidup, maka kau dan seluruh anggota keluargamu akan dihukum mati. Bersyukurlah kau hidup di zaman sekarang dan masih bisa menyaksikan salah satu keturunan rajamu yang masih hidup.”


Semua mata terbelalak dan mulut mereka juga menganga lebar setelah tahu siapakah Ei yang sebenarnya. Tidak ada yang menyangka kalau ternyata Ei adalah … keturunan darah biru juga sama seperti Hesa. Pantas saja Ei punya aura tersendiri dan ia bisa menjawab semua hal yang ditanyakan terutama saat ia ditanya soal mitos yang ada di tanah jawa.


“Bagaimana Ibu tahu?” tanya Savatinov masih belum percaya pada apa yang ia dengar soal Ei barusan.


“Dalam kitab sejarah keluarga kita, sengaja tidak sebutkan siapakah Ratna Nareh, tapi istri Hesa, tahu siapakah anggota calon arang yang termuda. Dan yang mengetahui hal itu … hanya keturunan langsung sang raja karena sejak kecil mereka memang diajarkan untuk mengetahui sejarah dan budaya di zaman kerajaan.” Nenek Hesa menatap wajah tegang Hesa yang tertegun menatap semua benda yang ada dihadapannya.


“Sekarang … kau tahu siapakah istrimu Hesa. Kau tahu betula apa yang harus kau lakukan sekarang? Seorang putri, takkan pernah bisa berbohong dan akan selalu mengakui kesalahan jika dia berbuat salah. Itulah yang dilakukan Ei karena dia … adalah putri yang sebenarnya.”


Semua orang terdiam dan tak bisa berkata-kata begitu pula dengan Hesa. Ada begitu banyak kejutan yang disuguhkan dalam kisah romansa Hesa dan Ei. Bahkan kebohongan yang mereka akhiri, kini malah menjadi awal bagi Hesa untuk memulai kembali perjalanan cintanya.


Tanpa banyak bicara, Hesa putar badan dan langsung berlari mengejar Ei yang ternyata sudah pergi bersama dengan Fery menuju bandara. Tak ingin kehilangan kesempatan, Hesa pun menuju mobil Ferrarinya dan melesat cepat meninggalkan rumah menuju badara.


***


Sementara di Ei dan Fery serta Angel dan Prety, baru saja tiba di bandara internasional di mana pesawat Ei yang bakal menuju Amerika akan berangkat beberapa waktu lagi. Usut punya usut, Fery memang sudah menyiapkan semua ini sejak lama.

__ADS_1


Sepupu Ei itu sengaja tidak pergi dan malah menjadi detektif dadakan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang dirahasiakan Ei darinya. Di tambah ia tak sengaja dengan Angel dan Prety, hanya bermodalkan ketampanan, Fery mendapat informasi akut dari kedua sahabat dekat Ei. Tak heran jika Fery hadir dalam sayembara yang diikuti sepupunya dan bermaksud membawa Ei kembali bersamanya ke Amerika.


“Kok tiba-tiba jadi gini, sih? Kok kamu pergi sih Ei,” rengek Prety pada Ei.


“Salah siapa aku harus pergi seperti ini, kalau saja mulut kalian tidak ember pada kakak sepupuku, dia takkan memaksaku pergi meninggalkan negera ini. Ini timing yang pas tahu nggak sih? Aku tak punya pilihan lain selain harus ikut dengannya,” ledek Ei. Ia tahu Fery pasti menggunakan pesonanya untuk menjebak kedua temannya ini masuk ke dalam perangkapnnya.


Angel dan Prety saling sikut dan tak berani menatap Ei. Mereka baru sadar kalau ternyata sudah terjebak ke dalam lubang buayanya Fery.


“Maafkan kami, Ei. Kami khilaf,” ujar Angel.


Melihat kedua sahabat Ei yang menggemaskan itu, Ei langsung memeluk Prety dan Angel sambil tersenyum. “Kalian tidak perlu minta maaf, it’s ok. Everything be ok. Lagian aku bisa bebas sekarang. Setidaknya menghilangkan penat. Aku akan selalu menghubungi kalian setibanya di sana. Jangan ganti nomer loh ya … awas!” ancam Ei dengan nada bercanda.


“Huaaa … aku pasti bakal merindukan keoenanganmu, kegilaanmu dan juga aksimu yang selalu diluar ekspektasi. Tanpamu kelas pasti sepi,” ujar Angel kembali sedih.


“Aku akan kembali, tapi tidak dalam waktu dekat. Begitu lulus dari Harvard aku akan kembali lagi kemari. Kalian jangan sedih. Kau harus cari pacar yang bener Ngel, jangan kayak Leo. Dan kau Pret, jangan banyak nyemil biar nggak gendut supaya ada yang naksir kamu.” Sebelum pergi Ei malah sempat-sempatnya memberikan ultimatum.


“Haiss … kau ini menjengkelkan sekali. Pergi sana!” usir Prety lumayan tersungging dengan ucapan pedasnya Ei.


Ketiganya saling berpelukan dan hampir menangis saat Ei masuk ke dalam bersama dengan Fery karena pesawat mereka akan segera take down.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2