
Para kaum Hawa langsung histeris berteriak setelah mereka tahu siapakah orang yang ada di hadapan mereka dengan pakaian yang rapi ala seorang dosen. Mungkin ini kali pertama bagi mereka melihat si ketua gangster memakai setelah jas warna krem terang yang menempel serasi di tubuh Hesa sehingga membuat penampilannya begitu cool.
Beberapa wanita di kelas ini sampai lemas saking tidak kuatnya menatap betapa sempurnanya seorang Hesa bak pangeran Yunani apalagi saat ia berdiri dengan stay coolnya di podium dosen. Bahkan ada juga mahasiswi dari luar kelas yang menerobos masuk hanya karena ingin melihat penampilan baru Hesa.
Syukurlah security bertindak tegas dan mengamankan mereka semua agar masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Suasana akhirnya kembali kondusif. Hanya Ei saja yang diam tak bersuara karena ia sudah terbiasa melihat penampilan Hesa yang sebelumnya pernah menjadi asdos di kampus mereka sebelumnya. Namun, di Amerika, semua orang malah heboh.
“Wuah … apa kau yang memilihkan jas untuknya? Sejak kapan sang gangster berubah jadi dosen?” tanya Jessica pada Ei.
“Dia bukan dosen, dia hanya asisten dosen. Dia belum lulus kuliah, mana mungkin bisa jadi dosen,” jawab Ei dengan nada juteknya. Ia tak suka melihat para wanita yang ada di sini begitu memuja-muja kekasihnya bagai dewa.
“Kenapa kau begitu beruntung mendapatkan Dewa Yunani sepertinya. Beritahu aku, kebaikan apa yang kau lakukan di kehidupanmu sebelumnya sampai makhluk sempurna ciptaan Tuhan itu menjadikanmu pilihan hatinya?” tanya Jessica mulai melantur kemana-mana.
“Entahlah Jess, mana aku tahu nenek moyangku pernah berbuat apa? Kau pikir aku cenayang atau dukun apa? Yang maha tahu segalanya. Tidakkah kau bersikap biasa saja? Di hanya manusia, bukan dewa!” Ei kesal. Lebih kesal lagi seisi kelas begitu mengelu-elukan Hesa.
Menyebalkan, di Indo dia tak setenar itu, kenapa di sini dia tenar sekali, batin Ei menatap dongkol Hesa yang malah mengedipkan satu matanya pada Ei. Tentu saja semua orang langsung heboh karena Hesa satu-satunya asisten dosen paling so cute di sini.
“Kalian semua tenanglah,” seru Hesa dengan lantang sehingga kelas menjadi hening seketika. Semua tampak mendengarkan Hesa dengan seksama. “Kelas akan kita mulai! Ah … aku tak perlu memperkenalkan diri karena kalian semua pasti sudah tahu siapa aku. Dan selama kekasihku ada di sini, maka selama itu pula, aku akan menggantikan professor Mark menjadi dosen kalian.”
“Huuuu!” terdengar riuh ricuh semua orang dan tatapan semua mata langsung menatap tajam Ei. Untungnya tidak lama karena Hesa langsung memulai kuliahnya.
__ADS_1
Ei yakin 100%, materi yang disampaikan Hesa di depan podium dosen, tidak akan masuk ke otak semua orang yang ada di kelas ini karena mereka hanya menatap ketampanan dan pesona paripurna Hesa. Di ruangan ini hanya satu dua orang saja yang serius mencatat termasuk Ei.
Jessica yang duduk di samping Ei malah menopang kepalanya dengan kedua tangannya dan fokus memerhatikan suara merdu Hesa saat menjelaskan materi kuliahnya. Sedangkan yang lainnya mengkhayal entah ke mana. Hanya Ei saja yang fokus dan mencatat hal-hal yang perlu dicatat.
Di tengah-tengah kuliah sedang berlangsung, tiba-tiba seorang mahasiswa tampan mendekati meja Ei dan bicara padanya.
“Hei Ei, kau punya bolpoin? Aku pinjam karena kehabisan bolpoin?” tanya mahasiswa yang kebetulan duduknya ada di sebelah Ei.
“Iya, aku punya, sebentar.” Ei merogoh tasnya dan mengambilkan bolpoin lain di dalam tepak kecil mungil Ei.
Hal itu langsung mencuri perhatian Hesa karena mahasiswa itu tampak akrab dengan Ei. Tatapan mata Hesa sangat tajam dan ia berjalan mendekat ke tempat mahasiswa tersebut berada. Begitu Ei hendak menyerahkan bolpoin hitam pada mahasiswa tadi, Hesa langsung mencegahnya lalu merebut bolpoin tersebut dan itu disaksikan oleh seisi kelas. Mata Ei menatap Hesa dan Hesa langsung memelototinya. Tapi tidak lama karena Hesa putar arah ganti menatap mahasiswa yang mencoba tebar pesona pada Ei.
“Dari sekian banyak orang yang ada disekitarmu, kenapa kau meminjam bolpoin pacarku, Nathan?” tanya Hesa tandas dan cenderung posesif.
“Jangan pinjam bolpoinnya atau apapun darinya, jangan pernah dekati dia. Kaupun dilarang bicara dengannya apalagi di saat kelasku sedang berlangsung!” Hesa terdengar geram dan suasana kelas tampak sangat tegang. Jiwa gengsternya mulai keluar.
Ei yang melihat hal itu jadi bingung dan shock. Bisa-bisanya Hesa berubah seposessif itu padanya. Tatapan mata semua orang sudah menuju kearahnya dan ia langsung paham apa yang sedang semua orang ini pikirkan sekarang. Tak ingin ada masalah yang lebih runyam lagi, Eipun menarik tangan Hesa keluar kelas dan mengajaknya pergi ke tempat sepi yang tidak banyak di tempati orang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Ei mulai marah. Keduanya sedang ada di atas balkon gedung paling atas.
__ADS_1
“Aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Hesa santai padahal masih terlihat emosi.
“Pak dosen! Hanya karena bolpoin, tidakkah tindakanmu ini sangat berlebihan?”
“Itu hanya modus untuk mendekatimu, Ei. Tidakkah kau sadar? Disebelahnya itu ada pacar Nathan, dia bisa saja pinjam pacarnya, kenapa dia malah pinjam padamu? Kau bukan pacarnya, jelas-jelas dia tahu kau itu pacarku!” ganti Hesa yang sekarang emosi.
Ei membuang napas menghadapi kecemburuan Hesa yang harusnya dialah yang yang cemburu dalam situasi tadi. “Tidakkah kau juga berpikir? Kenapa dia melakukan itu? Dia sengaja untuk memancing emosimu. Jika kau terus seperti ini, orang akan menganggap kau memperlakukanku dengan sangat istimewa hanya karena kau adalah pacarku. Kau bisa tebak sendiri akibatnya. Reputasimu di sini dipertaruhkan Hesa, dan aku tak mau jadi kelemahanmu.”
Hesa terdiam, yang dikatakan Ei memang benar. Rasa cintanya yang begitu besar terhadap Ei membuat orang mencoba memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkan Hesa. Gengster sekelas Hesa pasti musuhnya banyak dan tak sedikit orang yang membencinya dan ingin melihat kejatuhan Hesa.
“Apa kau tahu? Dialah orang yang memfitnah kita, mengganti foto-foto kita dengan gambar tak senonoh dan lain sebagainya. Meski aku sudah membekukan akunnya, tetap saja dia … takkan pernah berhenti mengganggu kita.”
“Sebab itulah, biarkan aku sendiri yang mengatasinya. Kau tetap diam ditempatmu sambal melindungiku dibalik layar. Biarkan dia melakukan apa saja yang dia suka, aku bukan wanita lemah seperti yang dia kira. Aku takkan jatuh kedalam perangkapnya. Kau tahu kenapa?”
Hesa tidak menjawab dan hanya menatap tajam wajah Ei.
“Karena aku kekasihmu, wanita yang paling tepat untukmu. Aku juga tidak mau dijadikan kelemahanmu. Mereka semua yang membencimu juga harus tahu. Seorang Hesa, tidak sembarangan memilih pasangan hidupnya.” Ei berjalan mendekat dan langsung memeluk Hesa sambil mendengarkan detak jantung kekasihnya yang sudah normal.
Artinya, Hesa sudah tidak marah lagi. Emosinya mereda dan Ei jadi lega.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***