
Hesa dan Ei saling pandang ketika Fery menanyakan di mana dia akan menginap. Hesa langsung menarik tangan Ei untuk menjauh dari Fery dan mengajaknya bicara 4 mata mengenai masalah ini.
“Ada apa ini, Ei? Bagaimana bisa kau tiba-tiba punya sepupu disaat seluruh keluargaku mengira kau yatim piatu?” tatar Hesa. Ia melirik Fery yang sedang menikmati soda gembiranya.
“Panti asuhan saja kau bisa tahu, bagaimana masalah sepupuku kau tidak tahu?” Ei malah balik bertanya.
“Wuah … sepertinya kau menyimpan banyak sekali rahasia. Aku harus menyewa detektif Conan untuk bisa mengusut tuntas siapa kau dan latar belakangmu sebenarnya.” Hesa mengotak atik ponselnya dan menelepon seseorang.
Mata Hesa menatap lurus wajah istrinya dan terus menggenggam erat tangan Ei seolah enggan ia lepaskan lagi. Meskipun Fery adalah sepupu istrinya, tetap saja Hesa tidak rela kalau pria itu main peluk Ei sembarangan lagi.
“Kau bisa lepaskan tanganku? Aku merasa seperti tahanan kriminal.”
“Tidak, kalau kau kulepaskan, kau bisa dipeluk lagi olehnya,” ujar Hesa secara terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya. Padahal dia sedang sibuk bertelepon ria dengan seseorang. “Hem … jadi begitu … oke, terimakasih.” Hesa menutup panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana hitamnya.
“Siapa yang kau telepon?” tanya Ei penasaran.
“Sumber informasi yang akurat. Lupakan dulu masalah siapa kau sebenarnya. Sekarang bagaimana? Di mana Fery akan menginap? Tidak mungkin kita memberitahunya kalau kau dan aku sudah menikah dan besok kau harus mengikuti sayembara sebagai putri pilihan pangeran ningrat Mahesa Arleon Savatinov Rajasanaghara.”
Ei berpikir sejenak, dia melihat sepupunya yang juga tersenyum padanya. Tidak mungkin juga bagi Ei mengungkapkan siapa Ei saat ini. Sebab, ia suah sangat nyaman hidup sebagai Ei yang sekarang.
Kehadiran Fery, bagaikan boomerang dalam hidup Ei yang aman tenteram dan damai. Sebab itulah, Ei harus membuat Fery pergi dari sini dan tidak mengganggu kehidupannya lagi. Gadis itu tak punya pilihan lain selain harus terus bersandiwara dan membuat Fery angkat kaki dari kota ini. Untunglah, Hesa masih belum begitu fokus mencari tahu siapa Ei sehingga untuk saat ini, identitas asli si oneng ini aman terjaga sementara.
“Mau bagaimana lagi? Kita sudah sampai sejauh ini. Bermain drama tidak boleh setengah-setengah. Kita harus memainkan drama ini dengan totalitas dan semaksimal mungkin agar hasilnya juga bagus.”
“Apa maksudmu?” Hesa mengernyitkan alisnya karena tidak mengerti apa yang direncanakan Ei saat ini. Secara tiba-tiba, Ei menghadap Hesa yang jauh lebih tinggi darinya. Gadis itu menatap lekat-lekat suaminya sehingga Hesa jadi salting sendiri ditatap Ei seperti itu.
“Kau percaya padaku, kan?” tanya Ei. Raut mukanya tampak sangat serius duarius.
“Tentu saja,” jawab Hesa cepat. “Tidak ada orang lain yang bisa kupercaya selain dirimu.”
“Kau mencintaiku, kan?” tanya Ei lagi. Matanya meminta jawaban pasti dari Hesa.
“Lebih dari yang kau tahu,” jawab Hesa dengan elegan.
__ADS_1
“Kalau begitu, apapun yang kukatakan pada sepupuku, kau harus bilang iya,” pinta Ei penuh teka-teki.
Hesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meski bingung, Pangeran tampan itu mengiyakan saja permintaan Ei daripada ribet. Namun, entah mengapa Hesa merasakan firasat yang buruk. Ia hanya berharap, Ei tidak menimbulkan kekacauan sampai sayembara itu berlangsung.
Setelah mencapai kesepakatan bersama. Ei dan Hesa berjalan beriringan menghadap Fery yang jadi heran dengan dua insan yang sok imut itu.
“Ada apa dengan wajah kalian berdua?” tanya Fery menatap dua orang yang berdiri di depannya.
“Kau tidak bisa tinggal di sini. Aku tidak main-main dengan tawaranku tadi, kau harus pergi dari sini dan jangan kembali lagi kemari,” ujar Ei.
“Oke, tapi kenapa aku tidak boleh bermalam di rumahmu? Aku lelah, dari Amerika aku langsung kemari. Hanya semalam saja, tidak lebih. Besok aku kan pulang dan memberi kabar pada keluargaku bahwa kau baik-baik saja.”
“Tetap saja tidak bisa,” tandas Ei.
“Kenapa? Kau mau bilang kalau kalian sudah menikah? Itu alasan yang basi. Kids zaman now rata-rata memang seperti itu.”
Ei sudah menduga kalau sepupunya bisa menebak rencananya. Tapi Ei punya segudang rencana lain yang mampu membuat Fery pergi dari sini.
Hesa tertegun dan langsung menoleh pada Ei karena ia tak menyangka istrinya bakal berbohong sampai sejauh ini. Semiskin itukah diriku dam keluargaku? Sampai harus berbagi ruang dengan sapi? Batin Hesa.
Ini sebuah penghinaan besar. Rumah Hesa yang luasnya seluas samudra dengan harta kekayaan takkan pernah habis 7 turunan malah disetarakan dengan kandang sapi yang sempit dan tak punya ruang tamu. Dasar di oneng Ei ngasal saja kalau mengarang cerita.
“Tidak masalah, tidur dengan sapi sepertinya menyenangkan. Apa kau lupa Ei. Saat liburan sekolah dulu, kita semua pergi liburan ke desa tempat kakek dan nenek berada. Kau bermain-main dengan anak sapi dan tak sengaja keinjak oleh anak sapi itu. Kau menangis dan aku terpaksa menggendongmu pulang.” Fery tertawa dan malah membuka aib masa lalu Ei di depan Hesa. Jelas ini diluar dugaan Ei.
Mendengar hal itu, tentu saja Hesa tertawa tapi sambil memalingkan muka agar Ei tidak marah padanya. Ternyata, sedari kecil Ei ini sudah oneng. Sapi adalah salah satu binatang jinak. Kalau sampai anak sapi itu menyerang Ei, saking apanya coba?
“Haish … diam kau! Kenapa kau malah membahas itu? Sapinya saja yang nggak tahu diri, sudah bagus aku kasih makan rumput eh aku malah diseruduk.” cetus Ei kesal apalagi Hesa sudah tertawa tanpa suara disampingnya.
“Lah, kau pikir sapi itu kuda? Yang bisa kau tunggangi kapan saja? Sapi itu masih anak-anak sama sepertimu, mana kuat dia menanggung beban tubuhmu dasar oneng markoneng!”
Hesa sudah tidak bisa menahan tawa lebih lama. Ternyata eh ternyata, Ei diinjak anak sapi karena dia mencoba menunggangi sapi tersebut. Ya pantesan sapinya marah apalagi bila anak sapi itu masih kecil.
“Kenapa malah bahas masa lalu sih? Pokoknya, kau harus segera pergi dari sini. Kau harus pulang ke rumah dan beritahu semua keluarga kalau aku dan Hesa sudah menikah, iya kan Sayang?” ujar Ei sambil menggandeng erat lengan Hesa.
__ADS_1
“Iya, Sayang,” jawab Hesa mencoba untuk tidak tertawa setelah tahu sepenggal kisah masa kecil Ei.
“Dan aku sekarang tinggal dengan mertuaku, iya kan Sayang.” Ei mengedipkan mata agar Hesa terus menjawab ‘iya’.
“Terus?” tanya Fery.
“Ya nggak enak saja kalau kau datang dan menginap di rumah kami yang sempit. Iya kan Sayang?” ujar Ei pada Hesa dan lagi-lagi Hesa harus bilang ‘iya’ dengan hati yang berat.
“Kalau begitu, kau saja yang ikut aku pulang dengan suamimu. Kalian menikah diam-diam tanpa melibatkan keluarga. Sudah seharusnya kalian datang dan minta restu langsung pada mereka.” Ganti Fery yang sekarang mengejutkan Ei dan Hesa.
“Nggak bisa!” pekik Ei cepat.
“Kenapa lagi?”
“Aku tidak bisa menempuh perjalanan jauh. Setidaknya, sampai 8 bulan ke depan,” terang Ei penuh makna. Firasat Hesa jadi semakin tidak enak saat Ei bilang seperti itu.
“Memangnya kau kenapa? Apa yang terjadi padamu sampai 8 bulan ke depan? Apa … kau sakit?”
“Ehm …” Ei ragu apakah ia harus meneruskan sandiwaranya atau tidak.
Namun, ia tak punya pilihan lain. Hanya inilah kartu As satu-satunya yang bisa Ei keluarkan untuk mengusir Fery dari sini agar tidak mengganggunya lagi sekalipun Ei harus membuat namanya tercoreng dihadapan Fery dan keluarganya.
“Ei, katakan. Ada apa? Kenapa kau tidak bisa pulang sampai 8 bulan ke depan?” tanya Fery mulai cemas. Hesa juga penasaran, kali ini cerita apalagi yang bakal di karang istrinya.
“Sebab, aku hamil!”
Fery melongo dan Hesa langsung tersedak.
“Hah?” seru cowok-cowok itu bersamaan saking terkejutnya, tapi Ei langsung menginjak kaki Hesa agar tidak terkejut dan bersikap biasa-biasa saja.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1