Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 68


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Hesa dan Ei bermaksud jujur pada keluarga Hesa terlepas dari hubungan mereka keduanya. Kedua insan yang sedang jatuh cinta itu saling bertautan tangan. Saling menggenggam erat dan siap menghadapi segala kemungkinan yang ada.


“Kau siap?” tanya Hesa pada Ei saat keduanya berdiri tepat di depan pintu ruang keluarga di mana seluruh keluarga Hesa ada di dalamnya.


Sembari membuang napas dan menarik napas dalam-dalam, Ei berkata, “Aku siap. Mungkin ini adalah pertemuan terkahir kita. Begitu keluar dari istana ini, aku akan langsung berangkat ke Amerika.”


Hesa tersenyum sambil terus menggenggam erat tangan Ei. Ei jadi penasaran karena sepertinya suaminya ini tak tampak sedih mendengar Ei bakal pergi meninggalkannya.


“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Ei curiga Hesa menyembunyikan sesuatu darinya.


“Ei, kau jangan lupa, di manapun kau berada, disitulah aku ada. Mau Amerika atau Belanda, tak ada bedanya, kau dan aku … akan tetap bersatu padu. Aku sudah menstempelmu dengan cintaku. Dan aku takkan pernah melepaskanmu sampai kapanpun. Ingat itu baik-baik.” Hesa menghadap tubuh kekasihnya dan mencium punggung tangan Ei dengan mesra. “Semua ini salahku. Kalau saja aku tidak berlebihan saat mendapatkanmu, hal ini takkan terjadi padamu. Kini … kita harus memulai lagi dari awal. Setidaknya … keluargaku … takkan pernah lagi menjodohkanku dengan siapapun.”


Ei tersenyum menatap wajah tampan Hesa. Ia sudah tidak galau lagi sekarang dan sangat mantap menghadapi segala konsekuensi dari kebohongannya selama ini. Pasangan kekasih paling aneh bin langka ini sama-sama membuka pintu ruangan dan melangkahkan kaki ke dalam sambil terus bergandengan tangan.


Tentu saja, aksi dua sejoli itupun menuai sorotan keluarga Hesa termasuk sang nenek. Beberapa diantara mereka ada yang salut akan keberanian Hesa yang berhasil membawa kekasih hatinya masuk ke dalam keluarga ningrat mereka. Namun, tak sedikit pula yang menyayangkan tindakan Hesa menyalahi banyak aturan.

__ADS_1


Sayangnya, bukan itu yang membuat Hesa dan Ei nekat datang menghadap semua keluarga besar bangsawannya disaat mereka sedang sibuk membahas pernikahan Hesa dan Ei. Dengan sikap tenang, Hesa membawa Ei berdiri mendekat ke tempat sang nenek dan kedua orangtuanya duduk.


Sedangkan Ei, matanya hanya terfokus pada sang nenek yang hingga detik ini, masih enggan menyapa ataupun sekedar basa-basi dengan Ei. Gadis itu tak peduli pada pandangan dan pikiran orang lain terhadapnya. Yang gadis itu pikirkan hanyalah apakah nenek Hesa membencinya atau tidak, itu saja.


“Nenek, Ayahanda, Ibunda dan semua yang ada di sini,” ujar Hesa memulai pembicaraan terlebih dulu. “Kami datang, untuk memberitahu kalian sesuatu, tapi sebelumnya, perlu kalian tahu … kalau aku dan Ei saling mencintai dan aku memang menginginkannya menjadi istriku satu-satunya.”


“Selamat, kini keinginanmu sudah terwujud. Kau ingin aku bertepuk tangan?” sela ayah Hesa dan tetap jutek seperti sebelumnya. Terlihat jelas kalau ia sangat tidak suka dengan kemenangan Ei sebagai calon istri Hesa yang sah.


Hesa dan Ei saling pandang dan mereka berdua langsung berlutut di hadapan semua orang. “Maafkan kami … sebenarnya … kami masih belum menikah. Surat pernikahan itu palsu dan akulah yang meminta orang untuk mengurusnya. Awalnya, aku memaksa Ei untuk pura-pura jadi istriku agar aku bisa mengikatnya karena aku sudah jatuh cinta padanya sejak lama. Sekaligus membuat kalian berhenti menjodohkanku dengan wanita lain selain dengan wanita yang aku cinta.” Hesa langsung berkata panjang kali lebar kali tinggi sampai menghitung luas dan volum serta luas sisi untuk menjabarkan apa yang terjadi sebenarnya selama ini.


Shock, terkejut, kaget dan tak percaya, semua orang merasakan hal yang sama begitu mendengar pengakuan Hesa soal hubungannya dengan Ei. Diluar dugaan, ternyata status pernikahan mereka, hanyalah sandiwara belaka. Savatinov adalah orang pertama yang langsung naik pitam sampai matanya melotot hampir mau melompat keluar. Sang Raden marasa dibohongi dan dibodohi oleh putranya sendiri. Semakin bencilah ia pada Ei karena untuk kali pertama, keluarganya dianggap hanya permainan.


“Kami tidak pernah melakukan hubungan terlarang seperti yang ayah pikirkan. Ei dan aku sama-sama masih tersegel. Jika tidak percaya, kami siap divisum sekarang juga. Awalnya, kemesraan kami memang hanyalah sandiwara, tapi sekarang … aku dan Ei sama-sama jatuh cinta. Dan kami tahu batasan kami berdua sebelum kami mendapat restu dari kalian semua. Makanya, Ei nekat memenangkan sayembara ini dan mengakui kesalahan kami atas kebohongan yang kami lakukan.” Terang Hesa lagi.


“Maafkan kami, Yang mulia Raden Savatinov dan juga semua orang yang hadir di sini.” kali ini Ei yang buka suara dan masih menunduk tanda ia sangat menyesali perbuatannya. “Berat bagi kami untuk mengakui ini semua. Tapi … sungguh, kami takkan bisa tenang bila kami tak mengakui kesalahan kami walau sekarang kami saling mencintai. Kami mohon … maafkan kami,” pinta Ei sambil membungkuk dan ia sangat tulus minta maaf pada seluruh keluarga besar Hesa.

__ADS_1


“Enak saja kau minta maaf setelah menciptakan banyak kekacauan dirumahku. Beraninya kau pura-pura menjadi menantuku dan bersikap sok padaku. Semudah itulah kau meminta maaf?” pekik Savatinov.


“Hamba siap menerima konsekuensi atas perbuatan dan kesalahan saya Yang mulia,” ujar Ei dengan sikap tenang dan ia memang siap menanggung resiko atas kesalahan yang sudah ia lakukan.


“Baik, kau sendiri yang minta … pergi kau dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi. Jangan pernah kau menampakkan batang hidungmu di sini. akhiri hubunganmu dengan Hesa sekarang juga. Kau tak pantas menyandang gelar putri!” seru Savatinov penuh emosi dan membuat suasana di ruangan ini semakin berada di puncak ketegangan.


“Baik Yang Mulia, akan saya lakukan. Mulai hari ini juga … saya resmi mundur menjadi calon istri Pangeran Hesa. Sekali lagi, saya minta maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada Yang mulia.” Ei menunduk setelah mengucapkan kalimat yang membuat hati dan pikirannya lega.


Entah kenapa beban dipundak Ei serasa hilang seiring dengan pengakuan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya. Tidak masalah kalau ia batal menjadi istri Hesa karena untuk saat ini, Ei ingin fokus mengejar karir yang sudah ia impikan sejak lama. Universitas Harvard sudah menunggunya di depan mata dan ei tinggal berangkat malam ini juga.


“Huh, kau benar-benar memalukan, entah seperti apa keluargamu sehingga melahirkan putri macam dirimu,” ejek Savatinov dan tiba-tiba … plak!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kana Savatinov dan wanita yang menampar ayah Hesa, siapa lagi kalau bukan ibunya sendiri. Semua orang termasuk Hesa dan ei sangat sangat sangat terkejut melihat insiden yang mengejutkan ini. Ibu Hesa apalagi, seumur-umur menjadi menantu dari keluarga bangsawan, baru kali ini dirinya menyaksikan suami tercintanya ditampar oleh ibunya.


“I-ibunda … ke-kenapa … ananda ditampar?” tanya Savatinov tapi yang ditanya … malah menatap marah Savatinov dan malah menatap lagi pipi ayah Hesa sampai terdengar bunyi, ‘plak!’.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2