Istri Pilihan Pangeran Ningrat

Istri Pilihan Pangeran Ningrat
BAB 89


__ADS_3

Satu jam telah berlalu. Ei masih terduduk dalam diam di tepi kolam air mancur. Juwita yang tadi bersamanya sudah kembali terlebih dulu ke kamarnya karena ia tak diperbolehkan lama-lama di luar ruangan. Berbeda dengan Ei yang memang membutuhkan banyak udara segar agar mempercepat masa pemulihannya. Gadis itu sedang melamun sendirian dan hanya fokus pada satu titik.


“Sedang apa kau di sini!” tanya seseorang dari balik punggung Ei dan orang tersebut memakaikan jaketnya di bahu sang kekasih.


“Sedang memikirkan sesuatu,” jawab Ei datar. “kapan kau datang?”


“Apa isi otakmu ini, hm? Sampai pacar sendiri datang tak kau sadari daritadi. Sudah lama aku melihatmu melamun dan berkali-kali menghela napas. Kaupun tampak kedinginan tapi tak beranjak juga dari sini. Ada apa?”


“Kau punya parang? Ah bukan … apa kau punya pistol atau senapan?”


Pertanyaan Ei membuat Hesa kaget. “Mau kau apakan barang-barang semacam itu?” Hesa balik bertanya.


“Mau dimasak!” cetus Ei. “ya buat nyincang oranglah!”


Kali ini Hesa jadi semakin penasaran sampai ia mengernyitkan alisnya. “Siapa yang akan kau cincang?”


“Ada … dan aku … harus melaksanakan amanah yang diberikan padaku,” ujar Ei lirih dan wajahnya yang tadinya berapi-api jadi sedih. Bahkan gadis itu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya dari Hesa.


“Kau menangis?” tanya Hesa semakin bingung dengan tingkah laku kekasihnya yang aneh ini. Tidak ada angina tidak ada hujan tiba-tiba saja Ei jadi sedih tanpa sebab.


Tak berselang lama, Ei di luar ruangan Ei sedang heboh beberapa perawat dan suster berlarian ke sana kemari di susul dengan beberapa dokter. Rupanya, ada pasien yang meninggal dunia secara tak terduga. Beberapa dokter berusaha keras untuk menyelamatkan pasien tersebut tapi gagal. Nyawa pasien yang tak lain dan tak bukan adalah Juwita, telah tiada.


Hal itu sudah diketahui oleh Ei sebelumnya karena Juwita yang sempat berbincang-bincang dengannya di taman, sudah mengatakan kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Inilah penyebab utama kenapa Ei bermuram durja dan bersedih. Ia tahu kalau saat ini akan tiba dan Juwita, menitipkan sebuah pesan untuk Ei karena Juwita itu merasa, Ei bisa membantunya.


“Kenapa kau minta aku melakukan itu?” tanya Ei saat ia ada di taman rumah sakit sebelum Juwita dibawa masuk ke dalam.


“Sebab kita satu negara, satu ras dan sebudaya. Di sini hanya kau satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara menggunakan Bahasa Indonesia. Aku merasa aku seperti ada di negaraku. Aku merasa aku bersama dengan keluargaku. Karena itulah, aku menitipkan sebuah amanah padamu. Tolong lakukanlah setelah aku mati. Dengan begitu, aku bisa mati dengan tenang. Maaf dan terimaksih sebelumnya karena telah merepotkanmu. Tapi jauh dari lubuh hatiku yang terdalam, aku sangat bahagia bisa bertemu dan mengenalmu meski pertemuan kita ini sangat singkat. Semoga kau bisa hidup bahagia dan menemukan pasangan yang sesuai untuk orang baik sepertimu. Tidak sepertiku.”


Itulah kalimat panjang yang dikatakan Juwita sehingga membuat Ei berjam-jam lamanya tertegun di taman sampai tak menyadari kalau Hesa sudah lama datang. Mendengar kabar duka tentang Juwita yang baru saja meninggal, tangis Ei langsung pecah dan ia menangis dalam pelukan sang kekasih.


Mau heran, tapi ini Ei. Hesa yang tak tahu apa-apa hanya siap meminjamkan dadanya demi sang pujaan hati yang sedang menangis nggak jelas ini. Hesa mengirim sebuah pesan ke grub tim hackernya. Ia penasaran apa yang terjadi pada Ei sampai kekasihnya ini minta senjata.


Bukannya Hesa tidak punya, senjata model apapun Hesa ada tapi tidak ia perlihatkan. Sebab bisa gawat kalau pihak berwajib mendapatinya memiliki senjata sekalipun di sini adalah negara liberal di mana warga sipil bebas memiliki senjata dengan tujuan untuk melindungi diri dari tindakan kriminalitas yang begitu tinggi.


Big Hit:


Cari tahu apa yang terjadi pada Ei sebelum aku datang ke taman. Periksa semua cctv dan kirim padaku.


Slava:


Ok Boss

__ADS_1


Corpury:


Siap Bos


Hodsey:


Laksanakan


Keem:


Sudah ku kirim, kau bisa periksa


Lyric:


Sialan, kau Keem, dasar tukang curi start!


Keem:


Kalian lamban hehe …


Slava:


Kirll:


Jangan … sayang bomnya, kirim foto bugilnya saja ke semua wanita yang pernah dipacarinya. Minta duit banyak, dengan begitu kita kaya.


Keem:


Aku tidak punya foto bugiil, tapi kalau foto bugiil kalian semua, aku punya. Mau kutebarkan sekarang?


Slava:


Sialan kau Keem! Teman-teman, serang diaaaa!


Corpury, Hoodie, Hodsey, Lyric, dan Kirill, langsung off semua dan Hesa hanya nyengir melihat betapa ramenya grubnya kalau sudah berulah. Namun, bukan saatnya Hesa mengurusi segala persoalan anak buahnya yang nggak jelas itu. Kekasih Ei ini langsung memeriksa hasil rekaman cctv kiriman Keem.


Dan begitu Hesa tahu apa yang terjadi, sang gangster tampan langsung menghela napas. Ia tak bisa berkomentar apa-apa dan ingin tahu apa yang akan dilakukan Ei setelah ini.


***


Keesokan harinya, Ei dinyatakan sembuh. Iapun diperbolehkan pulang. Kabar itu juga sudah terdengar oleh Hesa. Maka dari itu, pagi-pagi Hesa datang ke rumah sakit sambil membawa sebuket bunga untuk menyambut kepulangan Ei. Tak hanya itu, pasukan tim hacker Hesa juga ikut. Mereka berjalan sok keren di koridor rumah sakit menuju ruang inap Ei berada.

__ADS_1


“Pagi Sayang … kau sudah siap?” sapa Hesa sambil menyerahkan sebuket bunga lili untuk Ei.


“Boleh bunganya kubawa ke pemakaman?” tanya Ei dan semua teman-teman Hesa langsung tertawa. “Kenapa kalian tertawa?” tanyanya lagi.


“Kakak ipar? Big Hit sudah menyiapkan bunga ini untuk merayakan kepulanganmu dari rumah sakit dan kau malah mau bawa bunga itu ke pemakaman? Sungguh keterlaluan.”


Hesa langsung melirik Slava supaya diam.


“Dia tahu kalau aku tidak suka bunga. Jadi bunga ini kuberikan saja pada almarhum Juwita. Apa kau keberatan?” tanya Ei.


Hesa meminta semua rekan-rekannya diam dan tak berkomentar apa-apa. Ia menatap wajah cantic Ei dan mendekatinya. “Apalah arti dari sebuah bunga, kau jauh lebih berharga dari bunga-bunga ini. Terserah mau kau apakan bunga ini asalkan kau senang. Jangan hanya bawa bunga lili. Bawa bunga mawar merah juga.”


Dengan sabar dan penuh kasih saying, Hesa membantu Ei berkemas. Eipun tampak senang melihat kekasihnya begitu sangat pengertian. “Juwita benar, aku beruntung memilikimu disisiku sekarang. Terimakasih, karena tidak marah. Tadinya kupikir kau bakal tersinggung.”


“Apapun akan kulakukan demi bisa membuatmu bahagia bersamaku Ei. Meskipun kau oneng dan aneh, aku tetap cinta mati padamu.”


Ucapan Hesa sukses membuat Ei terharu. Tapi tidak bagi teman-teman hacker dan gengsternya Hesa. Mereka yang ada di ruangan ini serasa ingin muntah melihat Big Hit nya begitu bucin akut pada Ei. Bucinnya nggak ketulungan pula.


“Dasar bucin!” ujar teman-teman Hesa secara bersamaan.


“Kau yakin mau pergi ke sana?” tanya Hesa tak peduli dengan tatapan tajam teman-temannya. Ia bahkan sengaja pamer kemesraan di depan semua orang dengan memeluk tubuh Ei dari belakang.


“Ini adalah pesan dan amanat dari orang yang sudah meninggoy. Mana mungkin aku tidak pergi.”


“Aku akan menemanimu.”


“Apa kau tidak sibuk?”


“Aku ambil cuti. Hari ini aku milikmu.” Ucapan Hesa lagi-lagi bikin orang yang mendengarnya mau muntah.


“Aku sudah tidak tahan ada didekat mereka. Aku mau keluar. Aku tunggu kalian diluar!” ujar Slava dan yang lainnya pun mengikuti. Mereka memutuskan menunggu Hesa dan ei di luar ruangan daripada jadi obat nyamuk pasangan yang sedang kasmaran itu.


“Dasar sok pamer. Lihat kan … mereka jadi pergi.”


“Memang itu yang aku mau, dengan begitu aku bisa menciummu!” tanpa peringatan Hesa langsung main nyosor aja kayak soang. Ia mencium Ei dengan sangat mesra dan Ei tentu saja tak bisa menolaknya.


Usai bermesra-mesra ria, Hesa dan Ei keluar ruangan dan pergi ke tempat yang menjadi tujuan pertama Ei setelah pulang dari rumah sakit. Gadis itu jelas mau bikin onar. Kali ini, keonaran yang akan dilakukan Ei didukung oleh Hesa and the gengnya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2